Share

Bab 19

Penulis: Liazta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-09 22:07:49

Alicia berdiri di depan pintu kaca besar rumah sakit. Jemarinya sedikit gemetar saat merapikan kerah jas putihnya, gerakan kecil yang ia gunakan untuk menutupi kegelisahan yang menggigit dari dalam.

Ia menarik napas panjang.

Satu… dua… tiga.

Mencoba mengusir sisa ketegangan dari kejadian di rumah dan sesuatu yang jauh lebih menakutkan. Namun kejadian tadi pagi.

Kejadian di ruang periksa Devan.

Begitu ia memikirkannya, wajahnya langsung memucat.

"Semoga malam ini hingga habis jam dinas malam, tidak ada kejadian seperti tadi lagi." Doanya dalam hati.

Alicia memaksa dirinya berjalan masuk ke ruang kerjanya.

Ia menata ekspresi, duduk, dan membuka berkas pasien pertama. Ia harus fokus. Harus.

Tapi matanya bahkan tidak sempat membaca tiga baris teks ketika—

Tok! Tok! Tok!

Pintu terbuka sedikit terlalu cepat.

Seorang perawat masuk, wajahnya panik, napasnya memburu seolah baru selesai berlari maraton.

“D-… dokter Alicia…”

Ia menelan ludah.

“Direktur… meminta Anda datang… sekarang.”

Alicia langsung menegang.

“Sekarang?” suaranya lebih kecil dari biasanya.

“Ya… beliau bilang ini penting… sangat penting.”

Jantung Alicia sekarang mau lepas.

Sudah.

Ini pasti tentang itu.

Tuan Devan pasti melaporkan aku.

Aku pasti akan dipecat hari ini.

Ia berusaha merapikan berkas di atas meja, tapi tangannya gemetar sampai kertas itu terjatuh dari genggaman.

Perawat itu melihat, tapi tidak berkata apa pun.

Alicia menutup matanya sesaat.

Ia menarik napas panjang.

Lalu mengambil jas putihnya dengan tangan yang belum sepenuhnya stabil.

Koridor rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah seperti menuju ruang eksekusi.

Kalau ini benar tentang laporan itu…

Apa aku masih bisa jadi dokter?

Apa semua perjuanganku bertahun-tahun sia-sia begitu saja?

Alicia menelan ludah.

Ketika pintu ruangan direktur sudah terlihat di ujung lorong, napasnya semakin dangkal. Tenggorokannya kering. Lututnya seperti ingin menyerah.

Hari ini… hidupnya mungkin akan berubah.

Dan ia sama sekali tidak siap.

---

Pintu kayu ruang direktur berdiri di hadapannya.

Alicia menelan ludah yang entah sejak kapan berubah pahit.

Ia mengetuk pelan.

“Masuk,” suara direktur terdengar… berbeda. Lebih formal. Lebih berhati-hati.

Alicia membuka pintu dan langkahnya langsung terhenti.

Di dalam ruangan itu, di sofa mewah, duduk seorang wanita elegan dengan aura yang begitu kuat sampai ruangan seolah mengecil di hadapannya.

Rambut panjang terikat rapi. Wajah cantik yang dingin. Tatapan tajam, tenang, dan… berbahaya. Untuk usia, sulit ditebak. Karena usia orang kaya suka menipu.

Direktur berdiri kaku di sampingnya, seperti bawahan yang takut salah bicara.

Alicia tidak mengenali siapa itu. Karena ini merupakan pertemuan pertamanya dengan Luna.

"Dokter Alicia, silahkan duduk," kata direktur.

Alicia menurut dan duduk di sofa kosong dekat Luna.

"Ini adalah nyonya Luna, beliau maminya tuan Devan Alexander. Jika dilihat pemeriksaan pagi tadi, dokter Alicia yang menangani."

Wajah Alicia benar-benar pucat. Kering dingin langsung membasahi pelipis keningnya.

Ibu dari pasien laki-laki yang tadi pagi dia salah tangani.

Ibu dari Devan.

Tubuh Alicia langsung dingin.

Pikirannya langsung terlempar pada adegan memalukan itu, pada kesalahan fatalnya, pada ekspresi malu dan shock di wajah Devan.

Oh Tuhan… jangan bilang ini bukan soal pekerjaan… tapi soal itu.

Direktur memberi isyarat dengan sopan namun kaku.

“Dokter Alicia, apa kamu baik-baik saja?" Tanya direktur Surya.

Alicia mengangguk pelan. Lututnya sendiri hampir tidak bisa digerakkan.

Luna menatapnya tanpa senyum. Sebuah tatapan yang membuat seluruh kesalahan kecil dalam hidup Alicia seolah muncul ke permukaan.

Untuk beberapa detik, tidak ada suara.

Hanya tatapan Luna yang menusuk sampai inti jiwa.

Alicia ingin bicara, ingin menjelaskan, ingin meminta maaf—tapi lidahnya membeku.

Luna menyilangkan kaki.

Gerakan itu sederhana, tapi menimbulkan tekanan seperti hakim yang baru saja membuka sidang.

“Aku dengar,” suara Luna lembut… namun dingin,

"Anda.yang memeriksa Devan pagi ini.”

Alicia hampir tersedak napasnya sendiri.

“I—… iya, N-nyonya.”

Tatapan Luna tetap mengunci wajahnya.

“Jadi kau tahu siapa aku?”

Alicia mengangguk pelan.

“Saya… tahu. Anda ibu pasien.”

Ucapan itu saja sudah membuat dadanya sesak, seolah pengakuan itu sama dengan menandatangani surat pemecatan.

Luna menaikkan satu alis.

“Ibu pasien… dan satu-satunya orang yang tidak mau melihat anaknya diperlakukan sembarangan.”

Alicia merasakan seluruh darahnya mengalir deras ke telapak kaki.

Devan melapor…?

Atau Luna tahu dari orang lain?

Atau mungkin Devan langsung tidur sambil menangis dan Luna melihat sesuatu?

Ya Tuhan… apakah pria dewasa itu seorang anak mami?

Masalah pemeriksaan seperti itu harus dilapor ke maminya?

Pikiran Alicia berkecamuk dan membuat pusing.

Jika Luna memang tipe “ibu yang melindungi anaknya sampai mati”, berarti…

Ia habis.

Luna membungkukkan tubuh sedikit ke depan, wajahnya mendekat, tajam, penuh kontrol.

“Devan adalah anakku. Satu-satunya,” suaranya tenang… namun setiap kata seperti belati.

“Apa pun yang terjadi pada dirinya…”

Luna berhenti sejenak, senyumnya samar namun mengancam.

“Akan langsung sampai ke telingaku.”

Alicia hampir tidak bisa bernapas.

Ya Tuhan… pria dewasa itu benar-benar anak mami…

Dan maminya jelas bukan tipe orang yang hanya menonton.

Kalau dia marah… aku bisa kehilangan pekerjaan. Bahkan bisa dipolisikan.

Direktur berdiri di samping seperti saksi yang menunggu eksekusi.

Luna kini bersandar, menatap Alicia dari kepala sampai kaki.

Menganalisis.

Mengukur.

Menilai.

Alicia merasa kecil. Sangat kecil.

Kemudian Luna berbicara lagi—kali ini lebih pelan, tapi tekanan mentalnya jauh lebih kuat.

“Aku ingin tahu detail,” katanya.

“Bagaimana kau memeriksa anakku pagi ini.”

Alicia membeku.

Napasnya tercekat.

Dadanya seperti ditikam.

Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar sadar—

Luna bukan hanya memanggilnya.

Luna sedang bersiap menghakiminya.

Dan sedikit saja Alicia salah menjawab…

Hidupnya sebagai dokter akan berakhir.

---

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Lasiah Lasiah
makin seruuuuu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 203

    “Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 202

    Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 201

    Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 199

    Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 198

    Thomas dapat merasakan sesuatu yang hancur di raut wajah wanita itu.Dan semua itu… terlihat sangat nyata.Sofia tiba-tiba tertawa lagi. “Alicia memang suka sembunyi karena takut dimarahi… Alicia memang begitu. Kalau salah.”Thomas memperhatikan dengan lebih tajam.Reaksinya tidak konsisten.Menangis.Tertawa.Berteriak.Semuanya terlalu spontan.Atau terlalu sempurna?Sofia tiba-tiba mendekat, memegang lengan Thomas.“Kamu tidak akan menyakitinya, kan?” bisiknya dengan tatapan kosong.Thomas terdiam.“Saya mencintainya,” jawabnya pelan.Sofia mengangguk cepat. “Iya, iya… kamu orang baik. Alicia hanya takut. Dia memang sering takut.”Ia lalu kembali tersenyum. "Alicia, maaf ya waktu acara kamu, mami gak datang. Sebenarnya mami benar-benar tidak tahu acara itu. Tonny tidak memberi tahu mami." Sofia berkatadengan nada lirih seperti orang kehilangan arah.Thomas mundur satu langkah.Matanya menyapu ruangan sekali lagi.Tidak ada tanda keberadaan Alicia.Tidak ada kegugupan yang mencuriga

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 197

    Pagar rumah Sofia terbuka perlahan.Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Hening turun bersama langkah kaki yang mantap.Sofia yang sedang menyiram tanaman, refleks menoleh.Dan jantungnya seketika berdegup lebih cepat.Thomas.Pria itu turun dengan setelan rapi, wajahnya tenang. Terlalu tenang.“Selamat sore, Bu Sofia.”Suaranya lembut. Santun. Bahkan sedikit menunduk memberi hormat.Sikap yang sempurna.Justru itu yang membuat Sofia takut.“Sore…” jawabnya pelan, berusaha tidak menunjukkan getaran di suaranya. “Silakan masuk.”Thomas melangkah masuk ke ruang tamu. Tatapannya berkeliling sebentar—tidak mencurigakan, tidak kasar. Hanya sekilas. Tapi Sofia tahu pria seperti dia tidak pernah melihat tanpa menghitung.“Apa Ibu sehat?” tanyanya duduk dengan tenang.“Ya aku sangat sehat.”Thomas tersenyum tipis. “Saya minta maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan satu hal.”Sofia menggenggam ujung bajunya tanpa sadar. “Tentang Alicia?”Thomas mengangguk pe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status