LOGINAlicia berdiri di depan pintu kaca besar rumah sakit. Jemarinya sedikit gemetar saat merapikan kerah jas putihnya, gerakan kecil yang ia gunakan untuk menutupi kegelisahan yang menggigit dari dalam.
Ia menarik napas panjang. Satu… dua… tiga. Mencoba mengusir sisa ketegangan dari kejadian di rumah dan sesuatu yang jauh lebih menakutkan. Namun kejadian tadi pagi. Kejadian di ruang periksa Devan. Begitu ia memikirkannya, wajahnya langsung memucat. "Semoga malam ini hingga habis jam dinas malam, tidak ada kejadian seperti tadi lagi." Doanya dalam hati. Alicia memaksa dirinya berjalan masuk ke ruang kerjanya. Ia menata ekspresi, duduk, dan membuka berkas pasien pertama. Ia harus fokus. Harus. Tapi matanya bahkan tidak sempat membaca tiga baris teks ketika— Tok! Tok! Tok! Pintu terbuka sedikit terlalu cepat. Seorang perawat masuk, wajahnya panik, napasnya memburu seolah baru selesai berlari maraton. “D-… dokter Alicia…” Ia menelan ludah. “Direktur… meminta Anda datang… sekarang.” Alicia langsung menegang. “Sekarang?” suaranya lebih kecil dari biasanya. “Ya… beliau bilang ini penting… sangat penting.” Jantung Alicia sekarang mau lepas. Sudah. Ini pasti tentang itu. Tuan Devan pasti melaporkan aku. Aku pasti akan dipecat hari ini. Ia berusaha merapikan berkas di atas meja, tapi tangannya gemetar sampai kertas itu terjatuh dari genggaman. Perawat itu melihat, tapi tidak berkata apa pun. Alicia menutup matanya sesaat. Ia menarik napas panjang. Lalu mengambil jas putihnya dengan tangan yang belum sepenuhnya stabil. Koridor rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah seperti menuju ruang eksekusi. Kalau ini benar tentang laporan itu… Apa aku masih bisa jadi dokter? Apa semua perjuanganku bertahun-tahun sia-sia begitu saja? Alicia menelan ludah. Ketika pintu ruangan direktur sudah terlihat di ujung lorong, napasnya semakin dangkal. Tenggorokannya kering. Lututnya seperti ingin menyerah. Hari ini… hidupnya mungkin akan berubah. Dan ia sama sekali tidak siap. --- Pintu kayu ruang direktur berdiri di hadapannya. Alicia menelan ludah yang entah sejak kapan berubah pahit. Ia mengetuk pelan. “Masuk,” suara direktur terdengar… berbeda. Lebih formal. Lebih berhati-hati. Alicia membuka pintu dan langkahnya langsung terhenti. Di dalam ruangan itu, di sofa mewah, duduk seorang wanita elegan dengan aura yang begitu kuat sampai ruangan seolah mengecil di hadapannya. Rambut panjang terikat rapi. Wajah cantik yang dingin. Tatapan tajam, tenang, dan… berbahaya. Untuk usia, sulit ditebak. Karena usia orang kaya suka menipu. Direktur berdiri kaku di sampingnya, seperti bawahan yang takut salah bicara. Alicia tidak mengenali siapa itu. Karena ini merupakan pertemuan pertamanya dengan Luna. "Dokter Alicia, silahkan duduk," kata direktur. Alicia menurut dan duduk di sofa kosong dekat Luna. "Ini adalah nyonya Luna, beliau maminya tuan Devan Alexander. Jika dilihat pemeriksaan pagi tadi, dokter Alicia yang menangani." Wajah Alicia benar-benar pucat. Kering dingin langsung membasahi pelipis keningnya. Ibu dari pasien laki-laki yang tadi pagi dia salah tangani. Ibu dari Devan. Tubuh Alicia langsung dingin. Pikirannya langsung terlempar pada adegan memalukan itu, pada kesalahan fatalnya, pada ekspresi malu dan shock di wajah Devan. Oh Tuhan… jangan bilang ini bukan soal pekerjaan… tapi soal itu. Direktur memberi isyarat dengan sopan namun kaku. “Dokter Alicia, apa kamu baik-baik saja?" Tanya direktur Surya. Alicia mengangguk pelan. Lututnya sendiri hampir tidak bisa digerakkan. Luna menatapnya tanpa senyum. Sebuah tatapan yang membuat seluruh kesalahan kecil dalam hidup Alicia seolah muncul ke permukaan. Untuk beberapa detik, tidak ada suara. Hanya tatapan Luna yang menusuk sampai inti jiwa. Alicia ingin bicara, ingin menjelaskan, ingin meminta maaf—tapi lidahnya membeku. Luna menyilangkan kaki. Gerakan itu sederhana, tapi menimbulkan tekanan seperti hakim yang baru saja membuka sidang. “Aku dengar,” suara Luna lembut… namun dingin, "Anda.yang memeriksa Devan pagi ini.” Alicia hampir tersedak napasnya sendiri. “I—… iya, N-nyonya.” Tatapan Luna tetap mengunci wajahnya. “Jadi kau tahu siapa aku?” Alicia mengangguk pelan. “Saya… tahu. Anda ibu pasien.” Ucapan itu saja sudah membuat dadanya sesak, seolah pengakuan itu sama dengan menandatangani surat pemecatan. Luna menaikkan satu alis. “Ibu pasien… dan satu-satunya orang yang tidak mau melihat anaknya diperlakukan sembarangan.” Alicia merasakan seluruh darahnya mengalir deras ke telapak kaki. Devan melapor…? Atau Luna tahu dari orang lain? Atau mungkin Devan langsung tidur sambil menangis dan Luna melihat sesuatu? Ya Tuhan… apakah pria dewasa itu seorang anak mami? Masalah pemeriksaan seperti itu harus dilapor ke maminya? Pikiran Alicia berkecamuk dan membuat pusing. Jika Luna memang tipe “ibu yang melindungi anaknya sampai mati”, berarti… Ia habis. Luna membungkukkan tubuh sedikit ke depan, wajahnya mendekat, tajam, penuh kontrol. “Devan adalah anakku. Satu-satunya,” suaranya tenang… namun setiap kata seperti belati. “Apa pun yang terjadi pada dirinya…” Luna berhenti sejenak, senyumnya samar namun mengancam. “Akan langsung sampai ke telingaku.” Alicia hampir tidak bisa bernapas. Ya Tuhan… pria dewasa itu benar-benar anak mami… Dan maminya jelas bukan tipe orang yang hanya menonton. Kalau dia marah… aku bisa kehilangan pekerjaan. Bahkan bisa dipolisikan. Direktur berdiri di samping seperti saksi yang menunggu eksekusi. Luna kini bersandar, menatap Alicia dari kepala sampai kaki. Menganalisis. Mengukur. Menilai. Alicia merasa kecil. Sangat kecil. Kemudian Luna berbicara lagi—kali ini lebih pelan, tapi tekanan mentalnya jauh lebih kuat. “Aku ingin tahu detail,” katanya. “Bagaimana kau memeriksa anakku pagi ini.” Alicia membeku. Napasnya tercekat. Dadanya seperti ditikam. Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar sadar— Luna bukan hanya memanggilnya. Luna sedang bersiap menghakiminya. Dan sedikit saja Alicia salah menjawab… Hidupnya sebagai dokter akan berakhir. ---Ditempat yang berbeda Ada seseorang yang menjalani hari yang sama dalam kesunyian. Tony. Di balik dinding tahanan, pria itu duduk sendirian. Tidak ada suara musik. Tidak ada tawa. Tidak ada bunga. Tidak ada keluarga. Tidak ada pesta. Hanya dinding dingin dan suara langkah petugas yang sesekali terdengar dari kejauhan. Tony menundukkan kepala. Hari ini adalah hari pernikahan Charlotte. Putrinya. Anak yang paling ia sayangi. Anak yang selama bertahun-tahun ia lindungi. Anak yang dulu ia bawa ke dalam kehidupan Sofia. Anak yang bahkan pernah ia harapkan akan lebih dicintai Sofia daripada Alicia. Hari ini, putrinya menikah. Namun Tony tidak ada di sana. Ia tidak bisa melihat Charlotte berjalan menuju pernikahannya. Tidak bisa memegang tangannya. Tidak bisa memberikan nasihat sebagai seorang ayah. Dan yang paling menyakitkan... Ia tidak bisa menjadi wali bagi putrinya sendiri. Tony menutup wajahnya. Tangisnya akhirnya pecah. "Charlotte..." Nama itu keluar dari bi
Suasana di ballroom hotel itu perlahan kembali dipenuhi kehangatan.Setelah akad pernikahan Charlotte dan Kevin selesai, para tamu mulai menikmati hidangan.Tawa terdengar di berbagai sudut.Ucapan selamat terus mengalir.Tidak ada lagi suasana tegang seperti beberapa jam sebelumnya.Meskipun rahasia besar tentang kelahiran Charlotte baru saja terbuka, keluarga itu memilih untuk tetap merayakan hari bahagia tersebut.Charlotte telah menjadi seorang istri.Dan hari ini adalah hari yang seharusnya dikenang sebagai hari bahagia.Di tengah keramaian itu, seorang gadis kecil tampak jauh lebih sibuk daripada siapa pun.Arabella.Gadis kecil itu berjalan ke sana kemari dengan langkah cepat.Matanya bahkan tidak pernah benar-benar lepas dari tiga keponakannya dan seorang bayi laki-laki yang saat ini sudah berusia delapan bulan.Arsan.Adik kecilnya itu benar-benar tidak bisa diam.Bayi laki-laki itu baru saja berhasil duduk dengan tegak, tetapi seolah-olah tidak pernah puas berada di satu tem
Hari pernikahan Charlotte dan Kevin akhirnya tiba.Sejak pagi, hotel dipenuhi kesibukan.Bunga-bunga putih menghiasi halaman. Kursi-kursi telah tertata rapi. Para tamu mulai berdatangan, sementara keluarga besar sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk akad yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi.Namun di tengah semua kemeriahan itu, Charlotte justru duduk dengan gelisah.Gaun pengantinnya telah dikenakan.Rambutnya ditata dengan indah. Wajahnya dipoles lembut.Hari ini seharusnya menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya.Namun ada satu orang yang terus memenuhi pikirannya.Tony.Sejak beberapa hari lalu, Charlotte sudah memikirkan satu hal.Ia ingin ayahnya hadir.Bukan sekadar sebagai tamu.Ia ingin Tony melihatnya menikah.Charlotte bahkan sudah meminta bantuan keluarga agar Tony mendapatkan izin keluar untuk sementara.Ia tahu Tony berada di tempat yang seharusnya tidak membuat seorang ayah bisa datang ke pernikahan putrinya.Namun Charlotte tetap ingin mencobanya.
Kelahiran Si KembarDevan berada di dalam ruangan operasi. Ia duduk di kursi, tepat di samping Alicia. Wajahnya pucat, tubuhnya basah keringat. Sementara itu telapak tangan dan kaki, dingin.Tangisan bayi pertama akhirnya memecah keheningan ruang operasi.Suara itu begitu nyaring dan jelas.Alicia yang sejak tadi memejamkan mata dengan napas tersengal langsung membuka matanya.“Bayiku…”Suaranya sangat lemah.Dokter yang membantu proses persalinan tersenyum lega.“Selamat, Dokter Alicia. Bayi pertama sudah lahir.”Air mata langsung menggenang di sudut mata Alicia.Di sampingnya, Devan yang sejak tadi menggenggam tangan istrinya erat-erat tampak membeku.Ia menatap bayi mungil yang baru saja diangkat oleh dokter.Seorang bayi laki-laki.Tubuhnya mungil, kulitnya kemerahan, dan tangisannya memenuhi seluruh ruangan.“Itu… anak kita?” bisik Devan.Dokter tersenyum.“Iya. Bayi pertama. Laki-laki.”Devan menelan ludah.Matanya mulai memerah. "Anak kita ternyata sepasang. Yang keluar duluan
"Kenapa aku harus mencari penjual?"Ia tersenyum."Kalau tidak ada yang menjual, aku bisa meminta dapur membuatnya."Devan langsung berbalik menuju area dapur.Ia menyalakan lampu.Kemudian memanggil para pelayan."Bangun!"Beberapa menit kemudian, para pelayan dapur yang masih mengantuk berdatangan dengan wajah kebingungan."Maaf, Tuan. Ada apa?"Devan menatap mereka serius."Buatkan bubur kampiun."Para pelayan saling berpandangan."Sekarang, Tuan?""Iya. Sekarang.""Tapi..."Devan langsung mengangkat tangan."Aku tahu ini jam dua pagi."Ia menunjuk jam dinding."Istriku menginginkannya."Para pelayan langsung mengerti.Mereka semua mengangguk."Baik, Tuan."Devan langsung menghela napas lega."Yang lengkap.""Baik.""Ada bubur sumsum.""Kacang hijau, ketan hitam, ketan putih, cenil, delima merah. Dan jangan pelit santannya."Para pelayan tersenyum."Baik, Tuan."Salah seorang pelayan kemudian bertanya,"Berapa banyak, Tuan?"Devan terdiam.Kemudian teringat betapa besar keinginan is
Malam telah larut.Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul dua dini hari.Devan tertidur lelap setelah seharian disibukkan oleh pekerjaan di rumah sakit. Tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.Tubuh Devan tiba-tiba terguncang pelan.Awalnya hanya sekali. Kemudian sekali lagi. Semakin lama, guncangan itu semakin kuat. Bahkan tubuhnya sampai bergeser di atas kasur.Keningnya berkerut.Dalam kondisi masih setengah sadar, ia membuka mata perlahan.Hal pertama yang dilihatnya adalah Alicia.Istrinya sedang duduk di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Devan.Namun, perhatian Devan justru langsung tertuju pada satu hal. Alicia tidur tanpa mengenakan pakaian.Perut besarnya tampak begitu bulat dan mengilap terkena cahaya lampu tidur.Devan langsung terkejut."Sayang!"Alicia berhenti mengguncang tubuhnya.Devan segera bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya."Kenapa kamu tidak memakai pakaian lagi?" Ia menghel







