MasukAlicia menggenggam kedua tangannya di pangkuan.
Ia harus menjawab. Ia harus terlihat profesional. Jika tidak, habislah kariernya. Dengan perlahan ia menarik napas, menegakkan tubuh, lalu membuka mulut. “Saya sudah melakukan pemeriksaan terhadap pasien,” ucapnya pelan. Suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha mempertahankan ketenangan. Luna mengangkat dagu, memberi isyarat agar ia melanjutkan. , “Saya tidak hanya memeriksa bagian yang cedera saja…” Alicia menelan ludah. “Tetapi keseluruhan, untuk memastikan tidak ada trauma tambahan, baik internal maupun eksternal.” Luna tetap diam. Tatapannya seolah menembus kulit dan membaca suara hati Alicia. Menilai apakah gadis itu bicara jujur… atau hanya mencoba menyelamatkan dirinya. “Saya bisa pastikan,” lanjut Alicia, nadanya sedikit lebih tegas, “Tuan Devan tidak mengalami cedera serius maupun komplikasi lain. Kecuali… cedera pada bagian pinggul.” Kata pinggul saja membuat Alicia ingin menghilang dari muka bumi. Karena di situlah masalah besarnya bermula. Luna memicingkan mata, tubuhnya condong sedikit ke depan. “Jelaskan lebih rinci,” ujarnya datar. Suaranya halus, tapi mengandung tekanan yang membuat tengkuk Alicia merinding. Alicia merasakan jantungnya berdegup keras. Inilah bagian yang paling ia takutkan. Poin yang bisa menghancurkan masa depannya. Namun ia tidak boleh berbohong. Tidak boleh ragu. Tidak boleh tampak bersalah. Yang terpenting jujur, dengan cara penyampaian yang aman. “Cedera pada pinggul Tuan Devan,” Alicia mulai, suaranya pelan namun jelas, “Berdasarkan pemeriksaan yang bersifat menyeluruh, karena cedera seperti ini sering berkaitan dengan otot yang berdekatan, saraf, atau kemungkinan dislokasi ringan.” Direktur Surya menelan ludah. Luna masih diam, tapi matanya tajam mengawasi. “Menurut kamu,” tanya Luna dengan ekspresi wajah serius, “cedera ini tidak akan menimbulkan efek buruk?” “Seharusnya tidak ada, Nyonya. Jika Tuan Devan mengalami kesulitan berjalan, itu efek dari cedera pinggul. Namun sifatnya sementara.” Luna mengangguk pelan, lalu menatap Alicia lurus-lurus. “Insiden ini… apakah akan berpengaruh pada kesuburan putra saya?” Alicia tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu terlalu sensitif, terlalu berbahaya. Ia memandang ke arah Direktur Surya, meminta dukungan profesional. Dirut Surya segera menjawab, nada suaranya tegas dan jelas. “Tidak, Nyonya. Anda tidak perlu cemas,” ujar Surya. “Cedera itu tidak ada kaitannya dengan organ reproduksi. Keadaan Tuan Devan aman.” Luna akhirnya bernapas lega. Bahunya rileks… dan senyum tipis muncul di bibirnya. Namun senyum itu membuat bulu kuduk Alicia berdiri. “Karena Dokter Alicia yang menangani putra saya sejak awal,” ucap Luna dengan nada lembut namun tidak memberi ruang bantahan, “maka saya meminta dokter Alicia menjadi dokter pribadi Devan.” Alicia membelalakkan mata. Menjadi dokter pribadi Devan Alexander? Alicia panik ia ingin segera menolak. Pria itu satu-satunya manusia yang ingin ia hindari. Tapi kenapa harus seperti ini? “Dokter Alicia harus selalu berada di dekat putra saya. Mengawasi kondisinya. Memberi laporan setiap hari. Dan memastikan tidak ada insiden… kedua kalinya. Putraku memiliki masalah lambung. Perhatian makannya. Jika dia sibuk bekerja dan tidak mau makan sambil berkata pekerjaanku akan segera selesai, maka dokter harus menyuapinya.” Alicia langsung panik. Wajahnya pucat. Napasnya tercekat. Jadi dokter yang menjaga pasien 24 jam? Ini… Apakah bukan berlebihan? Ia membuka mulut, tapi suaranya tak keluar. Hanya tatapannya yang berubah pucat. “Ny… Nyonya… saya—” Luna mengangkat satu jari. Isyarat kecil, tapi cukup untuk membuat Alicia menutup bibirnya kembali. “Saya tidak suka ada penolakan,” ucap Luna dengan nada lembut… namun jauh lebih mengintimidasi daripada teriakan sekalipun. “Saya percaya pada dokter yang sudah melihat, menyentuh, dan mendiagnosa putra saya secara menyeluruh.” Alicia hampir tersedak udara. Kenapa kalimatnya seperti itu? Seolah menyinggung kesalahannya pagi tadi. Apakah ini artinya Devan melaporkan semuanya ke ibunya? Direktur Surya ikut menunduk, bahkan pria berpengalaman seperti dia tidak berani memandang Luna langsung. “Nyonya,” Alicia akhirnya memberanikan diri. “Saya masih masa training. Saya… belum punya pengalaman banyak untuk menangani pasien secara pribadi, apalagi dalam kondisi khusus seperti Tuan Devan.” Luna tersenyum tipis. Senyum yang membuat Alicia merinding dari ujung rambut sampai ujung jemari kaki. “Saya tidak perduli dengan hal itu,” jawab Luna tenang. “Saya memilih Anda, karena saya percaya, anda bisa menangani putra saya dengan baik.” Alicia mengerjap tak mengerti. Luna menyilangkan kaki, merapikan rambutnya dengan elegan, lalu menambahkan. "Bagaimana?" Alicia masih diam. Otaknya bekerja keras memikirkan alasan yang tepat untuk menolak. Pokoknya ia tidak ingin bertemu lagi dengan Devan. Luna melanjutkan dengan suara yang sangat tenang, namun mengandung tekanan yang tak terlihat. “Dan satu lagi, Dokter Alicia.” Ia memiringkan kepala sedikit. “Tolong ingat… apa yang Anda lakukan pada Devan pagi tadi.” Alicia membeku. Jantungnya berhenti berdetak untuk sedetik. Direktur Surya terlihat ingin menyela, tapi Luna hanya mengangkat tangan—dan pria itu langsung diam. “Kita semua manusia,” lanjut Luna perlahan. “Kita semua bisa… khilaf.” Ia mengulas senyum samar. “Dan saya tidak ingin orang lain membahas… insiden itu.” Alicia merasa tubuhnya goyah. Ia memegangi lututnya agar tidak jatuh. “Namun,” Luna menambahkan, “selama Anda bekerja dengan baik… sangat baik…” Tatapannya menusuk. “…saya bisa menjamin insiden itu akan… terlupakan. Tidak masuk laporan. Tidak diketahui publik. Tidak menghancurkan masa depan Anda.” Alicia terpaku. Itu bukan tawaran. Itu ancaman yang dibungkus keanggunan. “Saya ingin laporan kondisi Devan setiap hari,” lanjut Luna. “Setiap perubahan kecil, harus kulihat. Kamu ikut mengawasi pengobatannya. Kamu akan ikut ketika dia kontrol atau pun ada kepentingan ke kantor.” Alicia membuka mulut, benar-benar ingin menolak kali ini. “Nyonya… saya… saya tidak yakin saya orang yang tepat…” Luna menatapnya dengan dingin. “Kalau begitu,” ucap Luna halus, “mungkin saya harus mempertanyakan… tindakan Anda pagi tadi.” Alicia langsung membeku. Direktur Surya terpaku. Ruangan terasa seperti membeku. Luna bersandar elegan, seolah tak mengatakan apa-apa yang mengerikan. “Pilih, Dokter Alicia.” Suaranya lembut. “Rawat putra saya… atau hadapi konsekuensi.” Alicia menunduk, bahunya bergetar. Ia tidak punya pilihan. “…baik, Nyonya.” Suaranya nyaris tak terdengar. “Saya… akan menjadi dokter pribadi Tuan Devan.” Luna tersenyum puas. “Bagus.” Ia berdiri, merapikan gaunnya. “Mulai hari ini, kamu bekerja untukku.” Alicia hanya bisa berdiri terpaku. Saat Luna keluar ruangan ditemani asistennya, Direktor Surya segera menghampiri Alicia. “Alicia…” Ia menatapnya prihatin. “Kau… tidak apa-apa?” Alicia menggeleng lemah. Tidak. Ia tidak baik-baik saja. Ia merasa seperti baru saja diseret masuk ke kandang singa betina yang memiliki anak seorang singa jantan bernama Devan.. ----Wajah Alicia seketika memerah.“Aku tidak membuatmu tersiksa!” bantahnya cepat. “Aku merawatmu!”“Merawat?”Devan mengangkat sebelah alis.“Jangan pura-pura polos, Alicia.”Jemarinya menyelip lembut di antara rambut Alicia, lalu menyingkirkan beberapa helai yang jatuh di wajah istrinya.“Aku masih ingat bagaimana matamu tidak pernah benar-benar bisa berpaling setiap kali kamu harus membantuku membersihkan tubuh.”“Devan!”Alicia langsung memukul pelan dada suaminya.“Itu karena kamu belum bisa mandi sendiri!”“Aku tahu.”Devan justru semakin menikmati kegugupan istrinya.“Tapi kamu selalu melakukannya dengan sangat hati-hati.”“Ya memang harus hati-hati! Punggungmu waktu itu masih cedera.”“Benarkah?”“Benar.”“Bukan karena kamu diam-diam menikmati kesempatan merawat calon suamimu?”Alicia terdiam.Devan tersenyum puas.“Nah.”Ia mendekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.“Diam begini biasanya berarti aku benar.”“Tidak!”Alicia buru-buru memalingkan wajah, tetapi Devan
Waktu akhirnya merayap tepat ke pukul lima sore.Musik penutup resepsi baru saja berhenti mengalun. Namun, sebelum pembawa acara sempat menyampaikan kalimat penutup secara resmi, panggung pelaminan yang sejak siang menjadi pusat perhatian itu sudah kosong.Bukan hanya Devan yang mendadak menghilang bersama Alicia.Thomas dan Rayan rupanya melakukan hal yang sama.Melihat kekompakan para pria dalam keluarga itu yang seolah telah bersekongkol melakukan aksi kabur massal, Luna hanya bisa berdiri di sudut ballroom sambil menggeleng-gelengkan kepala.Namun, alasan di balik kekompakan mereka sebenarnya sangat sederhana.Kondisi istri masing-masing.Di dalam lift khusus yang membawa mereka menuju lantai suite, Thomas berdiri di sisi Sofia. Satu lengannya merangkul pinggang istrinya dengan erat, sementara tangan yang lain sesekali mengusap punggung wanita itu.Wajah Sofia tampak pucat. Tubuhnya bersandar lelah pada dada bidang Thomas.“Masih sakit pinggangnya, hm?” bisik Thomas lembut.Telapa
Waktu di dinding ballroom baru menunjukkan pukul 01.00 siang. Musik instrumental masih mengalun lembut mengiringi ribuan tamu undangan kelas atas yang saling berbaur menikmati hidangan. Acara resepsi megah itu masih berjalan sangat meriah, namun sang pengantin pria justru sudah tidak bisa duduk tenang.Devan berkali-kali mengubah posisi duduknya, melirik jam tangan mewahnya setiap tiga menit sekali, lalu menghembuskan napas panjang dengan raut wajah yang makin ditekuk. Baginya, menunggu sekitar empat jam lagi sampai acara ini selesai terasa bagaikan menjalani hukuman bertahun-tahun!"Kenapa kamu dari tadi kelihatan gelisah sekali?" tanya Alicia memiringkan kepalanya, menatap Devan heran."Mengapa acara ini lama sekali selesainya, sih?" sungut Devan blak-blakan dengan wajah kesal. Matanya menatap horor ke arah antrean tamu undangan yang bukannya makin berkurang, malah makin mengular panjang."Ya ampun, Devan... Acara kan memang dimulai jam 11.00 setelah akad nikah, dan baru selesai jam
Genggaman Devan pada jemari Alicia tak pernah terlepas, bahkan setelah keduanya kembali duduk berdampingan di meja akad.Alicia menundukkan wajahnya dengan malu-malu. Pipinya merona setiap kali Devan meliriknya dengan tatapan penuh kekaguman, seolah-olah hingga detik ini pun pria itu masih belum percaya bahwa wanita yang dicintainya kini benar-benar telah menjadi istrinya.“Kenapa menunduk terus, hm?” bisik Devan tepat di telinganya. “Suamimu yang tampan ini ada di sebelahmu, lho.”Bulu kuduk Alicia seketika meremang. Ia menahan tawa, lalu menyenggol lengan Devan dengan sikunya.“Devan, malu dilihat orang banyak...”“Biarkan saja. Kita sudah sah.”Devan menyunggingkan senyum penuh kemenangan sebelum mengangkat tangan Alicia dan mengecup lembut punggung tangannya.Alicia semakin salah tingkah.Prosesi penandatanganan buku nikah dan pemasangan cincin pun akhirnya selesai. Tak lama kemudian, keluarga besar mulai berkumpul mengelilingi kedua pengantin baru itu.Ada Luna, Thomas, Sofia, Ra
Pintu utama ballroom perlahan terbuka.Alunan musik lembut mengiringi langkah Alicia yang memasuki ruangan. Gaun pengantin putihnya menjuntai anggun di atas karpet merah, sementara veil tipis yang membingkai wajahnya membuat kecantikannya tampak semakin memukau.Ratusan pasang mata sontak tertuju kepadanya.Namun, di antara seluruh tatapan yang menyambutnya, hanya ada sepasang mata yang benar-benar dicari Alicia.Mata Devan.Pria itu seketika terdiam.Ia bahkan lupa berkedip.Untuk beberapa saat, Devan hanya memandang wanita yang berjalan perlahan ke arahnya dengan tatapan penuh kekaguman.Alicia tampak begitu cantik.Riasan lembut menyempurnakan wajahnya. Bibirnya yang dipoles indah membentuk senyum malu-malu, sementara kelembutan yang terpancar dari seluruh dirinya membuat dada Devan terasa sesak.Hampir dua minggu.Selama itulah ia harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.Dan sekarang, setelah penantian panjang itu, Alicia akhirny
Suasana di dalam ballroom utama yang penuh dengan tatanan bunga melati segar seketika hening mencekam. Ratusan pasang mata tamu undangan serta jajaran saksi tertuju lurus pada meja akad nikah.Mahar pernikahan disusun di atas meja. Pengawalan juga sangat ketat.Jika sultan yang menikah, mahar pasti tidak kaleng-kaleng.Di sana, Devan duduk tegap dalam balutan beskap putih berhias payet perak nan megah. Wajahnya yang tampan tampak begitu tenang, namun di dalam dadanya, detak jantungnya bergemuruh hebat. Di hadapannya, Rayan—abang kandung Alicia yang kini bertindak sebagai wali nikah menggantikan posisi sang ayah—duduk dengan raut wajah sarat emosi.Sesuai surat kuasa wali yang telah ditandatangani, Rayan mengambil alih tugas sakral ini. Ayah mereka, Tonny Usman, pria bajingan yang telah menghancurkan masa kecil Alicia, kini meringkuk dingin di balik jeruji besi tahanan. Tak ada tempat bagi pria itu di hari paling bahagia putri bungsunya.Rayan mengulurkan tangannya. Devan menyambut dan







