Share

Bab 18

Penulis: Liazta
last update Tanggal publikasi: 2025-12-09 21:31:29

Luna duduk di sofa kulit mahal yang ditempatkan khusus di dalam ruang direktur. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar dentingan halus gelang emas di pergelangan tangannya. Aura Luna membuat udara terasa berat, seolah siapa pun yang berada di dekatnya bisa kehilangan napas.

Jari-jarinya mengetuk permukaan meja marmer dengan ritme teratur namun menegangkan. Ketukan yang halus, namun bagi mereka yang mengenalnya… itu adalah peringatan.

Tanda bahwa Luna sedang menghitung, menganalisis, dan mungkin merencanakan sesuatu yang tidak dapat diprediksi.

“Dirut Surya,” panggil Luna lembut, namun nada itu tegas seperti cambuk sutra.

Pria paruh baya yang duduk di sofa tempatnya di Luna, langsung menegangkan tubuhnya. “Ya, Nyonya?”

“Cari dokter terbaik,” ucap Luna tanpa basa-basi. “Aku ingin seseorang yang mampu menangani kondisi putraku dengan sangat baik. Tidak peduli berapa biayanya, tidak peduli posisi atau statusnya. Aku hanya mau yang paling kompeten.”

“Untuk… Tuan Muda Devan?” tanya direktur Surya hati-hati.

Luna tersenyum. Senyum tipis, dingin, tapi elegan.

“Tentu saja.”

Nada suaranya halus… namun menyimpan ancaman yang tidak bisa diabaikan.

“Jika Vivian tidak sanggup merawat suaminya, aku akan mencari seseorang yang sanggup. Dan itu tidak boleh sembarangan," batin Luna.

Direktur Surya langsung membuka tablet digitalnya. Tangannya sedikit gemetar.

Semua orang tahu, kesalahan sekecil apa pun di hadapan Luna bisa berujung malapetaka.

“Baik, Nyonya. Saya akan menampilkan dokter-dokter terbaik dengan reputasi paling tinggi. Ada beberapa dari luar negeri juga, jika—”

“Tidak perlu luar negeri,” potong Luna, pelan namun jelas. Putranya bukan sakit parah, hanya cedera ringan. Jika ia langsung mendatangkan dokter dari luar negeri, sama saja ini namanya berlebihan. Dan Devan tidak suka itu.

“Aku tidak butuh seseorang yang datang hanya untuk pamer gelar. Aku butuh dokter yang bisa cepat dihubungi, cepat bekerja, tanggung jawab penuh, dan tidak memperumit keadaan.”

“Baik, Nyonya.”

Direktur Surya men-scroll daftar dokter ahli yang ada di rumah sakit itu. Internis senior, ahli saraf, ahli penyakit dalam, dan beberapa dokter bedah dengan jam terbang tinggi. Ia membuka file satu per satu sambil menjelaskan dengan hati-hati.

“Dokter Haris—20 tahun pengalaman, ahli penyakit dalam.

Dokter Ratna—ahli saraf senior, usia 47 tahun. Bersertifikat internasional.

Dokter Andra—dokter keluarga dengan jam terbang tinggi dan pasien VVIP.”

Luna memandangi profil mereka sekilas. Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan minat sedikit pun.

“Tidak,” katanya akhirnya. “Semua terlalu… kaku. Terlalu tua. Terlalu lambat dalam mengambil keputusan. Aku mau seseorang yang berani, cepat, tapi tetap teliti.”

Direktur Surya menelan ludah dan menggulir layar sekali lagi.

Kemudian—profil berikutnya membuat Luna menghentikan gerakannya.

“Dokter Alicia…” gumamnya.

Foto profil Alicia yang sangat cantik dan tersenyum manis, jelas membuat ia tertarik.

Ia mengambil tablet itu dari tangan Surya dan membaca file lebih detil.

Riwayat pendidikan mengesankan.

Penanganan kasus selalu tepat dan cepat.

Catatan laporan bersih.

Masa training-nya memang baru, tapi performanya menonjol.

Penilaian dari para senior: “Stabil secara emosional, berpikir jernih, memiliki insting medis tajam.”

Mata Luna menyipit sedikit.

Ekspresinya sulit ditebak, seolah sedang menimbang sesuatu yang lebih besar dari sekedar keputusan medis.

“Menarik…” ucap Luna pelan. “Kompeten. Tenang. Bekerja rapi. Tidak banyak bicara.”

Ia mengembalikan tablet itu.

“Hubungi dia. Aku ingin bertemu hari ini juga.”

Direktur Surya tampak kaget.

“Ta-Tapi Nyonya… Dokter Alicia masih dalam masa training. Pengalaman kerjanya… masih sangat singkat. Dan… ada banyak dokter senior yang—”

“Tidak peduli.”

Nada Luna berubah sangat dingin, membuat suhu ruangan seakan turun beberapa derajat.

“Aku sudah memilih. Aku mau dia yang menangani putraku. Dan sebelum dia menyentuh Devan, dia harus tahu kondisi anakku langsung dari mulutku sendiri.”

Direktur Surya membungkuk dalam-dalam.

Tidak berani membantah.

Tidak berani bernapas terlalu keras.

“Saya mengerti, Nyonya. Saya akan memanggilnya sekarang.”

“Pastikan dia datang dalam lima belas menit,” tambah Luna ringan.

Direktur Surya langsung pucat dan buru-buru melangkah keluar ruangan.

Luna mengangkat cangkir tehnya, menyesapnya perlahan.

Tatapannya tajam, dalam, dan penuh perhitungan.

“Vivian…” ucapnya pelan.

Nada itu dingin bagai pisau.

“Kau pikir kau bisa sembarangan mengabaikan anakku? Kau pikir aku akan diam?”

Senyum Luna muncul—pelan… menakutkan.

Ia meletakkan cangkirnya perlahan, nyaris tanpa suara.

“Tenang saja. Aku tidak akan menceraikanmu dari Devan…”

Ia menyandarkan tubuh ke sandaran sofa.

“…aku hanya akan membuatmu tahu tempatmu.”

---

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 516

    Ditempat yang berbeda Ada seseorang yang menjalani hari yang sama dalam kesunyian. Tony. Di balik dinding tahanan, pria itu duduk sendirian. Tidak ada suara musik. Tidak ada tawa. Tidak ada bunga. Tidak ada keluarga. Tidak ada pesta. Hanya dinding dingin dan suara langkah petugas yang sesekali terdengar dari kejauhan. Tony menundukkan kepala. Hari ini adalah hari pernikahan Charlotte. Putrinya. Anak yang paling ia sayangi. Anak yang selama bertahun-tahun ia lindungi. Anak yang dulu ia bawa ke dalam kehidupan Sofia. Anak yang bahkan pernah ia harapkan akan lebih dicintai Sofia daripada Alicia. Hari ini, putrinya menikah. Namun Tony tidak ada di sana. Ia tidak bisa melihat Charlotte berjalan menuju pernikahannya. Tidak bisa memegang tangannya. Tidak bisa memberikan nasihat sebagai seorang ayah. Dan yang paling menyakitkan... Ia tidak bisa menjadi wali bagi putrinya sendiri. Tony menutup wajahnya. Tangisnya akhirnya pecah. "Charlotte..." Nama itu keluar dari bi

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 515

    Suasana di ballroom hotel itu perlahan kembali dipenuhi kehangatan.Setelah akad pernikahan Charlotte dan Kevin selesai, para tamu mulai menikmati hidangan.Tawa terdengar di berbagai sudut.Ucapan selamat terus mengalir.Tidak ada lagi suasana tegang seperti beberapa jam sebelumnya.Meskipun rahasia besar tentang kelahiran Charlotte baru saja terbuka, keluarga itu memilih untuk tetap merayakan hari bahagia tersebut.Charlotte telah menjadi seorang istri.Dan hari ini adalah hari yang seharusnya dikenang sebagai hari bahagia.Di tengah keramaian itu, seorang gadis kecil tampak jauh lebih sibuk daripada siapa pun.Arabella.Gadis kecil itu berjalan ke sana kemari dengan langkah cepat.Matanya bahkan tidak pernah benar-benar lepas dari tiga keponakannya dan seorang bayi laki-laki yang saat ini sudah berusia delapan bulan.Arsan.Adik kecilnya itu benar-benar tidak bisa diam.Bayi laki-laki itu baru saja berhasil duduk dengan tegak, tetapi seolah-olah tidak pernah puas berada di satu tem

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 514

    Hari pernikahan Charlotte dan Kevin akhirnya tiba.Sejak pagi, hotel dipenuhi kesibukan.Bunga-bunga putih menghiasi halaman. Kursi-kursi telah tertata rapi. Para tamu mulai berdatangan, sementara keluarga besar sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk akad yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi.Namun di tengah semua kemeriahan itu, Charlotte justru duduk dengan gelisah.Gaun pengantinnya telah dikenakan.Rambutnya ditata dengan indah. Wajahnya dipoles lembut.Hari ini seharusnya menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya.Namun ada satu orang yang terus memenuhi pikirannya.Tony.Sejak beberapa hari lalu, Charlotte sudah memikirkan satu hal.Ia ingin ayahnya hadir.Bukan sekadar sebagai tamu.Ia ingin Tony melihatnya menikah.Charlotte bahkan sudah meminta bantuan keluarga agar Tony mendapatkan izin keluar untuk sementara.Ia tahu Tony berada di tempat yang seharusnya tidak membuat seorang ayah bisa datang ke pernikahan putrinya.Namun Charlotte tetap ingin mencobanya.

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 513

    Kelahiran Si KembarDevan berada di dalam ruangan operasi. Ia duduk di kursi, tepat di samping Alicia. Wajahnya pucat, tubuhnya basah keringat. Sementara itu telapak tangan dan kaki, dingin.Tangisan bayi pertama akhirnya memecah keheningan ruang operasi.Suara itu begitu nyaring dan jelas.Alicia yang sejak tadi memejamkan mata dengan napas tersengal langsung membuka matanya.“Bayiku…”Suaranya sangat lemah.Dokter yang membantu proses persalinan tersenyum lega.“Selamat, Dokter Alicia. Bayi pertama sudah lahir.”Air mata langsung menggenang di sudut mata Alicia.Di sampingnya, Devan yang sejak tadi menggenggam tangan istrinya erat-erat tampak membeku.Ia menatap bayi mungil yang baru saja diangkat oleh dokter.Seorang bayi laki-laki.Tubuhnya mungil, kulitnya kemerahan, dan tangisannya memenuhi seluruh ruangan.“Itu… anak kita?” bisik Devan.Dokter tersenyum.“Iya. Bayi pertama. Laki-laki.”Devan menelan ludah.Matanya mulai memerah. "Anak kita ternyata sepasang. Yang keluar duluan

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 512

    "Kenapa aku harus mencari penjual?"Ia tersenyum."Kalau tidak ada yang menjual, aku bisa meminta dapur membuatnya."Devan langsung berbalik menuju area dapur.Ia menyalakan lampu.Kemudian memanggil para pelayan."Bangun!"Beberapa menit kemudian, para pelayan dapur yang masih mengantuk berdatangan dengan wajah kebingungan."Maaf, Tuan. Ada apa?"Devan menatap mereka serius."Buatkan bubur kampiun."Para pelayan saling berpandangan."Sekarang, Tuan?""Iya. Sekarang.""Tapi..."Devan langsung mengangkat tangan."Aku tahu ini jam dua pagi."Ia menunjuk jam dinding."Istriku menginginkannya."Para pelayan langsung mengerti.Mereka semua mengangguk."Baik, Tuan."Devan langsung menghela napas lega."Yang lengkap.""Baik.""Ada bubur sumsum.""Kacang hijau, ketan hitam, ketan putih, cenil, delima merah. Dan jangan pelit santannya."Para pelayan tersenyum."Baik, Tuan."Salah seorang pelayan kemudian bertanya,"Berapa banyak, Tuan?"Devan terdiam.Kemudian teringat betapa besar keinginan is

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 511

    Malam telah larut.Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul dua dini hari.Devan tertidur lelap setelah seharian disibukkan oleh pekerjaan di rumah sakit. Tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.Tubuh Devan tiba-tiba terguncang pelan.Awalnya hanya sekali. Kemudian sekali lagi. Semakin lama, guncangan itu semakin kuat. Bahkan tubuhnya sampai bergeser di atas kasur.Keningnya berkerut.Dalam kondisi masih setengah sadar, ia membuka mata perlahan.Hal pertama yang dilihatnya adalah Alicia.Istrinya sedang duduk di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Devan.Namun, perhatian Devan justru langsung tertuju pada satu hal. Alicia tidur tanpa mengenakan pakaian.Perut besarnya tampak begitu bulat dan mengilap terkena cahaya lampu tidur.Devan langsung terkejut."Sayang!"Alicia berhenti mengguncang tubuhnya.Devan segera bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya."Kenapa kamu tidak memakai pakaian lagi?" Ia menghel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status