LOGINLuna duduk di sofa kulit mahal yang ditempatkan khusus di dalam ruang direktur. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar dentingan halus gelang emas di pergelangan tangannya. Aura Luna membuat udara terasa berat, seolah siapa pun yang berada di dekatnya bisa kehilangan napas.
Jari-jarinya mengetuk permukaan meja marmer dengan ritme teratur namun menegangkan. Ketukan yang halus, namun bagi mereka yang mengenalnya… itu adalah peringatan. Tanda bahwa Luna sedang menghitung, menganalisis, dan mungkin merencanakan sesuatu yang tidak dapat diprediksi. “Dirut Surya,” panggil Luna lembut, namun nada itu tegas seperti cambuk sutra. Pria paruh baya yang duduk di sofa tempatnya di Luna, langsung menegangkan tubuhnya. “Ya, Nyonya?” “Cari dokter terbaik,” ucap Luna tanpa basa-basi. “Aku ingin seseorang yang mampu menangani kondisi putraku dengan sangat baik. Tidak peduli berapa biayanya, tidak peduli posisi atau statusnya. Aku hanya mau yang paling kompeten.” “Untuk… Tuan Muda Devan?” tanya direktur Surya hati-hati. Luna tersenyum. Senyum tipis, dingin, tapi elegan. “Tentu saja.” Nada suaranya halus… namun menyimpan ancaman yang tidak bisa diabaikan. “Jika Vivian tidak sanggup merawat suaminya, aku akan mencari seseorang yang sanggup. Dan itu tidak boleh sembarangan," batin Luna. Direktur Surya langsung membuka tablet digitalnya. Tangannya sedikit gemetar. Semua orang tahu, kesalahan sekecil apa pun di hadapan Luna bisa berujung malapetaka. “Baik, Nyonya. Saya akan menampilkan dokter-dokter terbaik dengan reputasi paling tinggi. Ada beberapa dari luar negeri juga, jika—” “Tidak perlu luar negeri,” potong Luna, pelan namun jelas. Putranya bukan sakit parah, hanya cedera ringan. Jika ia langsung mendatangkan dokter dari luar negeri, sama saja ini namanya berlebihan. Dan Devan tidak suka itu. “Aku tidak butuh seseorang yang datang hanya untuk pamer gelar. Aku butuh dokter yang bisa cepat dihubungi, cepat bekerja, tanggung jawab penuh, dan tidak memperumit keadaan.” “Baik, Nyonya.” Direktur Surya men-scroll daftar dokter ahli yang ada di rumah sakit itu. Internis senior, ahli saraf, ahli penyakit dalam, dan beberapa dokter bedah dengan jam terbang tinggi. Ia membuka file satu per satu sambil menjelaskan dengan hati-hati. “Dokter Haris—20 tahun pengalaman, ahli penyakit dalam. Dokter Ratna—ahli saraf senior, usia 47 tahun. Bersertifikat internasional. Dokter Andra—dokter keluarga dengan jam terbang tinggi dan pasien VVIP.” Luna memandangi profil mereka sekilas. Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan minat sedikit pun. “Tidak,” katanya akhirnya. “Semua terlalu… kaku. Terlalu tua. Terlalu lambat dalam mengambil keputusan. Aku mau seseorang yang berani, cepat, tapi tetap teliti.” Direktur Surya menelan ludah dan menggulir layar sekali lagi. Kemudian—profil berikutnya membuat Luna menghentikan gerakannya. “Dokter Alicia…” gumamnya. Foto profil Alicia yang sangat cantik dan tersenyum manis, jelas membuat ia tertarik. Ia mengambil tablet itu dari tangan Surya dan membaca file lebih detil. Riwayat pendidikan mengesankan. Penanganan kasus selalu tepat dan cepat. Catatan laporan bersih. Masa training-nya memang baru, tapi performanya menonjol. Penilaian dari para senior: “Stabil secara emosional, berpikir jernih, memiliki insting medis tajam.” Mata Luna menyipit sedikit. Ekspresinya sulit ditebak, seolah sedang menimbang sesuatu yang lebih besar dari sekedar keputusan medis. “Menarik…” ucap Luna pelan. “Kompeten. Tenang. Bekerja rapi. Tidak banyak bicara.” Ia mengembalikan tablet itu. “Hubungi dia. Aku ingin bertemu hari ini juga.” Direktur Surya tampak kaget. “Ta-Tapi Nyonya… Dokter Alicia masih dalam masa training. Pengalaman kerjanya… masih sangat singkat. Dan… ada banyak dokter senior yang—” “Tidak peduli.” Nada Luna berubah sangat dingin, membuat suhu ruangan seakan turun beberapa derajat. “Aku sudah memilih. Aku mau dia yang menangani putraku. Dan sebelum dia menyentuh Devan, dia harus tahu kondisi anakku langsung dari mulutku sendiri.” Direktur Surya membungkuk dalam-dalam. Tidak berani membantah. Tidak berani bernapas terlalu keras. “Saya mengerti, Nyonya. Saya akan memanggilnya sekarang.” “Pastikan dia datang dalam lima belas menit,” tambah Luna ringan. Direktur Surya langsung pucat dan buru-buru melangkah keluar ruangan. Luna mengangkat cangkir tehnya, menyesapnya perlahan. Tatapannya tajam, dalam, dan penuh perhitungan. “Vivian…” ucapnya pelan. Nada itu dingin bagai pisau. “Kau pikir kau bisa sembarangan mengabaikan anakku? Kau pikir aku akan diam?” Senyum Luna muncul—pelan… menakutkan. Ia meletakkan cangkirnya perlahan, nyaris tanpa suara. “Tenang saja. Aku tidak akan menceraikanmu dari Devan…” Ia menyandarkan tubuh ke sandaran sofa. “…aku hanya akan membuatmu tahu tempatmu.” ---Luna menoleh, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.Ia berpura-pura berpikir sejenak.“Hmm…”Kemudian ia mengangguk santai.“Lumayan.”“Berapa lama?”“Satu jam,” kata Luna dengan sedikit tersenyum.Devan tertawa kecil.“Kenapa tidak telepon aku saja?”“Kamu sedang rapat,” jawab Luna tenang. “Lagipula Mami tidak ada urusan mendesak.”Ia mengangkat ponselnya sedikit.“Cuma sedang menonton sesuatu yang menarik.”Devan tidak bertanya lebih jauh.Ia berjalan mendekat.Lalu, tanpa banyak bicara, ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa di samping ibunya.Bram yang berdiri beberapa langkah di belakangnya masih memegang map sambil menunggu instruksi.Namun apa yang terjadi berikutnya benar-benar di luar dugaan.Devan merebahkan tubuhnya begitu saja di sofa.Kepalanya dengan santai jatuh tepat di pangkuan Luna.Luna terkejut sesaat.“Eh!”Ia menunduk melihat putranya yang tiba-tiba berbaring begitu saja.“Devan!”Namun pria itu sudah memejamkan mata.Ekspresinya terlihat jauh lebih santai daripada
Pagi itu wajah Devan tampak jauh lebih cerah dari biasanya.Padahal tadi malam ia terlihat sangat lelah dan tidak bergairah.Devan duduk dan mengambil sepotong roti.Luna yang duduk di seberangnya memperhatikannya dengan mata menyipit penuh rasa ingin tahu.“Sepertinya kamu sangat senang pagi ini,” katanya santai.Devan hanya tersenyum kecil sambil mengangguk.“Apa yang membuat kamu senang?” tanya Luna lagi.Namun sebelum Devan sempat menjawab, wanita itu langsung menambahkan dengan nada menggoda,“Jangan-jangan Vivian mau pulang ke rumah?”Senyum di wajah Devan langsung menghilang.Luna tersenyum geli melihat ekspresi wajah putranya.Ia menatap ibunya datar.“Kenapa?” Luna pura-pura tidak mengerti. “Bukannya memang begitu? Kamu kan cuma bilang benci Vivian karena sedang marahan saja. Nanti kalau dia datang, kalian pasti nempel lagi seperti perangko.”Nada suaranya ringan, tetapi jelas sengaja menggoda.Devan menghela napas panjang.“Dia bolak-balik menelepon aku,” katanya kesal. “Tap
“Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli
Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge
Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng







