Share

Bab 33

Author: Liazta
last update Last Updated: 2025-12-17 16:52:26

“Jangan pintar-pintar bermain kata!” bentaknya kemudian.

“Kamu tidak punya hak menyentuh Charlotte! Apalagi memukulnya!”

Alicia tersenyum tipis, pahit.

“Menarik. Jadi aku punya kewajiban sebagai kakak, tapi tidak punya hak?”

“Kewajibanmu adalah menjaga perasaan adikmu!” Sofia membalas tanpa ragu.

“Bukan melukainya!”

“Menjaga perasaan?” Alicia mengulang lirih.

“Sejak kapan perasaan Charlotte lebih penting daripada kebenaran?”

“Kebenaran versi kamu?” Sofia tertawa sinis.

“Kamu itu dari kecil selalu merasa paling benar! Paling menderita! Padahal kamu tidak pernah kekurangan apa pun!”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari tamparan mana pun.

Alicia memejamkan mata sesaat. Tarikan napasnya dalam, bergetar halus.

“Benarkah?” tanyanya pelan.

“Kalau begitu… boleh aku bertanya satu hal, Tante?”

“Apa lagi?” suara Sofia terdengar tidak sabar.

“Waktu aku berusaha mati-matian masuk fakultas kedokteran, belajar sampai hampir pingsan, Tante ingat tidak… siapa yang datang ke wisudaku?”

Sofia terdiam se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 69

    Setelah kekacauan di kediaman Tonny, rumah megah itu berubah menjadi tempat yang mencekam. Lampu-lampu kristal masih menyala terang, suar musik terdengar keras dan memekakan. Para tamu undangan tampak sangat bahagia. Mereka tertawa dan kemudian menari bersama. Namun tawa dibibir Charlotte telah mati sepenuhnya. Yang tersisa hanya keheningan berat, seolah setiap sudut menyimpan gema pertengkaran. Ulang tahun yang seharusnya menjadi malam paling membahagiakan bagi Charlotte justru menjelma menjadi mimpi buruk.Charlotte mengurung diri di kamar. Pintu tertutup rapat, tirai jendela ditutup rapat. Gaun pesta mahal masih melekat di tubuhnya, rambut kusut, air mata terus menetes dan amarah. Ia duduk meringkuk di atas ranjang, memeluk lutut, menangis tanpa suara—namun dadanya terasa akan pecah. Setiap kata yang keluar dari mulut Sofia terus terngiang di kepalanya.Anak pungut.Bukan darah daging.Tidak seharusnya berbicara tentang anak kandungku.Kata-kata itu seperti pisau: menusuk, memutar,

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 68

    Layar ponsel Alicia menggelap. Hening kembali menyelimuti. Ia menatap pantulan wajahnya di layar hitam—mata sembab, bibir bergetar, dada masih terasa penuh.Tangis itu akhirnya tumpah. Ia menutup mulut dengan punggung tangan, menahan suara agar tak terdengar. Air mata menetes satu per satu, jatuh ke layar ponsel yang masih hangat di genggamannya.Dua puluh empat tahun. Selama itu pula ia merasa seperti bayangan—hadir, tapi tak pernah diperhitungkan. Ulang tahun selalu menjadi momen untuk tersenyum tanpa berharap. Tidak ada kado, tak ada pelukan, tak ada ucapan yang benar-benar untuknya.Dan malam ini… ada seseorang yang mengingatnya. Ada seseorang yang mengucapkan namanya dengan kebanggaan.“Adikku sayang…”Alicia menekan ponsel ke dadanya. Rasa sesak berubah menjadi hangat yang membuatnya gemetar.Tiba-tiba notifikasi masuk: Saldo bertambah. Matanya membelalak, lalu kembali berkaca-kaca.“Abang ini gila…” gumamnya lirih sambil tersenyum, tangis dan tawa bercampur jadi satu.Ia bukan

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 67

    Seorang pelayan perempuan masuk ke ruang tamu dengan langkah ragu. Begitu matanya menangkap pemandangan di hadapan, ia membeku. Sinta terduduk di lantai, rambut kusut, bibir pecah dan masih mengeluarkan darah. Charlotte menangis tersedu-sedu di sudut, gaun berantakan, bekas tamparan jelas membekas di pipinya. sementara Tonny tergeletak setengah bersandar di sofa, wajah lebam, penuh luka cakaran, dasi terlepas, rambut acak-acakan seperti orang yang baru diseret keluar dari medan perang.Sebenarnya apa yang terjadi? Pertanyaan itu hanya ia ucapkan dalam hati.Pelayan menelan ludah, tangan gemetar namun tetap menunduk sopan. “Maaf, Tuan Tonny…” suaranya nyaris tak terdengar. “Tuan Thomas masih menunggu Anda di depan.”Kalimat sederhana itu menghantam Tonny lebih keras dari pukulan Sofia sebelumnya. Jantungnya berdegup liar, keringat dingin mengalir di pelipis. Ia ingin menolak, bersembunyi, meminta waktu berhenti—namun tahu menghindar sama saja mengubur reputasinya hidup-hidup.Dengan s

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 66

    Malam itu, Sofia tak lagi wanita lembut yang selalu tunduk pada suaminya. Tubuh mungilnya berubah menjadi singa betina. Rasa bersalah, bayangkan wajah Alicia yang menatapnya dengan dingin. Kata-kata Alicia, kata-kata Vina, semakin menusuk-nusuk jantungnya. Ia benar-benar terlihat seperti seorang singa betina, makhluk paling berbahaya. Ucapan Charlotte tadi seperti korek yang menyulut bensin.Sofia berbalik perlahan, matanya kemerahan, napas berat. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Charlotte.PLAK!Tamparan keras menggema di ruang tamu. Charlotte terhuyung, kepala berputar. Tangannya secara refleks memegangi pipi yang langsung panas dan perih. Ia menatap Sofia dengan mata membesar, penuh keterkejutan.“Mami…?” suaranya bergetar. “Kenapa Mami menampar aku?”Tangan Sofia sudah kram; telapaknya terasa perih, nyeri menjalar hingga pergelangan. Namun rasa sakit itu tak berarti apa-apa dibandingkan sesak yang menekan dadanya.“Kau hanya anak pungut,” desis Sofia dingin. “Tidak

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 65

    Tangannya kembali terangkat. PLAK! Kali ini lebih keras. Sinta menjerit ketika bibirnya pecah, darah segar mengalir bercampur air mata, tubuhnya gemetar hebat.Tubuh kecil Sofia, duduk di atas dadanya. Seharusnya ia bisa mendorong dengan mudah. Namun nyatanya tidak. Wanita bertubuh kecil itu sangat kuat dan bahkan ia tidak bisa menandingi.“SOFIA, CUKUP!”Akhirnya Tonny bergerak. Ia melangkah maju dan menarik lengan Sofia dengan kasar. “Kau sudah gila?! Lepaskan dia!”Sentuhan itu—kasar dan menyakitkan—menjadi pemantik terakhir. Sofia berbalik, dan kali ini… tatapannya mengunci Tonny.“Lepaskan?” ulangnya pelan namun nadanya berbahaya. “Kau berani menyuruhku melepaskan?”Ia tertawa—tawa pendek, pahit, nyaris seperti tangisan. “Kau diam saja ketika dia menghina anakku,” lanjut Sofia, suaranya bergetar namun tegas. “Kau diam ketika aku disebut melahirkan anak durhaka. Dan sekarang kau berani menyentuhku?”Tonny terkejut. “Aku hanya ingin menghentikan—”PLAK! Tamparan Sofia mendarat di p

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 64

    Sofia masih memegang ponsel ketika langkah kaki berat terdengar mendekat. Tonny muncul di ambang ruang tamu dengan wajah gelap. Matanya menyala bukan karena marah biasa, melainkan karena takut kehilangan segalanya.“Bagaimana?” tanyanya tajam. “Apa katanya?”Sofia menelan ludah—tenggorokannya kering. “Alicia… tidak mau datang.”“Apa?” Suara Tonny meninggi. “Apa maksudnya tidak mau?”“Ia bilang tidak ingin terlibat,” jawab Sofia pelan. “Katanya sudah lelah dengan semua ini.”Wanita paruh baya itu menjawab sesuai dengan jawaban yang diberikan Alicia. Namun kali ini sikap Sofia tidak seperti biasanya. Tidak ada luapan emosi, ketika menyampaikan hal tersebut.Satu detik berjalan. Lalu—BRUK!Tonny menghantam meja kaca dengan telapak tangan. Gelas bergetar. Suara keras itu membuat Sofia reflek menutup mata. “Anak durhaka! Anak tidak tahu diri!” bentaknya.Sofia tersentak. “Tonny—”“DIAM!” Tonny menunjuk wajahnya. “Ini semua salahmu! Kau yang melahirkannya! Kau yang membesarkannya jadi samp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status