LOGIN"Uang di kartu debit ini adalah bayaran mu semalam. Sekarang kita impas. Selamat tinggal, Tuan Aras!" Wajah Aras langsung menggelap sempurna. "Teresa!" Teriak Aras marah, menembus udara dan menggemparkan seluruh bangunan. 'Apa dia pikir tubuhnya bisa dijual? Beraninya Teresa menggunakan uang untuk menghinanya!' Kedua tangan Aras mengepal sampai buku-buku jarinya memutih. "Teresa, sebaiknya kau berdoa supaya aku tidak menangkapmu!"
View MoreCahaya biru redup dari pergelangan tangan Archie memantul di dinding kamar yang gelap. Aras Yohan, yang baru saja melangkah masuk dengan niat mengecek putranya sebelum tidur, menghentikan langkahnya. Matanya menyipit saat melihat bayangan hologram kecil yang baru saja menghilang saat pintu terbuka. "Archie?" panggil Aras lembut, namun penuh selidik. "Kau belum tidur?" Archie segera menarik tangannya ke bawah selimut. Ia membalikkan tubuh, memunggungi ayahnya. "Aku sedang tidak ingin bicara, Ayah. Aku mengantuk," sahutnya ketus. Suaranya terdengar datar, namun ada nada permusuhan yang belum pernah Aras rasakan sekuat ini sebelumnya. Aras mendekati ranjang besar itu, duduk di tepinya. Ia menatap jam tangan pintar yang melingkar di pergelangan tangan Archie. "Tadi Ayah melihat cahayanya menyala. Kau baru saja menghubungi siapa?" "Bukan siapa-siapa. Hanya mengecek jam," jawab Archie pendek. Ia menarik selimut hingga menutupi kepalanya, menciptakan benteng kain antara dirinya dan pria
Alice menatap tumpukan uang di tangannya, lalu menatap Aras dengan mata hitamnya yang bulat dan tegas. Bukannya takut, ia justru melangkah maju, berdiri tepat di depan kaki Maminya yang gemetar. "Paman Pedagang Manusia," suara Alice terdengar lantang, "Mami tidak pernah memintaku bicara buruk tentang Paman. Tapi kalau Paman datang ke sini hanya untuk memarahi Mami dan membuatnya takut, berarti Paman bukan bos yang baik!" Aras tertegun. Ia terbiasa ditakuti oleh kolega bisnisnya, bahkan Archie pun jarang berani menentangnya secara terbuka. Namun, gadis kecil ini menatapnya seolah Aras hanyalah pengganggu jalanan. "Alice, jangan bicara begitu..." bisik Teresa panik, mencoba menarik Alice kembali. "Tidak, Mami! Paman ini sombong sekali karena punya mobil besar," lanjut Alice, menunjuk Rolls Royce Aras. "Mami bekerja keras. Dia sering pulang dengan mata lelah karena mengurus putra Paman. Bukannya berterima kasih, Paman malah membentak-bentak. Paman harus minta maaf!" Aras merasa
Setelah menidurkan Archie yang kelelahan dan mengobati luka-lukanya dengan tangan gemetar, Teresa tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia segera mengambil ponselnya dan menekan nomor Aras. Dadanya sesak melihat putra sulungnya diperlakukan seperti sampah di sekolah elit itu. "Halo, Tuan Yohan," suara Teresa bergetar, antara sedih dan marah. "Ada apa lagi, Teresa? Aku sedang dalam perjalanan pulang," jawab Aras dingin dari seberang telepon. "Archie sudah pulang. Tapi... dia hancur, Aras! Seragamnya penuh tinta, wajahnya memar, dan bibirnya pecah. Anak itu mengalami perundungan dan penghinaan yang luar biasa hari ini. Aku harap kau segera mengurus masalah ini—" "Cukup, Teresa!" Aras menyela dengan nada tajam yang membuat Teresa tersentak. "Aku sudah ingatkan berkali-kali, ini bukan tempatmu mengajariku cara mendidik putraku sendiri. Perkelahian antar anak laki-laki adalah hal biasa. Jangan mendramatisir keadaan hanya untuk menarik perhatianku." Teresa memejamkan mata, air matan
"Kalau begitu ayah akan berangkat bekerja, pengasuhmu yang akan mengantar ke sekolah. Tidak masalah, kan?" Pamit Aras mengacak rambut hitam putranya. "Em, huh!" Archie mengangguk enggan, dari matanya bisa terlihat kalau sebenarnya dia menolaknya. Aras memperhatikan semua itu, dia teringat apa yang di katakan Teresa tempo hari. Kalau anak-anak dan orang tua di sekolah itu tidak menyukai Archie. Rasa khawatir muncul di hati Aras. "Bilang pada ayah, apa benar kamu tidak suka pergi ke sekolah?" Tanya Aras menatap Archie serius. Archie memalingkan wajahnya, membukam mulutnya. Aras mendesah pelan. Selalu saja, setiap kali dia berusaha berkomunikasi pada putranya tentang masalah seperti ini, Archie selalu menghindar dan menolak untuk jujur. Bocah itu selalu acuh tak acuh, merasa bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Merasa bahwa dengan posisi dan otoritasnya, tidak akan ada yang berani padanya. "Baik, kalau kamu tidak bisa mengatakannya. Ayah anggap semuanya baik-baik saja. Kalau beg
"Menggigit? Tentu saja, aku tidak sudi menempelkan anggota tubuhku pada sesuatu yang kotor seperti dirimu!" Kata Aras menaikkan alisnya, memandang Teresa arogan. "Teresa, jadi bagaimana kau akan membayar apa yang telah kau lakukan padaku lima tahun lalu?" Tanya Aras lagi sinis. Ingatan lima tahun
Pusat Medis Zenith... Aras pergi ke ruang pemeriksaan. Ketika dia masuk salah satu petugas rumah sakit langsung menyambut dan memberikan laporan. "Tuan Aras, data pasien sudah di masukan ke dalam system kita dua puluh menit lalu. Kami telah melakukan sesuai perintah Anda dan meletakkan alat pengi
satu tahun kemudian...Teresa sudah melahirkan tiga bayi lucu di rumah sewaannya. Dia terpana melihat bayi-bayi imutnya di tempat tidurnya, dua laki-laki dan satu perempuan. Satu tahun ke belakang, pencarian akan dirinya tidak pernah di hentikan.Pria bergengsi tinggi dan bermartabat seperti Aras
"Mari kita becerai."Pria berwibawa tapi angkuh itu menatap wanita mungil di hadapannya tanpa emosi."Aku yang akan membayar tunjangannya," Katanya acuh tak acuh. "Kalau kau membutuhkan uang, pekerjaan, ataupun dokter untuk ibumu, aku akan menyediakannya." Teresa menahan air matanya mati-matian.C






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews