Masuk"Apa yang kamu—""Buka mulut," potong Alicia, menatapnya lurus tanpa ragu. "Atau saya akan berdiri di sini sampai malam."Devan menatap sendok di depan wajahnya, beralih ke wajah Alicia, lalu kembali ke sendok itu lagi. Ekspresinya tampak bimbang; ada guratan kesal yang tertahan, namun entah mengapa, ia justru terlihat pasrah."Alicia," ucapnya dengan suara rendah yang dalam. "Aku bisa makan sendiri."Alicia mendengus kecil. "Iya, katanya bisa. Tapi faktanya, sejak tadi nasi itu cuma kamu pandangi, bukan dimakan. Kalau nasi bisa tersinggung, dia sudah minta pindah piring."Devan menatapnya tajam. "Kamu berlebihan.""Tidak," sahut Alicia cepat. "Yang berlebihan itu bekerja tanpa makan. Lambung kamu itu organ manusia, bukan mesin. Kalau sampai rusak, saya yang akan disalahkan. Dan saya tidak mau dimarahi Nyonya Luna hanya karena Anda terlalu keras kepala."Devan terdiam, kehilangan kata-kata.Alicia melanjutkan tanpa memberi celah bagi Devan untuk menyela. "Sudah, jangan mendebat. Saya
Dokter itu mengambil pil tersebut, memutarnya di antara dua jarinya. Ia lalu membuka botol resmi di mejanya, menuangkan satu pil untuk dibandingkan.Diamnya terlalu lama.“Tidak,” katanya akhirnya, datar. “Ini bukan obat yang membuatnya bergantung.”Tonny membeku. “Maksud Anda…?”“Yang seharusnya ia minum,” lanjut dokter itu pelan, “adalah senyawa yang menekan kesadaran emosionalnya. Membuat pikirannya tenang hanya selama ia patuh. Selama ia terus minum.”Ia mengangkat pil dari kantong Tonny.“Ini?” Ia mendengus tipis. “Hanya zat perawatan tubuh. Tidak menyentuh pikirannya sama sekali.”Perawatan kulit?" “Ya, ini vitamin,” jawab dokter itu tenang. “Vitamin C, vitamin E, dan kolagen. Ini obat untuk perawatan kulit.”Tonny membeku. Napasnya tersendat di tenggorokan. Ia terduduk lemas di kursi pasien, kepalanya berdengung hebat.“Tidak mungkin…” gumamnya lirih.Ia meraih ponselnya, membuka kembali foto resep-resep lama dan membandingkannya satu per satu dengan pil di tangannya. Tidak ad
Sinta duduk tenang di sofa ruang kerja Tonny, matanya mengikuti gerak-gerik pria itu yang mondar-mandir tanpa arah. Wajah Tonny tampak kusut, matanya cekung, dan dasinya sudah tak lagi rapi. Jelas sekali, badai semalam telah menggerogoti kewarasannya. Sinta melipat tangan di dada. Matanya menyipit—bukan karena khawatir, melainkan sedang menakar setiap kata yang akan ia lepaskan sebagai umpan. “Aku dari tadi memperhatikan,” ucapnya pelan, suaranya dibuat selembut mungkin. “Sofia… sekarang sangat berbeda.” Langkah Tonny terhenti. “Maksudmu?” Sinta bangkit dan melangkah mendekat. Bunyi tumit sepatunya berdetak pelan di atas lantai marmer, setiap langkah seolah memberikan tekanan baru pada syaraf Tonny yang menegang. “Biasanya dia hanya diam. Menangis. Mengurung diri,” katanya hati-hati. “Tapi semalam… itu bukan Sofia yang kita kenal.” Tonny menelan ludah, tenggorokannya terasa kering kerontang. “Dia memukul,” lanjut Sinta lirih. “Menarik rambut. Tatapannya liar, seolah tak sadar s
Tonny benar-benar panik.Begitu melihat mobil Sofia berbelok memasuki gerbang gedung perusahaan, darahnya seakan berhenti mengalir. Telapak tangannya basah oleh keringat, sementara dadanya naik-turun tak beraturan.“Tidak… tidak boleh,” gumamnya serak.Tanpa berpikir panjang, ia langsung menginjak pedal gas. Mobilnya melaju liar mengejar Sofia, tak lagi mempedulikan klakson dari kendaraan lain. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Tonny merasa benar-benar kehilangan kendali.Begitu Sofia turun dan melangkah masuk ke gedung perusahaan miliknya sendiri, Tonny menyusul dengan langkah tergesa. Dasinya sudah miring, jasnya kusut, dan wajahnya pucat—jauh dari sosok direktur tenang yang selama ini ia pamerkan.“Sofia!” panggilnya keras.Sofia berhenti tepat di depan pintu putar. Ia menoleh perlahan, menatap suaminya dengan ekspresi datar. Tidak ada amarah, tidak ada keterkejutan. Justru ketenangan itulah yang membuat Tonny semakin gelisah.“Kau mau apa ke sini?” Tonny mendekat, suarany
Setelah kejadian tadi malam, Sofia sama sekali tidak memejamkan mata. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, menatap kosong ke arah jendela yang mulai memucat oleh cahaya subuh. Bukan karena marah. Bukan pula karena benci. Melainkan karena pikirannya terus dipenuhi potongan kenangan yang selama ini ia paksa terkubur.Tangannya meremas selimut tipis di pangkuannya. Obat-obatan yang sudah hampir 20 tahun ia konsumsi tergeletak rapi di laci samping ranjang.Setiap kali merasakan pikirannya yang tidak nyaman, atau ada masalah sedikit saja yang membuat emosinya terganggu, Tonny akan memintanya mengkonsumsi obat tersebut. Katanya obat itu dapat menenangkan, dan ternyata benar—dengan obat itu Sofia merasa jauh lebih tenang.Sofia membuka laci, menatap botol-botol kecil berlabel medis, lalu menghela napas panjang. Sejak beberapa bulan terakhir, setiap obat itu masuk ke telapak tangannya, ia tidak lagi menelannya. Ia membuangnya diam-diam dan menggantinya dengan vitamin kulit—alasan sederhana a
Pagi itu Alicia terbangun dengan wajah berseri-seri. Matanya langsung terbuka, bibirnya refleks tersenyum. Malam tadi… apa cuma mimpi?Ia bangkit setengah duduk, meraih ponsel di samping bantal. Jarinya gemetar kecil saat membuka notifikasi, dan detik berikutnya—matanya membelalak.Transfer masuk: 500.000.000Pengirim: RayanAlicia langsung menutup mulut. “Ya Allah… beneran,” gumamnya lirih, nyaris tidak percaya.Pandangannya bergeser ke nakas, di mana kado dari Luna dan Devan terletak rapi—tas mahal yang berkilau lembut, dan kotak jam tangan eksklusif yang bahkan belum ia buka sejak semalam.Bukan mimpi. Ini nyata.Baru saja ia menarik napas lega, ponsel bergetar lagi. Kali ini panggilan masuk: Bibi Rika.Alicia tersenyum lebar dan langsung mengangkatnya. “Halo, Bu! Ibu gimana kabarnya?” sapanya ceria, suara ringan—jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya.Di seberang sana, Rika tersenyum puas. Ia sengaja menelepon biasa, bukan panggilan video, agar lebih aman, bebas bicara. “Ibu baik,







