LOGINMatthias dituduh sebagai dalang kematian Ayah dan saudara angkatnya demi menguasai harta Roezta, Dia juga di tuduh berselingkuh, tetapi anehnya dia masih berani meminta anak dari Serafia-Istri sekaligus adik angkatnya. "Kau harus memberiku anak jika ingin aku ceraikan!" "Minta saja pada wanita simpananmu." Berbeda dengan Serafia yang berusaha mengakhiri pernikahan yang memang awalnya tercipta karna terpaksa, Matthias justru mati-matian mempertahankan Serafia. "Mari kita membuat sebuah kesepakatan, aku akan menceraikanmu dengan sukarela jika semua tuduhan itu berhasil kau buktikan. Tapi jika sebaliknya, maka kau harus sukarela juga melahirkan anak untukku." Matthias terobsesi pada Serafia tetapi mengaku tidak cinta dan itulah yang membuat hati sang wanita terluka dan kian membenci, karna nyatanya Serafia sudah jatuh lebih dulu. Lantas jika tidak cinta, mengapa Matthias meminta anak dan masih bertahan? Benarkah dia punya tujuan lain? Apa Saja yang Matthias sembunyikan sampai Serafia melabelinya misterius? "Sepertinya aku tidak bisa lebih lama lagi disini.. setelah semua urusan dan tujuanku tercapai, aku akan meninggalkannya."
View More"Matthias, berhenti. Aku sudah tidak kuat." Dengan napas yang tersenggal-senggal Serafia berusaha menghentikan kegiatan pria yang sejak sejam lalu menjamah tubuhnya.
Sidang cerai dimulai besok, kota London juga sudah memasuki waktu dini hari, tapi bukannya mempersiapkan.. pasutri yang sebentar lagi berpisah ini justru bergumul panas disini. "Jangan berpura-pura tak menikmatinya, Sera. Aku hanya tidak menyentuhmu beberapa minggu, dan nyatanya kita sudah melakukan ini cukup sering," goda Matthias di tengah erangan dan napasnya yang memburu. "Ah.." Desahan Serafia mulai berganti jadi rintihan. Kesadarannya di bawah rata-rata, bahkan sejak aktivitas ini dimulai, ia seperti di bawah pengaruh sesuatu hingga tidak cukup mampu melawan Matthias yang berada diatasnya. "Matthias.. sakit, kumohon berhenti." Bukannya berhenti, desahan yang mulai bercampur rintihan itu justru kian membuat Matthias bergejolak dan membakar gairahnya untuk melakukannya lebih dalam dan lebih gila lagi pada istrinya, seolah melampiaskan hasrat yang cukup lama terpendam. "Tadinya aku tidak mau melakukan ini, tapi kau yang terus membahas perceraian sialan itu, membuatku terpaksa melakukannya dengan cara yang curang..." Matthias berkata di tengah napasnya yang tak beraturan Deruh napas sesak keduanya bersahutan, mengisi kekosongan dalam kamar yang sudah sangat berantakan itu. Keringat sudah membanjiri tubuhnya, tapi tak ada tanda Matthias akan berhenti dari aktivitas tersebut, punggungnya yang tegap dan kekar menutupi Serafia yang berada di bawahnya hingga perempuan itu nyaris tak terlihat, hanya kedua tangannya yang nampak meremas dan mencakar punggung sang suami. Tak kuat menahannya, Serafia berakhir pingsan, namun tak juga membuat Matthias berhenti.. pria itu terus melakukannya sampai puas walau lawannya telah tumbang. Ia menang telak, karna Serafia yang tak berdayah melawan sejak awal, Dan sudah dapat di pastikan akan semurka dan mengamuk apa perempuan itu ketika terbangun esok pagi, mendapati dirinya dalam keadaan mengenaskan. Sial juga bagi Serafia, karna calon mantan suaminya ini menjamahnya tanpa mengenakan pengaman. .... 08 : 00 Pagi, waktu London. Cahaya matahari pagi menyusup paksa melalui celah gorden beludru abu-abu, menusuk tepat di kelopak mata Serafia. Perempuan dengan paras menawan itu mengerang, merasakan denyut di pelipisnya seperti hantaman palu kecil yang berulang. "Auhh.." Serafia meringis tak nyaman, ia baru saja bangun dari tidur, tetapi sekujur tubuhnya terasa sakit terutama di bagian intimnya, seolah ia habis melakukan aktivitas berat. Perempuan 24 tahun itu membeku. Hawa dingin menyentuh bahunya yang polos. Saat ia memberanikan diri untuk meraba di bawah kain, ia tidak menemukan selembar benang pun melekat di tubuhnya. Dengan gerakan patah-patah, ia menoleh ke samping. Di sana, terbaring sosok pria dengan napas teratur yang sangat ia kenali. Matthias, sosok pria 31 tahun yang seharusnya menjadi mantan suaminya dalam hitungan jam hari ini. "Tidak mungkin..." bisik Serafia parau. Mata kantuknya seketika berubah membelalak syok. Mencelos jantungnya. Memori semalam berputar kacau di kepalanya, dan secepat kilat menyambar amarahnya. Emosinya bergejolak hebat setelah menyadari apa yang telah terjadi beberapa jam yang lalu. "Bangun! Matthias, bangun!" Serafia menyentak selimut itu dengan kalap, mengabaikan fakta bahwa dirinya sendiri kini terekspos. Ia menarik ujung sprei untuk menutupi dadanya, sementara tangannya yang lain mengguncang bahu kokoh pria itu dengan beringas. Matthias menggeliat pelan. Ia membuka mata, menampakkan iris gelap yang tampak begitu jernih, seolah ia sudah lama terbangun dan hanya menunggu momen ini. Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya. "Selamat pagi, Istriku sayang," suara baritonnya serak, terdengar begitu intim hingga membuat Serafia ingin berteriak. "Apa yang kau lakukan brengsek?!" Serafia langsung memaki. "Apa yang aku lakukan?" Matthias mengulang ucapan istrinya dengan wajah yang pura-pura bingung. "Harusnya kau bertanya, apa yang telah kita lakukan, karna kejadian semalam bukan hanya aku yang melakukannya." "Sialan kau Matthias!" amuk Serafia seraya memberi pukulan bertubi tubi pada pria itu. Matthias tak melawan, ia hanya berusaha menangkis serangan Serafia, mulai dari bantal yang di lempar.. kepalan tangan yang menghujani tubuhnya, sampai lemparan lampu nakas yang sedikit berhasil melukainya. "Ayolah Sera, jangan berlebihan begini. Ini bukan kali pertama kita melakukanya sejak menikah tiga tahun lalu." Matthias konsisten dengan sikap tenangnya, yang semakin membuat Serafia naik pitam. "Kau sudah merencanakan ini kan, Hari ini sidang kedua kita, dan dengan otak licikmu itu kau rencanakan ini!" Matthias bangkit, bersandar pada headboard ranjang dengan santai, membiarkan tubuh bagian atasnya yang atletis terlihat jelas. "Betul, aku yang merencanakannya, Tapi bukankah semalam sangat luar biasa? Kau tidak terlihat seperti wanita yang ingin bercerai saat mencengkeram bahuku, Sera." "Kau menjebakku!" teriak Serafia. Matthias tidak membela diri. Ia justru terkekeh, sebuah suara rendah yang terdengar mengejek di telinga Serafia. "Menjebak? Itu kata yang terlalu dramatis. Aku hanya memastikan kita memiliki waktu berkualitas sebelum kau membuat keputusan bodoh di depan hakim." "Keputusan bodoh? Bercerai darimu adalah keputusan paling cerdas dalam hidupku, dan harusnya sudah aku lakukan dari lama, jauh sebelum kau menguasai semuanya, termasuk harta peninggalan mendiang Ayahku!" Serafia menyambar bantal dan menghantamkannya ke wajah Matthias. "Menurutku tidak, justru kau hanya perlu waktu menjernihkan pikirkanmu, agar tidak gampang terhasut oleh pihak yang sedang mencari cara memisahkan kita, dan tuduhanmu tentang harta itu juga tidak benar," balas Matthias. Serafia tak memperdulikan perkataan suami sekaligus kakak angkatnya ini, ia tetap menyerbu lelaki itu dengan beragam tuduhan dan tanpa berhenti main tangan. "Kau memerk*saku, Matthias! Kau memanfaatkan kondisiku yang tidak sadar. Aku akan melaporkan ini, aku akan jadikan ini alasan tambahan di persidangan nanti!" Matthias menangkap bantal yang Serafia lemparkan dengan satu tangan, lalu menatap Serafia dengan tatapan yang mendadak tajam dan penuh dominasi. "Silakan. Laporkan saja. Tapi sebelum kau melangkah keluar dari kamar ini, ada satu detail kecil yang harus kau tahu." Ia menjeda, memberikan senyum paling tengil yang pernah Serafia lihat. "Semalam, aku sengaja tidak menggunakan pengaman. Sama sekali. Dan mengingat siklusmu yang sedang di masa subur... kemungkinan besar ada 'hadiah' kecil yang sedang mulai bertumbuh di rahimmu sekarang." Dunia seolah berhenti berputar bagi Serafia. Wajahnya pucat pasi. "KAU... KAU GILA." "Aku ingin pernikahan ini tetap berjalan, Serafia. Dan aku akan buktikan jika semua yang kau tuduhkan padaku itu tidak benar." "Kau tidak mau memberikan aku waktu untuk membuktikan, dan jika aku harus mengikatmu dengan seorang anak agar kau berhenti mengejar surat cerai itu, maka itulah yang akan kulakukan," Matthias bangkit dari ranjang seraya melilitkan handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Ia biarkan wanitanya itu mengamuk histeris dan menyumpah serapah di atas kasur. Serafia rasanya ingin menghancurkan seisi kamar ini berikut dengan Matthias sekalian. "Kau ingin cerai? Bayangkan skandalnya jika seorang calon janda ternyata mengandung anak dari pria yang baru saja ia ceraikan. Hakim pun akan menertawkanmu." "Aku tetap akan pergi," desis Serafia, giginya gemertak karena amarah. "Aku tidak peduli dengan bualanmu tentang hamil atau tidak. Aku akan ke rumah sakit, aku akan minum pil pencegah, dan aku akan tetap ke pengadilan pagi ini dan menceraikanmu!" Serafia melompat dari ranjang, memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dengan tangan gemetar. Ia tidak memedulikan tatapan lapar Matthias yang mengikuti setiap gerakannya, ia sudah cukup terbiasa dengan sikap liar dan menjijikan Matthias, bahkan kejadian ini pun sepertinya sedikit banyak sudah Serafia bayangkan—mengingat karakter nekat pria itu. Ia merasa kotor, merasa terhianati, namun api kemarahan di dadanya justru membakar rasa takutnya. Matthias hanya menonton istrinya yang sedang berjuang mengenakan pakaian dengan terburu-buru. Ia tidak mencoba menahan tangan Serafia atau menghalangi pintu. "Kau punya waktu empat puluh lima menit untuk sampai ke sana. Kau yakin ingin muncul di depan hakim dengan rambut berantakan dan tanda merah di leher yang belum sempat kau tutupi itu?" Serafia berhenti sejenak, menatap bayangannya di cermin. Benar. Matthias sengaja meninggalkan jejak di sana. Dengan kasar, ia menarik kerah kemejanya ke atas dan menyambar tas tangannya. "Apapun yang kau rencanakan, Matthias, itu tidak akan berhasil. Keputusanku sudah bulat untuk menceraikanmu." "Kau penghianat, bukan hanya mendiang Ayah dan kakakku, tapi kau juga menghianatiku. Kau memanfaatkan situasi kritis Roez dan kebodohanku tiga tahun lalu, untuk mencapai tujuanmu," cecar Serafia tajam sebelum membanting pintu kamar itu dengan kekuatan penuh. Matthias tetap di posisinya. Ia mengambil sebatang rokok dari laci, menyulutnya, dan mengembuskan asap ke udara dengan tenang. Senyum puas tidak lepas dari wajahnya. Ia mendengarkan suara deru mobil Serafia yang meninggalkan pelataran rumah mereka dengan kecepatan tinggi. "Pergilah, Sayang," gumamnya pada ruangan yang kosong. "Dan mari kita lihat, uang siapa yang menang dan kuasa siapa yang mendominasi.."Sudah dua hari Rosena berada di kediaman ini, dan sepertinya Serafia cukup menurut untuk tidak menampakan wajah di depan sang ibu—setidaknya untuk saat ini, karna itu pula.. walau berada di rumah yang sama, Serafia hanya berani memperhatikan ibunya dari jauh."Ibu Sudah tidur?" Serafia bertanya pada Lili—maid yang cukup dia percaya."Sudah nona, tadi setelah berjalan-jalan di taman, Tuan Matthias mengantar Nyonya Rosena ke kamar.""Hm.." Serafia mengangguk-anggukan kepalanya paham. Jujur dia sangat menentang dan tak terima akan kedekatan Matthias dan Rosena. Ia merasa tak seharusnya Rosena bergantung pada seseorang yang menjadi dalang kemalangan mereka saat ini. Namun, untuk saat ini Serafia juga tidak bisa berbuat apa-apa, suka tidak suka dia harus menelan fakta jika ibunya lebih nyaman dan percaya pada Matthias dibanding dirinya."Nona ingin saya buatkan sesuatu? Sudah dua hari ini saya lihat Nona jarang makan, makan malamJuga selalu terlewat," ujar Lili perhatian. Ia sadar betu
"Benar kau punya wanita lain?" Lauren bertanya secara beruntun. "Dan apa mendiang Morgan dan Nikolas tahu jika kau bagian dari keluarga Voinstein?"Padahal nadanya cukup tenang tapi Matthias merasa di introgasi disini. Pria itu diam cukup lama, membiarkan pertanyaan Lauren mengambang tanpa jawaban.Diamnya Matthias membuat Lauren kembali berbicara seolah mendesak agar lelaki itu segera merespon."Selama ini Bibi tidak pernah mencampuri urusan pribadimu. Bibi selalu percaya kau berada di jalan yang benar. Tapi saat ini bibi merasa berhak dan perlu meluruskan masalah ini.. Agar jika memang ada kesalahpahaman, bisa membantu menjelaskannya pada Serafia," tuturnya.Kali ini akhirnya Matthias memberi tanggapan, tapi dengan ucapan yang agak ambingu."Maaf.. tapi untuk saat ini aku belum bisa menjelaskan apapun.""Maksudmu?" Kening wanita paruh baya itu mengerut, tak sedikitpun dia alihkan padangan dari sang lawan bicara.Di tengah ruang keluarga yang agak senyap karna sudah mendekati tengah
"Kenapa begitu?" Serafia melayangkan protes mendengar penuturan Lauren. "Mengapa aku masih tak boleh menemui ibu?""Bukan tak boleh, tapi untuk saat ini tunda dulu keinginanmu. Ini bukan hanya demi kebaikan ibumu, tapi demi kebaikanmu juga," jelas Lauren.Tentu dia yang paling tahu keadaan Rosena dan memahami situasinya, karna selama sakit—Lauren lah yang mengurus kakak kandungnya itu."Dokter bilang ibumu belum seratus persen pulih, dia memang mulai bisa mengendalikan dirinya, tetapi beberapa hal masih dapat memicu dia lepas kontrol." Lauren memaparkan dengan hati-hati. Akan tetapi, Serafia juga sedang berada di suasana hati yang tak cukup baik. Sekalipun ia tahu dengan jelas alasan Lauren melarangnya, perempuan itu tetap keras kepaa. Ia denial—yakin kali ini ibunya akan menyambut dengan baik.Selama ini Serafia berharap besar jika ibunya sudah berubah dan tak lagi membencinya, karna itu lah ia rela menahan rindu selama berbulan-bulan pada Rosena demi pemulihan sang ibu. "Jika teru
Setelah beberapa hari mengurung diri dikamarnya karena depresi, Serafia memutuskan untuk keluar menemui seseorang. Bukan Andrew, perempuan itu pergi menemui pamannya."Maksud Paman Miguel, bukti itu belum bisa menjadikan Matthias sebagai tersangka?" Serafia bertanya.Di dalam kantor firma hukumnya yang bernuansa kayu mahoni tua, Miguel menyesap teh Earl Grey yang sudah mendingin."Bukan belum bisa, hanya di mata hukum itu belum cukup kuat untuk menjadikan dia terdakwa. Transaksi dan chat yang dia lakukan bersamaSeorang mekanik, dan Rekaman CCTV saat dia bertengkar dengan Morgan, itu belum kuat," jelas Miguel.Serafia tertegun diam mendengar penjelasan Miguel, sedikit keraguan muncul dalam dirinya. Lubuk hati terdalamnya pun bertanya kembali—jika sesulit itu membuktikannya, apa itu artinya ada kekeliruan? Namun pikiran itu dengan cepat Serafia tepis, dan kembali pada keyakinan awalnya."Kita masih kekurangan bukti, Sera. Kau harus mencari dan menemukan bukti yang lebih kuat.""Bukti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews