Share

Bab 2

Author: Ungu
Aku merasa sangat malu, tapi orang-orang di sekitar malah berteriak kegirangan.

“Haha, suara desahan istrinya memang sangat menggoda! Sudahlah, cukup menonton sampai di sini saja. Ayo semuanya, kita pergi minum-minum lagi! John, kalau sudah beres cepat keluar dan temani kami minum lagi!”

Usai bicara, para warga pun bubar.

Di dalam kamar, hanya tersisa John yang terus memadu kasih denganku. Tapi, belum sampai dua menit, dia sudah menyerah.

Karena itu adalah pengalaman pertamaku, area di bawah sana terasa sangat sakit, jadi aku pun tak terlalu memikirkannya.

Setelah beristirahat sejenak, suamiku keluar untuk minum bersama mereka.

Suasana kamar pun kembali tenang.

Aku duduk tegak.

Cermin besar di samping lemari memantulkan bentuk tubuhku yang sempurna.

Tubuhku montok dan sexy, bekas kemerahan yang ditinggalkan John masih terlihat jelas di leher.

Hanya seutas tali tipis yang menggantung di bahu, membiarkan sebagian besar kulit putihku terpapar.

Kain renda hitam berbentuk segitiga itu sama sekali tak bisa menutupi bagian sensitifku yang indah. Di bawah dada, kain tipis hanya menjuntai sampai pangkal paha, membuat area tersembunyi itu samar-samar terlihat.

Melihat penampilanku yang begitu menggoda di cermin, aku tak tahan untuk menyentuh pahaku sendiri, sambil mengenang kejadian tadi. Setelah rasa sakitnya mereda, aku pun mulai merasa tidak puas.

Bermain sendiri sambil ditemani suara gaduh dari halaman terasa jauh lebih memalukan daripada saat ditonton orang banyak tadi.

Aku melakukannya sekali dengan terburu-buru, lalu berhenti untuk menunggu John kembali ke kamar.

Entah sudah berapa lama berlalu, akhirnya John dipapah kembali oleh beberapa temannya dalam keadaan mabuk berat.

“Maaf sekali, kakak ipar. Kami minum kebanyakan sangking senangnya.”

Sambil tersenyum dan berbasa-basi sejenak, aku pun meminta teman-teman John untuk lanjut minum di luar, karena ayah mertuaku masih ada di luar menemani mereka.

Aku pun beranjak untuk mengambil segelas air untuk John. Jari-jariku yang memegang gelas tanpa sadar mengusap tepiannya.

Ujung jariku gemetar saat menyentuh setetes air yang mengalir di dinding gelas, membuatku merasa semakin hampa.

Aku menatap John yang tertidur pulas, lalu tak tahan untuk menendangnya sekali. Tapi, dia tak bereaksi sama sekali.

Terpaksa, aku mematikan lampu dan mencoba tidur.

Meskipun baru saja kehilangan keperawanan hari ini, entah kenapa begitu memejamkan mata, sensasi di tubuhku malah semakin kuat. Setiap gesekan tak sengaja di antara kedua kakiku saat berbalik posisi seolah mengingatkanku pada keinginan dalam hati.

Aku reflek merapatkan kedua kaki, tapi itu tak memberikan kelegaan. Karena takut membangunkan John, aku hanya bisa tidur dengan perasaan kecewa.

Menjelang tengah malam.

Dalam kondisi setengah sadar, aku merasakan sisi ranjang agak terasa berat. Tak lama kemudian, ciuman hangat dan basah mulai mendarat di pipi dan sudut bibirku.

“Sayang… ah, tadi waktu aku mau, kamu diam saja. Sekarang, hm… kok malah… malah menggangguku….”

Pria di atasku tak menjawab. Ciumannya berpindah dari sudut bibir ke daun telinga, mengirimkan sensasi geli yang langsung menjalar ke otak.

Aku menarik tanganku dan mendorong dadanya, memalingkan wajah untuk menghindari bibir pria itu, tapi malah membuat telingaku yang satunya terpampang jelas di hadapannya.

Sebuah tangan besar yang kuat mencengkeram kedua pergelangan tanganku dan menguncinya di atas kepala.

Pakaian renda yang kukenakan itu tersingkap ke atas mengikuti gerakan tanganku, membuat bagian tubuh yang tadinya tertutup seadanya kini terekspos sepenuhnya.

Aku benar-benar mengantuk, kelopak mataku terasa seperti dilem dan tak bisa terbuka.

“Hm, jangan main-main, sayang….”

Pria itu membuka bibirnya dan mencium ujung telingaku. Giginya sesekali menggesek kulitku yang panas, terkadang menghisap dan menggigit pelan.

Rasa geli yang aneh menjalar dari tulang belakang hingga ke ujung jari kaki. Aku mengerutkan jari-jari kakiku dan tak tahan mengeluarkan erangan lirih.

“Ah, jangan cium bagian sana… rasanya aneh….”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dosa Terindah Di Samping Suamiku   Bab 11

    Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Aku tahu itu pasti Marvel yang datang berkunjung. Dengan terburu-buru, aku bangkit dan memakai jubah mandi untuk membukakan pintu.Di depan pintu, Marvel dan Peter berdiri sambil membawa semur daging dan alkohol. Melihatku, Marvel langsung menyapa lebih dulu.“Kak, maaf mengganggu lagi. Perkenalkan, ini Peter, dia juga sahabatnya John.”Tatapan Peter tampak penuh makna, tertuju pada wajahku yang masih merona.Dia berdeham pelan, lalu menyapaku,“Salam kenal, kak. Panggil aku Peter saja.”Aku agak gugup. Jari-jariku meremas ujung jubah mandi dan gesekan kain itu membuat lonceng kecil yang kupakai mengeluarkan bunyi denting yang halus.Seketika, wajahku langsung memerah.“Salam kenal, Peter. Silakan masuk, John ada di kamar, biar kupanggilkan.”Belum kupanggil, John sudah berpakaian lengkap dan berjalan ke ruang tamu.“Marvel, kamu datang lagi! Terakhir kali kalah minum denganmu, aku pasti akan membuatmu tumbang kali ini!”“Eh? Peter?! Kamu juga datang ke s

  • Dosa Terindah Di Samping Suamiku   Bab 10

    Hingga suatu hari, Marvel meneleponku. Dengan nada suara yang penuh rahasia, dia bilang punya kejutan besar untukku.“Kak, begitu sampai di hotel, tunggu aku di sana. Ingat tutup matamu.”“Dasar mesum, kamu mau main trik baru apalagi?”Mendengar tawa cabul Marvel, napasku pun menjadi agak memberat.“Tunggu saja di sana. Pokoknya harus tutup mata, aku nggak akan mengecewakanmu.”Biasanya Marvel datang ke rumahku untuk melakukannya, entah itu saat John sedang dinas di luar kota atau setelah membuat John mabuk berat, lalu mencari sensasi di sampingnya. Ini pertama kalinya dia mengajakku bertemu di luar.Setelah menutup telepon, dengan perasaan gembira bercampur heran, aku melakukan apa yang dia katakan.Aku berbaring di ranjang hotel yang bersih dan menunggunya dengan tenang.Saat pandangan terhalang, indra lainnya menjadi jauh lebih sensitif.Waktu terasa berjalan sangat lambat. Memikirkan apa yang mungkin terjadi sebentar lagi, aku merasa setiap bagian tubuhku terasa gatal tak tertahank

  • Dosa Terindah Di Samping Suamiku   Bab 9

    Tanpa bisa melawan, aku ditarik oleh pria itu ke sofa dan berakhir duduk di pangkuan Marvel.Kancing kemeja Marvel terbuka setengah dan mataku tak bisa berpaling dari otot dadanya yang berwarna sawo matang.Otakku mulai membayangkan hal-hal liar lagi. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering dan tidak nyaman, tapi tetap memaksakan diri untuk bicara, “Kamu… kamu mabuk….?”“Hanya John yang mabuk, kemampuan minumku jauh lebih kuat darinya.”Telapak tangan Marvel mengusap pinggangku. Saat ini, aku hanya mengenakan gaun tidur yang tipis, sehingga suhu tubuhnya merambat sempurna ke kulitku. Aku menggeliat tidak nyaman, merasa rasa panas di pinggangku seolah-olah bisa melelehkanku.“Aku mau mandi, lepaskan aku.”Marvel mengangkat alisnya, “Kak, sebaiknya kamu menurut saja.”Usai bicara, dia terdiam sejenak. Lalu, dia mulai menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, “Kamu juga nggak mau kalau video itu sampai dilihat orang lain, ‘kan?”Tanganku gemetar hingga baju-baju kotorku bers

  • Dosa Terindah Di Samping Suamiku   Bab 8

    Di dalam video itu, aku terlihat sangat terbawa suasana. Di bawah pengaruh adrenalin dan gairah, aku bahkan inisiatif meresponnya, bahkan memandu gerakan Marvel.“Kira-kira si John bakal berpikir kamu yang menggodaku atau aku yang memaksamu?”Aku memejamkan mata, berusaha menekan gejolak hasrat yang sudah tak terpuaskan berhari-hari.“Marvel, tega sekali kamu melakukan hal seperti ini! Kamu….”Belum sempat aku selesai bicara, Marvel menarikku ke dalam pelukannya. Dia menunduk dan membungkam kata-kataku langsung di tenggorokan.Lidahnya bermain dengan lihai di dalam mulutku dan tak butuh waktu lama, kakiku terasa lemas hingga diriku terkulai tak berdaya di pelukannya.Wajahku memerah. Tepat saat itu, sebuah panggilan telepon masuk.“Ada apa, John?”“Tadi kakak ipar nggak sengaja terkilir, aku sedang menemaninya membeli obat.”“Dia baik-baik saja? Kalian di mana? Aku ke sana sekarang.”“Nggak apa-apa. Kamu tunggu di sana saja, kami sudah selesai beli dan lagi jalan pulang.”Marvel menutu

  • Dosa Terindah Di Samping Suamiku   Bab 7

    Aku tanpa sadar merapatkan kedua kakiku. Setelah John dan Marvel berbasa-basi sejenak, kami pun segera naik ke mobil.Marvel duduk di kursi belakang dan mengobrol dengan sangat seru bersama John, sementara aku duduk di kursi depan sambil pura-pura sibuk bermain ponsel.Tiba-tiba, aku merasakan sebuah telapak tangan menyentuh pinggang sampingku. Aku menoleh ke belakang dan melihat Marvel memanfaatkan celah saat John sedang fokus memperhatikan jalan, memberiku senyuman yang penuh makna.Aku merasa malu sekaligus kesal. Pikirku, nyali Marvel benar-benar besar, berani sekali meraba-raba tepat di depan John.Aku melotot ke arahnya, lalu diam-diam memperhatikan ekspresi wajah John.Setelah yakin John tidak menyadari apapun, barulah aku merasa lega.Sesampainya di tujuan, John pamit ingin ke kamar mandi sebentar.Baru saja aku ingin bilang mau ikut, Marvel mendahuluiku bicara, “Pergi saja, Kak John. Biar aku dan kakak ipar yang lihat mau pesan apa.”“Kak, kamu itu orang kota. Ayo, perkenalka

  • Dosa Terindah Di Samping Suamiku   Bab 6

    “Besok masih harus kerja, malam ini tidur dulu.”Melihat John yang duduk di tepi ranjang sambil merokok, aku terdiam sejenak, lalu akhirnya hanya bisa menyahut pelan.“Kalau begitu, aku mandi dulu. Kamu tidur lebih awal, ya.”Aku menyalakan pancuran air dengan maksimal. Suara air yang jatuh menghantam lantai menyamarkan suasana erotis di dalam kamar mandi.Setelah melakukannya sendiri, pikiranku tanpa sadar kembali terbayang pada sensasi bersama Marvel malam itu…..Setelah itu, intensitas John merespon ajakanku semakin berkurang. Bagi diriku yang baru saja mencicipi nikmatnya berhubungan intim, masa-masa ini terasa sangat menyiksa.Sekalipun kami melakukannya, durasinya sangat singkat. Perasaan tidak puas seperti ini jauh lebih menyakitkan daripada tidak sama sekali. Akhirnya, aku pun jarang mengungkit masalah itu lagi.Kehidupan kami yang datar dan tenang tiba-tiba terusik oleh sebuah panggilan telepon yang diterima John.“Iya, nanti telepon aku lagi, biar kujemput.”Melihat suasana h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status