Begitu melihat wajah Marvel, ekspresiku langsung berubah drastis. Seolah memegang bara api yang panas, aku buru-buru menarik tanganku kembali.Saat ini, Marvel tampak seperti orang mabuk. Tatapan matanya dipenuhi gairah dan dia malah menempelkan tubuhnya semakin erat ke arahku.Aku menahan kepalanya dengan telapak tangan, mencoba mendorongnya menjauh.“Marvel, sadarlah! Aku ini kakak iparmu!” bisikku dengan suara lirih, sangat takut malah mendatangkan perhatian orang lain.Mendengar ucapanku, bukannya berhenti, napas Marvel malah terdengar semakin memburu.Aku terus mendorong tubuhnya agar bisa bangun. Di keheningan malam ini, setiap suara terasa bergema di dalam kepalaku.“Kakak ipar, aku tahu ini kamu.”Jawab Marvel tiba-tiba, seketika membuat tubuhku kaku.“Sudah tahu ini aku, tapi kamu malah berani selancang ini….”Mendengar jawaban Marvel, gairah dalam diriku pun kembali muncul.Namun, bagaimanapun juga, hari ini adalah pernikahanku dan para tamu di halaman belum sepenuhnya pulang
Read more