Share

Dosa Terindah Di Samping Suamiku
Dosa Terindah Di Samping Suamiku
Author: Ungu

Bab 1

Author: Ungu
Namaku Rona, hari ini pernikahanku dengan John. Kampung halaman John berada di sebuah desa terpencil yang hubungan antarwarganya sangat baik. Karena itu, setiap ada pernikahan, para pria akan berkumpul untuk melakukan tradisi menggoda pengantin di kamar demi mendapatkan keberuntungan.

Kedua tanganku dan John diikat ke belakang dengan tali. Seorang pria berbadan besar masuk ke kamar sambil membawa sebuah apel yang ditancapi banyak tusuk gigi.

“Pengantin baru harus mencabut semua tusuk gigi di apel ini dengan mulut, baru talinya boleh dilepas.”

John menyetujuinya dengan semangat, sehingga aku hanya bisa ikut bermain dengan wajah merona malu.

Sari buah apel mengalir turun melalui tusuk gigi, melunturkan lipstikku.

Bibirku basah karena sari buah itu. Saat aku melepaskan gigitan, sempat terlihat benang liur tipis yang terkesan erotis, membuat situasi ini tampak seperti sedang melakukan sesuatu yang memalukan.

Entah siapa yang mengambil apel itu dan mendorongku.

Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke pelukan John. Secara reflek, aku menjilat sisa sari apel di bibirku.

Bibir merahku tampak berkilau di bawah cahaya lampu, seketika membuat tawa riuh di sekitar berhenti.

Aku bisa mendengar dengan jelas suara jakun para warga yang bergerak menelan ludah. Aku pun menunduk malu.

“Waktunya pengantin baru masuk ke kamar!”

Entah siapa yang berteriak, disusul tawa cabul dari warga desa di sekeliling.

Aku duduk di ranjang dengan bingung, menatap John untuk meminta bantuan.

John tertawa pelan dengan sopan dan berkata pada warga sekitar, “Istriku agak pemalu, tolong kasih keringanan ya, abang-abang sekalian.”

“Pengantinnya pemalu?”

“Di kampung nggak ada aturan seperti itu.”

“Kalau begitu, biar kami bantu sampai tuntas. Ayo, bantu buka baju istrinya!"

Begitu kata-kata itu terlontar, tangan-tangan mereka mulai menarik gaun pengantinku. Gaun model tanpa tali itu tertarik hingga memperlihatkan silikon dada di dalamnya.

Begitu banyak tangan yang meraba tubuhku. Aku terjebak di tengah kerumunan, merasa tak berdaya.

“Minggir! Minggir! Aku punya barang bagus.”

Seorang pria kurus pendek masuk berhimpitan dari sudut ruangan dan memberikan sepotong pakaian pada John.

Disebut pakaian pun rasanya agak terpaksa. Itu hanya selembar kain hitam transparan yang jika digulung tidak lebih besar dari telapak tangan John.

Pria pendek itu melepaskan ikatan tali di pergelangan tangan John dan memberikan isyarat agar dia memakaikannya padaku.

“Jangan malu, dik. Berhubungan intim di bawah berkat orang banyak itu pertanda baik. Lihat, kami bahkan sudah siapkan ini. Kamu pasti sangat cantik memakainya!”

Aku menatap potongan kain itu dengan sangat malu, lalu berbisik pelan,

“Sayang, boleh pakai di dalam selimut saja?”

John langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhku, sementara tangan besarnya meraba-raba di balik kain. Gaun pengantin yang berat dilepaskan dan dilempar ke lantai. Tawa mesum orang-orang pun memuncak.

John memakaikan baju itu padaku. Di bawah desakan para warga, dia melakukan hubungan pertama kami dengan setengah terpaksa.

Itulah pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan apa yang disebut kenikmatan puncak. Seorang pria menindihku dan setiap gerakannya membuatku hampir kehilangan kendali. Suamiku menerjang titik sensitifku, hingga kedua kakiku memerah karena permainannya. Di dalam kegelapan selimut, semua sensasi terasa berlipat ganda. Erangan yang awalnya ingin kutahan, akhirnya meluncur dari bibirku. Suara desahan mesra dan napas yang memburu menyatu. Setiap gelombangnya memicu tawa cabul dari mereka yang menonton.

Suamiku menindih tubuhku. Dia tertutup selimut, tapi meski berbaring di bawahnya, aku bisa melihat dengan jelas gerakan selimut yang naik turun.

Ruangan itu penuh dengan orang-orang yang hanya ingin menonton kekacauan ini.

Wajahku terasa panas membara. Aku merasa malu, tapi di saat yang sama, rasanya sangat merangsang.

Bahkan terhalang selimut pun, aku bisa merasakan panas dari tatapan mata mereka.

Di tengah campuran rasa malu dan nikmat yang luar biasa itu, aku mendesah saat mencapai puncak kenikmatan. Suaraku terdengar sedikit manja dan lembut.

“Aahh… sayang… ah… sudah hampir….”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dosa Terindah Di Samping Suamiku   Bab 11

    Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Aku tahu itu pasti Marvel yang datang berkunjung. Dengan terburu-buru, aku bangkit dan memakai jubah mandi untuk membukakan pintu.Di depan pintu, Marvel dan Peter berdiri sambil membawa semur daging dan alkohol. Melihatku, Marvel langsung menyapa lebih dulu.“Kak, maaf mengganggu lagi. Perkenalkan, ini Peter, dia juga sahabatnya John.”Tatapan Peter tampak penuh makna, tertuju pada wajahku yang masih merona.Dia berdeham pelan, lalu menyapaku,“Salam kenal, kak. Panggil aku Peter saja.”Aku agak gugup. Jari-jariku meremas ujung jubah mandi dan gesekan kain itu membuat lonceng kecil yang kupakai mengeluarkan bunyi denting yang halus.Seketika, wajahku langsung memerah.“Salam kenal, Peter. Silakan masuk, John ada di kamar, biar kupanggilkan.”Belum kupanggil, John sudah berpakaian lengkap dan berjalan ke ruang tamu.“Marvel, kamu datang lagi! Terakhir kali kalah minum denganmu, aku pasti akan membuatmu tumbang kali ini!”“Eh? Peter?! Kamu juga datang ke s

  • Dosa Terindah Di Samping Suamiku   Bab 10

    Hingga suatu hari, Marvel meneleponku. Dengan nada suara yang penuh rahasia, dia bilang punya kejutan besar untukku.“Kak, begitu sampai di hotel, tunggu aku di sana. Ingat tutup matamu.”“Dasar mesum, kamu mau main trik baru apalagi?”Mendengar tawa cabul Marvel, napasku pun menjadi agak memberat.“Tunggu saja di sana. Pokoknya harus tutup mata, aku nggak akan mengecewakanmu.”Biasanya Marvel datang ke rumahku untuk melakukannya, entah itu saat John sedang dinas di luar kota atau setelah membuat John mabuk berat, lalu mencari sensasi di sampingnya. Ini pertama kalinya dia mengajakku bertemu di luar.Setelah menutup telepon, dengan perasaan gembira bercampur heran, aku melakukan apa yang dia katakan.Aku berbaring di ranjang hotel yang bersih dan menunggunya dengan tenang.Saat pandangan terhalang, indra lainnya menjadi jauh lebih sensitif.Waktu terasa berjalan sangat lambat. Memikirkan apa yang mungkin terjadi sebentar lagi, aku merasa setiap bagian tubuhku terasa gatal tak tertahank

  • Dosa Terindah Di Samping Suamiku   Bab 9

    Tanpa bisa melawan, aku ditarik oleh pria itu ke sofa dan berakhir duduk di pangkuan Marvel.Kancing kemeja Marvel terbuka setengah dan mataku tak bisa berpaling dari otot dadanya yang berwarna sawo matang.Otakku mulai membayangkan hal-hal liar lagi. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering dan tidak nyaman, tapi tetap memaksakan diri untuk bicara, “Kamu… kamu mabuk….?”“Hanya John yang mabuk, kemampuan minumku jauh lebih kuat darinya.”Telapak tangan Marvel mengusap pinggangku. Saat ini, aku hanya mengenakan gaun tidur yang tipis, sehingga suhu tubuhnya merambat sempurna ke kulitku. Aku menggeliat tidak nyaman, merasa rasa panas di pinggangku seolah-olah bisa melelehkanku.“Aku mau mandi, lepaskan aku.”Marvel mengangkat alisnya, “Kak, sebaiknya kamu menurut saja.”Usai bicara, dia terdiam sejenak. Lalu, dia mulai menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, “Kamu juga nggak mau kalau video itu sampai dilihat orang lain, ‘kan?”Tanganku gemetar hingga baju-baju kotorku bers

  • Dosa Terindah Di Samping Suamiku   Bab 8

    Di dalam video itu, aku terlihat sangat terbawa suasana. Di bawah pengaruh adrenalin dan gairah, aku bahkan inisiatif meresponnya, bahkan memandu gerakan Marvel.“Kira-kira si John bakal berpikir kamu yang menggodaku atau aku yang memaksamu?”Aku memejamkan mata, berusaha menekan gejolak hasrat yang sudah tak terpuaskan berhari-hari.“Marvel, tega sekali kamu melakukan hal seperti ini! Kamu….”Belum sempat aku selesai bicara, Marvel menarikku ke dalam pelukannya. Dia menunduk dan membungkam kata-kataku langsung di tenggorokan.Lidahnya bermain dengan lihai di dalam mulutku dan tak butuh waktu lama, kakiku terasa lemas hingga diriku terkulai tak berdaya di pelukannya.Wajahku memerah. Tepat saat itu, sebuah panggilan telepon masuk.“Ada apa, John?”“Tadi kakak ipar nggak sengaja terkilir, aku sedang menemaninya membeli obat.”“Dia baik-baik saja? Kalian di mana? Aku ke sana sekarang.”“Nggak apa-apa. Kamu tunggu di sana saja, kami sudah selesai beli dan lagi jalan pulang.”Marvel menutu

  • Dosa Terindah Di Samping Suamiku   Bab 7

    Aku tanpa sadar merapatkan kedua kakiku. Setelah John dan Marvel berbasa-basi sejenak, kami pun segera naik ke mobil.Marvel duduk di kursi belakang dan mengobrol dengan sangat seru bersama John, sementara aku duduk di kursi depan sambil pura-pura sibuk bermain ponsel.Tiba-tiba, aku merasakan sebuah telapak tangan menyentuh pinggang sampingku. Aku menoleh ke belakang dan melihat Marvel memanfaatkan celah saat John sedang fokus memperhatikan jalan, memberiku senyuman yang penuh makna.Aku merasa malu sekaligus kesal. Pikirku, nyali Marvel benar-benar besar, berani sekali meraba-raba tepat di depan John.Aku melotot ke arahnya, lalu diam-diam memperhatikan ekspresi wajah John.Setelah yakin John tidak menyadari apapun, barulah aku merasa lega.Sesampainya di tujuan, John pamit ingin ke kamar mandi sebentar.Baru saja aku ingin bilang mau ikut, Marvel mendahuluiku bicara, “Pergi saja, Kak John. Biar aku dan kakak ipar yang lihat mau pesan apa.”“Kak, kamu itu orang kota. Ayo, perkenalka

  • Dosa Terindah Di Samping Suamiku   Bab 6

    “Besok masih harus kerja, malam ini tidur dulu.”Melihat John yang duduk di tepi ranjang sambil merokok, aku terdiam sejenak, lalu akhirnya hanya bisa menyahut pelan.“Kalau begitu, aku mandi dulu. Kamu tidur lebih awal, ya.”Aku menyalakan pancuran air dengan maksimal. Suara air yang jatuh menghantam lantai menyamarkan suasana erotis di dalam kamar mandi.Setelah melakukannya sendiri, pikiranku tanpa sadar kembali terbayang pada sensasi bersama Marvel malam itu…..Setelah itu, intensitas John merespon ajakanku semakin berkurang. Bagi diriku yang baru saja mencicipi nikmatnya berhubungan intim, masa-masa ini terasa sangat menyiksa.Sekalipun kami melakukannya, durasinya sangat singkat. Perasaan tidak puas seperti ini jauh lebih menyakitkan daripada tidak sama sekali. Akhirnya, aku pun jarang mengungkit masalah itu lagi.Kehidupan kami yang datar dan tenang tiba-tiba terusik oleh sebuah panggilan telepon yang diterima John.“Iya, nanti telepon aku lagi, biar kujemput.”Melihat suasana h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status