LOGIN
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Aku tahu itu pasti Marvel yang datang berkunjung. Dengan terburu-buru, aku bangkit dan memakai jubah mandi untuk membukakan pintu.Di depan pintu, Marvel dan Peter berdiri sambil membawa semur daging dan alkohol. Melihatku, Marvel langsung menyapa lebih dulu.“Kak, maaf mengganggu lagi. Perkenalkan, ini Peter, dia juga sahabatnya John.”Tatapan Peter tampak penuh makna, tertuju pada wajahku yang masih merona.Dia berdeham pelan, lalu menyapaku,“Salam kenal, kak. Panggil aku Peter saja.”Aku agak gugup. Jari-jariku meremas ujung jubah mandi dan gesekan kain itu membuat lonceng kecil yang kupakai mengeluarkan bunyi denting yang halus.Seketika, wajahku langsung memerah.“Salam kenal, Peter. Silakan masuk, John ada di kamar, biar kupanggilkan.”Belum kupanggil, John sudah berpakaian lengkap dan berjalan ke ruang tamu.“Marvel, kamu datang lagi! Terakhir kali kalah minum denganmu, aku pasti akan membuatmu tumbang kali ini!”“Eh? Peter?! Kamu juga datang ke s
Hingga suatu hari, Marvel meneleponku. Dengan nada suara yang penuh rahasia, dia bilang punya kejutan besar untukku.“Kak, begitu sampai di hotel, tunggu aku di sana. Ingat tutup matamu.”“Dasar mesum, kamu mau main trik baru apalagi?”Mendengar tawa cabul Marvel, napasku pun menjadi agak memberat.“Tunggu saja di sana. Pokoknya harus tutup mata, aku nggak akan mengecewakanmu.”Biasanya Marvel datang ke rumahku untuk melakukannya, entah itu saat John sedang dinas di luar kota atau setelah membuat John mabuk berat, lalu mencari sensasi di sampingnya. Ini pertama kalinya dia mengajakku bertemu di luar.Setelah menutup telepon, dengan perasaan gembira bercampur heran, aku melakukan apa yang dia katakan.Aku berbaring di ranjang hotel yang bersih dan menunggunya dengan tenang.Saat pandangan terhalang, indra lainnya menjadi jauh lebih sensitif.Waktu terasa berjalan sangat lambat. Memikirkan apa yang mungkin terjadi sebentar lagi, aku merasa setiap bagian tubuhku terasa gatal tak tertahank
Tanpa bisa melawan, aku ditarik oleh pria itu ke sofa dan berakhir duduk di pangkuan Marvel.Kancing kemeja Marvel terbuka setengah dan mataku tak bisa berpaling dari otot dadanya yang berwarna sawo matang.Otakku mulai membayangkan hal-hal liar lagi. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering dan tidak nyaman, tapi tetap memaksakan diri untuk bicara, “Kamu… kamu mabuk….?”“Hanya John yang mabuk, kemampuan minumku jauh lebih kuat darinya.”Telapak tangan Marvel mengusap pinggangku. Saat ini, aku hanya mengenakan gaun tidur yang tipis, sehingga suhu tubuhnya merambat sempurna ke kulitku. Aku menggeliat tidak nyaman, merasa rasa panas di pinggangku seolah-olah bisa melelehkanku.“Aku mau mandi, lepaskan aku.”Marvel mengangkat alisnya, “Kak, sebaiknya kamu menurut saja.”Usai bicara, dia terdiam sejenak. Lalu, dia mulai menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, “Kamu juga nggak mau kalau video itu sampai dilihat orang lain, ‘kan?”Tanganku gemetar hingga baju-baju kotorku bers
Di dalam video itu, aku terlihat sangat terbawa suasana. Di bawah pengaruh adrenalin dan gairah, aku bahkan inisiatif meresponnya, bahkan memandu gerakan Marvel.“Kira-kira si John bakal berpikir kamu yang menggodaku atau aku yang memaksamu?”Aku memejamkan mata, berusaha menekan gejolak hasrat yang sudah tak terpuaskan berhari-hari.“Marvel, tega sekali kamu melakukan hal seperti ini! Kamu….”Belum sempat aku selesai bicara, Marvel menarikku ke dalam pelukannya. Dia menunduk dan membungkam kata-kataku langsung di tenggorokan.Lidahnya bermain dengan lihai di dalam mulutku dan tak butuh waktu lama, kakiku terasa lemas hingga diriku terkulai tak berdaya di pelukannya.Wajahku memerah. Tepat saat itu, sebuah panggilan telepon masuk.“Ada apa, John?”“Tadi kakak ipar nggak sengaja terkilir, aku sedang menemaninya membeli obat.”“Dia baik-baik saja? Kalian di mana? Aku ke sana sekarang.”“Nggak apa-apa. Kamu tunggu di sana saja, kami sudah selesai beli dan lagi jalan pulang.”Marvel menutu
Aku tanpa sadar merapatkan kedua kakiku. Setelah John dan Marvel berbasa-basi sejenak, kami pun segera naik ke mobil.Marvel duduk di kursi belakang dan mengobrol dengan sangat seru bersama John, sementara aku duduk di kursi depan sambil pura-pura sibuk bermain ponsel.Tiba-tiba, aku merasakan sebuah telapak tangan menyentuh pinggang sampingku. Aku menoleh ke belakang dan melihat Marvel memanfaatkan celah saat John sedang fokus memperhatikan jalan, memberiku senyuman yang penuh makna.Aku merasa malu sekaligus kesal. Pikirku, nyali Marvel benar-benar besar, berani sekali meraba-raba tepat di depan John.Aku melotot ke arahnya, lalu diam-diam memperhatikan ekspresi wajah John.Setelah yakin John tidak menyadari apapun, barulah aku merasa lega.Sesampainya di tujuan, John pamit ingin ke kamar mandi sebentar.Baru saja aku ingin bilang mau ikut, Marvel mendahuluiku bicara, “Pergi saja, Kak John. Biar aku dan kakak ipar yang lihat mau pesan apa.”“Kak, kamu itu orang kota. Ayo, perkenalka
“Besok masih harus kerja, malam ini tidur dulu.”Melihat John yang duduk di tepi ranjang sambil merokok, aku terdiam sejenak, lalu akhirnya hanya bisa menyahut pelan.“Kalau begitu, aku mandi dulu. Kamu tidur lebih awal, ya.”Aku menyalakan pancuran air dengan maksimal. Suara air yang jatuh menghantam lantai menyamarkan suasana erotis di dalam kamar mandi.Setelah melakukannya sendiri, pikiranku tanpa sadar kembali terbayang pada sensasi bersama Marvel malam itu…..Setelah itu, intensitas John merespon ajakanku semakin berkurang. Bagi diriku yang baru saja mencicipi nikmatnya berhubungan intim, masa-masa ini terasa sangat menyiksa.Sekalipun kami melakukannya, durasinya sangat singkat. Perasaan tidak puas seperti ini jauh lebih menyakitkan daripada tidak sama sekali. Akhirnya, aku pun jarang mengungkit masalah itu lagi.Kehidupan kami yang datar dan tenang tiba-tiba terusik oleh sebuah panggilan telepon yang diterima John.“Iya, nanti telepon aku lagi, biar kujemput.”Melihat suasana h







