Short
Jebakan Manis Stoking Tante

Jebakan Manis Stoking Tante

에:  Liam참여
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
5챕터
7조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Namaku Lerry, umurku 23 tahun dan aku seorang mahasiswa. Aku mengidap penyakit aneh yang disebut makro-orkidisme. Rasanya seperti ada dua buah granat tangan yang menggantung di selangkanganku. Seiring bertambahnya usia, aku pun merasa makin jantan. Omku biasanya sangat sibuk bekerja, sedangkan tanteku seorang pramugari yang sering bepergian mengikuti jadwal penerbangan. Lama-kelamaan, hubungan mereka pun mulai retak ....

더 보기

1화

Bab 1

"Lerry, Tante hampir rusak kalau kamu mainnya begini ...." Tante menggodaku sambil mengenakan kaus kaki jaring favoritku. Aku tidak tahan lagi, lalu mengangkat tubuh tante dan tenggelam dalam kegilaan.

Namaku Lerry, usiaku 23 tahun, dan aku seorang mahasiswa.

Aku mengidap penyakit aneh yang disebut makro-orkidisme. Rasanya seperti ada dua buah granat tangan yang menggantung di selangkanganku. Seiring bertambahnya usia, aku pun merasa makin jantan.

Omku biasanya sangat sibuk bekerja, sedangkan tanteku seorang pramugari yang sering bepergian mengikuti jadwal penerbangan. Lama-kelamaan, hubungan mereka pun mulai retak ....

Hari itu, seperti biasa, aku di rumah menunggu tante pulang kerja.

Kondisiku agak khusus. Karena keadaan di bagian bawah tubuhku itu, aku tidak bisa sering-sering memakai celana dalam.

Terdengar ketukan pelan di pintu. Aku bergegas membukanya, lalu aroma parfum serta alkohol langsung menusuk hidung.

Aku melihat tante berdiri dengan tubuh yang terhuyung-huyung. Rok span hitam yang dia kenakan mencetak jelas lekuk tubuhnya yang molek.

"Lerry, kamu belum tidur?" Suara Tante terdengar agak tidak jelas, wajahnya tampak merona merah.

Dia sepertinya tidak sadar kalau aku lupa memakai celana dalam dan membiarkan bagian bawah tubuhku terekspos.

"Tante, Tante mabuk. Sini aku bantuin papah."

Aku meletakkan tanganku di bawah ketiak tante dengan hati-hati, merasakan kelembutan tubuhnya.

Tanpa sengaja, tanganku menyentuh sepasang aset di dadanya yang montok. Jantungku berdegup kencang seolah tersengat listrik. Sebuah sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya merayapi hati.

"Makasih ya, Lerry. Tante kayaknya minum terlalu banyak sampai nggak bisa nemuin kunci."

Nada bicara Tante sangat lembut dengan rona merah di pipinya.

"Nggak apa-apa, Tante. Biar aku bantu."

Dalam hati aku merasa sangat bersemangat, ini adalah kesempatan emas.

Begitu sampai di kamar tante, aku merebahkannya di tempat tidur dengan perlahan, lalu berbalik untuk mengambilkan air hangat dengan harapan tante bisa merasa sedikit lebih baik.

Saat aku berbalik membawa air hangat, aku melihat tante sedang menatap bagian bawah tubuhku dengan tatapan penuh keterkejutan.

"Tante, aku ... aku bisa jelasin ...." Aku merasa sangat malu, wajahku terasa panas membara.

Tante tersenyum tipis, sorot matanya menunjukkan sedikit keliaran.

"Lerry, kamu nggak perlu jelasin apa-apa. Tante ngerti banget kondisi kamu. Anggap aja tempat ini rumahmu sendiri, jangan sungkan."

Jantungku berdegup makin kencang. Aku tidak menyangka tante bisa berpikiran seterbuka ini.

Menatap sorot mata Tante, aku memutuskan untuk benar-benar memanfaatkan kesempatan ini guna memuaskan hasratku pada lawan jenis.

Melihat Tante begitu pengertian, aku merasa lega dan mulai menceritakan keluhan yang aku alami.

Aku menjelaskan bahwa aku menderita makro-orkidisme bawaan. Selain kadar hormon pria yang lebih tinggi, semuanya sama seperti orang normal lainnya.

Aku mencoba memancing reaksinya dengan hati-hati. "Kira-kira cewek bakal merasa risih nggak ya karena hal ini?"

Tante tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat saat berkata, "Tante nggak tahu gimana pikiran cewek lain, tapi Tante bisa bilang kalau Tante suka cowok yang kekar dan perkasa."

Aku tidak yakin dia serius atau hanya asal bicara karena mabuk, jadi aku berniat kembali ke kamarku saja.

Tante malah menahan tanganku. Dia bilang karena sedang pengaruh alkohol, dia belum mau tidur dan ingin mengobrol denganku.

Aku duduk di sampingnya.

Malam ini tante tampak sangat rileks, topik pembicaraannya pun menjadi sangat terbuka.

Dia mulai membahas teknik berciuman, cara mencumbu, hingga topik yang lebih intim lainnya ....

Dia bahkan menanyakan pendapatku tentang hubungan terlarang, serta bagaimana cara melepaskan hasrat primitif dan hal-hal semacam itu.

Aku merasa, mungkin karena pernikahannya dengan om sedang mengalami krisis, makanya dia ingin mencari seseorang untuk mencurahkan isi hatinya.

Di tengah obrolan, Tante sesekali melakukan gerakan menggoda, bahkan menyingkap rok span hitamnya untuk memamerkan kakinya yang jenjang dan indah.

Aku tidak mampu memalingkan muka, tatapanku terus tertuju pada kaki indahnya yang terbalut stoking.

Tante sepertinya menyadari perhatianku, lalu tiba-tiba bertanya, "Menurut kamu, bagian mana dari diri Tante yang paling cantik?"

Aku ragu sejenak, lalu menunjuk ke arah kakinya yang indah dan berkata, "Di sini."

Tante berdiri lalu berputar sekali di depanku. Dia mengangkat pinggiran roknya perlahan, sama sekali tidak menutupi celana dalam thong yang terlihat.

Thong hitam kecil itu mencetak lekuk tubuh yang menggoda membuatku terpana.

"Kamu lebih suka kaki yang pakai stoking, atau yang nggak pakai?" tanya tante.

Aku sudah terpesona oleh keindahan kaki di depanku, hanya bisa menjawab dengan kaku, "Du ... dua ... dua-duanya aku suka."

Seolah bisa membaca pikiranku, dia mengangkat satu kaki dan menyandarkannya di pinggir tempat tidur, membiarkan rok spannya tergulung ke atas.

Dia melepas sabuk pengikat stoking dengan mahir, lalu perlahan melepas stoking itu mulai dari paha, betis, hingga ke pergelangan kaki, memamerkan jari-jari kakinya yang putih bersih.

Aku tidak bisa menahan diri untuk menelan ludah, pemandangan seperti ini hanya pernah aku lihat di film.

Tante meremas stoking yang sudah dilepas itu di tangannya, lalu membentangkannya dan melemparkannya begitu saja ke sela-sela pahaku.

Belum sempat aku sadar dari keterkejutanku, stoking satunya lagi mendarat di wajahku, membawa sisa hangat tubuhnya dan aroma wangi yang lembut.

Tante menatapku dengan pandangan sayu, lalu bertanya pelan, "Kamu suka stoking yang Tante pakai?"

Tante bertanya dengan lembut dan sorot mata yang menggoda.

Aku menjawab dengan terbata-bata, benar-benar terpikat olehnya hingga sempat tertegun.

Aku berusaha keras untuk mengutarakan apa yang aku pikirkan, tapi aku hanya bisa terus menatap sepasang kaki indahnya itu.

Tante sepertinya paham isi kepalaku, dia membuka lemari pakaian yang berisi berbagai macam stoking beraneka warna yang membuat mataku silau.

"Kamu suka kaki indah Tante kalau pakai stoking, 'kan?"

Tante berbaring miring di tempat tidur, berpose ala Marilyn Monroe yang ikonik.

Dia menekuk satu kakinya sedikit, memperlihatkan jari kaki yang putih mulus, lalu mulai menarik stoking ke atas secara perlahan. Tatapan matanya yang menggoda membuat api di dalam hatiku makin membara. Saat itu, aku merasa hampir hilang kendali.

"Tante, boleh nggak aku lihat Tante langsung pakai stoking tanpa pakai celana dalam?" Aku memberanikan diri mengajukan permintaan yang lancang.

Tangan tante terhenti di lekukan kakinya. Dengan wajah memerah dan tatapan mata sayu menatapku, seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Ya sudah, bocah nakal, Tante turuti kemauanmu. Tapi kamu harus balik badan ya, jangan mengintip."

Dia mengatakannya dengan lembut, wajahnya tampak tersipu malu.

Aku mengangguk penuh semangat, lalu memalingkan kepala ke samping.

Tidak lama kemudian, aku merasakan selembar kain lembut mendarat di kepalaku. Itu adalah celana dalam thong milik tante.

Aku mengambilnya dengan hati-hati, menghirup aroma yang tertinggal di sana dengan rakus. Itu adalah aroma dari area pribadi Tante, yang membuatku merasa sangat bergairah.

Saat aku berbalik, tante sudah tengkurap di tempat tidur membelakangiku dengan bokong yang menungging tinggi, menunjukkan lekuk tubuh yang sempurna.

Dengan suara gemetar, aku hampir tidak bisa lagi menahan hasratku, "Tante, aku mau sekarang, Tante mau nggak?" Tante menjawab dengan wajah memerah, "Kalau mau, ambil saja sendiri," katanya dengan nada nakal.

Aku buru-buru menjawab, "Yang aku mau itu Tante!"

Tante menggigit bibir bawahnya perlahan, matanya penuh dengan pesona, "Ya sudah, 'kan Tante sudah bilang, kalau mau ya ambil aja sendiri."
펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
5 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status