LOGINSemalam Naya terlalu banyak menangis, bahkan gadis itu menelepon Xera dan bercerita banyak hal tentang masa lalu. Hari ini, matanya terlihat sangat bengkak. Naya keluar dari kamarnya membawa tasnya. Dia ada kelas pagi. Alhasil dia bangun sangat pagi dan bersiap untuk berangkat. Saat turun ke ruang makan, dia melihat kedua orang tuanya sedang sarapan bersama."Kok sudah bangun, Nay?" tanya mama Naya. "Ada kelas pagi, Ma." Naya mengambil makanan yang ada di meja. Dia ikut makan bersama. Setelah makannya selesai, Naya langsung pamit. "Berangkat sama Papa aja, Nay, daripada nunggu lagi," kata papa Naya."Nggak papa?" tanya Naya yang terdengar segan."Nggak papa dong, Sayang. Ayo." Papa Naya mengambil tasnya dan berjalan keluar rumah bersama dengan Naya yang mengekor di belakangnya. Naya masuk ke mobil papanya. Dia diam dan tidak banyak bicara, saat papanya mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah. Jarang sekali papa Naya mengantar anaknya seperti ini. "Kenapa diam, Nay?" tanya p
"Kecelakaan." Satu kata dari Naya, mampu membuat Sari semakin melebarkan matanya. Dia mencoba mencari celah dari informasi yang dia dapat. Namun, melihat sahabatnya menatap nisan omnya dengan senyum yang semakin memancarkan kesedihan, semakin membuat Sari yakin tidak ada kebohongan dari setiap kata yang keluar dari mulut Naya."Kenapa disebut kecelakaan, Nay? Bukannya mereka sudah menikah secara sah?" tanya Sari yang masih terheran-heran."Pak Ardi sendiri yang menyebut kehadiran anaknya adalah kecelakaan, tapi Pak Ardi tetap menyayangi Daffa sebagaimana mestinya. Namun, bukan berati cinta untuk Bu Miya itu masih ada. Pak Ardi sudah kehilangan rasa cintanya jauh sebelum bertemu aku," jelas Naya. "Kalau memang sudah tidak ada rasa cinta lagi, kenapa Pak Ardi bertahan di dalam pernikahan itu? Bukankah itu sama saja menyiksa dirinya sendiri?" tanya Sari lagi."Pak Ardi pernah akan menceraikan Bu MIya, tetapi Bu Miya memberitahu tentang kehamilannya. Jadi, saat itu Pak Ardi tidak jadi m
Hari terakhir ujian tengah semester telah menyapa. Naya duduk di bangkunya dan mencoba mempelajari kembali catatannya. Sari datang dan duduk di bangku depan Naya."Sssuttt!" Sari memanggil Naya pelan."Aku punya nama," kata Naya yang mulai mengangkat wajahnya. "Kenapa sih?" lanjut Naya."Sudah hari terakhir, kamu nggak lupa sama janjimu, kan?" tanya Sari pelan."Buset dah. Kamu tuh cepat banget, kalau dibilang mau kasih gosip, ya." Naya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang memang selalu bersemangat untuk membahas sebuah gosip."ini kayaknya gosip langka banget, soalnya kamu bilang masa lalu. Ayolah, Nay." Sari menatap Naya dengan tatapan penuh harapnya.Naya menghela napas perlahan dan memperhatikan sahabatnya itu. Dia hanya menganggukkan kepalanya. "Iya, nanti, tapi nggak di sini. Terus, kita ceritanya waktu pulang," kata Naya."Siap! Aku bakal nurut hari ini, Nay." Sari berdiri tegak dan memberikan hormat pada Naya. Naya hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya i
Kalimat yang keluar dari bibir Daffa sebelumnya, mampu membuat Naya dan Sari terdiam. Mereka saling memandang. Naya pun menoleh ke arah Miya dan Daffa secara bergantian. "Kata ayahmu kan nggak boleh, berati masih nggak boleh, Daffa. Aku juga masih belum boleh," kata Naya yang mencoba memberikan alasan pada Daffa. "Daffa, kenapa kamu suka Kak Naya?" tanya Sari. "Kak Naya cantik, baik, suka temani aku main dan suka temani aku jajan," jawab Daffa dengan senyum yang mengembang. Setelah Daffa menjawab seperti itu, Ardi datang kembali ke meja mereka dan memberikan makanan untuk istri dan anaknya. Tidak lupa dia menyapa dua mahasiswi yang sedang makan di meja tersebut. Naya dan Sari menganggukkan kepalanya, membalas sapaan Ardi. Naya menendang pelan kaki Sari dan mencoba mengirimkan kode untuk segera menghabiskan makanan mereka. Sesekali mereka mengobrol agar terlihat tidak terlalu buru-buru. Sementara itu, Ardi mengobrol dengan Daffa. Miya hanya memperhatikan interaksi ayah dan anak it
Setelah memijat Ardi, Naya ikut merebahkan tubuhnya di samping Ardi yang tertidur pulas, setelah dipijat. Naya tidak tertidur dan hanya memainkan ponsel di samping Ardi. Dia menunggu Ardi terbangun dan mengajaknya pulang.Naya memainkan game di ponselnya dan tidak banyak melakukan apa pun, agar tidak mengganggu Ardi yang sedang tertidur. Sesekali Naya menoleh ke arah Ardi yang baru saja mengubah posisinya. Naya tersenyum melihat wajah Ardi yang terlihat tenang dalam tidurnya.Cukup lama Ardi tertidur, saat membuka mata, pria itu tersenyum melihat Naya bertahan di sampingnya. Tidak ada percintaan liar, tapi keberadaan Naya di sampingnya mampu membuat rasa lelah itu terangkat. Ardi mencolek pelan bahu Naya, saat gadis itu sibuk dengan ponselnya."Oh, Bapak sudah bangun?" Naya menoleh ke arah pria yang baru bangun itu. "Kamu nggak tidur selama saya tidur?" tanya Ardi."Nggak. Main game sangat seru, Pak." Naya menaruh ponselnya dan membalikkan badannya menghadap ke arah Ardi. Ardi mengu
Hubungan Naya dan Ardi yang sempat merenggang itu, membuat Ardi sering murung. Bahkan hal itu disadari oleh Miya. Dia sangat peka akan perubahan suaminya yang akhir-akhir ini semakin murung. Tidak tinggal diam, Miya kini duduk di samping suaminya yang sedang sibuk membaca tugas mahasiswanya. Secangkir kopi yang tadi diminta oleh pria itu, bahkan belum tersentuh lagi. Miya masih diam dan menunggu pria itu meletakkan tugas mahasiswanya. Ardi yang merasa janggal karena istrinya terus menemaninya, dia pun menaruh file draft tugas akhir itu di sampingnya dan meraih cangkir kopi di hadapannya. Dia menyeruput sebentar dan menoleh ke arah istrinya yang ada di sampingnya. "Kenapa? Aneh banget kamu temani aku lembur, Sayang." Ardi mengatakannya dengan normal dan berusaha membuat Miya mencurigainya. "Aku merasa ada yang aneh sama kamu, Sayang," jawab Miya."Aneh? Apanya yang aneh?" tanya Ardi yang mengernyitkan dahinya. "Kamu akhir-akhir ini kayak murung gitu, Sayang. Ada masalah di kampus?







