Home / Romansa / Dosenku, Musuhku, Suamiku / Bab 5. Lala pun Memujinya

Share

Bab 5. Lala pun Memujinya

Author: Agniya14
last update Last Updated: 2025-08-18 16:01:01

Vivi buru-buru menunduk, pura-pura sibuk merapikan buku catatannya. Namun, jantungnya berdetak kencang.

Tatapan Miranda barusan menusuk lebih dalam daripada sekadar senyum basa-basi. Ada semacam peringatan, atau mungkin ancaman, yang disampaikan tanpa suara.

Ia tahu nama Miranda. Beberapa mahasiswa sempat menyebutnya, dosen tamu, juga bagian dari tim penelitian kampus yang punya banyak koneksi. Seorang perempuan ambisius yang katanya dekat dengan beberapa petinggi fakultas. Tapi kenapa dia memanggil Giorgio dengan begitu akrab?

“Sudah lama sekali,” suara Miranda terdengar lembut dan penuh kontrol. “Akhirnya kita bertemu lagi di sini.”

Giorgio menoleh tenang, seolah pertemuan itu biasa saja. “Ya. Dunia ini memang sempit.”

Vivi bisa merasakan ketegangan samar di antara keduanya. Ia ingin cepat-cepat keluar dari kelas, tetapi langkahnya seperti terkunci.

“Ngomong-ngomong,” Miranda kembali melirik ke arah Vivi. “Mahasiswi ini siapa? Sepertinya aku belum pernah lihat.”

Pertanyaan itu terdengar polos, tetapi senyumnya tetap terukir licik. Vivi merasa seluruh tubuhnya disorot.

Ia memberanikan diri menatap singkat. “Saya Vivi, Bu,” ucapnya sopan.

Miranda mengangguk kecil, seolah puas dengan jawabannya. Namun, tatapan matanya seolah berkata lain. Aku akan mengawasi.

Di lorong kampus, Vivi berjalan cepat, hampir berlari. Nafasnya tersengal meski jaraknya tidak jauh. Setiap langkah seperti dipenuhi rasa was-was.

Kenapa harus Giorgio yang jadi dosenku? pikirnya putus asa. Bagaimana kalau ada yang tahu? Bagaimana kalau Miranda benar-benar mencurigai sesuatu?

Ia menggigit bibir. Rahasia pernikahannya dengan Giorgio sudah cukup merepotkan. Kini, posisinya terancam, sebagai mahasiswa yang harus menjaga citra, dan sebagai istri diam-diam seorang dosen muda yang menjadi pusat perhatian.

“Vivi!”

Terdengar suara seseorang memanggil dari belakang. Vivi menoleh. Antonio, senior tadi, berlari kecil menyusul.

“Kamu buru-buru sekali. Mau ke mana?” tanyanya sambil tersenyum ramah.

“Ada urusan,” jawab Vivi singkat.

“Urusan apa? Aku bisa antar kalau kamu perlu.”

“Tidak usah.”

Antonio tetap berjalan di sampingnya. “Tadi di kelas, kamu kelihatan … kaget, ya? Pas lihat dosen baru.”

Vivi menegang. “Kaget kenapa?”

“Ya, reaksimu beda saja.” Antonio terkekeh. “Tapi wajar sih, semua orang juga kaget. Jarang-jarang ada dosen seganteng itu.”

Vivi pura-pura tersenyum. “Mungkin.”

Antonio menatapnya lebih lama daripada seharusnya, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Tapi menurutku, kamu lebih menarik daripada dosennya.”

Ucapan itu membuat Vivi spontan mempercepat langkah. Ia tidak ingin terjebak percakapan lebih jauh. Namun dalam hatinya, ia sadar satu hal, Antonio bukan tipe yang mudah menyerah.

Sore harinya, Vivi kembali ke apartemen dengan tubuh lelah. Begitu pintu ditutup, ia menyandarkan diri pada dinding, menghembuskan napas panjang.

Baru sehari kuliah berjalan, dan sudah ada dua masalah besar Giorgio sebagai dosennya, dan Miranda yang mencurigakan. Belum lagi Antonio yang tampak terlalu tertarik padanya.

Ia menaruh tas, lalu melangkah ke dapur kecil untuk mengambil air minum. Namun langkahnya terhenti saat melihat Giorgio sedang duduk di sofa, membaca beberapa dokumen.

“Kenapa mukamu pucat?” tanyanya tanpa menoleh.

“Aku baik-baik saja,” jawab Vivi cepat, meletakkan gelas dengan suara agak keras.

Giorgio akhirnya mengangkat kepala, menatapnya tajam. “Kamu tidak terlihat baik-baik saja.”

“Jangan sok tahu.” Vivi membalik badan, pura-pura sibuk membuka kulkas lalu kembali ke kamar.

Di kamar itu, udara apartemen terasa pengap, atau mungkin hanya perasaannya sendiri yang tidak tenang. Ia membuka tas kuliahnya, mengecek jadwal perkuliahan esok hari, lalu menyiapkan beberapa buku catatan.

Tangannya sibuk, tetapi pikirannya melayang ke banyak hal, tentang pernikahan paksa ini, tentang Giorgio, tentang bagaimana dirinya harus beradaptasi.

Tanpa sadar, Vivi meletakkan beberapa barang pribadi di meja. Satu setrip vitamin dan juga pil kontrasepsi yang belum ia konsumsi.

Ia lupa memasukkannya kembali ke dalam tas agar tidak terlihat Giorgio karena pikirannya terlalu bercabang. Ia berdiri, menghela napas panjang, lalu menepuk keningnya.

Ponsel Vivi berbunyi satu kali. Dia melirik ponsel di meja. Ada pesan masuk dari Lala, sepupunya.

[Vi, ketemuan di kafe Heart, yuk! Ini alamatnya.]

Kemudian menyusul pesan baru berisi alamat tempat Lala menunggu.

Vivi membaca pesan itu lalu sebuah senyuman terbit di bibirnya. Ia buru-buru masuk kamar mandi, mandi kilat, lalu mengenakan pakaian santai, kaos longgar dan celana jeans. Tak ada riasan, hanya wajah polos dengan rambut dikuncir seadanya.

Begitu keluar kamar, ia sudah siap menuju kafe Heart.

“Giorgio,” panggil Vivi terdengar ragu.

Lelaki itu masih duduk di sofa, menoleh dengan mata dinginnya. “Ya?”

“Aku mau keluar sebentar. Mau ketemuan sama Lala, sepupuku.”

“Aku antar.” Giorgio menjawab singkat, nadanya datar.

Vivi langsung menggeleng cepat. “Nggak usah. Kalau ketemu temen kampus bisa bahaya. Aku nggak mau jadi gosip."

“Aku bisa tunggu di mobil,” balas Giorgio.

“Nggak perlu! Aku udah pesen ojek. Kayaknya ojeknya udah nunggu di bawah.” Vivi berbohong. Berusaha menghindari ajakan pria yang sudah menjadi suaminya itu.

Giorgio hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Vivi keluar dengan langkah cepat. Begitu tiba di lobi apartemen, ia baru membuka ponselnya dan buru-buru memesan ojek online.

Sambil menunggu, jantungnya berdebar. Ia merasa bersalah, tetapi juga lega bisa menghirup udara luar tanpa tatapan Giorgio.

Tiba di kafe, Vivi masuk dengan langkah riang, melambai begitu melihat Lala sudah menunggunya di sana.

Mereka pun duduk berhadapan, memesan minuman masing-masing. Obrolan ringan mengalir, sampai tiba-tiba Lala mencondongkan badan, matanya berbinar penuh semangat.

“Eh, denger-denger di kelas kamu sekarang ada dosen baru ya? Katanya ganteng banget, pinter pula?” Lala berbisik, tetapi jelas terdengar antusias.

Vivi mengerjap sebentar. “Hmm ….” Vivi hanya menanggapi singkat.

“Wah, beruntung banget sih kamu. Dosen ganteng, pinter, terus katanya dia juga ramah dan baik ke semua mahasiswa. Kayak idola gitu loh. Ih, aku iri!” Lala menepuk tangannya sendiri, tertawa kecil.

Vivi terdiam sejenak. Ia mengangkat alis, pura-pura tersenyum padahal hatinya mendengus. 'Baik? Ramah? Kamu nggak tau aja aslinya kayak gimana ....'

Lala tak berhenti. “Serius deh, Vii. Temen-temen aku di kelas lain aja sampai pada ngomongin. Katanya dosen itu bikin suasana kelas jadi hidup, bikin mahasiswa semangat belajar. Aduh, coba aja dia ngajar di kelas aku, pasti lebih betah deh.”

Vivi hanya menyeruput minumannya, berusaha menyembunyikan ekspresi wajah. Dalam hati ia mengulang lagi, semua orang cuma lihat dari luar. Mereka nggak pernah tahu sisi aslinya.

Lala menatap Vivi sambil tersenyum lebar. “Eh, kamu sendiri gimana? Betah nggak? Bayangin tiap kuliah ketemu dosen kayak gitu, pasti bikin mood naik, kan?”

Vivi tersenyum tipis. “Hehe … yaa, gitu deh,” jawabnya singkat, enggan bercerita lebih jauh.

Dalam hati ia bergumam lagi, 'kamu pikir semudah itu? Kalau kamu ngalamin sendiri, mungkin kamu bakal mikir dua kali buat muji dia.'

Vivi bertanya balik tentang kelas Lala. "Emang dosenmu kayak gimana?"

Wajah Lala tampak sebal. Dia mengeluh. "Dosen di kelasku? Tua, suka marah-marah dan nggak ramah sama sekali. Masa di hari pertama ngajar, sudah ngasih tugas. Mana susah lagi ngerjainnya."

Vivi merasa iba pada sepupunya itu. "Sabar ya, La. Siapa tahu dosen itu cuma disen pengganti." Vivi menenangkan Lala.

"Aku sih berharap begitu."

Obrolan terus berlanjut sampai Vivi melirik jam di lengannya lalu panik.

"La, aku pulang dulu, ya. Besok ada kuliah pagi banget. Maaf, ya."

Malam itu Vivi pulang dengan taksi karena malas meninggal ojek.

Tiba di depan pintu apartemen, Vivi bergumam pelan. “Semoga Giorgio udah tidur."

Namun, doa itu tak terkabul. Begitu pintu apartemen dibuka, lampu ruang tengah masih menyala terang. Ia melangkah perlahan, sampai terdengar suara berat dari arah ruang tengah.

“Kenapa pil kontrasepsi kamu masih utuh?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
wong jowo
jeng..jeng...jeng...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 170. Ending

    Seminggu setelah hari yang bersejarah di rumah sakit itu, suasana di rumah baru Ciumbuleuit telah sepenuhnya berubah. Rumah yang awalnya terasa sangat luas dan sunyi, kini dipenuhi dengan kehidupan. Aroma minyak telon, bedak bayi, dan cucian bersih yang dijemur di bawah sinar matahari pagi Bandung seolah menjadi dekorasi baru yang paling indah.​Vivi duduk di kursi goyang di dalam kamar bayi yang telah mereka hias dengan stiker bintang dan awan. Di pelukannya, jagoan kecil yang mereka beri nama Gavriel Arkanza, yang berarti "Kekuatan Tuhan yang Menjadi Cahaya"—sedang tertidur lelap setelah menyusu. Vivi memandangi wajah mungil itu dengan tatapan yang tak pernah bosan. Ada rasa syukur yang mendalam menyelinap di hatinya; perjuangan melewati mual di awal kehamilan, beban ujian semester yang berat, hingga rasa sakit saat persalinan, semuanya menguap seketika setiap kali ia melihat jemari mungil Gavriel bergerak dalam tidurnya.​Pintu kamar terbuka perlahan. Giorgio masuk dengan membawa

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 169. Vivi Melahirkan

    Di dalam kamar yang sejuk, Vivi tiba-tiba terbangun. Ia tidak terbangun karena haus atau ingin ke toilet seperti biasanya, melainkan karena sebuah gelombang rasa mulas yang perlahan naik, mencengkeram perut bawahnya, lalu perlahan menghilang.​Vivi terdiam, mengatur napasnya. "Mungkin cuma kontraksi palsu lagi," batinnya mencoba tenang.​Namun, sepuluh menit kemudian, rasa itu datang lagi. Kali ini lebih kuat, menjalar hingga ke punggung bawahnya. Vivi melirik jam digital di nakas. Ia mulai menghitung. Ketika gelombang ketiga datang tepat sepuluh menit setelahnya, ia tahu ini bukan lagi latihan.​"Gio ... Giorgio ...," bisiknya sambil menyentuh lengan suaminya.​Giorgio, yang selama ini tidurnya tidak nyenyak sejak kehamilan Vivi besar, langsung terjaga sepenuhnya. Ia duduk tegak dalam sekejap. "Ya? Kenapa, Vi? Ada yang sakit? Mau ke kamar mandi?"​"Kayaknya sudah waktunya, Gio," ucap Vivi pelan, mencoba menahan rasa mulas yang mulai memuncak. "Sudah teratur, setiap sepuluh menit."​M

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 168. Persiapan

    Vivi dan Giorgio menghabiskan sore yang tenang di kamar bayi yang beraroma kayu baru dan cat segar. Mereka memutuskan untuk memberikan sentuhan personal pada dinding kamar tersebut dengan menempelkan stiker wallpaper bermotif awan dan bintang-bintang kecil yang berpendar dalam gelap.​"Sedikit ke kanan, Gio. Nah, di situ!" seru Vivi sambil mengarahkan suaminya dari kursi goyang.​Giorgio dengan telaten menempelkan stiker itu, memastikan tidak ada gelembung udara yang tersisa. "Gimana? Sudah pas belum?" tanya Giorgio sambil mundur selangkah untuk melihat hasil kerjanya.​Vivi bangkit berdiri, menghampiri Giorgio, lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil memandangi dinding yang kini tampak jauh lebih hidup. "Sempurna. Si Kecil pasti suka melihat bintang-bintang ini sebelum tidur nanti."​Kamar yang tadinya hanya berisi furnitur itu kini terasa jauh lebih hangat. Ada keranjang bayi yang sudah dilapisi kain lembut, boneka rajut berbentuk beruang di sudut ruangan, dan tumpukan b

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 167. Hari Terakhir Ujian

    Malam semakin larut, tapi semangat di dalam ruang belajar itu belum padam. Lala tampak mengerutkan kening, berulang kali membaca satu halaman buku yang sama sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.​"Vi, bagian kebijakan fiskal ini kenapa ribet banget sih? Aku baca tiga kali masih muter-muter di kepala," keluh Lala sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak nyaris menyerah.​Vivi yang sedang merapikan catatannya menoleh. Dengan tenang, ia menarik buku Lala ke arahnya. "Sini, aku jelasin pakai cara simpel. Bayangin aja anggaran negara itu kayak anggaran belanja kamu sebulan. Kalau kamu pengeluaran lebih besar dari pemasukan, itu namanya defisit. Nah, pemerintah harus cari cara buat nutupin itu."​Vivi menjelaskan dengan sabar, suaranya lembut. Lala mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk-angguk paham. Kehamilan sepertinya tidak mengurangi ketajaman berpikir Vivi sedikit pun; justru ia terlihat lebih tenang dan sistematis.​"Gila, Vi! Kamu jelasin semenit lan

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 166. Belajar Bareng Lala

    Suasana rumah di Ciumbuleuit yang tenang menjadi saksi bisu perjuangan Vivi. Di ruang belajar yang menghadap langsung ke taman, cahaya lampu meja berpendar hangat, menyinari tumpukan diktat dan buku tebal yang terbuka lebar. ​Vivi membetulkan posisi duduknya. Punggungnya mulai sering terasa pegal, dan gerakan janin di dalam rahimnya semakin aktif seolah ikut membaca barisan materi Teori Ekonomi Makro di depannya. Ada sedikit rasa sesal di hatinya, seandainya ia tidak hamil, mungkin gelar sarjana itu sudah di depan mata dalam dua tahun. Namun, menatap perutnya yang membuncit, Vivi sadar bahwa menunda satu tahun adalah pengorbanan kecil demi kebahagiaan yang jauh lebih besar.​Terdengar ketukan pintu pelan sebelum Giorgio masuk membawa nampan kecil. Di atasnya terdapat segelas air putih hangat dan sepiring potongan buah naga serta melon yang sudah dikupas. ​"Makan buahnya yang banyak ya, Vi. Vitamin alaminya bagus buat stamina kamu dan si Kecil," ujar Giorgio sambil meletakkan nampan

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 165. Kedatangan Orang tua

    Pagi berikutnya, suasana rumah baru di Ciumbuleuit itu berubah menjadi sangat ramai. Suara mesin mobil yang menderu di depan pagar menandakan tamu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Bukan hanya satu, tapi dua mobil mewah sekaligus memasuki halaman luas rumah tersebut.​"Vi, Pak Gio! Orang tua kalian datang barengan!" seru Lala yang sejak tadi sudah standby di ruang tamu sambil menikmati udara pagi.​Vivi yang sedang duduk santai di ruang belajar barunya langsung bangkit perlahan. Giorgio dengan sigap merangkul pinggang istrinya, membantu Vivi berjalan menuju pintu depan.​Begitu pintu terbuka, pemandangan hangat menyambut mereka. Papa Giorgio turun dari mobil pertama bersama istrinya, sementara dari mobil kedua, Ayah dan Ibu Vivi keluar dengan wajah yang tak kalah sumringah.​"Ya ampun, ini dia penghuni rumah barunya!" seru Ibu Vivi sambil setengah berlari kecil memeluk putrinya. Ia langsung mengusap perut Vivi yang besar. "Sehat, Nak? Cucuku nggak rewel kan pindahan kemarin?"​"Sehat,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status