LOGINSatu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat Vivi pada Giorgio—tunangan yang juga dosen mudanya. Rahasia kehamilan yang ia sembunyikan kini jadi bom waktu di balik reputasi dan pernikahan yang dijadwalkan. Bagaimana mungkin menjaga jarak, jika setiap hari justru membuat mereka kian terjerat?
View MoreSeminggu setelah hari yang bersejarah di rumah sakit itu, suasana di rumah baru Ciumbuleuit telah sepenuhnya berubah. Rumah yang awalnya terasa sangat luas dan sunyi, kini dipenuhi dengan kehidupan. Aroma minyak telon, bedak bayi, dan cucian bersih yang dijemur di bawah sinar matahari pagi Bandung seolah menjadi dekorasi baru yang paling indah.Vivi duduk di kursi goyang di dalam kamar bayi yang telah mereka hias dengan stiker bintang dan awan. Di pelukannya, jagoan kecil yang mereka beri nama Gavriel Arkanza, yang berarti "Kekuatan Tuhan yang Menjadi Cahaya"—sedang tertidur lelap setelah menyusu. Vivi memandangi wajah mungil itu dengan tatapan yang tak pernah bosan. Ada rasa syukur yang mendalam menyelinap di hatinya; perjuangan melewati mual di awal kehamilan, beban ujian semester yang berat, hingga rasa sakit saat persalinan, semuanya menguap seketika setiap kali ia melihat jemari mungil Gavriel bergerak dalam tidurnya.Pintu kamar terbuka perlahan. Giorgio masuk dengan membawa
Di dalam kamar yang sejuk, Vivi tiba-tiba terbangun. Ia tidak terbangun karena haus atau ingin ke toilet seperti biasanya, melainkan karena sebuah gelombang rasa mulas yang perlahan naik, mencengkeram perut bawahnya, lalu perlahan menghilang.Vivi terdiam, mengatur napasnya. "Mungkin cuma kontraksi palsu lagi," batinnya mencoba tenang.Namun, sepuluh menit kemudian, rasa itu datang lagi. Kali ini lebih kuat, menjalar hingga ke punggung bawahnya. Vivi melirik jam digital di nakas. Ia mulai menghitung. Ketika gelombang ketiga datang tepat sepuluh menit setelahnya, ia tahu ini bukan lagi latihan."Gio ... Giorgio ...," bisiknya sambil menyentuh lengan suaminya.Giorgio, yang selama ini tidurnya tidak nyenyak sejak kehamilan Vivi besar, langsung terjaga sepenuhnya. Ia duduk tegak dalam sekejap. "Ya? Kenapa, Vi? Ada yang sakit? Mau ke kamar mandi?""Kayaknya sudah waktunya, Gio," ucap Vivi pelan, mencoba menahan rasa mulas yang mulai memuncak. "Sudah teratur, setiap sepuluh menit."M
Vivi dan Giorgio menghabiskan sore yang tenang di kamar bayi yang beraroma kayu baru dan cat segar. Mereka memutuskan untuk memberikan sentuhan personal pada dinding kamar tersebut dengan menempelkan stiker wallpaper bermotif awan dan bintang-bintang kecil yang berpendar dalam gelap."Sedikit ke kanan, Gio. Nah, di situ!" seru Vivi sambil mengarahkan suaminya dari kursi goyang.Giorgio dengan telaten menempelkan stiker itu, memastikan tidak ada gelembung udara yang tersisa. "Gimana? Sudah pas belum?" tanya Giorgio sambil mundur selangkah untuk melihat hasil kerjanya.Vivi bangkit berdiri, menghampiri Giorgio, lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil memandangi dinding yang kini tampak jauh lebih hidup. "Sempurna. Si Kecil pasti suka melihat bintang-bintang ini sebelum tidur nanti."Kamar yang tadinya hanya berisi furnitur itu kini terasa jauh lebih hangat. Ada keranjang bayi yang sudah dilapisi kain lembut, boneka rajut berbentuk beruang di sudut ruangan, dan tumpukan b
Malam semakin larut, tapi semangat di dalam ruang belajar itu belum padam. Lala tampak mengerutkan kening, berulang kali membaca satu halaman buku yang sama sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Vi, bagian kebijakan fiskal ini kenapa ribet banget sih? Aku baca tiga kali masih muter-muter di kepala," keluh Lala sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak nyaris menyerah.Vivi yang sedang merapikan catatannya menoleh. Dengan tenang, ia menarik buku Lala ke arahnya. "Sini, aku jelasin pakai cara simpel. Bayangin aja anggaran negara itu kayak anggaran belanja kamu sebulan. Kalau kamu pengeluaran lebih besar dari pemasukan, itu namanya defisit. Nah, pemerintah harus cari cara buat nutupin itu."Vivi menjelaskan dengan sabar, suaranya lembut. Lala mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk-angguk paham. Kehamilan sepertinya tidak mengurangi ketajaman berpikir Vivi sedikit pun; justru ia terlihat lebih tenang dan sistematis."Gila, Vi! Kamu jelasin semenit lan
Vivi terus berjalan tidak memedulikan Antonio. Dia sudah muak dengan pria itu. Meninggalkannya meski pria itu terus mengejarnya. Dia tidak menoleh, tidak sedikit pun memberi kesempatan pada pria itu. Yang ada di benaknya hanya ingin pergi. Sejauh mungkin, hingga bayangan Antonio lenyap. Sebuah
Vivi duduk di meja perpustakaan, buku-buku tebal tertumpuk di depannya. Matanya terpaku pada ponselnya, pada sebuah ikon pesan suara yang baru saja diterima dari Antonio.Antonio, yang duduk di seberangnya. Tubuhnya sedikit membungkuk ke depan, sorot matanya yang intens. Menunggu dengan antisipasi
Vivi duduk tegak, merapikan ujung kemejanya yang sedikit terlipat. Di sebelahnya, Giorgio memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya yang hangat dan kokoh menggenggam jemari Vivi di atas konsol tengah. "Kamu yakin baik-baik saja?" Suara bariton Giorgio memecah kehening. Ia menol
Setelah sukses dengan kelas memasak singkat yang berakhir dengan kenangan manis, Vivi minta belajar masak lagi.Saat Vivi baru saja selesai sarapan roti panggang dengan selai stroberi. Giorgio sudah berdiri di depan pintu dapur, mengenakan apron linen yang persis sama dengan yang dipakainya kemari
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews