Home / Romansa / Dua Wajah Sang Kaisar / BAB 29: Riak Pertama Setelah Retakan

Share

BAB 29: Riak Pertama Setelah Retakan

Author: Kyung Eya
last update publish date: 2026-06-21 11:52:26
Ketika sepasang besi dingin mengunci pergelangan tangan Wang Jun di atas beton dermaga yang basah, sebuah rahasia yang telah terkubur selama ratusan tahun di kedalaman Tebing Wanghai justru mulai melepaskan diri dari belenggunya. Siren mobil polisi yang meraung menjauh dari Pelabuhan Utara seolah menjadi ketukan pembuka bagi simfoni kekacauan yang jauh lebih besar di dalam ruang laboratorium forensik swasta Tuan Li. Di sana, di antara kilatan lampu indikator yang berkedip panik dan dengung konst
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 106: Nyala Kecil Sebelum Gulita

    Tidak ada lagi pembicaraan mengenai tabib, obat-obatan herbal, atau pencarian mantra penyembuhan. Keputusan telah diambil, dan kini yang tersisa hanyalah kepasrahan yang manis serta duka yang teramat dalam namun dibungkus oleh rasa kasih yang meluap.Pagi itu, sinar matahari terbit memancarkan warna keemasan yang lembut menembus celah jendela. Di dalam kamar, Yi Fang duduk bersandar di tumpukan bantal wol tebal. Wajahnya masih pucat pasi dan tubuhnya makin melemah seiring berjalannya hari, namun matanya memancarkan kedamaian yang tak tergoyahkan.Di pangkuannya, terbentang selembar kain selimut bayi berbahan rami paling halus. Jemari lenturnya yang kian kurus dan dingin memegang sebatang jarum perak kecil serta benang sutra berwarna indigo dan emas. Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Yi Fang menusukkan jarum itu menembus serat kain, menganyam pola sulaman yang indah.Hao Yu melangkah masuk membawa sebuah mangkuk tanah liat berisi sup kaldu burung puyuh hangat yang ia rebus sejak su

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 105: Keputusan di Bawah Rembulan

    "Jangan berbohong padaku, Hao Yu. Tatap mataku saat kau bicara."Suara Yi Fang terdengar begitu tipis, menyerupai hembusan angin malam yang menerobos lewat celah jendela kayu. Namun, nada di balik bisikan itu memiliki keteguhan yang sanggup meruntuhkan pertahanan terbatin pria tegap di hadapannya.Hao Yu berdiri mematung di ambang pintu kamar. Langkah kakinya yang biasa begitu mantap dan kokoh kini terasa seberat bongkahan batu gunung. Pria yang baru saja kembali dari gua Puncak Pinus Merah itu menundukkan kepalanya sangat rendah. Bahunya yang lebar bergetar halus, mencoba menahan emosi dahsyat yang mencabik-cabik dadanya sejak ia melangkah turun menyusuri jalan setapak bersalju."Aku... aku hanya kelelahan," sahut Hao Yu parau. Suara baritonnya pecah. Ia menolak menaikkan p

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 104: Bisikan sang Cenayang Pegunungan

    Suasana di dalam gua batu Puncak Pinus Merah mendadak hening total. Hanya terdengar derak halus dari ranting kayu yang terbakar di perapian kecil. Asap tipis yang membawa aroma wangi akar kayu hutan dan daun mint kering membumbung pelan ke udara, memberikan sensasi hangat yang menenangkan saraf-saraf Hao Yu yang tegang.Nenek Cenayang menatap pria tegap di hadapannya dengan pandangan yang dalam. Matanya mengamati bekas luka jahitan di pipi Hao Yu, membaca garis-garis kepedihan di dahinya, serta merasakan gelora keputusasaan dahsyat yang sedang mengamuk di dalam dada sang mantan panglima."Anak muda yang perkasa," tutur Nenek Cenayang dengan suara yang sangat lembut, bagaikan belas kasih seorang ibu yang menenangkan anaknya yang sedang ketakutan. "Kau telah memenangkan banyak pertempuran berdarah dengan pedang dan taktikmu di medan pe

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 103: Jejak Petunjuk di Hutan Pinus

    Kabar mengenai kondisi Yi Fang yang tak kunjung membaik setelah pemeriksaan Tabib Shen bergerak lebih cepat daripada angin dingin yang menyapu perbukitan. Surat burung merpati darurat yang dikirimkan oleh sang tabib utama istana akhirnya tiba di meja kerja Raja Xiu Wei. Hanya butuh waktu dua hari bagi ibu kota untuk bertindak. Sebuah kereta kuda kayu cendana hitam tanpa embel-embel lambang kekaisaran tiba di kaki bukit Pegunungan Utara saat matahari berada tepat di puncak kepala.Dari dalam kereta kuda itu, melangkah keluar seorang pria berjubah hitam pekat. Kain sutra jubahnya disulam rumit dengan helai benang perak membentuk aksara-aksara kuno penjaga batas alam. Rambut peraknya terurai bebas diterpa angin dingin, memantulkan sinar matahari dengan pendar asing. Dialah Dukun Suci Kekaisaran—sosok misterius yang sangat jarang meninggalkan altar suci istana, sang penjaga rahasia keseimbangan energi spiritual seluruh tanah Canglan.Tanpa mengindahkan kepulan asap napas dari para pengawa

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 102: Tangisan di Pondok Sunyi

    Darah hitam yang membasahi lantai kayu dan kain rami di kamar pondok memang telah dibersihkan hingga tak bersisa. Namun, aroma tembaga yang samar serta hawa dingin asing yang membekukan tulang masih tertinggal pekat di dalam udara. Di luar, embun pagi menyelimuti lereng Pegunungan Utara dalam kabut tipis yang kelabu. Pepohonan pinus berdiri tegak bagaikan prajurit bisu, menyaksikan penderitaan yang tak tersuarakan dari dalam rumah kayu sederhana itu.Di atas ranjang kayu, Yi Fang terbaring pucat. Wajahnya yang biasa merona anggun dan hangat kini memutih pasi, bagaikan ukiran pualam tanpa nyawa. Helaan napasnya teratur namun teramat tipis—seolah helai kehidupannya hanya terikat pada seutas benang lapuk yang sewaktu-waktu bisa terputus oleh hembusan angin paling pelan sekalipun. Bibirnya yang mengering masih membekaskan rona kehitaman pucat di garis sudutnya, menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya sengatan ghaib yang menghantam jiwanya semalam.Di samping ranjang, Hao Yu tak bergeming sed

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 101: Benturan Energi Dua Linimasa

    Malam di lereng Pegunungan Utara terasa jauh lebih pekat dan mencekam dari biasanya. Angin kencang bertiup melintasi celah perbukitan, meliukkan pepohonan pinus dan menimbulkan suara raungan misterius yang bersahut-sahutan. Di dalam pondok kayu, api perapian berkobar gelisah, memancarkan bayang-bayang panjang yang menari-nari liar di dinding kayu.Yi Fang berbaring telentang di atas ranjang. Tubuhnya dibungkus oleh tiga lapis selimut kain rami tebal, tetapi hawa dingin yang menggerogoti tubuhnya sama sekali tidak berkurang sedikit pun. Wajahnya yang biasa merona anggun kini memucat pasi bagaikan mayat.Hao Yu duduk bersandar di sampingnya, memegang erat kedua tangan Yi Fang yang terasa dingin seperti es batu. Pria tegap itu tak membiarkan matanya terpejam sekejap pun. Firasat buruk yang teramat sangat terus menekan dadanya sejak kepulangan mereka dari tempat Tabib Song, membuat setiap detik yang berlalu terasa bagaikan siksaan yang lambat."Jam berapa sekarang, Hao Yu?" bisik Yi Fang

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 5: Pelarian ke Ujung Dunia

    Lampu-lampu kota melintas di luar jendela mobil bagaikan garis-garis cahaya yang buram dan membingungkan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mengemudikan sedan hitamku membelah jalanan protokol yang mulai lengang oleh kendaraan. Kepalaku terasa kosong, hampa, namun di saat yang sama, ada badai ya

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 4: Sayap yang Dipatahkan

    Wang Jun terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat meremehkan dan sarat akan keangkuhan, seolah pertanyaan defensif yang kuajukan adalah hal paling konyol dan naif yang pernah dia dengar dari seorang wanita paruh bangkrut."Seorang wanita yang menyandang nama belakang Marga Wang tidak perlu

  • Dua Wajah Sang Kaisar   Bab 3: Jamuan di Atas Air Mata

    Lampu kristal raksasa yang menggantung megah di langit-langit restoran fine dining hotel bintang lima itu memancarkan kilau keemasan yang menyilaukan. Cahayanya memantul di atas permukaan meja panjang dari kayu jati solid yang dipoles sempurna tanpa noda, menciptakan ilusi yang mewah. Di atas meja i

  • Dua Wajah Sang Kaisar   Bab 2: Jeruji Berbalut Emas

    Ayah menarik napasnya dengan payah, dadanya kembang kempis tak beraturan. Cengkeramannya di pergelangan tanganku mengendur, meninggalkan rasa kebas yang menjalar hingga ke ujung jari. Keheningan kembali merayap di dalam Jia’s Atelier, namun kali ini terasa jauh lebih pekat dan menakutkan daripada s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status