首頁 / Romansa / Dua Wajah Sang Kaisar / BAB 29: Riak Pertama Setelah Retakan

分享

BAB 29: Riak Pertama Setelah Retakan

作者: Kyung Eya
last update publish date: 2026-06-21 11:52:26

Ketika sepasang besi dingin mengunci pergelangan tangan Wang Jun di atas beton dermaga yang basah, sebuah rahasia yang telah terkubur selama ratusan tahun di kedalaman Tebing Wanghai justru mulai melepaskan diri dari belenggunya. Siren mobil polisi yang meraung menjauh dari Pelabuhan Utara seolah menjadi ketukan pembuka bagi simfoni kekacauan yang jauh lebih besar di dalam ruang laboratorium forensik swasta Tuan Li. Di sana, di antara kilatan lampu indikator yang berkedip panik dan dengung kons
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Dua Wajah Sang Kaisar   Bab 31: Bayang Dua Wajah

    Tenggorokan Yi Fang mendadak kering. Rasa hangat dari gairah berburu kain sutra liar di bawah pohon ginkgo tadi menguap tanpa sisa, digantikan oleh sensasi dingin yang merayap cepat dari ujung kaki hingga ke tengkuk. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu kain kelabu sengaja dipercepat, hampir menyerupai setengah berlari, membelah kerumunan pengunjung pasar malam yang mulai menyusut seiring larutnya malam.Dia tahu. Instingnya yang terasah di dunia modern sebagai seorang profesional yang dituntut peka terhadap sekitar, berteriak kencang bahwa ada yang salah. Tatapan itu—tatapan sedingin es dari lantai dua kedai teh yang sempat tidak sengaja ia tangkap sekilas tadi—terasa seperti mata pisau yang menempel di punggungnya. Seseorang sedang menguntitnya.Yi Fang berbelok tajam ke kanan, memilih sebuah jalan pintas berupa gang sempit di antara dua dinding bata tinggi yang memisahkan area pasar dengan pemukiman warga. Suara riuh rendah tawar-menawar pedagang dan aroma dupa Festival Musim Sem

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 30: Langkah Sunyi ke Kota Perbatasan

    Setiap lembar kain memiliki batas regangnya sendiri sebelum seutas benang memutuskan untuk menyerah pada tarikan. Begitu pula dengan hati manusia. Yi Fang tidak pernah menduga bahwa langkah kaki pertamanya menuruni lereng berselimut es Pegunungan Canglan hari itu bukan sekadar pelarian dari keheningan pondok yang mencekam, melainkan ketukan awal pada dinding sebuah kotak pandora yang telah lama terkunci rapat oleh darah dan konspirasi kekaisaran kuno. Kotak yang jika sekali saja terbuka, akan mengincar helai napas terakhirnya tanpa ampun.Sunyi di dalam pondok kayu itu mendadak berubah menjadi beban yang menindih pundak sejak punggung tegap Hao Yu hilang ditelan pekatnya kabut putih. Jarum jam tak kasatmata seolah bergerak lambat, menyiksa Yi Fang dengan sejuta tanya yang tak kunjung menemukan jawaban. Di atas meja kayu yang kasar, busur panah dari kayu askar hitam pemberian Hao Yu tergeletak diam. Jemari Yi Fang menyusuri permukaannya yang halus namun dingin, m

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 29: Riak Pertama Setelah Retakan

    Ketika sepasang besi dingin mengunci pergelangan tangan Wang Jun di atas beton dermaga yang basah, sebuah rahasia yang telah terkubur selama ratusan tahun di kedalaman Tebing Wanghai justru mulai melepaskan diri dari belenggunya. Siren mobil polisi yang meraung menjauh dari Pelabuhan Utara seolah menjadi ketukan pembuka bagi simfoni kekacauan yang jauh lebih besar di dalam ruang laboratorium forensik swasta Tuan Li. Di sana, di antara kilatan lampu indikator yang berkedip panik dan dengung konstan dari mesin penstabil frekuensi, batasan antara sains modern dan kemustahilan masalalu mulai mengabur, menyisakan sekat tipis yang siap pecah kapan saja.Ruangan kendali yang biasanya hening kini berubah menyerupai medan pertempuran senyap. Lembaran-lembaran kertas grafik cetak berserakan di lantai, keluar otomatis dari mesin pemantau saraf yang tidak mampu lagi mengejar kecepatan lonjakan data. Beberapa teknisi bergerak dengan tergesa-gesa, jemari mereka menari dengan liar di atas papan keti

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 28: Sumpah di Ambang Kabut Musim Dingin

    Jika sebuah janji diikat di atas tanah yang membeku, apakah ia akan retak saat kehangatan mulai mencairkannya?Sentuhan jemari Hao Yu masih menyisakan kehangatan yang samar pada kulit tengkuk Yi Fang, tempat tusuk konde kayu pinus itu kini tersemat dengan anggun. Namun, binar magis dari malam festival tidak bertahan lama. Kehidupan di lereng Pegunungan Canglan selalu memiliki cara yang brutal untuk menarik kembali penghuninya ke atas realitas tanah yang keras. Di balik dinding kayu pondok, suara gemertak es yang patah terdengar semakin sering. Itu bukan sekadar tanda perubahan cuaca, melainkan genderang perang yang ditabuh oleh alam; sisa es tebal di jalur utama gunung mulai melunak, melonggarkan cengkeraman musim dingin yang selama ini mengisolasi mereka.Bagi orang awam, itu adalah berkah musim semi yang dinanti. Namun bagi Hao Yu, itu adalah lonceng peringatan bahwa mata-mata dari Baisha akan mendaki lereng ini dalam hitungan hari.Pagi itu, atmosfer di dalam pondok terasa begitu k

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 27: Lentera Salju dan Simpul Pinus

    Sepasang tangan yang terbiasa memegang gunting kain dan mengukur pola itu kini bergerak lincah merobek lembaran rami merah yang tersisa di sudut pondok. Yi Fang memotongnya menjadi empat bagian simetris, lalu menggunakan jemari rampingnya untuk melipat material kaku itu membentuk tabung segi empat. Di bawah pengawasannya, beberapa bilah bambu tipis yang telah diserut halus oleh Hao Yu ditekuk melingkar, menjadi rangka penguat di bagian dalam."Hati-hati dengan lilin lebahnya, sumbunya harus tepat di tengah agar kertasnya tidak terbakar," suara rendah Hao Yu memecah keheningan di dekat tungku.Yi Fang mendongak, memberikan senyuman kecil yang menenangkan. "Aku seorang desainer, Hao Yu. Presisi adalah keahlian utamaku. Lentera ini tidak akan runtuh hanya karena embusan angin kecil."Hari itu, penanggalan kuno menandai tibanya Chun Jie, Festival Musim Semi. Meskipun hamparan es di luar pelataran Pegunungan Canglan masih membeku kokoh dan enggan beranjak, atmosfer di dalam pondok terasa j

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 26: Embusan Angin Da Han dan Mata-Mata Desa

    Langit di atas Pegunungan Canglan tidak lagi menumpahkan badai salju yang membabi buta seperti beberapa minggu sebelumnya. Amukan angin yang melolong telah reda, menyisakan keheningan yang ganjil dan mencekam. Namun, ketenangan ini membawa ancaman baru yang tidak kalah mematikan: fase Da Han, puncak dari segala dingin yang sanggup menggigit hingga ke sumsum tulang.Udara bertransformasi menjadi bilah-bilah pisau tak kasatmata. Di dalam pondok, sisa-sisa kelembapan udara berubah menjadi kristal-kristal es yang merambat pelan di sela-sela dinding papan kayu. Setiap kali Yi Fang mengembuskan napas, uap putih tebal segera menggumpal di depan wajahnya sebelum akhirnya lenyap menyublim. Pakaian tebal berlapis rami dan jubah kulit beruang milik Hao Yu yang kini melilit tubuh tirusnya hampir tidak sanggup menahan hawa sedingin ini jika ia bergerak terlalu jauh dari tungku api.Alat tenun di sudut ruangan masih membeku jenuh. Gumpalan pelumasnya telah mengeras menyerupai batu, membuat poros-po

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 25: Badai Terpanjang di Balik Dinding Papan

    Pagi hari di kota metropolitan selalu datang dengan suara bising yang samar, bahkan dari lantai paling atas gedung pencakar langit sekalipun. Namun di dalam ruang kerja Tuan Li, keheningan justru terasa menebal setelah kepergian Wang Jun yang berjalan gontai bagai kehilangan tulang penyangga tubuhn

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 24: Siasat Musim Dingin dan Pintu Gua yang Terbuka

    Perjalanan kembali dari Kota Baisha terasa jauh lebih ringan. Kantong kain tebal yang kini terikat erat di pinggang Hao Yu tidak lagi hanya berisi anak panah, melainkan dentingan lima belas keping koin perak murni yang saling berbenturan ritmis seiring langkah kaki mereka menanjak lereng Pegunungan

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 23: Kilau Perak di Kota Pelabuhan

    Menggunakan alat tenun bambu mini rakitannya, Yi Fang bekerja nyaris tanpa henti selama dua hari penuh. Jiwa desainer miliknya seolah menolak untuk beristirahat sebelum target terpenuhi. Hasilnya, lima helai jubah luar berbahan rami dengan gradasi warna indigo yang memukau kini terlipat rapi di ata

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 22: Potongan Asimetris dan Bayang-Bayang yang Terlacak

    Aroma sisa daun Lan-Cao yang teroksidasi masih tertinggal di udara fajar yang kian menghangat. Setelah benturan pemikiran dan momen canggung yang mendebarkan di dekat kuali pewarna, ketegangan di antara Yi Fang dan Hao Yu tidak lantas menguap begitu saja. Ada kabut tipis kecanggungan yang kini meng

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status