Chapter: BAB 12: Sang Penyelamat di Pondok SunyiTangan pemuda bernama Hao Yu itu terasa hangat, kasar oleh kapalan, namun memiliki kekuatan yang luar biasa besar saat menarik tubuh ringkih Jia Li—yang kini harus memaksa seluruh kesadarannya untuk membiasakan diri dipanggil dengan nama asing, Yi Fang—keluar dari kegelapan lubang bawah tanah yang pengap. Ketika tubuh ringkih itu berhasil ditarik sepenuhnya ke atas permukaan lantai papan kayu yang kasar dan dipenuhi serat-serat tajam, Yi Fang tidak mampu lagi menahan keseimbangan raganya. Dia langsung tersungkur dengan lutut membentur lantai, dada yang naik-turun menahan perih, serta terbatuk-batuk kecil akibat debu tanah liat kering yang sempat menyumbat saluran tenggorokannya selama masa persembunyian. Paru-parunya yang terasa begitu rapuh dan kecil berdenyut menyakitkan, seolah-olah menolak udara malam yang berembus masuk secara mendadak dari celah-celah sempit jendela pondok yang terbuat dari jalinan rumbia kering.Hao Yu tidak membuang waktu untuk sekadar menunjukkan rasa iba yan
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: BAB 11: Raga Asing di Balik Jeruji TanahRasa sesak yang menyerang kesadaran itu datang bersamaan dengan aroma tanah basah dan bau apek dari akar-akar pohon yang membusuk. Ketika netra itu pertama kali terbuka, hal pertama yang tertangkap bukanlah gemerlap lampu gantung kristal di butik mewah Jia’s Atelier, bukan pula pantulan cahaya rembulan di atas riak tebing Wanghai yang dingin. Melainkan sebuah kegelapan yang pekat dan pengap. Sesuatu yang terasa seperti dinding tanah liat yang sempit mengimpit tubuhnya dari segala sisi.Jia Li mencoba menggerakkan ujung jemarinya, namun rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar dari pergelangan tangan hingga ke pangkal bahunya. Kulitnya terasa kasar, dipenuhi goresan luka kering, dan dibungkus oleh sehelai kain kasar berwarna kelabu yang terasa gatal menempel di kulit. Ini bukan sutra, bukan satin, dan jelas bukan pakaian modern."Ugh..." Sebuah lenguhan tipis lolos dari bilah bibirnya. Namun, Jia Li langsung tersentak. Suara itu bukan miliknya. Suara yang keluar terdengar jauh lebi
Last Updated: 2026-06-01
Chapter: BAB 10: Retakan di Puncak KekuasaanPengumuman resmi mengenai kepastian kematian Jia Li yang dirilis oleh juru bicara hukum keluarga Li malam itu langsung memicu gempa tektonik berskala besar di seluruh penjuru kota. Portal berita daring berlomba-lomba memasang tajuk utama dengan foto wajah cantik sang desainer yang mengenakan gaun rancangannya, sementara jaringan televisi nasional menyiarkan dokumenter pendek tentang perjalanan karier gemilang Jia’s Atelier yang harus berakhir secara tragis di tebing pantai pinggiran kota. Namun, di balik riuh rendah ucapan duka cita yang mengalir dari para selebritas, kolektor seni, dan sosialita papan atas, suasana di dalam ruang rapat utama Perusahaan Yuchong justru terasa sangat kontras—bagaikan sebuah ruang eksekusi yang dingin, mencekam, dan hampa udara.Yang Li duduk terdiam di kepala meja kayu ek panjang yang mengilap, tatapan matanya yang sayu lurus menatap tumpukan berkas laporan keuangan kuartal terakhir yang berserakan berantakan di hadapannya. Di sekeliling meja bundar ter
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: BAB 9: Tabir KeheninganOperasi kemanusiaan berskala besar yang digelar di kaki Tebing Wanghai perlahan-lahan mulai menyusut seiring berjalannya waktu, menyisakan keheningan yang jauh lebih mencekam dan menyiksa daripada gemuruh ombak itu sendiri. Minggu-minggu pertama setelah malam nahas itu adalah neraka yang berjalan bagi semua orang yang terlibat di lapangan.Perahu karet tim Rescue berulang kali membelah ombak besar yang ganas, para penyelam profesional mempertaruhkan nyawa menembus kegelapan palung laut dalam yang pekat serta dingin, dan helikopter patroli menyisir setiap jengkal batuan karang tajam dari udara sepanjang hari. Namun, samudra selatan seolah-olah telah mengunci rapat rahasia tentang keberadaan Jia Li. Tidak ada sepotong kain gaun satin hitamnya yang ditemukan tersangkut di batu, tidak ada barang pribadi seperti ponsel atau tas yang mengapung, seolah-olah sang desainer muda berbakat itu telah menguap begitu saja ke dalam kabut malam yang tebal tanpa meninggalkan jejak biologis sedikit pun.
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: BAB 8: Gema di Atas Karang HitamFajar belum sepenuhnya pecah di langit ufuk timur, namun garis pantai di bagian bawah tebing Wanghai telah berubah menjadi medan kesibukan yang luar biasa suram, dingin, dan menegangkan sejak beberapa jam yang lalu. Kabut laut yang semalam menyelimuti puncak tebing kini mulai terangkat perlahan oleh embusan angin pagi yang kencang, menyisakan pemandangan laut selatan yang masih berombak besar dan berwarna abu-abu pekat yang mengerikan. Suara raungan sirine yang melengking dari mobil tim Rescue serta tiga unit mobil polisi memecah kesunyian pagi yang berkabut, beradu konstan dengan deru ombak liar yang menghantam kaki-kaki karang hitam dengan suara berdentum keras, seolah ikut meratapi tragedi yang baru saja terjadi.Garis polisi berwarna kuning terang telah terpasang melingkar sempurna di atas tebing, menutup akses publik ke area tanah longsor di tepi tebing tempat jatuhnya Jia Li semalam. Beberapa petugas forensik dengan pakaian jingga yang mencolok tampak berjongkok dengan penuh keh
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: BAB 7: Arus Jiwa Tanpa WujudAku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup!Siapa pun, tolong aku!Suara itu bergema hampa, terjebak di dalam labirin pikiranku sendiri. Di sini, di tempat aku berada saat ini, semuanya tampak gelap gulita, pekat, dan teramat menyesakkan. Rasa dingin yang luar biasa merayap perlahan, membekukan aliran darahku, sementara tekanan air yang mahabesar terus mendorong tubuhku semakin dalam, tenggelam ke dasar samudera yang tak berdasar. Paru-paruku berdenyut menyakitkan, menjerit mendambakan setitik oksigen yang mustahil kuraih. Setiap kali aku mencoba membuka mulut untuk berteriak, yang masuk hanyalah cairan asin yang mencekik tenggorokanku.Tolong!Inikah akhir dari semua perjuanganku? Akhir dari hidup seorang Jia Li?Sinar rembulan di atas permukaan laut perlahan menjauh, meredup hingga akhirnya lenyap sama sekali dari pandanganku. Kesadaranku mulai timbul dan tenggelam, digerogoti oleh rasa putus asa yang dingin. Namun, jauh di lubuk hatiku, sebuah penolakan keras menolak untuk padam.
Last Updated: 2026-05-26