Chapter: BAB 105: Keputusan di Bawah Rembulan"Jangan berbohong padaku, Hao Yu. Tatap mataku saat kau bicara."Suara Yi Fang terdengar begitu tipis, menyerupai hembusan angin malam yang menerobos lewat celah jendela kayu. Namun, nada di balik bisikan itu memiliki keteguhan yang sanggup meruntuhkan pertahanan terbatin pria tegap di hadapannya.Hao Yu berdiri mematung di ambang pintu kamar. Langkah kakinya yang biasa begitu mantap dan kokoh kini terasa seberat bongkahan batu gunung. Pria yang baru saja kembali dari gua Puncak Pinus Merah itu menundukkan kepalanya sangat rendah. Bahunya yang lebar bergetar halus, mencoba menahan emosi dahsyat yang mencabik-cabik dadanya sejak ia melangkah turun menyusuri jalan setapak bersalju."Aku... aku hanya kelelahan," sahut Hao Yu parau. Suara baritonnya pecah. Ia menolak menaikkan p
Terakhir Diperbarui: 2026-10-16
Chapter: BAB 104: Bisikan sang Cenayang PegununganSuasana di dalam gua batu Puncak Pinus Merah mendadak hening total. Hanya terdengar derak halus dari ranting kayu yang terbakar di perapian kecil. Asap tipis yang membawa aroma wangi akar kayu hutan dan daun mint kering membumbung pelan ke udara, memberikan sensasi hangat yang menenangkan saraf-saraf Hao Yu yang tegang.Nenek Cenayang menatap pria tegap di hadapannya dengan pandangan yang dalam. Matanya mengamati bekas luka jahitan di pipi Hao Yu, membaca garis-garis kepedihan di dahinya, serta merasakan gelora keputusasaan dahsyat yang sedang mengamuk di dalam dada sang mantan panglima."Anak muda yang perkasa," tutur Nenek Cenayang dengan suara yang sangat lembut, bagaikan belas kasih seorang ibu yang menenangkan anaknya yang sedang ketakutan. "Kau telah memenangkan banyak pertempuran berdarah dengan pedang dan taktikmu di medan pe
Terakhir Diperbarui: 2026-10-15
Chapter: BAB 103: Jejak Petunjuk di Hutan PinusKabar mengenai kondisi Yi Fang yang tak kunjung membaik setelah pemeriksaan Tabib Shen bergerak lebih cepat daripada angin dingin yang menyapu perbukitan. Surat burung merpati darurat yang dikirimkan oleh sang tabib utama istana akhirnya tiba di meja kerja Raja Xiu Wei. Hanya butuh waktu dua hari bagi ibu kota untuk bertindak. Sebuah kereta kuda kayu cendana hitam tanpa embel-embel lambang kekaisaran tiba di kaki bukit Pegunungan Utara saat matahari berada tepat di puncak kepala.Dari dalam kereta kuda itu, melangkah keluar seorang pria berjubah hitam pekat. Kain sutra jubahnya disulam rumit dengan helai benang perak membentuk aksara-aksara kuno penjaga batas alam. Rambut peraknya terurai bebas diterpa angin dingin, memantulkan sinar matahari dengan pendar asing. Dialah Dukun Suci Kekaisaran—sosok misterius yang sangat jarang meninggalkan altar suci istana, sang penjaga rahasia keseimbangan energi spiritual seluruh tanah Canglan.Tanpa mengindahkan kepulan asap napas dari para pengawa
Terakhir Diperbarui: 2026-10-15
Chapter: BAB 102: Tangisan di Pondok SunyiDarah hitam yang membasahi lantai kayu dan kain rami di kamar pondok memang telah dibersihkan hingga tak bersisa. Namun, aroma tembaga yang samar serta hawa dingin asing yang membekukan tulang masih tertinggal pekat di dalam udara. Di luar, embun pagi menyelimuti lereng Pegunungan Utara dalam kabut tipis yang kelabu. Pepohonan pinus berdiri tegak bagaikan prajurit bisu, menyaksikan penderitaan yang tak tersuarakan dari dalam rumah kayu sederhana itu.Di atas ranjang kayu, Yi Fang terbaring pucat. Wajahnya yang biasa merona anggun dan hangat kini memutih pasi, bagaikan ukiran pualam tanpa nyawa. Helaan napasnya teratur namun teramat tipis—seolah helai kehidupannya hanya terikat pada seutas benang lapuk yang sewaktu-waktu bisa terputus oleh hembusan angin paling pelan sekalipun. Bibirnya yang mengering masih membekaskan rona kehitaman pucat di garis sudutnya, menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya sengatan ghaib yang menghantam jiwanya semalam.Di samping ranjang, Hao Yu tak bergeming sed
Terakhir Diperbarui: 2026-10-09
Chapter: BAB 101: Benturan Energi Dua LinimasaMalam di lereng Pegunungan Utara terasa jauh lebih pekat dan mencekam dari biasanya. Angin kencang bertiup melintasi celah perbukitan, meliukkan pepohonan pinus dan menimbulkan suara raungan misterius yang bersahut-sahutan. Di dalam pondok kayu, api perapian berkobar gelisah, memancarkan bayang-bayang panjang yang menari-nari liar di dinding kayu.Yi Fang berbaring telentang di atas ranjang. Tubuhnya dibungkus oleh tiga lapis selimut kain rami tebal, tetapi hawa dingin yang menggerogoti tubuhnya sama sekali tidak berkurang sedikit pun. Wajahnya yang biasa merona anggun kini memucat pasi bagaikan mayat.Hao Yu duduk bersandar di sampingnya, memegang erat kedua tangan Yi Fang yang terasa dingin seperti es batu. Pria tegap itu tak membiarkan matanya terpejam sekejap pun. Firasat buruk yang teramat sangat terus menekan dadanya sejak kepulangan mereka dari tempat Tabib Song, membuat setiap detik yang berlalu terasa bagaikan siksaan yang lambat."Jam berapa sekarang, Hao Yu?" bisik Yi Fang
Terakhir Diperbarui: 2026-10-05
Chapter: BAB 100: Pengungkapan di Masa DepanLampu-lampu tabung dari ruang bawah tanah Kejaksaan Distrik Kota memantulkan cahaya dingin pada deretan layar monitor yang menampilkan berbagai berkas digital. Suara ketukan tombol keyboard berpadu dengan dengung mesin pendingin ruangan, menciptakan suasana tegang di dalam ruang kerja Unit Kejahatan Khusus dan Penyidik Kejaksaan.Jaksa Han berdiri menatap tajam ke arah layar utama di depannya. Di layar itu, terpampang rekaan topografi digital tiga dimensi dari area Tebing Wanghai—lokasi jatuhnya Jia Li, perancang busana muda berbakat pemilik Jia's Atelier."Bagaimana kemajuan dari analisis data komputer genggam yang disita dari apartemen Ming Na?" tanya Jaksa Han dengan suara serak.Seorang ahli forensik digital mengklik tetikusnya beberapa kali, memunculkan berkas terenkripsi, data transaksi perbankan Swiss, serta rekaman percakapan suara yang baru berhasil diekstrak."Hasilnya sangat mutlak, Pak," jelas teknisi itu. "Rekaman suara di komputer tua Ming Na membuktikan secara eksplisit
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02