Share

15. Malam Puncak

Penulis: Blue Ice
last update Tanggal publikasi: 2026-09-14 23:26:23
Grand Ballroom Hotel Grand Royale malam itu berkilau megah. Lampu-lampu kristal raksasa memantulkan cahaya keemasan di atas ribuan gelas sampanye yang tertata rapi. Alunan musik klasik berpadu lembut dengan derak tawa para pengusaha papan atas yang mengenakan setelan terbaik mereka.

Di tengah kemewahan itu, Kinara melangkah masuk dengan gaun malam berwarna hijau zamrud yang sangat anggun. Baju formal yang biasa menutupi bahunya kini berganti dengan selendang sutra tipis yang mempertegas keangg
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    96. Retakan Besar

    "Aku yang mengantar kalian," ujar Leo tegas seraya meraih kunci mobil dari atas meja. Pria bertubuh tegap itu berdiri menghalangi jalan menuju pintu keluar apartemen, menatap Kinara dengan binar mata posesif yang tak bisa dibantah. Kinara menghentikan langkahnya, menatap Leo dengan raut wajah datar. "Tidak perlu, Leo. Aku bisa naik taksi atau angkutan umum bersama Arka seperti biasa. Kalau kamu yang mengantar dengan mobil mewahmu itu, para karyawan di kantor bakal heboh dan memicu desas-desus yang tidak penting." Leo menyunggingkan senyum miring yang amat cerdik. Menyadari benteng pertahanan Kinara yang terlalu keras jika dihadapi secara langsung, pria muda itu melirik pelan ke arah bocah kecil di samping Kinara. "Arka," panggil Leo seraya berlutut menyamakan tingginya dengan Arkana. "Kamu lebih suka diantar Paman naik mobil yang ada pendingin dinginnya, atau desak-desakan panas di jalanan sama Ibu, hm?" Mata bulat Arkana seketika berbinar terang. Bocah kecil itu memegang erat uju

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    95. Semakin Jatuh

    Cahaya matahari pagi menerobos tipis melalui celah tirai jendela apartemen, membiaskan pendar hangat di atas lantai kayu. Di dalam kamar mandi, uap air hangat masih membumbung tipis. Kinara berdiri kaku di depan cermin besar. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan ketenangan kini diliputi raut jengkel yang luar biasa. Jemari lentiknya menarik kerah jubah mandinya sedikit ke bawah, memperlihatkan beberapa bercak kemerahan yang tercetak jelas di sekitar leher dan tulang selangkanya. "Pria gila itu ..." gumam Kinara berdesis pelan, meremas kerah jubahnya erat-erat. Bercak-bercak tanda kepemilikan itu menyebar begitu kentara. Pria muda itu benar-benar beringas dan tidak tahu aturan semalam. Kinara harus memutar otak, memoleskan concealer tebal berkali-kali di lehernya agar bekas cumbuan gila itu tidak menjadi bahan gunjingan di kantor nanti. Setelah selesai berpakaian rapi dengan kemeja berkerah tinggi yang tertutup rapat, Kinara melangkah keluar dari kamar mandi. Namun, saat ia me

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    94. Welcome Back

    Jarum jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana di dalam apartemen sederhana milik Kinara terasa begitu hening. Arkana sudah tertidur pulas di dalam kamarnya usai mendengarkan dongeng sebelum tidur. Kinara yang baru saja menutup pintu kamar putranya melangkah gontai ke area ruang tamu. Mengingat seharian penuh ia mengurus laporan kantor, Kinara menyanggul asal rambut panjangnya dan mengenakan pakaian rumah yang santai. Ia melangkah menuju dapur kecil untuk mengambil segelas air hangat. Bip, bip, bip. Suara tombol sandi pintu utama apartemennya mendadak berbunyi dari luar. Kinara menghentikan langkahnya, menatap gagang pintu dengan kening bertaut dalam. Seingatnya, hanya ada satu orang luar yang memegang akses sandi rumah ini. KLEK! Pintu utama terdorong terbuka. Sosok pria bertubuh tegap tinggi berbalut kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku melangkah masuk. Binar mata hitam Leo berkilat liar dan intens—penuh akan dahaga kepemilikan yang amat pekat. "Leo?!

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    93. Kita Sama!

    Leo berdiri tegap di ambang pintu. Pria itu menurunkan lengan tegapnya, menatap Alex dengan binar mata hitam yang dipenuhi ancaman membunuh yang pekat. "Gunakan tangan kotormu itu sekali lagi pada kakakkuku ..." desis Leo dengan suara bariton rendah yang amat tajam, "... dan aku pastikan pergelangan tanganmu patah malam ini juga." Alex menyapu darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Pria itu bangkit berdiri perlahan, merapikan kemeja sutranya yang kusut seraya menatap Leo dengan napas memburu kencang. "Valen! Ini urusan rumah tanggaku dengan kakakmu!" cetus Alex jengkel, mencoba menegakkan punggungnya. "Dia sudah bertindak melampaui batas! Dia hamil anak pria lain dan—" "Tutup mulutmu, Alexandre," pangkas Leo tegap, melangkah satu tindak maju yang membuat Alex refleks mundur setengah langkah. Leo menyunggingkan senyum sinis yang amat menghina. "Melampaui batas, katamu? Kamu bicara soal moral di depan rumah ini?"

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    92. Anak Siapa?!

    Leo sebenarnya ingin segera pergi dari kediaman Sutedja. Namun masih tertahan dengan makan malam. Ia menggeser kursinya sedikit menjauh karena di sebelahnya duduk Giselle."Valen ... bisakah ambilkan aku udang itu?" pinta Giselle menunjuk udang yang tepat berada di sebelah tangan Leo.Namun pemuda yang dimintai tolong hanya diam saja. Giselle meremat sendok di tangannya. Ia harus mengendalikan Leo lagi. Jika tidak ... pertunangannya dan pemuda itu mungkin akan benar-benar berakhir.Ia mengambil rencana lain. Sekarang menatap Arthur dan Nenek Kusuma dengan tatapan memelas, memohon pembelaan. Ting!Seketia bunyi bertending membuat mereka tersentak. Kepala keluarga Sutedja yang meletakkan sendok ke piringnya dengan kasar sehingga menimbulkan suara nyaring karena beradu dengan piring."Valentino!" Suara menggelegar Arthur menggema di ruang makan. "Kamu tidak dengar Giselle minta apa?" "Bukan urusanku!" balas Leo acuh."Valen ..." Sekarang Nenek Kusuma yang berbicara. "Berhenti dingin pa

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    91. Dia Datang!

    Gerbang besi bermotif ukiran emas meluncur terbuka secara otomatis. Mobil sedan hitam berpelat istimewa melaju perlahan melintasi pelataran luas Kediaman Sutedja. Sebuah istana megah berarsitektur klasik yang memancarkan pilar-pilar keangkuhan klan konglomerat paling berpengaruh di negeri ini. Pintu mobil terbuka. Pria bertubuh tegap berbalut setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap melangkah keluar. Meskipun bekas luka di belakang kepalanya masih tersembunyi rapat di balik tatanan rambut hitamnya yang rapi, aura dingin nan mematikan yang terpancar dari tubuh Valentino Sutedja seketika menekan atmosfer di sekitarnya. Baru saja Leo menginjakkan kakinya di teras utama, pintu ganda rumah besar itu terbuka. Valerie melangkah keluar bersama Devan yang mengekor di belakangnya membawa dokumen kantor. Langkah Valerie terhenti kaku saat matanya menangkap sosok adiknya yang berdiri tegap di depannya. Binar matanya bergetar tipis, memancarkan rasa cemas yang teramat sangat melihat perban yan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status