LOGINGerbang besi bermotif ukiran emas meluncur terbuka secara otomatis. Mobil sedan hitam berpelat istimewa melaju perlahan melintasi pelataran luas Kediaman Sutedja. Sebuah istana megah berarsitektur klasik yang memancarkan pilar-pilar keangkuhan klan konglomerat paling berpengaruh di negeri ini. Pintu mobil terbuka. Pria bertubuh tegap berbalut setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap melangkah keluar. Meskipun bekas luka di belakang kepalanya masih tersembunyi rapat di balik tatanan rambut hitamnya yang rapi, aura dingin nan mematikan yang terpancar dari tubuh Valentino Sutedja seketika menekan atmosfer di sekitarnya. Baru saja Leo menginjakkan kakinya di teras utama, pintu ganda rumah besar itu terbuka. Valerie melangkah keluar bersama Devan yang mengekor di belakangnya membawa dokumen kantor. Langkah Valerie terhenti kaku saat matanya menangkap sosok adiknya yang berdiri tegap di depannya. Binar matanya bergetar tipis, memancarkan rasa cemas yang teramat sangat melihat perban yan
Tawa riang Arkana pelan-pelan mereda saat bocah kecil itu mulai asyik mewarnai buku gambarnya di atas meja sofa. Kinara mengusap pucuk kepala putranya sebentar, lalu melangkah kembali mendekati ranjang. Ia mendudukkan dirinya di kursi kayu tepat di samping Leo. Tatapan mata Kinara begitu tenang, memancarkan ketegasan seorang wanita dewasa yang tak mudah digoyahkan oleh gertakan. "Arka sudah tenang di sana," bisik Kinara seraya menatap jemari tegap Leo yang terbebas dari infus. "Sekarang, kita harus bicara serius, Leo." Leo mengalihkan pandangannya dari sofa, menatap wajah anggun di sampingnya dengan pendar mata yang dalam. "Soal ucapan Ayahmu tadi?" Kinara menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan cuma itu. Kita juga tidak bisa terus-terusan bertahan dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja di sini." Leo menyempitkan matanya rapat-rapat, mengagumi keberanian wanita di hadapannya. "Maksudmu?" "Pak Devan pasti membawakan informasi penting dari Jakarta, kan?" tembak Kinara tepat sa
Pintu kamar perawatan Leo terbuka lebar. Suasana manis yang sempat menyelimuti ruangan kini lenyap sepenuhnya, berganti menjadi hembusan angin dingin yang menekan. Hendra Pramudita melangkah masuk dengan aura kepemimpinan khas Presdir Danantara yang begitu dominan, diikuti oleh Ratih dan Sarah. Sementara itu, Radit memilih untuk tetap berdiri di ambang pintu bersama Arkana, enggan memperkeruh suasana yang kian tegang. Leo yang terbaring di atas ranjang menyempitkan binar mata hitamnya. Meskipun tubuhnya masih lemah dengan perban yang melilit kepala, tatapan mata pria itu tetap tajam dan dingin. Ia menegakkan posisi duduknya secara perlahan, mengabaikan denyutan nyeri yang menjambak kepalanya. "Ayah, Mama ... tolong jangan bicara di sini. Leo masih butuh istirahat," peringat Kinara seraya melangkah pasang badan di antara mereka, raut wajahnya tampak kaku. "Justru karena dia sedang berada di ranjang rumah sakit, kita harus menyelesaikan ini seka
Sinar matahari sore menerpa kaca depan mobil sedan mewah yang menepi pelan di area parkir Rumah Sakit Medika. Langkah kaki terburu-buru beriringan memenuhi koridor lantai tiga. Hendra Pramudita melangkah tegap dengan setelan jas mahalnya, meski raut wajah paruh bayanya diliputi kecemasan mendalam. Di sampingnya, Ratih, sang istri yang berbalut gaun elegan khas sosialita, memegang erat lengan suaminya usai menempuh penerbangan darurat. Sementara itu, Sarah berjalan di sisi mereka dengan senyum tipis yang sarat akan muslihat, berpura-pura menjadi putri yang paling berbakti. "Sarah, apa Mbakmu benar-benar aman di rumah sakit ini?" tanya Ratih dengan suara tertahan namun penuh wibawa, meremas tas merek mewahnya. "Mama cemas sekali sejak koneksi bisnis Ayah memberi tahu seberapa berbahaya situasi keluarga Sutedja saat ini." "Iya, Ma. Tenang dulu," sahut Sarah dengan nada suara mendayu-dayu yang sangat meyakinkan. "Aku sengaja ajak Ayah sama Mama ke sini supaya kita bisa bicarakan ini ba
Leo menatap pria berjas hitam di ambang pintu dengan tajam dan menusuk. Rahang tegapnya menegang kaku, sementara jemari tangannya menggenggam tepi selimut dengan rapat. "Mengapa kau di sini?" desis Leo dengan suara bariton rendahnya yang amat menekan.Devan tak langsung menjawab. Pria itu membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tenang yang terukur, matanya melirik singkat ke arah Kinara yang masih berdiri canggung di samping ranjang. "Apakah Nenek Kusuma yang mengutusmu?" tebak Leo lagi, suaranya kian dingin. Mengingat belum lama ini Subrata—kepala pengawal kepercayaan Nenek Kusuma datang membawa ancaman, kehadiran Devan secara tiba-tiba tentu memicu kecurigaan besar di kepala Leo. Devan berdehem pelan untuk memecah keheningan itu. Ia mengambil satu langkah maju dan membungkuk hormat. "Saya datang ke sini atas perintah Nyonya Valerie, Tuan Muda Valen," jawab Devan dengan nada suara datar tanpa intonasi. Matanya menatap lurus ke arah Leo, menyipit tajam. "Nyonya Valerie hanya
Genggaman jemari tegap Leo di bahu Kinara terasa begitu hangat, meski cengkeramannya bergetar menahan luapan emosi yang membakar dadanya. Di dalam kamar inap yang remang itu, napas Leo memburu kasar, menatap Kinara dengan binar mata hitam yang sarat akan dominasi dan keputusasaan yang campur aduk. Kinara menatap wajah tegap di hadapannya. Ia bisa melihat perban putih yang melilit kepala Leo, serta tetesan darah segar di punggung tangan pria itu akibat mencabut jarum infus secara paksa. Rasa iba dan kasih sayang membuncah di dada Kinara, namun logikanya sebagai seorang ibu dan wanita dewasa tetap berdiri tegak. Kinara perlahan memegang kedua pergelangan tangan Leo, lalu menurunkan cengkeraman pria itu dari bahunya dengan gerakan halus namun amat tegas. "Tidak, Leo," ujar Kinara seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Kita tidak akan berangkat ke Jakarta besok." Leo menyempitkan matanya rapat-rapat, rahang tegapnya menegang kaku. "Kenapa?! Kamu mau tetap di sini dan membiarkan pria i







