Share

84. Memisahkan Mereka

Penulis: Blue Ice
last update Tanggal publikasi: 2026-10-12 09:58:30

Setelah Sarah diusir pergi, Kinara menghela napas seraya melangkah mendekati meja di sisi ranjang. Ia mengambil segelas air putih hangat dan membantunya mengarahkan sedotan ke bibir Leo. Pria bertubuh tegap itu meminumnya perlahan, matanya yang redup tak lepas menatap wajah Kinara yang masih menyisa jejak air mata.

"Terima kasih ..." bisik Leo dengan suara bariton parau usai meneguk air.

Kinara meletakkan kembali gelas itu ke meja. "Kamu harus banyak beristirahat, Leo. Jangan emosi lagi seper
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    84. Memisahkan Mereka

    Setelah Sarah diusir pergi, Kinara menghela napas seraya melangkah mendekati meja di sisi ranjang. Ia mengambil segelas air putih hangat dan membantunya mengarahkan sedotan ke bibir Leo. Pria bertubuh tegap itu meminumnya perlahan, matanya yang redup tak lepas menatap wajah Kinara yang masih menyisa jejak air mata. "Terima kasih ..." bisik Leo dengan suara bariton parau usai meneguk air. Kinara meletakkan kembali gelas itu ke meja. "Kamu harus banyak beristirahat, Leo. Jangan emosi lagi seperti tadi." Namun, sebelum Kinara sempat menarik tangannya kembali, jemari tegap Leo yang sedikit gemetar menjangkau dan menggenggam jemari Kinara dengan erat. Binar mata hitam Leo menatap Kinara dengan sorot yang amat dalam. "Aku serius dengan ucapanku tadi," ujar Leo tegas, mengabaikan rasa nyeri yang masih berdenyut di belakang kepalanya. "Aku tidak akan biarkan Nenek Kusuma atau siapa pun dari keluarga Sutedja menyentuh keluargamu. Kamu tidak usah takut." Kinara menahan napasnya, merasakan

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    83. Tamu Tak Diundang

    Atmosfer di dalam kamar perawatan privat itu seketika membeku. Binar mata Subrata yang dingin menatap Kinara tanpa berkedip, menunggu reaksi dari wanita yang dianggap sebagai ancaman bagi silsilah Sutedja tersebut. Leo yang terbaring di atas ranjang menyempitkan matanya rapat-rapat. Mata hitamnya memancarkan ancaman membunuh yang begitu pekat. Tanpa memedulikan rasa nyeri yang menjambak kepalanya yang terperban, Leo menggerakkan tangan tegapnya, meremas amplop hitam berlogo emas di atas meja hingga remuk. "Bawa kembali kertas sampah ini pada Nenek Kusuma, Subrata," desis Leo dengan suara bariton rendah nan mematikan. Subrata tetap berdiri tegap, raut wajahnya kaku tanpa ekspresi. "Tuan Muda Valentino, ini adalah perintah langsung dari Nyonya Besar." "Aku katakan ... keluar!" bentak Leo tegap. Subrata menahan napasnya sejenak, merasakan tekanan aura membahayakan dari pewaris Sutedja tersebut. Dengan helaan napas kaku, Subrata membungkuk sedikit. "Pesan Anda akan saya sampaikan,

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    82. Bukan 'Wanita Lain'

    Suasana di dalam kamar perawatan privat itu mendadak menjadi begitu hening. Suara hembusan pendingin udara dan bunyi ritmis alat pemantau detak jantung seolah tertahan oleh aura dingin yang memancar dari sudut mata Kinara. Leo yang terbaring lemah di atas ranjang mengerutkan alisnya. Jemari tegapnya yang masih terpasang jarum infus mempererat genggamannya pada liontin perak di dadanya. Tatapan mata hitamnya yang redup menatap wajah Kinara yang terlipat kaku. "Wanita lain?" ulang Leo dengan suara bariton serak, matanya berkedip heran. "Tentu saja," sahut Kinara ketus seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan menatap Leo langsung. "Kamu baru saja sadar dari koma, dan hal pertama yang kamu khawatirkan setengah mati adalah liontin berisi foto wanita cantik itu. Siapa dia? Mantan kekasihmu yang terasing? Atau cinta pertamamu yang sengaja kamu sembunyikan dariku?" Leo terdiam sejenak. Namun, perlahan-lahan, sudut bibirnya yang pucat terangkat tipis. Sebuah senyuman halus nan g

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    81. Jangan Gegabah

    Preman yang memukul ketakutan setengah mati melihat efek hantamannya. Ia melempar besi itu sembarangan lalu berlari terbirit-birit masuk ke dalam mobil bersama teman-temannya yang tersisa, melesat kabur meninggalkan area parkir yang sepi. Brak! Lutut tegap Valentino Sutedja mendadak kehilangan tumpuan. Tubuh tingginya ambruk sepenuhnya, terkulai lemas dan jatuh tepat ke dalam pelukan Kinara. "Leo! Leo!" jerit Kinara histeris seraya menahan beban tubuh pria itu, ikut terduduk kaku di atas aspal yang dingin. Cairan hangat berwarna merah pekat mengalir deras dari sela-sela rambut hitam Leo, membasahi lehernya hingga merembes luas membasahi blazer krem yang dikenakan Kinara. Bau amis darah seketika memenuhi indra penciuman Kinara. Kinara merengkuh kepala Leo di pangkuannya. Tangannya yang gemetaran hebat menangkup rahang tegas pria itu, berusaha menahan aliran darah yang terus mengalir membasahi pakaian mewahnya. "Leo, bangun! Tolong jangan seperti ini! Buka matamu, Leo!" tang

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    80. Melindungi Mu

    Sinar matahari pagi menerobos tipis lewat celah tirai kamar utama. Kinara perlahan membuka matanya, merasakan tubuhnya yang dibalut piyama bersih beraroma vanila nan lembut. Sisa-sisa rasa hangat dari pergulatan gairah di ruang tengah dini hari tadi masih membakar kulitnya. Kinara tersentak kaku saat menyadari ia terbangun di atas tempat tidurnya, padahal seingatnya ia tertidur lemas di sofa dalam kungkungan Leo. Di atas meja samping tempat tidur, tergeletak sebuah cangkir teh chamomile hangat yang masih mengepul halus, bersanding dengan piring berisi croissant panggang dan secarik kertas kecil bertuliskan tulisan tangan tegap yang sangat rapi. 'Aku sudah membersihkan tubuhmu dan merapikan ruang tengah. Makan sarapanmu, Bu Manajer. Sampai jumpa di kantor.' Pipi Kinara seketika memerah panas. Pikirannya melayang membayangkan Leo yang dengan telaten memandikan dan memindahkannya ke kamar tanpa membangunkan dirinya. Ada rasa hangat yang begitu dalam membuncah di dadanya, namun juga r

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    79. Jangan Keluar di dalam

    Jarum jam sudah melewati angka dua dini hari saat Kinara akhirnya bisa melepaskan diri dari laptop dan tumpukan berkas pekerjaan. Dengan tubuh yang teramat lelah, ia mengempaskan diri ke sofa ruang tengah, membiarkan keheningan unit apartemennya dan sisa dingin hujan di luar meredakan kepalanya yang penat.Tok. Tok.Suara ketukan pelan namun konstan dari arah belakang membuat kantuk Kinara menguap instan. Ia menoleh cepat ke arah balkon. Di balik pintu kaca geser yang membatasi ruang tengahnya, sesosok tubuh tinggi berdiri tegak di bawah temaramnya langit malam. Jantung Kinara mencelos.Melalui kaca transparan yang masih menyisakan aliran air sisa hujan, Kinara bisa melihat kondisi pria itu dengan jelas. Kemeja putih yang biasanya melekat rapi di tubuh Leo kini basah kuyup, menempel ketat pada kulitnya akibat guyuran hujan beberapa saat lalu. Napas pria itu tampak memburu. Namun, bukan air hujan yang membuat Kinara mematung di atas sofanya.Tepat di bagian perut kirinya, warna putih k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status