Share

Bab 2

Penulis: Iola
Lima tahun lalu, dia masih putri tunggal yang sangat dimanja dan disayangi oleh Panglima Surya Adipura.

Ayahnya adalah pilar negara dengan segudang jasa perang yang membesarkannya menjadi sosok berseri-seri dan ceria, tapi juga berhati polos, apa pun yang dia inginkan, ayahnya pasti akan mencari cara untuk mewujudkannya.

Sampai pada Pesta Kelulusan tahun itu, dia ikut ayahnya masuk ke istana, tersesat di Taman Utama, lalu tidak sengaja bertemu dengan Arsa yang baru saja menjadi juara pertama ujian kerajaan.

Waktu itu dia bahkan belum genap 20 tahun, mengenakan jubah panjang putih bulan, tubuhnya tegap dan tegak, sedang membicarakan politik dengan para lulusan lain, pemikirannya sangat tajam dan pembawaannya tenang di sela-sela obrolan, meski tatapannya dingin, tetap tidak bisa menyembunyikan pesonanya.

Hanya dengan sekali tatap, hatinya langsung berdebar.

Dia tidak tahu cara menahan diri, setelah jatuh cinta, dia menggunakan koneksi ayahnya untuk membuat berbagai pertemuan yang tidak disengaja dengannya.

Awalnya Arsa bersikap sopan dan menjaga jarak, lama-lama mungkin merasa terganggu, sikapnya makin dingin, tapi dia seperti sudah kerasukan, makin gagal justru makin bersemangat.

Ayahnya melihat isi hati sang putri, lalu dapat kabar bahwa karakter dan bakat Arsa memang pilihan terbaik, hanya saja sepertinya dia dekat dengan Nona dari Keluarga Kusuma, tapi bagaimanapun juga kedudukan Keluarga Kusuma tidak setara dengan Keluarga Adipura, ayahnya pun mulai menyusun rencana.

Setelah sebuah pesta istana, ayahnya sengaja membuat Arsa mabuk, lalu menyuruh orang mengantarnya ke kamar Kirana ... saat terbangun keesokan harinya, segalanya sudah terlanjur terjadi.

Setelah Arsa terbangun, melihat Kirana yang panik dan gemetaran sambil membungkus diri dengan selimut, dia cuma melempar satu kalimat, "Panglima Surya hebat juga rencananya." Lalu mengibaskan lengan bajunya dan pergi begitu saja.

Pernikahan dengan cepat ditetapkan, kaisar memberikan restu, pernikahan pun digelar dengan sangat megah.

Di malam pernikahan, dia membuka kain penutup kepala Kirana tanpa ada kehangatan sedikit pun, "Kirana, dari mana asal pernikahan ini, kamu dan aku sama-sama tahu jelas. Ke depannya, aku akan memberimu kehormatan yang layak. Tapi soal hal lain, jangan berharap lebih."

Kirana tahu, di dalam hati Arsa ada orang lain, yaitu Maya, teman masa kecilnya yang lembut dan penurut.

Tapi, Kirana selalu berpikir, hati manusia terbuat dari daging, kalau dia memperlakukannya dengan baik, suatu hari nanti pasti bisa melunakkan hatinya.

Menikah selama lima tahun, Kirana menurunkan gengsinya dan mencintai dengan penuh gairah. Dia mengira seiring berjalannya waktu, pasti akan ada perubahan.

Sampai akhirnya jasa ayahnya yang terlalu besar membuat penguasa khawatir, ayahnya difitnah oleh musuh politik sudah bekerja sama dengan musuh dan mengkhianati negara. Kaisar sangat murka, lalu menjatuhkan hukuman pengasingan ke perbatasan dan tidak boleh kembali ke ibu kota selamanya.

Keluarga Adipura hancur hanya dalam semalam.

Kirana panik dan ingin minta bantuan Arsa.

Arsa adalah pejabat kesayangan kaisar yang baru. Dengar-dengar, keputusan pengangkatan menjadi perdana menteri akan segera turun, kalau dia mau turun tangan, mungkin masih ada sedikit harapan.

Kirana terburu-buru pergi ke luar ruang kerja Arsa, tapi justru mendengar suara Maya yang lembut sekaligus cemas dari dalam.

"Kak Arsa, kamu mau ke mana?"

Suara Arsa terdengar berat, "Panglima Surya itu setia dan pemberani, sudah bertahun-tahun menjaga perbatasan demi negara, tidak mungkin bekerja sama dengan musuh. Aku punya beberapa bukti di tanganku yang mungkin bisa membuktikan kesuciannya, aku akan masuk istana menghadap kaisar sekarang juga untuk meminta kasus ini diperiksa ulang!"

Hati Kirana mendadak hangat, air matanya hampir saja menetes.

Dia ... dia ternyata bersedia membantu ayahnya?

Tapi kata-kata Maya selanjutnya justru seperti segayung air es yang menyiramnya hingga dingin membeku,

"Kak Arsa, kamu tenang sedikit! Masalah ini sudah jadi keputusan bulat, kaisar sudah mantap ingin menghukum Keluarga Adipura. Kalau kamu pergi sekarang, bukan cuma tidak akan membantu apa-apa, tapi malah akan mencelakai dirimu sendiri! Kamu lupa dulu Panglima Surya memaksa kamu menikahi Kirana seperti apa? Di dalam hatimu cuma ada aku, kita harusnya bisa bersama, tapi diseret dan dipisahkan oleh mereka! Apa kamu tidak benci?"

"Sekarang Keluarga Adipura sudah hancur, Kirana sudah tidak punya sandaran lagi, asal ayahnya pergi ke perbatasan, nanti aku bisa masuk ke pintu Keluarga Prabawa dengan terhormat dan sah!"

"Kak Arsa, kita sudah melewatkan waktu bertahun-tahun, apa kamu tidak menyesal? Sisa hidup ini ... apa kamu tidak mau hidup bersamaku selamanya?"

Ruang kerja mendadak hening cukup lama, sangat lama sampai hati Kirana pelan-pelan tenggelam ke dalam jurang es.

Lalu, dia mendengar Arsa mengucapkan satu kalimat.

Kirana tidak mendengar dengan begitu jelas, tapi setelah itu, terdengar suara korek pemantik api dinyalakan, serta suara pletikan halus saat kertas mulai terbakar.

Arsa sedang membakar bukti! Membakar bukti yang bisa menyelamatkan ayahnya dan menyelamatkan Keluarga Adipura!

"Jangan!" Kirana sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia seperti orang gila menerobos masuk ke ruang kerja lalu menerjang ke arah tungku api yang menyala itu!

Tapi apinya sudah membesar, dia cuma berhasil merebut beberapa sisa kertas yang menghitam terbakar.

Arsa jelas tidak menyangka Kirana ada di luar, wajahnya berubah dan langsung maju hendak menahannya, "Kirana! Dengar penjelasanku dulu ...."

"Penjelasan apa?" Kirana mengangkat kepalanya dengan wajah penuh bekas air mata, "Arsa! Aku mau cerai sama kamu! Aku kabulkan keinginanmu sama Maya! Kasih buktinya ke aku! Aku mohon kasih buktinya ke aku! Selamatkan ayahku! Dia sudah tua, tidak akan sanggup menahan dinginnya perbatasan!"

Bicara Kirana sudah melantur, dia menggenggam erat lengan baju Arsa seperti menggenggam jerami penyelamat terakhir.

Arsa melihat kondisinya, kilatan emosi rumit melintas di matanya, tapi dengan cepat kembali tenang.

Arsa mengangkat tangannya lalu memukul bagian belakang leher Kirana dengan tebasan tangan.

Penglihatan Kirana mendadak gelap, lalu tubuhnya terkulai pingsan.

Saat terbangun lagi, hari sudah berganti keesokan harinya dan ayahnya sudah dibuang ke perbatasan.

Arsa duduk di samping tempat tidurnya, menatap Kirana yang membuka mata, lalu mengumumkan dengan nada datar, "Masalah ayahmu sudah jadi keputusan bulat. Soal cerai, aku tahu kamu cuma emosi sesaat, kamu begitu mencintaiku, pasti tidak akan cerai denganku. Dulu ayahmu paksa aku menikahimu, aku memang pernah benci, tapi sekarang, aku tidak akan mempermasalahkan hal lalu lagi. Aku akan nikahi Maya sebagai istri yang setara statusnya, ke depannya, kita jalani hidup dengan baik."

Arsa awalnya mengira Kirana akan menangis, mengamuk, atau histeris.

Tapi, Kirana cuma menatapnya diam-diam sebentar, lalu dengan sangat perlahan dan tenang, dia mengangguk.

"Baik," kata Kirana, "aku yang akan bantu kamu mengurus upacara pernikahan itu."

Waktu itu Arsa cuma mengira Kirana mendadak kehilangan sandaran sehingga akhirnya jadi penurut dan menerima nasib.

Dia berbalik dan pergi, tidak melihat bahwa di belakang tubuhnya, mata Kirana yang dulunya penuh dengan cinta dan binar cahaya pelan-pelan meredup, hingga akhirnya berubah menjadi padang tandus yang mati total.

Cuma Kirana sendiri yang tahu, tepat di saat itu, semua rasa cinta, harapan, dan obsesinya pada Arsa seperti lilin yang habis terbakar, langsung padam begitu saja.

Dia akan memberinya kebebasan dan membiarkannya menikahi wanita yang dia cintai.

Dia juga akan membuat segalanya kembali ke awal, saat dia dan Arsa tidak saling kenal dan tidak punya hubungan apa-apa lagi.

Makanya, sore hari itu juga, dia memaksakan tubuhnya yang lemah untuk pergi ke Balai Pengadilan Kota dan menyerahkan surat permohonan cerai.

Menurut hukum kekaisaran, kalau pihak pria tidak menulis surat cerai dan pihak wanita yang mengajukan cerai secara mandiri, wanita itu harus pergi ke Balai Pengadilan Kota untuk menerima hukuman berguling di atas papan paku, berguling tanpa busana di atas papan yang dipenuhi paku besi tajam, peluang hidupnya sangat kecil, baru bisa mendapatkan sepucuk surat cerai.

Dia sudah mendaftarkan namanya, akhir bulan nanti adalah hari eksekusi hukuman itu.

Nanti saat harinya tiba, dia bisa membawa surat cerai itu, pergi meninggalkan Arsa, lalu pergi ke perbatasan mencari ayahnya.

Tidak akan kembali ke ibu kota selamanya, dan selamanya ... tidak akan bertemu Arsa lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 24

    “Kirana!” Arsa menangkap tubuhnya yang lemas terkulai, jiwanya terasa melayang.Pintu gerbang kota pada akhirnya jebol juga.Di tengah kekacauan, Arsa memeluk Kirana yang terluka dan mundur melarikan diri, tapi dikepung oleh prajurit Suku Bodar di dalam gang.Para pengawal tumbang satu demi satu, dia melindungi wanita itu di belakang tubuhnya, memungut parang, meskipun tidak bisa ilmu silat, tapi pandangan matanya sangat kejam.Satu tebasan parang menyambar, dia menahannya, sela ibu jarinya robek hebat.Satu tebasan parang lainnya menusuk ke arah wanita itu dari samping, tanpa berpikir apa pun lagi, dia membalikkan badan menggunakan punggungnya untuk menahan!Senjata tajam menancap ke dalam daging, darah segar menyembur keluar, membasahi pandangan mata wanita itu hingga memerah."Arsa!"Dia seolah-olah tidak merasakan sakit, memanfaatkan tenaga jatuh terungkup, melindungi wanita itu mati-matian di bawah tubuhnya, menggunakan seluruh punggungnya berhadapan dengan pedang dan parang.Maki

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 23

    Lagi-lagi karena dirinya. Lagi-lagi karena alasannya, wanita itu tanpa alasan menderita hukuman penjara dan menanggung tuduhan berkomplot dengan musuh.Dia seolah-olah selalu membawa bencana untuk wanita itu.Kirana meliriknya sekilas, pandangan mata itu tenang tanpa riak, bagaikan menatap seorang asing yang tidak ada hubungan, berucap pelan, "Tuan Arsa bertindak sesuai hukum, apa salahnya."Setelah itu, wanita itu melewatinya, berjalan menuju ke arah ayahnya dan Bagas yang menunggu di tempat yang tidak jauh.Bagas melangkah maju beberapa langkah, menyelimutkan sebuah mantel tebal di atas bahunya, berucap dengan suara pelan, "Sudah tidak apa-apa."Kirana merapatkan mantelnya, menganggukkan kepala pelan, di wajahnya yang pucat memperlihatkan seberkas senyuman yang sangat tipis tapi tulus.Arsa menatap senyumannya, menatap tangan Bagas yang menempel di atas bahunya dan belum ditarik kembali, di posisi jantungnya terasa hampa dan sakit.Dia tahu, dirinya bahkan kualifikasi untuk mengucapk

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 22

    Hari berganti hari, suasana perbatasan makin hari makin tegang.Pasukan berkuda Suku Bodar makin sering melakukan penggangguan, perang besar bisa pecah kapan saja.Di dalam markas militer dipenuhi aura mencekam.Tepat pada saat badai akan datang ini, seorang wanita yang paling tidak ingin ditemui oleh Arsa, malah muncul di perbatasan.Maya datang.Entah pakai cara apa, dia membujuk seorang pangeran keluarga kerajaan yang berhubungan baik dengan Keluarga Kusuma, mendapatkan izin untuk datang ke perbatasan memberi penghormatan dan bantuan pada pasukan militer.Saat wanita itu memakai pakaian sutra polos, mengenakan mantel bulu rubah yang tebal, dituntun oleh pelayan wanita, berjalan dengan lemah lembut bagaikan pohon dedalu tertiup angin muncul di markas besar pasukan penjaga perbatasan, semua orang kaget bukan main.Arsa melihatnya, dahinya seketika mengerut rapat, reaksi pertamanya adalah menatap ke arah pos medis militer.Benar saja, Kirana sedang keluar dari kemah, tangannya membawa

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 21

    Arsa tidak meninggalkan perbatasan.Dia tetap bertahan dengan statusnya sebagai utusan khusus kaisar, melakukan inspeksi pertahanan, mengawasi perbekalan, dan mengurus pekerjaan resmi.Tidak ada orang yang bisa menatap sinis atau menyalahkan, tindakannya bahkan dilakukan dengan jauh lebih rajin dan bertanggung jawab dibandingkan kapan pun.Cuma dirinya sendiri yang tahu, setiap hari setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan resmi yang rumit itu, seluruh waktunya digunakan untuk menatap satu tempat, kemah pos medis militer.Dia tidak berani lagi mendekat dengan gegabah, takut melihat rasa benci yang dingin di dalam mata wanita itu, takut mendengar sebutan "Tuan Arsa" yang asing dan sopan meluncur dari mulutnya. Dia cuma bisa berdiri jauh dari sana, terpisah oleh jarak yang tidak dekat dan tidak jauh, bagaikan sebuah bayangan yang serakah, mencuri pandang diam-diam.Dia melihat Kirana sibuk di antara para prajurit yang terluka, membersihkan luka, membungkus balutan obat, gerakannya berubah

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 20

    Setiap kali dia mengucapkan satu kalimat, raut wajah Arsa makin pucat sepotong, tubuhnya gemetaran makin hebat."Sekarang," Kirana menatapnya, di dalam matanya akhirnya ada seberkas riak yang sangat tipis, yaitu sejenis kesedihan dan kelelahan yang sangat mendalam setelah pencerahan total, "kamu bilang kamu mencintaiku?"Wanita itu tersenyum sangat tipis, senyuman itu pucat dan hancur berantakan, seolah-olah di detik berikutnya bakal menyebar tertiup angin."Tapi cintaku, sudah dari dulu dalam sikap dingin, keraguan, pelepasan, dan luka yang kamu berikan berkali-kali, tergerus habis sedikit demi sedikit, terkuras kering, dan mati total."Wanita itu membalikkan badan, mau pergi meninggalkan tempat ini. Segala hal di sini, termasuk pria ini, membuatnya merasa sangat sesak."Kirana!" Arsa mendadak menerjang maju, menggunakan seluruh tenaganya memeluk kakinya, bagaikan seorang anak kecil yang tanpa sandaran, menangis histeris dengan suara keras, "Jangan pergi! Mohon kamu kasih aku satu kes

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 19

    Dia terhuyung-huyung, lalu bertelut tegak di atas tanah, menghadap ke arah Surya dan juga ke arah pos medis militer, bersujud dengan berat dengan dahi menempel pada pasir dan kerikil kasar, suaranya sangat hancur tidak keruan, "Panglima Surya ... aku salah ... aku benar-benar salah ... aku buta, aku lebih buruk dari binatang ... mohon Anda, mohon Anda izinkan aku bertemu Kirana sekali saja ... aku mau bersujud minta maaf langsung di depannya, aku mau menyerahkan nyawaku padanya ... mohon Anda ...."Surya membalikkan badan, tidak mau menatapnya lagi, cuma berkata dengan dingin dan keras, "Kamu pergi sana. Putriku tidak mau bertemu dengannmu. Sejak kamu memilih wanita dari Keluarga Kusuma itu dan membiarkannya terlantar tanpa memedulikannya, di dalam hatinya, kamu sudah mati."Arsa merasa hatinya teriris-iris, sakitnya hampir membuatnya tidak bisa bernapas.Dia berlutut di atas tanah tidak mau bangun, seolah-olah dengan cara ini dia bisa menebus seperseribu bagian dari dosanya.Tepat pad

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status