Share

Bab 3

Penulis: Iola
Malam itu, Kirana tidur dengan sangat tidak tenang.

Karena di pekarangan Maya sebelah, suasananya benar-benar terlalu bising.

Suara pelayan menyiapkan air, tawa manja, dan samar-samar suara musik alat petik, terputus-putus sampai tengah malam.

Kalau dulu, dia pasti sudah merasa hatinya sakit luar biasa, gelisah tidak bisa tidur, dan air mata membasahi bantal.

Tapi sekarang, dia cuma merasa bising, bising sampai tidak bisa tidur nyenyak.

Sampai lewat tengah malam, keramaian di sana sepertinya berubah nada, terdengar teriakan panik dan suara langkah kaki yang acak-acakan.

Kirana membalikkan badan, memejamkan mata tidak mau peduli.

Dia tidur sampai pagi. Setelah bangun, suara bisikan para pelayan wanita di luar jendela yang sengaja dipelankan mengapung masuk ke telinganya.

"Kamu sudah dengar, belum? Semalam tengah malam, Nyonya Maya mendadak kena penyakit jantung, hampir tidak terselamatkan!"

"Benar sekali! Dengar-dengar waktu itu kritis sekali, butuh Rumput Es yang cuma ada di gunung belakang Pertapaan Linggara di pinggir kota buat menyelamatkan nyawanya! Tapi, waktu itu pintu gerbang istana dan kota sudah dikunci, tidak ada yang bisa keluar kota!"

"Terus kamu tebak apa yang terjadi? Tuan Arsa demi menyelamatkan Nyonya Maya, malah ... malah menerobos gerbang istana malam tadi juga! Dia nekat menerobos keluar kota demi memetik obat itu, makanya Nyonya Maya terselamatkan!"

"Astaga! Menerobos gerbang istana? Itu 'kan hukuman mati!"

"Memang benar! Tapi kaisar menghargai Tuan Arsa, jadi sidang pagi hari ini cuma menghukum Tuan Arsa 30 pukulan tongkat dan memotong gajinya selama tiga bulan, lalu masalahnya selesai begitu saja. Semua orang bilang ... Tuan Arsa ini benar-benar cinta mati sama Nyonya Maya!"

"Hah, benar-benar beda nasib ya ...."

Para pelayan menghela napas prihatin, diam-diam mengintip ke arah wajah Kirana di dalam kamar.

Tapi Kirana seolah-olah tidak mendengar, dengan raut wajah tenang menyanggul rambutnya sendiri, lalu menusukkan tusuk konde perak polos yang paling sederhana.

Baru saja selesai bersiap-siap, pintu kamar didorong sampai terbuka dengan suara keras.

Bi Surti yang berada di samping ibu Arsa berjalan masuk dengan wajah kaku, nadanya tidak ramah, "Nyonya, Nyonya Andin minta Anda segera pergi ke sana sekarang."

Kirana mendongak, "Ada urusan apa?"

Bi Surti tersenyum sinis, "Nyonya ke sana saja, nanti juga tahu. Ayo, jangan buat Nyonya Andin menunggu lama."

Kirana meletakkan sisir di tangannya, berdiri lalu mengikutinya.

Sampai di Wisma Songko milik Nyonya Andin, baru saja melangkahkan kaki melewati ambang pintu, sebuah cangkir teh membawa hembusan angin langsung dilempar ke arah wajahnya!

Kirana refleks memiringkan tubuh dan mengangkat tangan, pas sekali menangkapnya, tapi air teh yang panas menyiram tangannya hingga seketika memerah lebar.

"Berlutut!" bentak Nyonya Andin duduk tegak di kursi utama dengan wajah suram.

Kirana meletakkan cangkir teh itu, tangannya terasa panas membakar, tapi ekspresinya tidak berubah, dia berdiri dengan punggung tegap, "Aku tidak tahu aku melakukan kesalahan apa sampai membuat Ibu begitu marah?"

"Melakukan kesalahan apa?" Nyonya Andin sangat marah sampai dadanya naik turun, menunjuk Kirana dan memaki, "Kamu masih punya muka buat bertanya! Kamu tahu tidak, Arsa pergi ke istana hari ini, dijatuhi hukuman di depan istana oleh kaisar dan dipukul 30 kali pakai tongkat?"

Kirana terdiam sejenak, lalu mengangguk, "Barusan baru dengar."

"Lalu kamu masih bersikap seperti tidak ada hubungannya begini?" Nyonya Andin melihatnya begitu tenang, amarahnya makin membumbung tinggi, "Ini semua gara-gara kamu! Kalau bukan karena kamu tengah malam mendadak kena penyakit jantung, mana mungkin Arsa demi memetikkan obat buat kamu, sampai tidak peduli aturan istana dan nekat menerobos gerbang istana? Sekarang ini dia perdana menteri, ada berapa banyak mata yang mengawasinya! Kalau masalah ini dimanfaatkan oleh orang yang berniat jahat, jangankan jabatan, nyawanya saja bisa melayang! Muka Keluarga Prabawa sudah habis kamu permalukan!"

Kirana akhirnya paham.

Ternyata Arsa.

Dia berkata kepada Nyonya Andin kalau yang mendadak kena penyakit jantung semalam adalah Kirana, dia menerobos gerbang istana demi menyelamatkannya.

Demi tidak membuat Maya yang baru saja masuk kediaman menyandang julukan "pembawa sial" dan "penyebab suami dihukum", juga demi tidak membuat Nyonya Andin melampiaskan amarah dan menyalahkan Maya, Arsa melemparkan tanggung jawab ini tepat kepada dirinya.

Ini yang dia maksud dengan "ke depannya aku akan memperlakukan kalian sama rata" dan "memperlakukanmu dengan baik"?

Kirana mendadak merasa ini sangat konyol, begitu konyol sampai membuatnya hampir tertawa kencang.

"Ibu," dia mengangkat pandangannya, menatap Nyonya Andin yang sedang murka, suaranya tenang tanpa gelombang, "apa Ibu yakin yang semalam mendadak kena penyakit jantung itu aku?"

"Apa maksudmu? Memangnya Arsa bakal bohongi aku?" Nyonya Andin melihat dia bukan cuma tidak mengaku salah, tapi malah berani bertanya balik, amarahnya makin tidak terbendung, "Pelayan! Seret wanita jahat yang tidak tahu diri dan merepotkan suaminya ini keluar! Arsa kena 30 pukulan tongkat, dia harus kena ganda! Pukul 60 kali! Pukul di pekarangan ini saja! Biar semua orang lihat, apa akibatnya kalau merepotkan suami!"

Dua pelayan wanita bertubuh kekar langsung maju, kiri dan kanan memegang erat lengan Kirana.

"Lepaskan aku!" Kirana berontak, "Aku ini putri kandung Kediaman Panglima! Siapa di antara kalian yang berani menyentuhku? Bagaimana kebenaran masalah ini, kenapa Ibu tidak tanya lagi saja ke Tuan Arsa?"

"Putri kandung Kediaman Panglima?" Nyonya Andin tertawa sinis, tatapannya dingin, "Ayahmu sekarang cuma penjahat yang dibuang ke perbatasan! Kamu anggap dirimu putri kandung Kediaman Panglima apa? Kenapa masih bengong? Seret keluar! Pukul yang keras!"

Para pelayan wanita itu mendapat perintah, tangan mereka tidak lagi memberi ampun, menjepit erat Kirana lalu menyeretnya ke pekarangan, memaksanya berlutut di atas lantai batu yang dingin.

Tongkat hukuman yang berat diangkat tinggi-tinggi, lalu jatuh dengan keras!

Pukulan pertama mendarat telak di punggungnya, rasa sakit yang luar biasa seketika meledak, tenggorokan Kirana terasa manis, lalu dia mendadak memuntahkan seteguk darah segar!

Belum sempat dia bernapas, pukulan kedua, pukulan ketiga ... bertubi-tubi mendarat!

Tulangnya seperti mau hancur, organ dalamnya seperti mau remuk.

Rasa sakit bagaikan gelombang pasang yang menenggelamkannya berulang kali.

Dia menggigit rapat giginya, kuku jarinya menancap dalam ke telapak tangan hingga mengeluarkan darah, tapi dia tidak mau mengeluarkan suara memohon ampun sedikit pun.

Pandangannya mulai kabur, warna merah darah memenuhi penglihatannya.

Di ambang kesadarannya yang mulai hilang, dia seolah-olah melihat di balik gerbang bulan yang tidak jauh dari sana, ada seseorang sedang berdiri.

Mengenakan pakaian harian putih bulan, tubuhnya tegak, itu adalah Arsa!

Arsa cuma berdiri di sana, menatap diam-diam, melihatnya dipukul tongkat, melihatnya muntah darah, melihatnya kesakitan sampai meringkuk.

Tidak ada langkah maju, tidak ada penjelasan, bahkan tidak ada satu pun tatapan mata untuk menghentikan!

Pukulan tongkat terakhir mendarat, penglihatannya benar-benar gelap total. Dia pun kehilangan seluruh kesadarannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 24

    “Kirana!” Arsa menangkap tubuhnya yang lemas terkulai, jiwanya terasa melayang.Pintu gerbang kota pada akhirnya jebol juga.Di tengah kekacauan, Arsa memeluk Kirana yang terluka dan mundur melarikan diri, tapi dikepung oleh prajurit Suku Bodar di dalam gang.Para pengawal tumbang satu demi satu, dia melindungi wanita itu di belakang tubuhnya, memungut parang, meskipun tidak bisa ilmu silat, tapi pandangan matanya sangat kejam.Satu tebasan parang menyambar, dia menahannya, sela ibu jarinya robek hebat.Satu tebasan parang lainnya menusuk ke arah wanita itu dari samping, tanpa berpikir apa pun lagi, dia membalikkan badan menggunakan punggungnya untuk menahan!Senjata tajam menancap ke dalam daging, darah segar menyembur keluar, membasahi pandangan mata wanita itu hingga memerah."Arsa!"Dia seolah-olah tidak merasakan sakit, memanfaatkan tenaga jatuh terungkup, melindungi wanita itu mati-matian di bawah tubuhnya, menggunakan seluruh punggungnya berhadapan dengan pedang dan parang.Maki

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 23

    Lagi-lagi karena dirinya. Lagi-lagi karena alasannya, wanita itu tanpa alasan menderita hukuman penjara dan menanggung tuduhan berkomplot dengan musuh.Dia seolah-olah selalu membawa bencana untuk wanita itu.Kirana meliriknya sekilas, pandangan mata itu tenang tanpa riak, bagaikan menatap seorang asing yang tidak ada hubungan, berucap pelan, "Tuan Arsa bertindak sesuai hukum, apa salahnya."Setelah itu, wanita itu melewatinya, berjalan menuju ke arah ayahnya dan Bagas yang menunggu di tempat yang tidak jauh.Bagas melangkah maju beberapa langkah, menyelimutkan sebuah mantel tebal di atas bahunya, berucap dengan suara pelan, "Sudah tidak apa-apa."Kirana merapatkan mantelnya, menganggukkan kepala pelan, di wajahnya yang pucat memperlihatkan seberkas senyuman yang sangat tipis tapi tulus.Arsa menatap senyumannya, menatap tangan Bagas yang menempel di atas bahunya dan belum ditarik kembali, di posisi jantungnya terasa hampa dan sakit.Dia tahu, dirinya bahkan kualifikasi untuk mengucapk

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 22

    Hari berganti hari, suasana perbatasan makin hari makin tegang.Pasukan berkuda Suku Bodar makin sering melakukan penggangguan, perang besar bisa pecah kapan saja.Di dalam markas militer dipenuhi aura mencekam.Tepat pada saat badai akan datang ini, seorang wanita yang paling tidak ingin ditemui oleh Arsa, malah muncul di perbatasan.Maya datang.Entah pakai cara apa, dia membujuk seorang pangeran keluarga kerajaan yang berhubungan baik dengan Keluarga Kusuma, mendapatkan izin untuk datang ke perbatasan memberi penghormatan dan bantuan pada pasukan militer.Saat wanita itu memakai pakaian sutra polos, mengenakan mantel bulu rubah yang tebal, dituntun oleh pelayan wanita, berjalan dengan lemah lembut bagaikan pohon dedalu tertiup angin muncul di markas besar pasukan penjaga perbatasan, semua orang kaget bukan main.Arsa melihatnya, dahinya seketika mengerut rapat, reaksi pertamanya adalah menatap ke arah pos medis militer.Benar saja, Kirana sedang keluar dari kemah, tangannya membawa

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 21

    Arsa tidak meninggalkan perbatasan.Dia tetap bertahan dengan statusnya sebagai utusan khusus kaisar, melakukan inspeksi pertahanan, mengawasi perbekalan, dan mengurus pekerjaan resmi.Tidak ada orang yang bisa menatap sinis atau menyalahkan, tindakannya bahkan dilakukan dengan jauh lebih rajin dan bertanggung jawab dibandingkan kapan pun.Cuma dirinya sendiri yang tahu, setiap hari setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan resmi yang rumit itu, seluruh waktunya digunakan untuk menatap satu tempat, kemah pos medis militer.Dia tidak berani lagi mendekat dengan gegabah, takut melihat rasa benci yang dingin di dalam mata wanita itu, takut mendengar sebutan "Tuan Arsa" yang asing dan sopan meluncur dari mulutnya. Dia cuma bisa berdiri jauh dari sana, terpisah oleh jarak yang tidak dekat dan tidak jauh, bagaikan sebuah bayangan yang serakah, mencuri pandang diam-diam.Dia melihat Kirana sibuk di antara para prajurit yang terluka, membersihkan luka, membungkus balutan obat, gerakannya berubah

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 20

    Setiap kali dia mengucapkan satu kalimat, raut wajah Arsa makin pucat sepotong, tubuhnya gemetaran makin hebat."Sekarang," Kirana menatapnya, di dalam matanya akhirnya ada seberkas riak yang sangat tipis, yaitu sejenis kesedihan dan kelelahan yang sangat mendalam setelah pencerahan total, "kamu bilang kamu mencintaiku?"Wanita itu tersenyum sangat tipis, senyuman itu pucat dan hancur berantakan, seolah-olah di detik berikutnya bakal menyebar tertiup angin."Tapi cintaku, sudah dari dulu dalam sikap dingin, keraguan, pelepasan, dan luka yang kamu berikan berkali-kali, tergerus habis sedikit demi sedikit, terkuras kering, dan mati total."Wanita itu membalikkan badan, mau pergi meninggalkan tempat ini. Segala hal di sini, termasuk pria ini, membuatnya merasa sangat sesak."Kirana!" Arsa mendadak menerjang maju, menggunakan seluruh tenaganya memeluk kakinya, bagaikan seorang anak kecil yang tanpa sandaran, menangis histeris dengan suara keras, "Jangan pergi! Mohon kamu kasih aku satu kes

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 19

    Dia terhuyung-huyung, lalu bertelut tegak di atas tanah, menghadap ke arah Surya dan juga ke arah pos medis militer, bersujud dengan berat dengan dahi menempel pada pasir dan kerikil kasar, suaranya sangat hancur tidak keruan, "Panglima Surya ... aku salah ... aku benar-benar salah ... aku buta, aku lebih buruk dari binatang ... mohon Anda, mohon Anda izinkan aku bertemu Kirana sekali saja ... aku mau bersujud minta maaf langsung di depannya, aku mau menyerahkan nyawaku padanya ... mohon Anda ...."Surya membalikkan badan, tidak mau menatapnya lagi, cuma berkata dengan dingin dan keras, "Kamu pergi sana. Putriku tidak mau bertemu dengannmu. Sejak kamu memilih wanita dari Keluarga Kusuma itu dan membiarkannya terlantar tanpa memedulikannya, di dalam hatinya, kamu sudah mati."Arsa merasa hatinya teriris-iris, sakitnya hampir membuatnya tidak bisa bernapas.Dia berlutut di atas tanah tidak mau bangun, seolah-olah dengan cara ini dia bisa menebus seperseribu bagian dari dosanya.Tepat pad

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status