Share

Duka di Bawah Sinar Rembulan
Duka di Bawah Sinar Rembulan
Author: Iola

Bab 1

Author: Iola
Gerakan Arsa terhenti, dia menegakkan tubuhnya lalu menatap Kirana. Cahaya lilin menari-nari di wajah wanita itu, wajah yang biasanya selalu tersenyum penuh cinta kepadanya itu kini hanya menyisakan ketenangan yang dingin dan penuh jarak.

"Kirana, bulan ini aku datang ke tempatmu 10 kali dan kamu selalu beralasan lagi datang bulan. Apa kamu pikir aku tidak bisa mengingat tanggal datang bulanmu, atau kamu pikir aku mudah dibodohi?"

Kirana mengangkat pandangannya, tatapannya jernih dan dingin, "Aku tidak berani, aku memang lagi tidak enak badan, entah kenapa datang bulan bisa datang berkali-kali. Lagian, Maya baru saja masuk kediaman, memang lagi membutuhkan banyak pendampinganmu. Kamu juga sudah seharusnya lebih sering pergi ke tempatnya."

Arsa tertegun oleh sikap Kirana yang tidak bisa dibujuk itu, rasa sesak yang tertahan lama di dadanya kian bergejolak.

Dia menatap Kirana cukup lama sebelum menghela napas dalam-dalam dengan nada yang sedikit melunak, "Soal Maya, aku tentu akan pergi ke sana. Tapi hari ini, aku akan bermalam di tempatmu. Bulan ini aku menemani Maya setiap hari, kalau aku tidak menginap di kamarmu lagi, desas-desus di seluruh kediaman ini bisa menenggelamkanmu sampai mati."

Kirana justru menggelengkan kepalanya dengan lembut, kembali mundur satu langkah untuk merenggangkan jarak, "Aku tidak peduli perkataan orang lain. Lagian ... aku tidak cuma lagi datang bulan, beberapa hari lalu juga terkena angin dingin dan belum sembuh, takut menularkan penyakit ke kamu."

Arsa mengangkat pandangannya, tapi melihat wajah Kirana merona merah dan napasnya teratur, tidak ada tanda-tanda sakit sedikit pun!

"Kirana Adipura!" Arsa memanggil nama lengkapnya, suaranya mulai diselimuti kemarahan, "Kamu masih merajuk karena masalah waktu itu, ya?"

"Ya, aku mengakui dulu di dalam hatiku cuma ada Maya. Tapi, setelah masalah ayahmu waktu itu, aku sudah bilang, mulai sekarang aku akan memperlakukanmu sama seperti dia. Sebenarnya apa lagi yang tidak membuatmu puas? Kamu sebenarnya mau apa?"

"Kamu terlalu banyak berpikir, aku cuma lagi tidak enak badan hari ini, jadi tidak bisa melayanimu, itu saja."

Lagi-lagi seperti ini! Lagi-lagi bersikap keras kepala dan acuh tak acuh seperti ini!

Arsa merasa seperti memukul kapas, amarah yang membara tidak memiliki tempat pelampiasan hingga membuat dadanya terasa sesak dan sakit.

"Baik." Dia menekan amarahnya dengan suara yang keras dan dingin, "Kalau begitu aku akan datang lagi besok."

"Besok juga jangan datang." Kirana menyela kalimatnya hampir seketika, "Aku besok harus pergi ke aula doa untuk berdoa dan membaca kitab suci seharian buat ayah."

"Kalau begitu lusa."

"Lusa juga tidak bisa, aku sudah janji dengan penjahit untuk mengejar pembuatan beberapa pakaian musim gugur."

"Tiga hari lagi!"

"Tiga hari lagi ... tubuhku sepertinya belum pulih." Kirana mengangkat pandangannya menatap Arsa, mengucapkan kata demi kata dengan sangat jelas, "Kamu, sebaiknya ... tidak usah datang lagi. Tempatku dingin dan diselimuti penyakit, sungguh tidak berani mengotori tubuhmu yang mulia. Karena kamu dan Maya saling mencintai, nantinya kamu bisa anggap aku tidak ada, tidak perlu memikirkan gengsi apa pun, bermalamlah di pekarangan Maya setiap hari, aku tidak akan ada penyesalan atau keluhan sedikit pun."

"Kamu!" Arsa benar-benar disulut kemarahan oleh perkataan Kirana, dadanya naik turun dengan hebat, badai yang menakutkan berkumpul di matanya, "Kirana! Kamu sengaja, tidak? Sisa hidup ini masih sangat panjang, apa kamu berencana terus mengusirku seperti ini seumur hidupmu? Sekarang Kediaman Panglima sudah hancur, kamu sudah tidak punya sandaran lagi, apa untungnya merajuk seperti ini ke aku?"

Kirana menatap alis dan mata Arsa yang tampan seperti dewa tapi kini dipenuhi ketajaman karena amarah, hatinya justru tenang tanpa penyesalan.

"Aku tidak lagi merajuk. Kamu suka Maya, kelak hidup rukun dan saling mencintai hingga beruban bersamanya saja. Aku ... akan tahu diri dan tidak akan ganggu kalian."

Arsa menatapnya lekat-lekat, seolah-olah baru pertama kali benar-benar mengenal wanita yang sudah dia nikahi selama lima tahun, tapi tidak pernah dia simpan di dalam hati ini.

Tatapan mata Kirana terlalu tenang, terlalu tenang hingga membuat hatinya gelisah, seolah-olah ada hal penting yang sedang menghilang dengan cepat di tempat yang tidak bisa dia lihat.

"Baik!" Arsa mengibaskan lengannya dengan keras, sosok punggungnya tampak kaku dipenuhi amarah yang membumbung tinggi, "Kirana, aku harap kamu mengingat kata-kata yang kamu ucapkan hari ini! Jangan menyesal!"

Pintu kamar dihempaskan olehnya dengan keras hingga menimbulkan suara yang menggelegar, menggetarkan debu di atas balok kayu hingga berjatuhan.

Kirana berdiri di tempat semula tanpa bergerak sedikit pun.

Baru setelah suara langkah kaki itu benar-benar menghilang di luar pekarangan, dia berjalan perlahan ke tepi meja lalu duduk, menuangkan secangkir teh yang sudah dingin untuk dirinya sendiri, lalu meminumnya perlahan.

Rasa dingin mengalir turun melewati tenggorokannya, membekukannya hingga dia sedikit menggigil.

Di luar jendela, samar-samar terdengar suara bisikan beberapa pelayan wanita yang sengaja dipelankan.

"Lihatlah, bertengkar lagi. Entah apa yang dipikirkan nyonya, padahal dari awal sudah tidak disukai oleh Tuan Arsa, sekarang keluarga orang tuanya juga sudah hancur, bukannya cari cara untuk merebut kembali hati Tuan Arsa, malah terus-menerus mengusirnya ...."

"Benar sekali, kalau menurutku kelak kediaman ini akan menjadi punya Nyonya Maya. Kita harus cepat-cepat cari cara untuk pindah dari pekarangan ini. Melayani majikan yang tidak punya masa depan, bisa dapat kejayaan apa?"

"Betul itu! Kamu lihat Nyonya Maya baru berapa hari masuk istana? Tuan Arsa sudah memanjakannya seperti mutiara di telapak tangan! Mutiara dari Laut Selatan, rempah-rempah dari Wilayah Barat, dikirim ke pekarangannya bagaikan air mengalir! Dengar-dengar kemarin bahkan sengaja mengundang pelayan dari istana untuk membuat masakan Josinga, hanya karena dia asal bicara bilang mau makan!"

"Sst! Pelankan suaramu! Nyonya belum tidur!"

"Takut apa? Dia sekarang saja tidak bisa melindungi dirinya sendiri, memangnya bisa lakukan apa sama kita? Kalau menurutku, cepat-cepat pergi jilat Nyonya Maya itu yang paling benar, siapa tahu masih bisa ikut menikmati keuntungan ...."

Suara-suara itu perlahan menjauh.

Kirana menggenggam cangkir teh yang dingin, ujung jarinya memucat, tapi wajahnya tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

Baru setelah seekor burung merpati pos abu-abu mengepakkan sayapnya dan mematuk ambang jendela dengan lembut, dia berdiri lalu berjalan mendekat, melepas tabung bambu kecil yang terikat di kaki merpati, lalu membuka gulungan kertas di dalamnya.

Itu adalah surat dari ayah yang dikirim dari perbatasan.

Tulisannya berantakan, membawa rasa kasar dari angin dan pasir perbatasan.

[Nak, apa kamu baik-baik saja? Mengenai masalah bercerai, Ayah sudah memikirkannya berulang kali, tetap merasa tidak bisa dibenarkan. Hukum kekaisaran kita mengatur, kalau pihak pria tidak menulis surat cerai dan pihak wanita mengajukan cerai secara mandiri, wanita itu harus pergi ke Balai Pengadilan Kota untuk menerima hukuman berguling di atas papan paku! Peluang hidupnya sangat kecil dan rasa sakitnya tidak tertahankan! Ayah sangat menyesal, dulu tidak seharusnya menggunakan kekuasaan untuk menekan dan memaksa Arsa menikahimu hingga menyusahkanmu sampai seperti ini! Ayah berharap kamu berpikir lagi, jangan pernah impulsif! Ayah di perbatasan masih bisa melindungi diri sendiri, tidak usah khawatir.]

Hukuman berguling di atas papan paku ....

Kirana menatap kata-kata itu, ujung jarinya gemetar sedikit.

Namun, dia segera tenang kembali, mendekatkan kertas surat itu ke cahaya lilin, melihatnya menggulung sedikit demi sedikit, menghitam, lalu berubah menjadi abu.

Sakit yang tidak tertahankan?

Dia berpikir, sesakit apa pun, tidak akan lebih sakit daripada mencintai Arsa tapi melihat hati dan matanya hanya berisi orang lain.

Sesakit apa pun, tidak akan lebih sakit daripada melihat dengan mata kepala sendiri ayahnya difitnah dan dibuang ke pengasingan, sementara dirinya tidak memiliki jalan untuk memohon pertolongan.

Dia sudah memikirkannya dengan sangat matang.

Dia ingin bercerai!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 24

    “Kirana!” Arsa menangkap tubuhnya yang lemas terkulai, jiwanya terasa melayang.Pintu gerbang kota pada akhirnya jebol juga.Di tengah kekacauan, Arsa memeluk Kirana yang terluka dan mundur melarikan diri, tapi dikepung oleh prajurit Suku Bodar di dalam gang.Para pengawal tumbang satu demi satu, dia melindungi wanita itu di belakang tubuhnya, memungut parang, meskipun tidak bisa ilmu silat, tapi pandangan matanya sangat kejam.Satu tebasan parang menyambar, dia menahannya, sela ibu jarinya robek hebat.Satu tebasan parang lainnya menusuk ke arah wanita itu dari samping, tanpa berpikir apa pun lagi, dia membalikkan badan menggunakan punggungnya untuk menahan!Senjata tajam menancap ke dalam daging, darah segar menyembur keluar, membasahi pandangan mata wanita itu hingga memerah."Arsa!"Dia seolah-olah tidak merasakan sakit, memanfaatkan tenaga jatuh terungkup, melindungi wanita itu mati-matian di bawah tubuhnya, menggunakan seluruh punggungnya berhadapan dengan pedang dan parang.Maki

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 23

    Lagi-lagi karena dirinya. Lagi-lagi karena alasannya, wanita itu tanpa alasan menderita hukuman penjara dan menanggung tuduhan berkomplot dengan musuh.Dia seolah-olah selalu membawa bencana untuk wanita itu.Kirana meliriknya sekilas, pandangan mata itu tenang tanpa riak, bagaikan menatap seorang asing yang tidak ada hubungan, berucap pelan, "Tuan Arsa bertindak sesuai hukum, apa salahnya."Setelah itu, wanita itu melewatinya, berjalan menuju ke arah ayahnya dan Bagas yang menunggu di tempat yang tidak jauh.Bagas melangkah maju beberapa langkah, menyelimutkan sebuah mantel tebal di atas bahunya, berucap dengan suara pelan, "Sudah tidak apa-apa."Kirana merapatkan mantelnya, menganggukkan kepala pelan, di wajahnya yang pucat memperlihatkan seberkas senyuman yang sangat tipis tapi tulus.Arsa menatap senyumannya, menatap tangan Bagas yang menempel di atas bahunya dan belum ditarik kembali, di posisi jantungnya terasa hampa dan sakit.Dia tahu, dirinya bahkan kualifikasi untuk mengucapk

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 22

    Hari berganti hari, suasana perbatasan makin hari makin tegang.Pasukan berkuda Suku Bodar makin sering melakukan penggangguan, perang besar bisa pecah kapan saja.Di dalam markas militer dipenuhi aura mencekam.Tepat pada saat badai akan datang ini, seorang wanita yang paling tidak ingin ditemui oleh Arsa, malah muncul di perbatasan.Maya datang.Entah pakai cara apa, dia membujuk seorang pangeran keluarga kerajaan yang berhubungan baik dengan Keluarga Kusuma, mendapatkan izin untuk datang ke perbatasan memberi penghormatan dan bantuan pada pasukan militer.Saat wanita itu memakai pakaian sutra polos, mengenakan mantel bulu rubah yang tebal, dituntun oleh pelayan wanita, berjalan dengan lemah lembut bagaikan pohon dedalu tertiup angin muncul di markas besar pasukan penjaga perbatasan, semua orang kaget bukan main.Arsa melihatnya, dahinya seketika mengerut rapat, reaksi pertamanya adalah menatap ke arah pos medis militer.Benar saja, Kirana sedang keluar dari kemah, tangannya membawa

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 21

    Arsa tidak meninggalkan perbatasan.Dia tetap bertahan dengan statusnya sebagai utusan khusus kaisar, melakukan inspeksi pertahanan, mengawasi perbekalan, dan mengurus pekerjaan resmi.Tidak ada orang yang bisa menatap sinis atau menyalahkan, tindakannya bahkan dilakukan dengan jauh lebih rajin dan bertanggung jawab dibandingkan kapan pun.Cuma dirinya sendiri yang tahu, setiap hari setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan resmi yang rumit itu, seluruh waktunya digunakan untuk menatap satu tempat, kemah pos medis militer.Dia tidak berani lagi mendekat dengan gegabah, takut melihat rasa benci yang dingin di dalam mata wanita itu, takut mendengar sebutan "Tuan Arsa" yang asing dan sopan meluncur dari mulutnya. Dia cuma bisa berdiri jauh dari sana, terpisah oleh jarak yang tidak dekat dan tidak jauh, bagaikan sebuah bayangan yang serakah, mencuri pandang diam-diam.Dia melihat Kirana sibuk di antara para prajurit yang terluka, membersihkan luka, membungkus balutan obat, gerakannya berubah

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 20

    Setiap kali dia mengucapkan satu kalimat, raut wajah Arsa makin pucat sepotong, tubuhnya gemetaran makin hebat."Sekarang," Kirana menatapnya, di dalam matanya akhirnya ada seberkas riak yang sangat tipis, yaitu sejenis kesedihan dan kelelahan yang sangat mendalam setelah pencerahan total, "kamu bilang kamu mencintaiku?"Wanita itu tersenyum sangat tipis, senyuman itu pucat dan hancur berantakan, seolah-olah di detik berikutnya bakal menyebar tertiup angin."Tapi cintaku, sudah dari dulu dalam sikap dingin, keraguan, pelepasan, dan luka yang kamu berikan berkali-kali, tergerus habis sedikit demi sedikit, terkuras kering, dan mati total."Wanita itu membalikkan badan, mau pergi meninggalkan tempat ini. Segala hal di sini, termasuk pria ini, membuatnya merasa sangat sesak."Kirana!" Arsa mendadak menerjang maju, menggunakan seluruh tenaganya memeluk kakinya, bagaikan seorang anak kecil yang tanpa sandaran, menangis histeris dengan suara keras, "Jangan pergi! Mohon kamu kasih aku satu kes

  • Duka di Bawah Sinar Rembulan   Bab 19

    Dia terhuyung-huyung, lalu bertelut tegak di atas tanah, menghadap ke arah Surya dan juga ke arah pos medis militer, bersujud dengan berat dengan dahi menempel pada pasir dan kerikil kasar, suaranya sangat hancur tidak keruan, "Panglima Surya ... aku salah ... aku benar-benar salah ... aku buta, aku lebih buruk dari binatang ... mohon Anda, mohon Anda izinkan aku bertemu Kirana sekali saja ... aku mau bersujud minta maaf langsung di depannya, aku mau menyerahkan nyawaku padanya ... mohon Anda ...."Surya membalikkan badan, tidak mau menatapnya lagi, cuma berkata dengan dingin dan keras, "Kamu pergi sana. Putriku tidak mau bertemu dengannmu. Sejak kamu memilih wanita dari Keluarga Kusuma itu dan membiarkannya terlantar tanpa memedulikannya, di dalam hatinya, kamu sudah mati."Arsa merasa hatinya teriris-iris, sakitnya hampir membuatnya tidak bisa bernapas.Dia berlutut di atas tanah tidak mau bangun, seolah-olah dengan cara ini dia bisa menebus seperseribu bagian dari dosanya.Tepat pad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status