MasukSore harinya, Kiana mengajak Rachel bertemu di luar vilanya.Rachel tiba sambil memperlihatkan sikap angkuh. Dia mengira Kiana tidak bisa mengalahkannya dan harus berkompromi, jadi dia terpaksa harus memberikan vila itu kepadanya."Kalau kamu lebih cepat melepaskannya, situasinya juga nggak akan menjadi seburuk ini." Rachel masih mengenakan setelan bisnis, dengan riasan yang menawan, warna bibir yang cerah, dan memancarkan kepercayaan diri serta karisma.Saat berbicara, dia tak kuasa menahan tawa sambil memasang sikap kemenangan.Kiana hanya memandang vilanya. "Apa barang milkku begitu bagus sampai kamu begitu menginginkannya?""Barang milikmu memang bagus dan aku juga sangat menginginkannya. Apalagi, aku mendapatkannya melalui kemampuanku sendiri." Rachel juga memandang vila itu. Matanya dipenuhi kegembiraan. "Akhirnya aku punya rumah sendiri di Kota Yasel. Ini semua berkat kamu, teman lamaku. Jadi, aku harus mengucapkan terima kasih padamu.""Rachel, apa yang bukan milikmu, meskipun
"Beri tahu dia, nggak mungkin!""Kiana, apa perlu seperti itu?""Selain itu, aku mau kalian keluar dari rumahku secepatnya!"Yovan telah menyampaikan kata-kata itu padanya. Dia terlalu malu untuk menghadapi Kiana lagi, jadi dia pun berlalu dari sana.Anto dan yang lainnya masih berdiri di luar. Meski mereka telah mengizinkan karyawan perusahaan masuk, hal itu juga berdampak serius pada operasional perusahaan sehari-hari.Kiana mengawasi Anto sepanjang hari. Begitu melihatnya keluar sore harinya, dia langsung mengikutinya secara diam-diam.Jika ingin menyingkirkan sekelompok orang ini, dia harus memulainya dari Anto, si pemimpin geng.Kiana mengikuti Anto sampai ke sebuah restoran kecil. Dia tidak masuk, tetapi hanya menjulurkan kepalanya ke pintu. Beberapa saat kemudian, seorang gadis muda dengan pakaian sederhana berlari keluar.Melihat gadis itu keluar, Anto menyambutnya dengan senyum polos. Keduanya tampak malu-malu. Kiana menebak mereka berdua pasti pasangan kekasih.Entah apa yang
"Hentikan! Jangan berkelahi lagi!"Yovan datang dan meneriaki sekelompok orang itu, tetapi tidak ada yang mendengarkannya.Tiba-tiba, seorang pekerja yang muncul entah dari mana, mengeluarkan tongkat kayu, dan hendak memukul kepala Kiana. Yovan mengerutkan kening, bergegas mendekat, dan melindungi Kiana.Tongkat itu mengenai telinganya, lalu mendarat di bahunya, membuatnya terengah-engah kesakitan.Kiana tidak menyangka Yovan akan melindunginya. Dia menatap Yovan dengan tatapan rumit, lalu menendang pekerja yang menyerangnya hingga terjatuh."Kalau kalian masih nggak mau berhenti, aku akan panggil polisi!"Kiana meneriaki mereka. Setelah itu, Yovan juga ikut berteriak. Sekelompok pekerja yang diliputi amarah itu baru berhenti.Tepat di saat mereka berhenti, ada kabar dari rumah sakit yang mengatakan istri Faris mencoba bunuh diri dengan pisau buah di kamar rawat Vanya. Untungnya, sekuriti rumah sakit menghentikannya. Jika tidak, situasi akan bertambah buruk.Kiana merasa pusing. Orang-
Ibunya Yovan memungut uang kertas satu per satu dengan terampil. Rachel melangkah ke depan dan menginjak salah satu uang kertas tersebut."Putramu menganggap uangku kotor dan bersumpah nggak akan menggunakan uangku lagi."Ibunya tersenyum meminta maaf, lalu mengangkat kaki Rachel, menyingkirkannya, mengambil uang itu, dan menepuk-nepuknya beberapa kali dengan hati-hati."Begini sudah nggak kotor lagi, 'kan?""Ibu!" Mata Yovan langsung memerah begitu melihat ibunya seperti itu."Rachel, kamu tadi minum-minum, 'kan? Perutmu pasti nggak enak. Cepat masuk ke dalam. Ibu akan buatkan kamu semangkuk sup panas." Ibunya Yovan menarik Rachel masuk ke dalam.Rachel tersenyum puas, terutama saat melewati Yovan. "Aku menghabiskan 6 juta untuk semangkuk sup panas. Entah siapa yang dirugikan di sini.""Satu keluarga nggak perlu perhitungan seperti itu.""Kamu menganggapku sebagai keluarga sendiri, tapi putramu nggak begitu.""Pola pikirnya masih belum berubah. Begitu berubah, dia akan tahu bagaimana
"Aku nggak perlu tinggal di vila, begitu juga dengan Caca. Asalkan kami punya tempat tinggal, meskipun itu apartemen tua, itu sudah cukup!"Yovan tak kuasa menahan diri untuk tidak berbalik dan meneriaki Rachel."Yang menginginkan vila besar itu kamu, yang ingin bersaing dengan Kiana juga kamu, yang menggunakan segala cara itu kamu. Kamu juga yang memaksaku melakukan hal-hal menjijikkan ini!"Saat mendengar itu, Rachel sempat tertegun sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak."Yovan, setelah dikurung selama beberapa tahun, sepertinya kamu banyak berubah. Kamu sungguh berencana untuk memulai hidup baru?"Wajah Yovan memucat. "Benar. Aku banyak merenung dan memikirkan bagaimana aku bisa kehilangan segalanya! Setiap hal yang kulakukan pada Kiana sangatlah kotor. Aku bertekad untuk bertobat dan mengubah hidupku. Kalau memungkinkan, aku ingin memperbaiki kesalahanku dan menebus dosa-dosaku!""Memperbaiki kesalahan kepada siapa? Menebus dosa-dosa kepada siapa?" Mata Rachel membelalak.Yovan mena
"Kiana! Dia yang mencelakaiku seperti ini. Aku ... aku nggak akan memaafkannya!"Yovan mengerutkan bibir. "Sudah kuperingatkan sebelumnya, jangan melawan Kiana. Kamu akan nggak bisa mengalahkannya.""Kamu pengecut. Kamu kira aku sama sepertimu?""Rachel, sudah cukup!""Aku ditindas. Kalau kamu laki-laki, alih-alih meneriakiku di sini, kamu seharusnya pergi membuat perhitungan dengan orang yang menindasku!""Kita sudah bercerai!""Kamu memang bukan laki-laki!""Keluar dari sini sekarang juga. Kamu nggak diterima di rumahku!""Memangnya ini rumahmu? Kalau saja kamu punya kemampuan, kamu juga nggak perlu tinggal di rumah orang lain!""Rachel!""Apa kata-kataku salah?"Keduanya bertengkar hebat. Kegaduhan itu membangunkan Caca. Gadis kecil itu mengusap matanya dan berjalan menuju tangga."Ayah, Ibu, kalian bertengkar lagi?"Melihat putrinya, Yovan buru-buru merendahkan suaranya. "Nggak, suara kami hanya terlalu keras saja ....""Caca, nasib Ibu menyedihkan sekali!"Rachel tidak peduli dan







