LOGINDirga, seorang CEO sukses dan berkuasa, terjebak dalam sebuah jebakan yang dirancang oleh musuh-musuhnya. Ia diberi obat perangsang dan berakhir menghabiskan malam dengan seorang wanita misterius di sebuah kamar hotel. Wanita itu, Delisa, ternyata adalah korban salah kamar yang baru saja mengalami pengkhianatan dan kehilangan pekerjaan. Setelah kejadian itu, Dirga terobsesi untuk menemukan Delisa, sementara Delisa bertekad untuk membalas dendam pada mantan kekasihnya yang telah menghancurkan hidupnya. Takdir mempertemukan mereka kembali ketika Delisa melamar pekerjaan di perusahaan Dirga, namun bukan sebagai manajer seperti yang ia harapkan, melainkan sebagai sekretaris CEO. Di tengah intrik bisnis, dendam masa lalu, dan gairah yang membara, Dirga dan Delisa harus menghadapi berbagai rintangan dan konflik. Mampukah mereka menemukan kebahagiaan dan cinta sejati di tengah kekacauan ini? Atau akankah mereka terjerat dalam jaring-jaring kebohongan dan pengkhianatan yang semakin rumit?
View MoreSinar mentari pagi, alih-alih menghangatkan, justru terasa seperti pisau yang menusuk mata Dirga. Ia menggeliat di ranjang yang berantakan, denyutan di kepalanya berpacu dengan detak jantungnya yang semakin cepat. Bukan hanya karena alkohol. Ada sesuatu yang salah. Kamar ini bukan miliknya. Terlalu klasik, terlalu... asing. Semalam adalah kekacauan, kabur oleh pengaruh obat perangsang.
Di sampingnya, seorang wanita meringkuk di bawah selimut. Wajahnya tersembunyi, namun Dirga merasakan aura yang aneh. Bukan aura wanita bayaran. Melainkan... kepolosan? Kerentanan? Kontras yang mengganggu.
Dirga menghela napas tajam, menggeleng. Ia bangkit, berusaha tidak membangunkannya. Kakinya menapak lantai dingin. Ia melihat bercak darah di seprai. Alisnya berkerut tajam. Mustahil. Wanita penghibur perawan? Itu dongeng. Ini pasti jebakan. Tapi jebakan yang dirancang untuk apa?
Ia tidak mau ambil pusing. Rio salah pesan. Kesalahan identitas. Atau wanita itu penipu ulung. Ia terlalu sibuk untuk sandiwara murahan. Perusahaan, kesepakatan, musuh yang mengintai di setiap sudut. Ia mengambil dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. Harga untuk kebingungan dan penyesalan yang akan segera kutuntut balas.
Sebelum pergi, Dirga menatap punggung wanita itu. Kulitnya putih bersih, dengan tanda lahir bulan sabit di sisi kanan. Jantungnya berdebar aneh. Sesuatu berkelebat di benaknya. Kenangan masa kecil yang terkubur, terlalu dalam untuk diingat. Ia menggelengkan kepala, mengenyahkan pikiran itu. Tidak mungkin. Kebetulan yang menggelikan dan berbahaya.
Tiba-tiba, ingatan malam sebelumnya menyerbu benaknya. Pesta Tuan Harsono. Lampu kristal, musik merdu, wajah palsu. Prisil, anak Tuan Harsono, menempelinya seperti lintah. Senyumnya... senyum yang sekarang terasa seperti deklarasi perang. Ia ingat minuman yang diberikan Prisil. "Koctail spesial," katanya. Racun yang dibungkus dengan gula.
"Sial," desisnya. Ia dijebak. Obat perangsang. Prisil terlibat? Atau hanya pion bodoh? Siapa dalangnya? Dan apa tujuannya? Menjatuhkannya? Menguasai perusahaannya? Atau ada motif lain yang lebih dalam, lebih menjijikkan?
"Anggap saja ini permulaan," gumamnya sebelum menutup pintu kamar hotel dengan pelan. Ia harus mencari tahu kebenaran. Dendamnya dingin, mematikan. Mereka akan menyesal telah membangunkanku dari tidur panjang. Mereka akan menyesal telah bernapas.
Dirga keluar dari kamar hotel dan segera menghubungi Rio, asistennya yang begitu setia bekerja dengannya delapan tahun terakhir.
"Rio, ini aku," ucap Dirga dengan suara berat, berusaha menyembunyikan emosinya.
"Pak Dirga? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Rio dengan nada sedikiit khawatir, merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Wanita yang kau pesankan semalam... jelaskan padaku, sekarang," perintah Dirga.
"Saya... saya tidak mengerti, Pak. Saya sendiri yang memesannya. Dia salah satu yang terbaik. Apa ada masalah?" tanya Rio dengan nada bingung.
Dirga menghela napas. "Dia perawan, Rio. Pe-ra-wan. Apa kau mengerti betapa anehnya itu?"
Terdengar suara Rio yang tercekat di seberang telepon. "Pe-perawan, Pak? Tapi... tapi wanita yang saya pesan juga sudah pasti tidak perawan Pak, karena sudah terbiasa melayani orang – orang besar, lagian dia juga katanya tidak bisa masuk kamar Bapak. Pintunya tidak dibuka-buka saat ia mengetuknya. Saya bahkan harus membayar lebih karena dia marah-marah dan mengancam akan melaporkan saya ke polisi, karena tuduhan penipuan."
Dirga terdiam, otaknya seperti berhenti berfungsi selama beberapa detik. "Apa maksudmu?"
Terdengar keheningan sesaat. "Ya Tuhan... itu tidak mungkin, Pak! Saya... saya akan cari tahu, Pak. Pasti ada kesalahan," jawab Rio dengan nada panik.
"Kesalahan? Atau pengkhianatan?" tanya Dirga, suaranya berubah dingin sedingin es.
"Tidak, Pak! Saya tidak akan pernah mengkhianati Bapak!" bantah Rio dengan nada gemetar.
"Lalu, siapa wanita itu?" tanya Dirga, suaranya mengancam.
"Saya beneran tidak tahu, Pak. Saya hanya menjalankan perintah Bapak. Saya pastikan wanita itu datang ke hotel dan menunggu di depan kamar Bapak, tapi saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu," jelas Rio dengan nada panik, berusaha untuk membela diri.
Dirga menghela napas panjang. Semakin rumit saja. Ia merasa sudah terperangkap dalam jaring laba-laba yang semakin lama semakin mengikatnya. " Lupakan wanita itu. Pastikan tidak ada yang tahu tentang kejadian semalam. Serta selidiki siapa wanita yang bersamaku tadi malam. Jangan sampai dia penyusup yang sengaja disiapkan musuh untuk menjeratku. Jika benar dia suruhan dari musuhku, segera bereskan! Paham?"
"Paham, Pak," jawab Rio cepat.
"Dan Rio, cari tahu siapa yang memberiku minuman di pesta Tuan Harsono. Aku ingin tahu segalanya." tambah Dirga dengan nada dingin.
"Jika kau tahu sesuatu dan kau menyembunyikannya, aku akan membuatmu menyesal telah dilahirkan. Aku akan membuatmu berharap kau tidak pernah ada," ancam Dirga dengan nada dingin yang menusuk tulang.
"Saya bersumpah, Pak! Saya tidak tahu apa-apa! Saya akan melakukan apa saja untuk membuktikan kesetiaan saya!" jawab Rio dengan nada gemetar yang menyedihkan.
Dirga mematikan telepon. Ia merasa seperti terjebak dalam jaring laba-laba yang semakin mengencang. Siapa wanita itu? Mengapa ia ada di kamarnya? Dan mengapa Rio tidak tahu apa-apa? Ia harus berhati-hati. Seseorang sedang bermain-main dengannya, dan taruhannya adalah segalanya. Permainan baru saja dimulai, dan aku akan memenangkannya. Atau aku akan menghancurkan semua yang ada di sekitarku.
Saat Delisa berjalan menuju meja akad, jantung Reno berdegup kencang. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang selama ini ia cintai akan menjadi kakak iparnya. Sungguh ironi takdir yang tak terduga. Reno yang berusaha keras mendekati Delisa, namun Dirga yang menikahinya."Tidak mungkin," gumam Reno dalam hati. "Ini pasti mimpi buruk."Reno merasakan dadanya sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa sangat terpukul dan hancur. Ia merasa semua usahanya untuk mendekati Delisa selama ini sia-sia belaka. Ia merasa takdir begitu kejam kepadanya.Ia ingat bagaimana dulu ia selalu berusaha mencari perhatian Delisa. Ia selalu berusaha membuat Delisa tertawa. Ia selalu berusaha membantu Delisa dalam segala hal. Namun, semua usahanya itu tidak pernah membuahkan hasil.Delisa selalu menganggapnya hanya sebagai teman biasa. Tidak lebih.Dan sekarang, Delisa akan menjadi istri kakaknya. Delisa akan menjadi bagian dari keluarg
Hari ini, pernikahan Dirga dan Delisa akhirnya dilaksanakan di kediaman orang tua Dirga. Suasana rumah itu terasa suram dan tegang. Tidak ada dekorasi mewah atau pesta meriah. Hanya ada beberapa anggota keluarga inti yang hadir, itupun dengan wajah yang muram dan tanpa senyum.Lima ratus juta rupiah. Angka yang tertera dalam buku nikah itu terasa seperti vonis hukuman seumur hidup bagi Delisa. Di antara gemerlap dekorasi pernikahan yang dipaksakan, ia merasa seperti tahanan yang dipaksa menikah dengan algojonya.Winata Adiwangsa, sang patriark keluarga, duduk di kursi roda, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. "Maafkan Papa, " bisiknya lirih, "Papa hanya ingin yang terbaik untuk kalian." Namun, kata-kata itu terasa hampa di telinga Dirga.Di hadapan meja akad, Dirga Adiwangsa duduk dengan wajah sekeras batu. Jas hitam yang dikenakannya terasa seperti baju besi yang melindungi hatinya dari sentuhan apa pun.Delisa, batinnya berteriak,
Setelah pertemuan yang menyesakkan dengan Dirga di rumah sakit siang tadi, Delisa memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe sepulang dari kantor. Ia berharap secangkir kopi dan suasana yang tenang dapat membantu menjernihkan pikirannya yang kalut. Namun, sepertinya dewi fortuna enggan berpihak padanya.Saat Delisa tengah menikmati kopinya, matanya menangkap sosok yang sangat familiar. Sosok itu adalah Andre, mantan kekasihnya yang telah mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri, Sandra. Jantung Delisa berdegup kencang, dadanya terasa sesak. Ia berusaha untuk tidak memperdulikan keberadaan Andre dan fokus pada kopinya.Namun, sepertinya takdir sedang mempermainkannya. Delisa melihat Andre berlutut di hadapan Sandra, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian. Delisa tersentak kaget. Ia tidak menyangka jika Andre akan melamar Sandra di kafe ini, di tempat yang sama di mana dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama.Suasana di kafe itu tiba-tiba berubah
Delisa terdiam sejenak di taman rumah sakit, menimbang-nimbang permintaan Dirga. Permintaan untuk merahasiakan pernikahan mereka. Ia merasa ada yang janggal, tapi ia tak punya pilihan. "Baiklah," ucap Delisa dengan nada pasrah. "Saya mengerti. Saya berjanji, saya tidak akan memberitahukan pernikahan ini kepada siapa pun."Dirga mengangguk, merasa sedikit lega. Beban di pundaknya seakan sedikit terangkat. "Terima kasih," ucap Dirga singkat. "Saya tahu, saya dapat mengandalkan kamu." Ia menatap Delisa, tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan Dirga sendiri tidak bisa pahami.Delisa balas menatap Dirga, tatapannya penuh tanya. "Saya hanya ingin mengetahui satu hal," ucap Delisa lirih. "Apakah... apakah Bapak akan mencintai saya?"Dirga terdiam. Pertanyaan itu membuatnya kalut. Ia tidak punya jawaban. Ia tidak punya keinginan untuk mencintai Delisa, tapi ia juga tidak ingin menyakiti wanita itu lebih jauh.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews