FAZER LOGINKesepakatan berlangsung.
Jonathan hanya mengizinkan Samuel mendengar recording itu, dalam dua kondisi:
“Pertama,” Jonathan, mengetatkan selang oksigen di mulut Samuel. “No panic. No anxiety. Dengerin aja, diam, sampai selesai.”
“Kedua,” Jonathan—lagi, setelah bantu menggantikan patient gown yang baru—mendudukkan Samuel di depan tumpukan bantal, penyangga punggungnya. “Ini bakalan ![]()
“Damn. Make it fast! Fast!”“Buruan, Jo.”“Ini udah cepet!”“Sini, ah! Gue yang nyetir!”“Apaan!? Lu mabok!”Di samping pendingin udara Thermavolt Silent Climate Syste, sebuah jam digital mobil memburu panas—bukan jamnya, waktunya. Ricuh klakson mobil dari arah belakang dan saksi bisu lainnya, betapa kencang Jonathan Wilyono menggerus mesin mobil Maybäch S680 Obsidian.Dan, belum cukup juga. Serangan dari kedua kaki liar Julius—di belakang kursi kemudinya—merantai kemarahan sang pemuda. Kilometer pada penanda mobil mentok, hingga alarm berdering. Masih belum cukup juga, Jonathan terus disiram ocehan.“Buruan lagi, Jonathan!” Sikunya—Julius—mulai menganggu konsentrasi sang pengemudi. “Ini asisten Paman Ganta telpon-telpon terus, berisik! Enggak bisa cepat, aku aja yang me
“Guys!”Kain splint fiber OrthoFlex Carbon-X Support terkoyak dramatis dari jarak kejauhan. Dua menit berlalu Ganta lenyap dari rumah sakit, Dokter Kishibe baru sanggup mengumpulkan keberanian. Gemetaran di kakinya berpindah ke panik wajahnya. Sigap tangannya mendorong sebuah monitor jantung Philivon CardioWatch MX—baru, sebelumnya dirusak Ganta—masuki. Cepat-cepat bertangan dingin, Dokter Kishibe nyalakan sambungan listriknya.“Sam!”Tepi ranjang logam Yillrom AdvantaCare ICU Bed-X tertimpa tubuh Samuel yang ambruk secara tiba-tiba. Beruntung dua pemuda di sampingnya setia menopang. Berbondong-bodong petugas medis datang, seluruhnya sigap memberikan Samuel pertolongan pertama.Beep. Beep. Beep.“Fuck. Pressure drop.” Kishibe bertetes keringat dingin. “Jo, angkat kepalanya. Julius, ambil—yap, itu, alat pompa. Bantu aku angkat lehernya s
“Oh my—““Jangan dekat-dekat!”“Itu... beneran? Betulan ada orang tua yang bertengkar sama anaknya? Bukannya si anak baru selesai operasi?”“Masalah apa, sih?”“Ssshhh! Let’s not get involved!”“Aku mau periksa pasien itu, tadinya, tapi—ah, enggak jadi. Horor.”“Hey! Aku lihat ada darah tadi! Apa baiknya kita panggil polisi saja? Kalau sampai ada yang meninggal—hiii!”Tabloid baru turun pada lantai VIP VVIP St. Aurelius Medivine Hospital. Tercatat, Main Headline: Seorang Anak dan Orang Tua Bertengkar Tengah Malam. Rumah Sakit lebih berisik daripada gedung baru orkestra.Semua saling berbisik. Saling bergosip. Tanpa ada yang berani langsung menyaksikan.Selayaknya, hanya ada koridor putih berbau obat sana-sini. Kali ini? Jauh lebih sepi. Sebab keributan tuntas di
“Ma! Ma!”“Lihat! Ada orang gila!”Warna-warni gaun Amber McCartney Kids setiap anak berlarian mengitari taman. Paving penuh jatuhan bunga, balon Helium PartyHovse Floating Star Series berterbangan di angkasa. Keributan hangat, cerah, penuh tawa, salah satu di antaranya berhenti tak sengaja pada kesialan.‘Ada orang gila sejak kemarin duduk di taman.’ Para orang tua mulai membisikkan.Seorang diri, tubuh basah kuyup for-God-knows dari air hujan, keringat, atau air matanya. Penghuni setia beberapa hari kursi Victorian Garden Cast-Iron Bench, tanpa ada yang berani menegur.Anak-anak bergaun manis kerap melempar batu pada sosok diam itu. Terkadang, lututnya hingga berdarah. Tak ada yang mencegah. Kecuali para orang tua yang takut anaknya terkena bad influence——Sienna, tak berbentuk lagi sebagai manusia.“Sssshhh!” S
Kesepakatan berlangsung.Jonathan hanya mengizinkan Samuel mendengar recording itu, dalam dua kondisi:“Pertama,” Jonathan, mengetatkan selang oksigen di mulut Samuel. “No panic. No anxiety. Dengerin aja, diam, sampai selesai.”“Kedua,” Jonathan—lagi, setelah bantu menggantikan patient gown yang baru—mendudukkan Samuel di depan tumpukan bantal, penyangga punggungnya. “Ini bakalan intense. Tapi, Sam, aku mau kamu calm your mind first. Diana gila? Memang. Sejak kapan dia waras? Fact that she loves your father is already insane enough. Yang mau aku tekankan—““Don’t fucking freaked out,” kalimat terakhir, Julius sambar cepat. “Jangan terbawa emosi, Sam. Sorry to say, but your Mom wasn’t here. She dead. Marah pun enggak berguna—sorry. Better, kita dengerin apa y
“What—““—BLEGHHH!”Lebih pekat dari manis mawar Diptyqve Fleur Blanche menyambut di pintu utama tadi, yang memaksa isi perutnya keluar bau busuk tak terdeksripsikan. Lapisan kain merah tua—tidak, ‘Bukannya itu kasur?’ sambil menutup mulut, Jonathan mengernyit pada sesuatu basah lengket yang tersangkut di kakinya.Hal fucked up apa yang Victoria sembunyikan, untuk Jonathan sampai dirampas logika akan kasur—matras—tipis.Tersembunyi di balik ruangan kecil sudut main floor. Sempit, lembab, penuh amis darah. Kakinya yang tersangkut tadi sontak meledak pergi. Merah matras, pekat, lengket—Jonathan awalnya mengira matras itu memang berwarna merah, namun—“Isn’t that—“ Terlampau kaget, Jonathan sampai mual mengucapkannya sendiri. “Isn’t that blood?”Takut ada
Sienna Halim POV Hukum Gravitasi telah memperdayaku. Mustahil benda lunak tak bertulang, dapat menjulang tinggi bagai ujung tombak besi. Kokoh, memimpin akar nadi yang berkedut, mendorong batang semburat merah segar turun-naik, berkedut mencium udara. Bilah irisku tak mampu berpaling. Belum pern
Sienna Halim POV Pada punggung bayangannya, memagar para pembersih taman ditemani cangkul dan gunting rumput, gemetaran. Barisan pelayan bertumpuk membelakangi patung bunga dengan air mancur di tengahnya. Dari lembaran ekspresi kikuk tergambar di wajah seluruhnya, normalnya seseorang akan berpikir
Author's POV- SMA Internasional Mouran -"Jo! Satu shoot lagi! Kita kurang tiga point dari Dilan!" Kevin, Point Guard milik tim basket A—regu yang Jonathan pimpin, memberikan aba-aba di menit terakhir babak pertandingan basket mereka.Sudut lapangan paling pinggir, Jonathan menjaga ring timnya sen
Sienna Halim POV "M-mustahil." Bola mataku kehilangan cahaya. Kupandangi kosong bilah ponsel itu, yang disita lembut oleh Samuel, dalam senyumannya. Tepukan ringan menyentuh pundakku; Samuel seperti memberikan dukungan moral. Masih tatkala aku terbengong kebingungan, lelaki itu mendudukkanku ke me







