Share

Chapter 67

last update Tanggal publikasi: 2026-03-20 10:00:00

Cumbu amatir yang mengantarkan ke sekujur tubuhnya.

Bibir basah menempel terlalu lama. Tak hanya pinggangnya—pinggulnya, bergetar sebagaimana dansa di lidah mereka. Detik-detik cumbu mereka menekan terlalu lama, bukan sebab sang pemuda dibanjiri nafsu. Melainkan, Jonathan takut Christine tiba-tiba menolak sentuhannya.

Masih di atas pangkuan Christine. Masih, dengan cumbunya yang terasa basi.

Jonathan menelan benang saliva yang menggantung di antara bibir mereka. Ga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 96

    Scatt—Kristal dari Virelli Obsidian Cut Series memecah serpihan sekujur lantai. Amber dari lampur Bar membuat kilaunya terpantul pada ribuan beling-beling. Tak seharusnya ada di sana, Angelina hanya meretakkan salah satu di antara mereka. Mungkin, karena melakukan kesalahan di hari pertama kerja. Manajer Scoff memarahinya—membanting series gelas-gelas mahal itu, lebih tepatnya—tanpa mendengarkan alasan sang pelayan baru.Angelina sial. Hari pertama kerja, Ia harus jadi pagar ayu pernikahan sang sepupu. Jika boleh memilih, Angelina ingin fokus membantu Sienna, daripada harus kerja—dan dimarahi juga—sebagai pelayan. Nasib kata, uang mengalahkan segalanya. Dan di sinilah Angelina, terpaksa membereskan serpihan gelas kristal dengan tangan polos.Manajer Scoff—harusnya Pak Noel yang meng-assistance hari ini—mendorong bahu Angelina dengan ujung sepatunya. Menendang. Gadis itu sedang sibuk m

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 95

    Rapi, tebal, kaku. Karena sang Manajer tidak kunjung memberi tanggapan, Ganta tambahkan lagi segepok lembaran uang dollar—hijau, baru—hingga helainya berjatuhan ke lantai.Pria berjanggut panjang tadi sontak turun tinggi suaranya. Diam. Terang, menyorot Ganta dengan tatapan tak suka.“Siapa kau?” sentaknya, nada marah tak dibuat-buat. Manajer itu cukup berani menantang Ganta kendati dalam sekali lihat pun, siapa saja paham Ganta bukan sembarang ‘pria’.Sang korban—gadis kecil, berwajah kecil, serta bertubuh kecil, serba kecil—tertunduk diam, menyembunyikan bahunya yang gemetaran. Hitam dari leather loafers basah oleh rintik-rintik air matanya. Gadis itu menangis. Reaksi Ganta justru datar, namun anehnya, pria itu tak bisa berhenti memperhatikannya.“Saya lama sekali tidak datang ke sini. Apa SOP kalian sudah berubah?” ucap Ganta. Manajer di depannya seketika naik tensi.“Dul

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 94

    Tailored Aurelion Vance Atelier—antik, jatuh sempurna mengikuti postur bahu tegap berusia matang. Pertengahannya terisi kancing tersusun rapi. Berkat sandaran asal, tepi kiri kerah teganya lengser tak beraturan. Pemiliknya sesekali melonggarkan leher dari—tanda, kenyamanan sudah mangkir dari lajur napasnya.Ganta Yudhistira mengetuk-ngetuk dengan ujung jari. Napasnya berhitung, beriringan alur suara ponsel dari panggilan sang anak. Tak mendengarkan, juga tak mengabaikan. Lirik iris tajam matured bersungging pada Velcaro Éternel Chronographe—jamnya—berkilau redup membasmi gelap kota malam. Sebelas tengah malam, mobil mewahnya masih berkeliaran. Belum juga menemukan ketenangan hati yang Ganta hilangkan sejak tadi pagi.“Oke. Terus, kamu maunya gimana?” pelipisnya dipijit kasar. Jika berharap telinganya tuli, maka salah, sebab permintaan tak logis ini datang dari putra semata wayangnya.Berat sal

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 93

    Bersama Concertmasterdan Cellos Assistant serentak terhenti di pertengahan nada. Tak ada yang sanggup memulai suara—atau melawannya, tindakan nekat tangan Sienna dalam melecehkan tubuh mempelai prianya.Pertengahan tengkuk tajam Samuel ditarik, ditekan, empat jemari menyusup pada lajur pembuluh darah terbesar. Hampir ingin mencekik. Tenaganya tak membiarkan Samuel bergeser satu mili inch-pun, sela-sela jemari sang mempelai wanita menyusup pada anak-anak rambut basah. Menekan, lagi, ciuman brutal semakin diperdalam.Coryphaeus menyentil ujung pundak anak didiknya yang masih terus juga menggesek busur violin—belum paham cara membaca keadaan. Semua dipaksa berhenti, demi mengimbangi cepatnya gerakan tangan Sienna, dalam menanggalkan per-atribut-an busana atas sang suami.“Hey—stop it!” Samuel mulai marah. Tidak begitu kuat, namun tangan Samuel berhasil menghen

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 92

    Suasana—menggantung.Lengkungan altar tertutupi mawar-mawar putih, lily, eucalyptus, disematkan dengan tujuan relaksasi bagi kedua mempelai, sebelum berjuang pengucapan janji suci. Segarnya aroma bermaksud menenangkan. Ketika sampai pada penciuman Samuel, hasilnya justru berbalik tajam.Masih di tangga, Samuel berdiri kaku menyaksikan Sienna meninggalkannya sendiri. Beberapa kelopak mawar merah yang menggantungi mereka setia segar di bibir tangga. Terhitung juga, irama classical choir belum berhenti melayani. Choir member bagian terdepan sempat saling lirik, mendadak genre pernikahan suci ini terbalik. Sang Dirigen berdeham—tampaknya pemahaman situasi genting mulai tersampaikan—pianis dipaksa menekan tuts tiga kali lebih cepat. Melodinya, menutupi bising dari para tamu yang tak senang dengan etika Sienna.Langkah Samuel akhirnya memaju. Satu, dua, tamat. Mempelai pria akhirnya mendapat posisi di hada

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 91

    Butir crystal bercermin kepada jajaran candelier di atas para kepala yang siaga—dingin di tengah percik panas, berkilauan, memantau. Setiap tiup angin bergerak, butiran api-api bergeser seketika. Dalam diri Sienna juga terbesit pancaran demikian. Tatapan tak enak, menohok, dari jenis-jenis cemooh yang tak perlu dibukukan dengan kata, Sienna sudah memahaminya.Mematung di antara ratusan meja-meja putih berbingkai silk, Sienna merasa secuil. Mawar peony pucat di bawah kakinya terus menggelitik—atau, perasaan Sienna semata? Gatal di matanya hingga ke tenggorokan. Tiap geseran gestur yang gadis itu perhatikan, Sienna merasa kesabarannya dipompa. Pita suaranya berderit, ingin teriak. Terlalu sempurna untuk merefleksi emosi menggebu.“Kamu masih sama seperti biasa.” Victoria menggeser ujung jarinya. Sebatas beberapa mili—jangan kira lewat dari pantauan Sienna. Berdiri sang bride di hadapan sekalipun, Victoria tidak ragu-ragu. Bahu tegap Samuel dirabanya dengan gestur manis, sang groom juga,

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 61

    “Senpai enggak bermaksud buat aku mengurus persalinan anak ini, kan? Enggak mau. Nyebelin. Cari dokter lain aja. Aku memang punya lisensi kedokteran, tapi mengurus persalinan itu nyebelin! Aku benci suara bayi!” Kishibe terus mendumal dengan bahasa ibunya. Bukti, Ia mulai jengah berada di Indones

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 60

    “Very well.”Walau bersungut, Ganta menepati janjinya.Tengkukku dibuat dingin. Cara Ganta menyetujui keputusanku begitu—terlalu, tenang. Kuharapkan sedikit kemarahan darinya. Sebaliknya, ayahku tak mengatakan apapun lagi setelah ini.Kepala asbaknya ditekan sampai meng

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 59

    First fact: kedatanganku hanya untuk menghentikan sesuatu.Second fact: seorang dokter, hadir menghalangi, membunuh bayiku.Third fact: pembunuh. Itu yang Sienna panggilkan untukku.Menyaingi Polka Dot Stingray. Tenggelam, akuarium kering, tersengal-sengal napas. Kebebasanku direnggut usai Sienna m

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 58

    Samuel Yudhistira POVBahkan ajal pun, tak pernah mengemudi secepat ini.Setir mobil bergetar di tanganku—atau, tanganku yang bergetar.Jantungku sesempit diseret, seperti pada kecepatan tak manusiawi kendaraan ini. Terikat pada bumper, terseret pada aspal, kubayangkan diriku sendiri berkali-kali,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status