Share

BAB 1

Elzora selalu punya cerita. Tentang problematika hidup yang rumit, kusut, dan kalut. Seorang sulung sekaligus putri satu-satunya. Pecinta musik indie yang tidak pernah tampil feminim. Baju kaos polos terbalut jaket bahan jin, kulit kadang denim belel. Lengkap dengan celana jin pula, atau celana pendek kombor. Beralaskan sepatu kets putih. Beraksesoris andalan, kumpulan gelang etnik. Santai dan fleksibel, begitulah dia. Cuek seperti bunglon, tapi mudah beradaptasi sebab suka berkelana ke berbagai penjuru negeri.

Seni dan sepiring batagor adalah salah dua dari bahagia yang paling sederhana. Tukang batagor yang setia. Dengan tabah menunggu rupiah di seberang gerbang kampus. Dekat dengan tempat tinggalnya selama di tanah rantau. Si penjual batagor itu akrab disapa Mang Komar.

"Mang beli batagor kayak biasa ya," pinta Elzora.

"Siap neng! Ngomong-ngomong kenapa neng gelis nggak pernah pesen pake cabe?" tanya Mang Komar.

"Hidup udah pedes mang," balasnya cepat.

"Pedesan mana neng ketimbang hidup saya hehe," guraunya.

Elzora diam, memutar bola matanya lalu meringis malu.

Bersama metik kesayangan, ia tidak pernah absen beli batagor. Sedikit kecap, tanpa cabai, banyak mentimun. Selera yang jarang ditemui untuk kebanyakan perempuan. Makanan pedas menjadi hal yang bukan ditakuti tapi dikurangi. Sebab, semasa duduk di bangku putih abu, penyakit tifus pernah menyerangnya. Mengharuskan tubuh itu dirawat, sebulan penuh. Tubuhnya bengkak sebab terlalu banyak disuntik infus. Bahkan lengannya sempat phlebitis. Dokter tidak menyarankan ia mengkonsumsi makanan berbumbu tajam apalagi pedas. Tidak banyak orang yang tahu tentang alasan itu. Gadis itu bukan tipikal orang yang terbuka menceritakan masa lalu, terlebih masa lalu pahit.

Tiap tengah hari, batagor Mang Komar selalu jadi rebutan. Walaupun, hanya untuk anak-anak sekolahan. Sementara anak kuliahan hanya Elzora dan beberapa temannya. Biasanya Arafah dan Risa. Teman perempuan yang dirasa nyambung, enak diajak ngobrol, humoris, dan bisa diajak berteman. Untuk sisanya bulshit. Baginya, laki-laki dirasa lebih enak untuk diajak berteman.

"Berteman dengan laki-laki nggak repot! nggak banyak bacot! Sepemikiran! Pengertian. Walaupun nggak semuanya begitu…"

Pertemanan laki-laki dan perempuan itu mustahil jika tidak menumbuhkan perasaan. Itu benar, tapi tidak untuk Ardan. Tidak sedikit pula laki-laki kagum dengan gadis cuek itu. Selalu tampil beda, cool meski sederhana. Tapi tetap memesona. Jangan salah, biar begitu ia pernah menjalin sebuah hubungan yang disebut pacaran, walaupun tidak pernah berlangsung lama.

Sejak patah, Elzora menyerah dan berhenti sembarangan menjatuhkan tambatan hati. Terlebih dengan tipikal laki-laki semacam Andrean. Walaupun sebelum mengenalnya, tipikal bad boy memang seleranya. Telah dikutuk pula hatinya untuk tidak jatuh pada lubang yang sama.

“Cinta itu rumit, pasti berujung sakit.”

Meski terkesan cuek ia tak pernah pandang bulu untuk bergaul. Cukup dengan mereka yang nyambung diajak ngobrol. Hal terpenting, tidak saling hujat dari belakang. Tidak banyak menuntut hal yang hanya menyusahkan diri sendiri. Sederhanalah, alasan bahagia sesungguhnya. Manusia munafik di bumi sudah banyak. Manusia baik tak banyak tingkah yang hampir punah. Punah berarti langka bukan? Menjadi seorang pelajar harus banyak belajar. Belajar juga tidak melulu di kelas dan buku. Ilmu bisa didapat dari mana saja, tong sampah sekalipun. Pernah dengar? Tong kosong nyaring bunyinya. Jika mendengar kata tong sampah, Elzora ingat seseorang. Sepasang manusia menyebalkan yang membuat ia takut menjatuhkan perasaan. Mereka, Andrean dan Gisel.

Melepas ingatan tentang mereka. Elzora selalu memaknai mahasiswa adalah manusia yang  punya minatnya sendiri. Mulai dari mahasiswa jenis kupu-kupu sampai kura-kura."Kayaknya abis dari sini aku mau rapat BEM deh...

" Tiba-tiba setelah melihat notif diponselnya.

"Oh iya, gue juga ada rapat BEM nih…" Sambung Arafah.

"Sejak kapan kamu ikut BEM?" tanya Risa.

"Sejak kemaren, bukannya gue daftar sama lo," balasnya nyaring penuh semangat.

"Udah semester tua, baru daftar organisasi? Parah banget."

"Dalam hidup tidak ada kata terlambat ya ukhti..."

"Baru dapet hidayah Pah?" sindir Risa sambil tertawa kecil.

"Emm... Aku juga mau ke sekret, ada latihan vokal jam lima." Ujar Elzora.

"Oke deh, bye Joraa..."            

"Zoraaaa, bukan Jora tetehhh..." Sahut Arafah protes.

"Ya gimana atuh, mulut orang sunda mah suka kesandung."

"Emang lo kira kaki, nabrak tiang, terus kesandunggg..." Arafah geram.

Perdebatan kecil yang selalu membisingkan telinga. Mereka teman satu jurusan sekaligus yang paling akrab dengan Elzora, jika dibanding mahasiswi lainnya.

Selepas membayar batagor dengan uang sepuluh ribu. Ia lekas memasang helm lalu perlahan men-starter metik kesayangannnya. Melaju melewati pepohonan rindang. Beberapa diantaranya tinggal ranting. Tetap berdiri meski tak berdaun dan tak berbunga. Terlihat semakin kokoh meski berbeda. Ia hanya mengering bukan mati. Hujan akan segera hadir untuk membuatnya tumbuh kembali.

Kering korontang pun tetap punya seni, asal dinikmati dengan rasa. Bukan sekedar logika apalagi tatapan semata. Bergelut dalam dunia seni memang menyenangkan dan menenangkan. Apalagi untuk sekedar menghabiskan waktu senggang. Mencoret kanvas untuk menciptakan gambar abstrak. Menyusun melodi genre klasik hingga metal. Bergerak seraya iringan yang membuat badan ringan. Berdialog bersama para pilar berdebu yang dihias mural berbagai motif.

Di antara jalanan kosong terselip deretan kalimat rindu. Gadis itu mendambakan kasih dari yang terkasih. Jauh dari rumah, membuat ia kadang pasrah sebab merasa entah harus menjatuhkan kepercayaan pada siapa. Hidup monoton tanpa ada seorang yang istimewa. Semua itu sebab terlalu sering dibuat kecewa oleh manusia.

Seorang penjaga kampus yang telah rentapun menjadi tenang baginya. Berbagai seonggok nasi atau beberapa receh sisa uang saku. Tidak ada kata percuma dalam memberi. Ikhlas adalah sebuah kunci penting saat manusia berbagi. Tiada sudah cinta kasih yang pernah singgah selain hal-hal sederhana disekitarnya. Perihal seni yang telah menjadi teman sejak ia belia.

Mendiang kakek yang selalu menyisakan rindu saat kuas tertoreh pada kanvas putih. Bunga mawar adalah objek pertama yang diajarkan kakek padanya. Bunga mawar yang diberi warna hitam kecoklatan.

“Kenapa Zora kasih warna ini?”

“Mawarnya kering kek karena yang menanam nggak mau menyiramnya…”

“Ya sudah, kalo gitu Zora aja yang siram,”

“Zora mawarnya, Kakek airnya, mama papa yang tanam. Harusnya mereka yang siram Kek…"

“Ya sudah, biar Kakek jadi hujan ya, agar bisa membasahi Zora tanpa harus menunggu Mama dan Papa.”

Dialog sederhana yang terekam jelas dalam memori cucu kesayangan Kakek. Peluk berubah pelik, seraya waktu menjemputnya. Setiap menyusuri jalanan rindang selalu melintas ingatan itu. Setiap hujan tiba, Elzora selalu merasakan ada sosok Kakek yang hendak menginginkannya tumbuh. Tumbuh seperti mawar yang indah namun mampu menjaga diri dengan duri. Selembut embun pagi yang menyejukkan. Sehangat mentari senja dan sesegar guyuran hujan.

Sayangnya musim penghujan berubah kemarau sejak kakek tiada. Sosok pria renta yang tidak akan pernah terlupa. Kakek menjadi satu-satunya semangat Elzora. Pendukung yang paling tulus dengan kata-katanya. Jiwa yang semula layu kian waktu semakin mengering. Renjana yang semula tercipta semakin merajalela. Gadis kecil kakek hanya berharap, untuk segera bertemu cinta sesungguhnya. Setulus hujan, seikhlas ia menjatuhkan diri demi menumbuhkan sebatang mawar di tanah gersang.

                                                                                                                                 “Astaga, lagi-lagi aku rindu!”

Mae Takata

Kemanakah Elzora akan pergi? Siapakah sosok pelukis Art Style sesungguhnya? Kepada siapa hati Elzora akan tertambat? Nantikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut pada BAB selanjutnya :) Happy Reading and STAY TUNE!

| Like

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status