LOGINSebuah kisah petualangan seorang gadis yang ingin mencari tahu jawaban dari pertayaan besar yang ia pendam bertahun-tahun. Nama lengkapnya Elzora Giandra Oktaviani. Jika rumah adalah surga bagi kebanyakan orang tapi tidak baginya. Ialah mahasiswi semester akhir seorang aktivis dalam organisasi seni. Hidupnya seakan hanya untuk mencintai dunia seni dan travel writer. Darah itu pula yang membawanya berpetualang mencari sosok pelukis "Art Style". Jiwa yang kalut dibawa lari untuk sekedar mengistirahatkan hati dan pikiran. Keras hatinya dalam menerima cinta tercipta sebab sempat kecewa oleh laki-laki yang sering disebutnya sebagai fakboy. Mengubah sosok yang semula hangat menjadi gadis dingin. Pada setiap perjalanannya Elzora dipertemukan oleh banyak hal baru. Takdirpun mempertemukannya dengan laki-laki bernama Morgan dan Fikri, tokoh perwakilan 2 laki-laki yang selama ini berputar dan terpenjara dalam hati dan pikiran penulis. Pada setiap perjalanan Elzora dipertemukan dengan banyak hal tak terduga. Dimulai dari persinggahannya di Surabaya. Dipertemukan dengan Fikri. Berbagai hal manis terjadi. Mulai dari menikmati senja bersama-sama. Dipertemukan dan diselamatkan dalam musibah. Memiliki tujuan perjalanan yang sama, bahkan tidur dalam satu kamar hotel yang sama di Bali. Sama-sama menyukai seni dan meresa sudah satu frekuensi. Namun, pertemuan berujung perpisahan. Di Bali Fikri terpaksa meninggalkan Elzora sebab tuntutan pekerjaan. Setelah membaca sebuah media online dan mendapat info bahwa Bang Danu sudah di Yogyakarta. Dengan uang seadanya Elzora terbang menuju Kota Gudeg. Diperjalanan ia dipertemukan dengan seorang pemuda tampan, rapi, dan ramah. Sesampainya di Yogya, musibah kecopetan menimpanya. Hingga datanglah Morgan, laki-laki yang bertemu dengannya di pesawat. Seorang pengusaha muda tampan yang mengajaknya pulang ke rumah neneknya untuk menginap beberapa hari. Banyak hal yang diceritaknnya. Perlakuan dan perkataan Morgan membuat Elzora nyaman. 5 Tahun kemudian Elzora menempuh pendidikan ke luar negeri dan dipertemukan kembali dengan Fikri.
View More大学生になって初めて挑戦するアルバイトは、小さい頃から大好きだったアイスクリームショップの店員だった。
海外風のポップな内装。アイスケースには、カラフルで何十種類ものアイスが並んでいる。
接客は明るく、家族とでも友達とでも、アイスを食べるならこの店一択――と言っていいほど馴染みのある店だ。
まさか、自分がこの店で働けるなんて、少し夢みたいだった。今日はその初日。緊張と期待で、朝からずっと胸が高鳴っている。
「|小瀧《こたき》です、宜しくお願いします」
「店長の佐藤です。こちらこそ今日から宜しくね!」
佐藤店長の名札には、金の星が三つ光っていて、社員としても仕事が出来る人なんだと分かる。明るいし、ハキハキしているし、佇まいも堂々としている。しっかり教育してくれそうな雰囲気に、俺は背筋がピンと伸びる思いがした。
副店長やバイザーにも挨拶を済ませ、店長に案内されながら、従業員向けの休憩スペースに案内された。
店長と向かい合って座り、オリエンテーションとして綴られたファイルを読み合わせながら、大まかな説明を受けた。
すると、休憩室のドアが開いて、一人の男性が入ってきた。勤怠を記録する機械にスマホのQRコードをかざす。店長は俺につられたように顔を上げると、その男性の姿を見て微笑んだ。
「ああ、ちょうどいい所に。佐伯くん、ちょっとこっちに来てくれる?」
「はい」
声をかけられた「佐伯」という男性は、出勤したばかりのようで、上着姿のまま足をとめた。
「小瀧くん、アルバイトリーダーの|佐伯澄人《さえきすみと》くんだよ」
第一印象は、正直いって抜群だった。
整った顔立ちに、すっとした長身。ダークアッシュの髪はセンターパートで軽くセットされている。涼しげな目元で、誰がどう見てもイケメン。
友達から『あの店舗って顔採用あるらしいよ』と聞いたことがけれど、確かにその噂は本当だったと思うほどだった。
「佐伯くん、こちらが新しく入った、|小瀧南緒《こたきなお》くんです。いつも通り、指導係として教えてあげてね」
店長にそう紹介されて、俺は軽く会釈する。
「あ……えっと、小瀧です。宜しくお願いします」
目の前にいる俺を見下ろして、腕を組んだまま顔をじっと見つめられた。
「えー、マジすか。教えるのめんどくさ……俺、やりたくないんですけど」
さっきまでのクールな雰囲気はどこへやら、あくびをかみ殺しながら、あからさまに面倒そうに頭をかいた。
そのだらしない態度にぎょっとして、思わず固まる。
信じられない。店長の前で、その態度ってアリなのか?
「でも、佐伯くんと小瀧くんは同い年だから。話も合うと思うよ?」
店長が苦笑いしながら、なんとか場をおさめようとしてくれる。
同い年で、バイトリーダーってことは、高校生の時から働いてるのか……?
信じられないような気持ちで眉間に皺を寄せると、佐伯はポケットに手を突っ込んだまま言う。
「へぇ……同い年ってことは大学二年? アンタ、どこ大?」
「明成大ですけど……」
「はっ、Fランじゃん」
背も、頭も、まとめて上から踏みつけられるような言い方に、さすがに口が半開きになる。
店長は軽く苦笑いしつつ、「大丈夫、仕事はできる子だから!」とだけ言って、その場を離れていった。
佐伯は俺をちらっと一瞥しただけで、表情ひとつ変えない。
第一印象の“かっこいい”なんて、もう頭から吹き飛んでいた。
冷たい。無関心。面倒くさそう。
こいつが俺の指導係? 本気で嫌なんだけど。
「で、名前なんだっけ?」
「えっと……小瀧です。よろしくお願いします」
「あー、もうマジでやだ。無理そ。とりあえず同じことは二回言わないから、メモ取って」
……なんでお前は二回も名前を聞くくせに、俺にそんなことが言えるんだ。
加えて、完全にやる気ゼロの声に、逆に火がついた。
こうなったら、一言一句、全部メモしてやる。
負けっぱなしで初日を終えるなんて、絶対に嫌だった。
Dipetiknya dawai dari kunci A minor. Lirik-lirik yang sendu pengantar rindu. Tumpukan buku, jurnal, makalah, dan catatan yang isinya lebih banyak sketsa ketimbang tulisan. Ujian terakhir di semester ganjil akan segera selesai esok hari. Namun, ujian hidup tak kunjung berakhir. Ponselnya sesekali menyala, ada pesan yang tak kunjung diberi balasan. Mama dan Papa, dua orang yang dirasa tak pernah sungguh memberi kasih kepadanya. Masih menikmati nada-nada yang sedang dimainkan. Seseorang menyalakan klakson berulang dari gerbang depan. Sudah dapat dipastikan, orang yang selalu membawa keributan ditengan keheningan sudah pasti Ardan.Tinnnnnn tinnnnn tinnnnnnnnn!!!!!!!"Apaan sih Dan, berisikkkk!""Gue masuk ya Zo..."Deru mesin motornya lebih mirip suara bajaj bobrok. Entah kapan terakhir kali motor itu diservis. Tanpa salam dan permisi segera ia duduk meneguk minuman dan kue kering di atas meja. Napasnya tersengal-sengal."Ada
"Zoraaaaa Zoraa..." Teriak Ardan dari gerbang depan."Iyaa bentar... Tumben banget lo nggak telat." ucapnya sambil mengikat tali sepatu ketsnya di depan pintu."Hari ini ujian dari dosen nyebelin yang sering gue ceritain ke lo. Mati gue kalo sampe telat terus dikeluarin lagi.""Oh, Ibu Jawa itu...""Namanya Bu Ratih!""Eyang Ratih?""Bu Ratih Zo, dia belum setua itu mau lo panggil Eyang. Udah ayo buruan!"Setengah perjalanan sebuah mobil mewah mencegat di ujung jalan keluar dari gang. Mobil itu milik Andrean. Tak ada bosannya ia menganggu padahal sudah dianggap benalu dari masa lalu. Tak pernah bosan mengejar orang yang hatinya telah ia buat terlantar.Tinnn tinnnn tinn...."Woy minggir gue telat nih..," teriak Ardan."Gue nggak ada urusan sama lo! Kalo mau pergi ya pergi sana..." Serunya."Zo, gimana nih cecunguk!" Sahut Ardan mengadu."Udah duluan aja Dan, nggak apa-apa,"
Di ruang sembilu ku titip rinduKepada tuan yang entah dimana kini ia berlabuhAkan ada waktu untuk biduk patah kembali tegakMenunggu meski entah sampai jantung tak berdetakHarusnya yang datang terlambat tak perlu pergi dengan cepat. Tapi kenyataan tidak ada yang bisa memastikan. Jika kumpulan bonsai di teras depan mampu katakan. Tentu, Elzora tak akan kesepian. Bisik-bisik gerimis pun hanya turun sesekali. Padahal ia tahu, kehadirannya menjadi alasan gadis itu mampu meredam amarah. Secangkir kopi jadi teman ngobrol yang paling mengasyikan, meskipun sendirian. Tanpa permisi, terdengar suara klakson dari gerbang depan. Memecah fokus dari suara lagu Be Who You Are. Mengejutkan Elzora yang sedang fokus menikmasi lembayung senja.Tinnnnnnn tinnnnnn tinnn... "Pakettt..." Sahut kurir mengintip dari celah jeruji gerbang depan.
Pepohonan rindang berdiri kokoh. Gadis itu bersandar kepadanya. Hembusan angin menerpa helai rambutnya yang tergerai. Membaca sebuah novel romansa tahun 90-an. Earphone di telinga membuatnya tak peduli berisik dan lalu lalang orang bertebaran. Seakan punya hidupnya sendiri tanpa peduli orang sekitarnya. Ketenangan sederhana itu seketika pecah. Si laki-laki yang tampangnya menyebalkan sebab merasa jadi manusia paling tampan.Diraihnya earphone di telinga sebelah kanan Elzora. Tanpa permisi tangannya hampir pula merangkul. Untungnya gadis dengan baju berkaos hitam itu segera menyadari kehadirannya."Apa-apaan nih!" Menepis tangan yang hampir merangkulnya. Sebelah earphone dari telinga laki-laki itupun terlepas."Apa kabar Zo? Aku cuma kangen, memang nggak boleh ya...""Eng..nggak!" Membalik badannya lalu lekas pergi. Pergelangan tangannya diraih dengan cepat."Nanti dulu, aku mau ngomong," seru Andrean."Apa lagi Ndre!?" balasnya ketus. Membua
Perempuan yang selalu haus tantangan. Tentu tidak menolak jika hanya diajak lomba melukis. Elzora merasa beruntung bisa melukis bersama seniman. Tangannya gemetar takut salah menempatkan dan memadukan warna. Setangkai bunga mawar yang diguyur hujan menjadi andalan Elzora. Sama seperti lukisan per
"Adik aku suka pantai, apa kamu juga suka?""Iya, aku sering main pasir dan melukis bareng kakek kalo main di pantai."Dari pertanyaan itu Elzora sudah menebak. Itu adalah kode, dan perasaannya mengatakan ia akan di bawa ke pantai. Ia hanya berharap ada pantai yang mungkin belum perna
"Terima kasih sudah menjadikan Elzora bagian dari keluarga ini, Eyang.""Semoga kamu ndak kapok main kemari ya El."Perpisahan untuk yang ke sekian kalinya. Pelukan hangat untuk yang terakhir kalinya. Namun, Elzora yakin bahwa ia harus kembali ke tempat itu. Mendapatkan pelukan yang s
"Kamu belum tidur?" sahutnya dari depan muka jendela balkon. "Eh iya nih, kamu juga belum tidur mas?" balas Elzora yang sedang berdiri menatap bintang. "Panggil Morgan atau Agan aja! Barusan aku dari luar beli sesuatu, eh dari bawah liat kamu masih di balkon, makanya aku samperin,"






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.