Home / Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 269. Iri Dengki

Share

269. Iri Dengki

Author: OTHOR CENTIL
last update Last Updated: 2025-11-13 22:00:46

“Om, aku mau diantar sama sopir pribadi kaya Shanum,” ucap Claudia saat ia dan keluarga barunya ini sarapan bersama di meja makan.

Damar yang hendak menyuapkan sepotong roti ke dalam mulutnya, segera berhenti. Ia mendongak, menatap wajah Claudia yang agak masam itu.

“Maaf, Om gak bisa lakuin itu, Clau.”

Claudia yang sudah banyak berharap pun merasa begitu kecewa. Ia memberengut dan meletakkan sendok garpu di atas piringnya. “Kenapa? Gak punya uang buat bayarin sopir buat aku, ya?” tanya Claudia dengan nada merajuk.

Sejak tinggal di sini, Claudia mempelajari banyak hal termasuk apa yang membuat Om-nya itu marah dan emosi.

Menurut pengamatan Claudia, Om-nya akan naik darah saat direndahkan. Makanya, ia bilang begitu agar Om-nya itu mau menuruti permintaannya.

Sayangnya, Damar tak terpengaruh. Ia melanjutkan sarapannya. “Gak juga. Lagian, sekolah kamu dekat loh. Hanya 1 km, bahkan kurang. Mungkin hanya 800 meter. Pakai sepeda l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
OTHOR CENTIL
hai, Kak. makasih sudah baca, ya.........
goodnovel comment avatar
OTHOR CENTIL
hai, terima kasih sudah baca ya...
goodnovel comment avatar
Chili Ruhenk
sekalian end aja deh clau nya,, manusia gk tau diri
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • ENAK, PAK DOSEN!   499. GWS! Nanti Enak-enak Lagi

    Dalam hati, Sagara menjerit penuh luka, sebuah teriakan bisu yang hanya bergema di kepalanya sendiri. “Tinggalin gue yang lumpuh ini, Ra. Gue nggak berguna!” Ia tidak ingin Ara melihatnya sebagai pria yang tidak berdaya, sebagai sosok yang bahkan tidak bisa menghapus air matanya sendiri.Tak lama kemudian, perawat membawa Sagara ke ruang perawatan biasa. Sagara masih harus di-observasi lebih lanjut mengenai kesehatannya.Dan kini saat Sagara diperbolehkan makan, Ara masuk. Ia berinisiatif menyuapi Sagara.“Gar ….”Ara menyadari bahwa Sagara merespons ucapannya melalui linangan air mata itu. Kesadaran itu menghantamnya, membuatnya segera menyeka pipinya sendiri dengan kasar, bahkan mengusap ingus yang hampir meleleh keluar. Ia mencoba tegar, meski hatinya terasa hancur berkeping-keping.“Gar, maafin gue. Jangan ikut nangis, please. Gue … gue sedih karena gue yang nyebabin lo kaya gini. Sumpah, kalo tahu perawat itu punya niat jahat sama lo, gue gak akan ngebiarin dia deketin Lo sejen

  • ENAK, PAK DOSEN!   498. Insecure

    “Dokter, bagaimana kondisi anak saya?” tanya Damar dengan nada yang menuntut kepastian. Beberapa anggota keluarganya juga turut mendekati dokter tersebut. Dari arah kedatangannya tadi, Ara dan kedua orang tuanya ikut mendekatinya. Mereka mengerumuni dokter berkacamata itu dengan perasaan was-was, sembari menunggu penjelasan lebih lanjut.“Syukurlah, Tuan Muda berhasil melewati fase kritisnya, Tuan Setyawan. Ini sebuah keajaiban karena kami pun tidak menyangka Tuan Muda akan sadar secepat ini. Kesadarannya telah pulih sepenuhnya, dia sudah bisa merespons suara dan mengenali orang di sekitarnya,” ujar Dokter Satria. Ia sempat terdiam sejenak, helaan napasnya terdengar berat sebelum menatap rekannya, Dokter Rendy, seolah tatapan matanya menyiratkan untuk melanjutkan penjelasannya.Dokter Rendy mengerti, dia langsung menyambung, menjelaskan, “Tapi, seperti yang saya bilang di awal, … ada sesuatu yang harus Anda ketahui.”“Tapi apa, Dok? Jangan berbelit-belit!” sela Damar tak sabar, raha

  • ENAK, PAK DOSEN!   497. Sadar

    “Apa? Kamu akan membawa putriku tinggal di Manhattan? Kamu … serius, Mar?” Mata Arnold dan Kim terbelalak tidak percaya pagi itu.Damar datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, ingin menemuinya dan membahas Ara beserta kelanjutan hubungannya dengan Sagara. Dan begitu Damar mengatakan segalanya, mereka berdua shock berat. Pasalnya, Damar bersikap seenaknya sendiri, tidak memberitahukan atau merundingkan rencana ini dengan mereka terlebih dahulu.Siapa yang tidak marah coba?Kim yang biasanya diam, kini ikut andil menanggapi ucapan Damar. Tentu bicara dengan kelembutan, seperti sikapnya selama ini. “Tuan Damar, tolong jangan mengambil keputusan sepihak. Kami selaku orang tuanya jelas tidak setuju dengan usulan Anda yang terkesan mendadak ini,” matanya lembut. Ia membasahi bibirnya sekilas, menatap suaminya, lalu kembali menatap mata Damar yang penuh ambisi. “Meski alasan yang Anda sebutkan terbilang masuk akal, tapi … berada di kota sebesar itu, sendirian, menunggu putra Anda, kami … t

  • ENAK, PAK DOSEN!   496. Go To Manhattan

    Disambut oleh sang istri, Damar segera melepas coat hitam yang ia gunakan. Cuacanya cukup dingin malam ini sebab sebelum ia pulang tadi, mendadak memang hujan deras disertai gemuruh dan petir yang cukup kencang.“Mau balik lagi ke rumah sakit, Mas?”“Iya, tapi kamu di rumah aja, Yang. Gak usah ikut, nanti kamu sakit malah makin runyak.”“Baiklah.” Diana mengekor di belakang Damar. Ia membawa coat krem suaminya menuju keranjang kotor, meletakkannya dengan rapi lalu mengatakan, “Mandi dulu, Mas. Bau,” candanya.Damar tersenyum. Matanya menyipit saat ia mengusap kepala istrinya yang tak ditutupi hijab seperti biasanya. “Ya, … setelah ini kita bicara, ya.”“Em. Mau kuambilkan makanan di bawah, Mas? Pasti Mas lapar,” tawar Diana. Ia tahu, suaminya belum makan sama sekali. Ia hanya takut gerd Damar akan kambuh.Damar menolak, dia menggeleng tipis sambil berbalik badan di ambang pintu kamar mandi. Sebelah tangannya bersiap menekan handle pintu, tapi bibirnya mengucap, “Gak perlu, Yang. Tadi,

  • ENAK, PAK DOSEN!   495. Ketidaksetujuan

    “Saya butuh kepastian, Dok!”Rendy menelan ludah, ia tahu siapa yang sedang ia hadapi. Lalu, ia menanggapi dengan tenang agar ucapan yang akan keluar dari bibirnya tidak menyinggung pria ini.“Saya tahu, Tuan Setyawan. Kepastian itu ada pada kedisiplinan terapinya nanti. Tuan Muda Sagara harus melakukan serangkaian terapi yang sangat berat. Bukan hanya fisik, tapi juga stimulasi saraf elektrik untuk memaksa otot-ototnya tetap hidup sementara sarafnya beregenerasi. Saya pastikan kalau beliau mengikuti terapi secara teratur, semangat sembuh, dan bisa bersabar, maka kesembuhan beliau akan lebih cepat.”“Baiklah,” potong Damar cepat. “Setelah dia siuman dan kondisinya stabil, apa saya bisa membawanya ke rumah sakit terbaik di New York? Saya mau putra saya mendapatkan perawatan terbaik—mengingat di sini ….”Damar tak melanjutkan ucapannya. Dia tahu, pria di hadapannya itu pasti mengerti tentang keresahannya. Lalu, ia sambung dengan suara yang lebih rendah, dan pelan agar tidak menyinggung

  • ENAK, PAK DOSEN!   494. Butuh Kepastian

    “Bagaimana kondisi putra saya? Apa bisa diselamatkan, Dokter ... Rendy?” Diana menatap penuh harapan pada Dokter Rendy—begitulah nama yang ia lihat di ID card dokter yang ia guncangkan lengannya ini.Merasa istrinya membuat sang dokter tidak nyaman, Damar segera menariknya. Ia menasehati, “Yang, jangan begini. Kita dengarkan beliau bicara dulu.”Diana akhirnya mengalah. Dia memeluk suaminya, tapi tatapan sayunya tepat mengarah pada netra Dokter Rendy yang dibingkai oleh kacamata tebal.“Dok, silakan jelaskan,” kata Damar. Tak lupa, ia memberi satu kedipan pada Dokter Spesialis Saraf itu untuk tidak mengatakan segalanya.Setelah berdeham guna menetralisir rasa tak nyaman, Dokter Rendy mengangguk tipis pada Damar, ia kemudian menjelaskan singkat, namun tidak semuanya secara detail. “Secara garis besar, Tuan Muda selamat. Hanya saja, ... beliau belum sadar. Sejauh ini, tidak ada komplikasi yang terjadi. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalau tubuh Tuan Muda Sagara akan mengalami efek sam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status