Home / Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 268. Jengkel Akut

Share

268. Jengkel Akut

Author: OTHOR CENTIL
last update Last Updated: 2025-11-13 19:00:15

Keesokan harinya, Diana dan Damar mengantarkan Claudia, keponakan kesayangan mereka, ke sekolah barunya.

“Om, aku akan sekolah di sekolah yang sama kaya Shanum, ya?” tanya Claudia penuh antusias. Ia membayangkan ruang kelas yang wangi, dingin karena ada AC, dan fasilitas yang bagus.

Tapi, khayalan Claudia sirna sudah ketika damar menjawab pertanyaan nya.

“Tidak. Kamu sekolah di sekolah dekat rumah saja.”

“Ih, kenapa gak sama kaya sekolah Shanum sih, Om? Gak punya duit ya buat bayarin ke sekolah situ?” desak Claudia.

Sayangnya, Damar dan Diana tak memberi respon. Mereka segera mengajak Claudia keluar dari mobil menuju halaman sekolah.

“Ayo turun,” ajak Diana dengan sabar meski wajahnya menahan rasa kesal. Ia menarik tas yang dikenakan Claudia.

Sayangnya, Claudia menanggapinya dengan tak enak. Gadis bandel itu berontak. “Iya, iya! Gak usah tarik tarik kali! Aku bisa turun sendiri.”

Akhirnya, mereka bertiga berja
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
OTHOR CENTIL
bagaimana pun orang tua harus memberi contoh yang terbaik untuk anaknya. terima kasih sudah baca sejauh ini, Kak...
goodnovel comment avatar
OTHOR CENTIL
aduh, jangan dong, Kak. kasihan. makasih sudah baca ya......
goodnovel comment avatar
Bundanya Khaliza
didikan mak nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • ENAK, PAK DOSEN!   499. GWS! Nanti Enak-enak Lagi

    Dalam hati, Sagara menjerit penuh luka, sebuah teriakan bisu yang hanya bergema di kepalanya sendiri. “Tinggalin gue yang lumpuh ini, Ra. Gue nggak berguna!” Ia tidak ingin Ara melihatnya sebagai pria yang tidak berdaya, sebagai sosok yang bahkan tidak bisa menghapus air matanya sendiri.Tak lama kemudian, perawat membawa Sagara ke ruang perawatan biasa. Sagara masih harus di-observasi lebih lanjut mengenai kesehatannya.Dan kini saat Sagara diperbolehkan makan, Ara masuk. Ia berinisiatif menyuapi Sagara.“Gar ….”Ara menyadari bahwa Sagara merespons ucapannya melalui linangan air mata itu. Kesadaran itu menghantamnya, membuatnya segera menyeka pipinya sendiri dengan kasar, bahkan mengusap ingus yang hampir meleleh keluar. Ia mencoba tegar, meski hatinya terasa hancur berkeping-keping.“Gar, maafin gue. Jangan ikut nangis, please. Gue … gue sedih karena gue yang nyebabin lo kaya gini. Sumpah, kalo tahu perawat itu punya niat jahat sama lo, gue gak akan ngebiarin dia deketin Lo sejen

  • ENAK, PAK DOSEN!   498. Insecure

    “Dokter, bagaimana kondisi anak saya?” tanya Damar dengan nada yang menuntut kepastian. Beberapa anggota keluarganya juga turut mendekati dokter tersebut. Dari arah kedatangannya tadi, Ara dan kedua orang tuanya ikut mendekatinya. Mereka mengerumuni dokter berkacamata itu dengan perasaan was-was, sembari menunggu penjelasan lebih lanjut.“Syukurlah, Tuan Muda berhasil melewati fase kritisnya, Tuan Setyawan. Ini sebuah keajaiban karena kami pun tidak menyangka Tuan Muda akan sadar secepat ini. Kesadarannya telah pulih sepenuhnya, dia sudah bisa merespons suara dan mengenali orang di sekitarnya,” ujar Dokter Satria. Ia sempat terdiam sejenak, helaan napasnya terdengar berat sebelum menatap rekannya, Dokter Rendy, seolah tatapan matanya menyiratkan untuk melanjutkan penjelasannya.Dokter Rendy mengerti, dia langsung menyambung, menjelaskan, “Tapi, seperti yang saya bilang di awal, … ada sesuatu yang harus Anda ketahui.”“Tapi apa, Dok? Jangan berbelit-belit!” sela Damar tak sabar, raha

  • ENAK, PAK DOSEN!   497. Sadar

    “Apa? Kamu akan membawa putriku tinggal di Manhattan? Kamu … serius, Mar?” Mata Arnold dan Kim terbelalak tidak percaya pagi itu.Damar datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, ingin menemuinya dan membahas Ara beserta kelanjutan hubungannya dengan Sagara. Dan begitu Damar mengatakan segalanya, mereka berdua shock berat. Pasalnya, Damar bersikap seenaknya sendiri, tidak memberitahukan atau merundingkan rencana ini dengan mereka terlebih dahulu.Siapa yang tidak marah coba?Kim yang biasanya diam, kini ikut andil menanggapi ucapan Damar. Tentu bicara dengan kelembutan, seperti sikapnya selama ini. “Tuan Damar, tolong jangan mengambil keputusan sepihak. Kami selaku orang tuanya jelas tidak setuju dengan usulan Anda yang terkesan mendadak ini,” matanya lembut. Ia membasahi bibirnya sekilas, menatap suaminya, lalu kembali menatap mata Damar yang penuh ambisi. “Meski alasan yang Anda sebutkan terbilang masuk akal, tapi … berada di kota sebesar itu, sendirian, menunggu putra Anda, kami … t

  • ENAK, PAK DOSEN!   496. Go To Manhattan

    Disambut oleh sang istri, Damar segera melepas coat hitam yang ia gunakan. Cuacanya cukup dingin malam ini sebab sebelum ia pulang tadi, mendadak memang hujan deras disertai gemuruh dan petir yang cukup kencang.“Mau balik lagi ke rumah sakit, Mas?”“Iya, tapi kamu di rumah aja, Yang. Gak usah ikut, nanti kamu sakit malah makin runyak.”“Baiklah.” Diana mengekor di belakang Damar. Ia membawa coat krem suaminya menuju keranjang kotor, meletakkannya dengan rapi lalu mengatakan, “Mandi dulu, Mas. Bau,” candanya.Damar tersenyum. Matanya menyipit saat ia mengusap kepala istrinya yang tak ditutupi hijab seperti biasanya. “Ya, … setelah ini kita bicara, ya.”“Em. Mau kuambilkan makanan di bawah, Mas? Pasti Mas lapar,” tawar Diana. Ia tahu, suaminya belum makan sama sekali. Ia hanya takut gerd Damar akan kambuh.Damar menolak, dia menggeleng tipis sambil berbalik badan di ambang pintu kamar mandi. Sebelah tangannya bersiap menekan handle pintu, tapi bibirnya mengucap, “Gak perlu, Yang. Tadi,

  • ENAK, PAK DOSEN!   495. Ketidaksetujuan

    “Saya butuh kepastian, Dok!”Rendy menelan ludah, ia tahu siapa yang sedang ia hadapi. Lalu, ia menanggapi dengan tenang agar ucapan yang akan keluar dari bibirnya tidak menyinggung pria ini.“Saya tahu, Tuan Setyawan. Kepastian itu ada pada kedisiplinan terapinya nanti. Tuan Muda Sagara harus melakukan serangkaian terapi yang sangat berat. Bukan hanya fisik, tapi juga stimulasi saraf elektrik untuk memaksa otot-ototnya tetap hidup sementara sarafnya beregenerasi. Saya pastikan kalau beliau mengikuti terapi secara teratur, semangat sembuh, dan bisa bersabar, maka kesembuhan beliau akan lebih cepat.”“Baiklah,” potong Damar cepat. “Setelah dia siuman dan kondisinya stabil, apa saya bisa membawanya ke rumah sakit terbaik di New York? Saya mau putra saya mendapatkan perawatan terbaik—mengingat di sini ….”Damar tak melanjutkan ucapannya. Dia tahu, pria di hadapannya itu pasti mengerti tentang keresahannya. Lalu, ia sambung dengan suara yang lebih rendah, dan pelan agar tidak menyinggung

  • ENAK, PAK DOSEN!   494. Butuh Kepastian

    “Bagaimana kondisi putra saya? Apa bisa diselamatkan, Dokter ... Rendy?” Diana menatap penuh harapan pada Dokter Rendy—begitulah nama yang ia lihat di ID card dokter yang ia guncangkan lengannya ini.Merasa istrinya membuat sang dokter tidak nyaman, Damar segera menariknya. Ia menasehati, “Yang, jangan begini. Kita dengarkan beliau bicara dulu.”Diana akhirnya mengalah. Dia memeluk suaminya, tapi tatapan sayunya tepat mengarah pada netra Dokter Rendy yang dibingkai oleh kacamata tebal.“Dok, silakan jelaskan,” kata Damar. Tak lupa, ia memberi satu kedipan pada Dokter Spesialis Saraf itu untuk tidak mengatakan segalanya.Setelah berdeham guna menetralisir rasa tak nyaman, Dokter Rendy mengangguk tipis pada Damar, ia kemudian menjelaskan singkat, namun tidak semuanya secara detail. “Secara garis besar, Tuan Muda selamat. Hanya saja, ... beliau belum sadar. Sejauh ini, tidak ada komplikasi yang terjadi. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalau tubuh Tuan Muda Sagara akan mengalami efek sam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status