Share

Elang, si Dewa Medis
Elang, si Dewa Medis
Penulis: Zila Aicha

1. Penculikan

Penulis: Zila Aicha
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-17 21:08:01

“Bos, kami sudah membawa pelayan itu di depan!” 

Seorang laki-laki yang sedang duduk di sebuah sofa dengan nyaman sambil menghisap rokok premium pun menyeringai, “Bawa tikus got itu masuk!”

“Baik, Bos.”

Hanya dalam enam detik, seseorang yang tadi diberikan perintah berjalan masuk kembali. 

Namun, kali ini dia tidak sendirian. Tapi, ada seorang pria lain dengan seragam hitam yang sama seperti dirinya ikut bersama dengannya untuk membantunya menyeret seorang pria lain.

Tangan pria itu diikat dengan kuat, sedang matanya ditutup dengan kain hitam pekat. Dia pun dipaksa duduk di lantai, tepat di depan seorang pria dengan ekspresi wajah sedingin es.

Pria yang terikat itu meronta, berusaha melepaskan diri. Sayangnya, usahanya hanya berakhir dengan kegagalan. Tubuhnya yang kurus tidak mampu melawan dua orang yang memegangnya dan menekannya dengan kuat agar tidak bisa bergerak.

Pada akhirnya dia terpaksa membuang keinginannya untuk membebaskan diri dan diam dengan putus asa.

Siapa orang-orang ini? Mengapa menculikku? Apa aku telah menyinggung seseorang? pikir pria yang memakai kemeja putih tapi telah ternoda di banyak bagian.

Sementara itu, pria dingin yang dipanggil “Bos” itu mengamati pria terikat dengan seksama sebelum akhirnya mendengus kesal, “Benar-benar kaum rendahan ternyata!”

Begitu mendengar suara dari orang yang mungkin telah melakukan penculikan terhadapnya, pria dengan tangan terikat itu kembali memberontak.

“Biarkan dia bicara!” suara dominan kembali memberi perintah.

Pria lain di dalam ruangan itu segera melepaskan plester yang menutupi mulut pria itu.

Setelah mulutnya bebas, dia pun segera berbicara, “Siapa Anda? Apa salah saya?”

Sebuah suara tawa yang cukup mengerikan pun meledak hingga membuat nyali pria yang matanya masih ditutup dengan kain hitam itu sedikit agak menciut.

“Siapa aku? Kau … tidak berhak tahu, tapi kau … pelayan rendahan sepertimu telah berani mengganggu.” 

“Benar-benar punya nyali!” tambah pria itu dengan nada meremehkan.

Elang Viscala, si pelayan muda di Restoran De Crushy berusia dua puluh lima tahun menelan ludah dengan gugup.

Dia mencoba mengingat-ingat tentang kemungkinan dirinya bersinggungan dengan pria berbahaya. Tapi, dia tetap tidak dapat menemukan apapun. 

Selama ini, dia hidup dalam aturan. Dia tidak pernah berusaha menonjol ataupun menyinggung orang lain. Dia lebih senang menjauhkan diri dari setiap masalah karena sadar bahwa hidupnya sudah cukup sulit.

Jadi, bagaimana mungkin dia memiliki masalah dengan orang yang mungkin mafia atau gangster ini?

Elang berpikir orang yang melakukan sebuah penculikan seperti ini untuk membuat perhitungan dengan seseorang hanyalah orang yang memiliki latar belakang seperti orang-orang yang berkuasa atau justru sangat berbahaya.

Orang biasa tentu akan memilih mendatanginya dan memukulnya atau setidaknya mengajaknya bicara secara langsung. 

“Apa yang sudah saya lakukan?” Elang bertanya dengan penuh keberanian.

Pria berbahaya itu dengan sangat cepat langsung mendekati Elang dan mencengkram rahangnya kuat-kuat, “Masih berani kau bertanya, hah?”

“Saya bertanya karena memang benar-benar tidak tahu,” kata Elang dengan menahan rasa sakit.

Pria itu semakin mencengkram rahang Elang sampai meninggalkan bekas. Dia lalu mendorong Elang dan berkata, “Ruangan privat nomor 8.”

Elang tersentak mendengar nomor ruangan privat itu. Dia pun menegakkan badannya.

“Bagaimana? Kau sudah ingat apa yang sudah kau lakukan?” pria yang dipikir Elang mafia itu bertanya dengan nada sinis.

“Ada apa dengan ruangan nomor 8 itu? Apa hubungan semua ini dengan ruangan itu?” Elang malah semakin tidak mengerti.

Pria mafia itu memberengut marah. 

“Jangan berpura-pura tidak tahu, Brengsek! Kau sudah menggodanya dan bahkan berani duduk di sana, menemaninya makan. Kau pikir kau siapa, hah?" 

Elang mengerutkan kening, mencoba berpikir keras. Dia jelas tidak pernah melakukan apa yang sedang dituduhkan kepadanya. Dia memang benar duduk di sana, tapi jelas bukan untuk menggoda wanita yang disebutkan oleh orang itu. 

Dia pun merasa harus segera memperbaiki keadaan, “Memang benar saya duduk di dalam ruangan itu tapi itu karena nona itu yang meminta."

Pria itu terdiam dan Elang tidak tahu apakah dia percaya pada penjelasannya atau tidak. 

Tapi, tidak lama setelah itu dia malah mendengar pria itu mengumpat, “Brengsek!”

“Hajar dia!” pria itu kembali memerintah.

Mulut Elang ditutup lagi. Setelahnya, dia hanya bisa menerima pukulan-pukulan keras yang bertubi-tubi tanpa bisa melawan.

Sebetulnya Elang bukanlah orang yang lemah. Dia memiliki kemampuan bela diri yang lumayan. 

Hanya saja saat dia dihajar oleh orang-orang yang kemungkinan besar adalah anak buah dari pria misterius itu, dia dalam keadaan terikat dengan mata tertutup. Semua orang juga pasti mengalami kesulitan jika dihadapkan dengan situasi seperti itu.

Setelah dihajar habis-habisan, Elang berpikir dirinya akan mati. Dia bisa merasakan tubuhnya diseret ke luar dengan kasar dan dibawa ke dalam mobil, lalu dilempar ke jalanan.

Dia tidak tahu waktu. Siang atau malam, dia tidak bisa menebaknya. Tapi, yang dia tahu hanya beberapa saat tubuhnya menyentuh aspal yang keras, hujan mulai turun.

Beberapa menit berlalu, dia tiba-tiba merasa punggungnya sangat panas sampai rasanya seperti terbakar. Dia menjerit sebisa mungkin meski tetap tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Setelah menahan sakit yang teramat sangat, perlahan kesadarannya pun mulai menipis dan pada akhirnya dia terkulai lemas tak berdaya.

Elang tidak tahu berapa lama dia menutup mata dalam keadaan kehilangan kesadaran. 

Namun, saat dia merasa kesadarannya mulai kembali, sayup-sayup dia mendengar ada yang berbicara di dekatnya.

“Tuan, kapan dia akan bangun?” seseorang di sisi kanan Elang bertanya.

“Seharusnya sebentar lagi. Dia sudah mendapatkan perawatan yang terbaik, dia akan baik-baik saja,” sahut seseorang di bagian kiri.

Elang yang sudah sadar tapi masih memejamkan mata itu mulai mengira jika dirinya kemungkinan besar sedang berada di rumah sakit.

Tapi siapa mereka? Apa mereka yang membawaku ke rumah sakit? Elang bertanya-tanya.

“Apa dia akan baik-baik saja, Tuan? Anda lihat kemarin, bukan? Beliau ….”

“Dia keturunan pewaris ilmu Raja Naga, dia tentu akan baik-baik saja, Yandra. Jangan khawatir!” jawab pria di bagian kiri Elang dengan nada tenang.

Kepala Elang langsung berdenyut.

Apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang ini? Pewaris ilmu Raja naga? Apa maksudnya? Elang membatin.

Oh, dia berniat untuk berpura-pura tidur dan mendengarkan semuanya lebih lanjut, tapi ternyata dia tidak bisa sanggup melakukannya. 

Elang pun segera membuka mata. Dia menoleh ke arah kanan.

Seorang pria dengan tampilan setelan jas rapi memekik kaget, “Tuan, Anda sudah bangun.”

Elang mengernyit dan menoleh ke arah kirinya dan menemukan pria yang memakai kacamata yang jelas juga tidak dia kenal, “Tunggu sebentar, saya akan segera memanggil dokter.”

Tetapi sebelum pria itu sempat berjalan, Elang menyentuh lengan pria itu dan bertanya dengan mata melotot, “Kenapa kau mengatakan aku pewaris ilmu raja naga? Apa maksudmu?”  

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
my lady
pertama x baca cerita fantasi...semoga mampu mengunci minatku disini...ga balik ke buku lain hahhhh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Elang, si Dewa Medis   125. Akhir

    Thomas segera mengangguk cepat, “Saat ini saya memang tidak memilikinya. Tapi saya … sempat melihatnya, Tuan. Ada seorang teman yang memilikinya.”“Bagus. Jika kau bisa membawakannya untukku, aku akan menyetujui berapapun harga yang kau tawarkan,” kata Elang tanpa ragu.Mata Thomas seketika berbinar-binar. Dia percaya bahwa Elang selalu serius dengan perkataannya. “Anda jangan khawatir, Tuan! Saya pasti akan mendapatkannya untuk Anda.” Thomas berkata dengan penuh percaya diri. Elang manggut-manggut.Bahan obat yang dia sebutkan itu adalah salah satu bahan terpenting untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit berbahaya. Elang tidak akan mempermasalahkan harga barang itu karena dia yakin khasiat obat yang akan dia racik itu akan menyembuhkan banyak penyakit dan tentu saja pasti akan mendatangkan keuntungan yang besar. Selama dua minggu lamanya, Elang benar-benar disibukkan dengan pembangunan gedung dan juga masalah perizinan.Dia didukung penuh oleh Yasa Wiraya yang tidak segan-seg

  • Elang, si Dewa Medis   124. Pemasok Bahan Obat

    Lora tersenyum menanggapinya, “Tidak, Sophia. Aku baru mulai bekerja bersama dengan beliau tidak lebih dari dua minggu lamanya.”Sophia terkejut mendengarnya.Lora sepertinya bisa merasakan bahwa gadis itu penasaran terhadap bosnya dan dia tidak keberatan untuk mulai bercerita. “Bos Elang itu orang baik, Sophia. Dia tidak seperti orang kaya lainnya. Maksudku … kau pasti juga bisa merasakan bahwa tidak ada kesombongan di dalam setiap nada bicaranya dan dia juga menghargai setiap orang. Aku … bisa menjamin bahwa kau tidak akan menyesal bekerja untuknya.” Mendengar penjelasan Lora, Sophia semakin yakin dan semakin bersemangat bekerja di tempat baru itu. Sementara itu, Elang yang bertemu dengan beberapa pemasok bahan obat pun mulai bernegosiasi dengan mereka.Elang berhasil mendapatkan begitu banyak bahan obat dan kini dia pun bertemu dengan seorang pemasok obat yang mengatakan bahwa dia memiliki bahan-bahan obat yang langka.Mereka berada di sebuah restoran dan Elang sedang ditunjukka

  • Elang, si Dewa Medis   123. Bolehkah Aku Bertanya?

    Moira mendesah pelan, “Daiva, semua yang kau katakan itu benar. Tapi … seperti yang kau bilang, hidup harus berlanjut. Jadi … aku harus melanjutkan hidupku meskipun bukan sebagai manajermu.”Setelah mengatakan hal itu Moira bangkit dari kursinya dan kemudian berjalan menuju ke arah pintu keluar. Tetapi, saat dia membuka pintu, sebuah buku terlempar ke arahnya dan tepat mengenai punggungnya. Tanpa dia menoleh, dia tahu bahwa tentu saja itu dilakukan oleh Daiva.“Kau … benar-benar tidak tahu terima kasih. Aku membencimu, Moira.” Daiva menggeram marah.Sementara Moira hanya menanggapi, “Kau seharusnya tidak memiliki waktu untuk membenciku. Sebaiknya kau segera pikirkan bagaimana caranya kau menghadapi masalah ini.”“Kau tidak mungkin hanya bergantung dari uang tabungan yang tidak terlalu banyak itu. Kau … harus segera mencari jalan keluar,” kata Moira.Daiva melemparkan sebuah botol minuman ke arahnya tapi Moira berhasil menghindar dan lalu keluar dari kamar hotel Daiva.Daiva hanya bi

  • Elang, si Dewa Medis   122. Kau Kurang Ajar!

    “Jangan khawatir, Yandra!”Yasa tersenyum miring kemudian melanjutkan, “Tidak ada yang mungkin berani membahasnya.”Usai mengatakan hal itu mereka pun meninggalkan rumah rahasia nenek Cakra Buana.Hanya dalam waktu singkat, berita penangkapan Cakra Buana dengan tuduhan penculikan dan pembunuhan pun tersebar luas.Para media memberitakannya dengan begitu masif sehingga tidak ada yang tidak mungkin tidak tahu tentang berita itu mungkin negeri itu.Hari berikutnya, Daiva Gunawan yang ketakutan setelah Cakra Buana ditangkap memilih untuk menginap di sebuah hotel. “Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa?” ucap Daiva yang merasa begitu stres setelah melihat berita-berita yang tersebar di internet. Dia semua tak percaya bahwa Cakra tertangkap.Bahkan, di berita pun dijelaskan bahwa ada bukti kuat yang digunakan oleh pelapor untuk menjerat Cakra.Jika sudah begitu, Daiva berpikir bahwa kemungkinan Cakra bisa bebas sangatlah kecil. Dia sekarang ini bahkan tak berani pergi keluar sendirian dan b

  • Elang, si Dewa Medis   121. Penjara?

    “Iya, dia saudaraku. Elang … merupakan kerabat jauhku.”Cakra termangu.Dia tidak pernah menduga hal itu sebelumnya. Elang Viscala dan Yasa Wiraya tidak terlihat mirip. Bahkan keduanya juga berasal dari kalangan yang jauh berbeda.Akan tetapi, kenyataan itu ternyata tak menutup kemungkinan bahwa mereka memang memiliki hubungan darah. Bisa saja Elang memiliki nama belakang yang berbeda dari Yasa dikarenakan orang tuanya yang tidak menikah dengan keluarga kaya sehingga namanya menggunakan nama biasa. “Jadi … mengapa kau bisa berpikir untuk menculik saudaraku?”Cakra semula agak linglung tapi kini dia sudah mulai menguasai dirinya, “Dia lah berani mengganggu pacarku. Aku hanya sangat kesal terhadapnya.”“Oh, rasa kesalmu ternyata bisa membuat orang hampir kehilangan nyawanya ya?”Cakra menyipitkan mata. “Dia tidak mati. Bukankah kau yang menyelamatkan dia ketika aku menculik dan memerintahkan anak buahku untuk menghajarnya sampai mati?”Yasa menyeringai, “Kau mengakuinya sekarang. Sia

  • Elang, si Dewa Medis   120. Dia Bukan Manusia?

    “Mengapa kau … berpikir aku mempengaruhi Yasa?” Elang bertanya dengan nada bingung.Pemuda itu masih belum melepaskan Cakra dan tetap menodongkan pistol miliknya ke kepala Cakra.“Jangan berpura-pura tidak tahu!” Cakra yang meskipun di bawah tekanan tetap terlihat begitu galak. Elang mendesah pelan, “Kupastikan urusan bisnismu itu tidak ada hubungannya denganku.”“Omong kosong. Kau pikir aku percaya terhadap apa yang kau katakan?”“Memang apa peduliku kau percaya atau tidak?” balas Elang.Rendra hanya bisa menahan napas, terlebih lagi ketika dia berpikir bahwa Elang sedang mulai kehilangan kesabarannya. Cakra berkata lagi, “Sialan! Gara-gara Yasa Wiraya selalu menghindar dari pertemuan denganku, ayahku menjadi marah besar. Dia-”“Aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Kau … ini benar-benar aneh. Kau mencampur adukkan bisnis dengan masalah pribadi. Ah, aku tidak menyangka kalau ternyata seorang Cakra Buana yang namanya begitu terkenal tidak bisa membedakan mana masalah pribadi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status