Mag-log inPria yang memakai baju setelan jas rapi berwarna hitam, yang lengan kanannya itu sedang dipegang oleh Elang itu menjawab, “Nanti saya akan jelaskan. Sekarang, biarkan saya memanggil dokter untuk memeriksa Anda.”
Elang tertegun, agak ragu melepaskan pria itu seolah khawatir bahwa dia akan kabur.
Tapi, dia mendengar pria itu sekali lagi membuka mulut dengan nada yang terdengar meyakinkan, “Saya tidak akan pergi kemanapun. Kesehatan Anda jauh lebih penting sekarang.”
Mendengar hal itu, Elang pun memutuskan melepaskannya. Satu hal diyakini oleh Elang, pria itu kemungkinan besar adalah orang yang menolongnya.
Lagipula, kepalanya masih begitu sakit. Membiarkan dokter memeriksanya jelas akan memberikan keuntungan untuknya.
“Terima kasih, mohon menunggu sebentar,” pria itu berkata dengan nada formal seakan-akan sedang bicara pada atasannya.
Sebetulnya Elang hampir tidak mampu menyegel mulutnya sendiri untuk tidak segera bertanya pada pria muda itu, tapi dia mencoba menahan diri.
Pada dua menit setelahnya, Elang dikejutkan dengan kedatangan rombongan dokter dan perawat yang masuk ke dalam kamarnya.
Elang yang terkejut pun baru menyadari sesuatu. Rupanya kamar yang ditempati olehnya adalah sebuah yang bisa dibilang cukup mewah.
Selain terdapat kursi sofa empuk yang sangat besar bagi penunggu, sebuah dapur berukuran mini ada di sana. Di samping itu, ada serangkaian meja makan yang semakin membuat kamar itu terasa seperti kamar hotel mewah.
Oh, bagaimana aku akan membayar tagihan rumah sakit ini nanti? pikir Elang bingung.
Namun, ketika dia ingat bahwa bukan dia yang memilih kamar dengan fasilitas super mewah itu, Elang menghela napas lega.
Biarkan siapapun yang membawaku ke sini yang membayar tagihan rumah sakit ini, Elang membatin.
“Mohon izin untuk memeriksa Anda, Tuan,” kata salah seorang dokter dengan kacamata bertengger di hidung.
Elang menoleh dan mengangguk.
Dokter itu pun mulai melakukan pemeriksaan selama beberapa saat.
Elang hanya menurut saja dan bertekad bahwa siapapun yang membawanya ke rumah sakit itu harus menanggung semua biaya pengobatannya.
Setelah hampir satu jam menjalani pemeriksaan secara menyeluruh dua pria yang dilihat oleh Elang ketika dia membuka mata itu kembali masuk ke dalam ruangannya.
“Sudah selesai semuanya, Tuan Yasa,” kata dokter ketua di dalam rombongan itu pada pria bersetelan jas hitam.
Pria yang dipanggil itupun mengangguk, “Kau boleh pergi, Dokter Arga.”
Sang dokter membungkuk sopan.
Elang mengernyitkan dahi melihat sikap dokter itu.
“Tunggu, Dokter,” Elang berujar, menahan Arga.
Arga pun menoleh ke arah pasiennya yang sedang mencoba menegakkan badan untuk duduk itu.
Yandra, pria yang memiliki ukuran tubuh sedikit agak jauh lebih besar dari Yasa berjalan mendekat ke arah Elang untuk membantunya tanpa diminta.
Elang tidak memprotes.
“Ya, Tuan? Apa Anda memiliki keluhan lain, Tuan?” Arga bertanya.
Elang menelan ludah dan balik bertanya, “Anda tidak memeriksa punggung saya, Dokter?”
Seketika Yasa melempar arah pandangnya pada Yandra. Elang menangkap gerakan kecil itu dan menjadi semakin heran.
“Punggung Anda baik-baik saja, Tuan. Tidak ada keretakan tulang, kami sudah memeriksanya dua kali,” jelas Arga.
Elang mengernyitkan dahi, “Anda yakin, dokter? Apakah tidak ada luka bakar? Sebab, saya merasa punggung saya terbakar kemarin.”
Arga menampilkan ekspresi bingung, “Tidak ada luka bakar di punggung Anda, Tuan.”
Aneh sekali! Kemarin jelas-jelas rasanya sangat panas seperti terbakar, Elang membatin.
Arga menoleh ke arah Yasa, “Tuan, apakah saya perlu melakukan pemeriksaan ulang?”
Yasa menggeleng dengan tegas dan sekali lagi berkata, “Kau boleh meninggalkan kamar ini, dokter.”
Arga tidak membantah dan dalam beberapa detik dia ke luar dari kamar Elang bersama dengan semua rombongannya.
Setelah para dokter dan perawat itu pergi, Elang menatap dua pria asing yang tidak dikenalnya itu secara bergantian.
“Anda pasti memiliki banyak sekali pertanyaan,” kata Yasa.
Elang hanya mendesah pelan.
Yasa memahami sepenuhnya, maka dia pun berkata, “Kalau begitu, izinkan kami memperkenalkan diri terlebih dulu.”
Yasa membungkukkan badan dengan hormat pada Elang yang membelalak kaget, “Saya Yasa Wiraya, saat ini saya menjabat sebagai CEO Wiraya Corporation dan ini Yandra, asisten pribadi saya.”
Yandra ikut memberikan hormat padanya dengan cara yang sama seperti Yasa.
CEO? Elang terkejut mendengarnya.
Seorang CEO sebuah perusahaan besar membungkukkan badan dengan hormat kepadanya? Apa yang sedang terjadi di sini? Elang mengedipkan matanya berulang kali karena bingung.
“Apa kau yang menolongku?” Elang pun bertanya lagi.
“Iya. Saya menemukan Anda tergeletak di pinggir jalan dengan banyak luka yang sangat parah. Saya yang membawa Anda ke rumah sakit ini,” jelas Yasa, menahan diri untuk tidak bersikap gegabah.
“Kenapa kau menolongku?” Elang bertanya lagi.
“Karena Anda adalah pewaris ilmu Raja Naga,” jawab Yasa.
Untuk sepersekian detik Elang ternganga. Tapi, kemudian dia berkata, “Apa maksudnya itu?”
“Astaga! Tolong jangan bercanda!”
Yasa sudah menduga hal itu akan terjadi. Elang tidak mungkin percaya kepadanya semudah yang dia pikirkan.
“Saya tidak bercanda, Tuan. Anda adalah benar-benar pewaris ilmu Raja Naga, ilmu medis yang luar biasa,” kata Yasa.
Elang tertawa kecil. “Kau … jangan membuat lelucon. Hei, bung. Ilmu medis yang luar biasa? Kalau begitu, mana mungkin aku bisa terbaring di sini kalau aku punya ilmu itu?"
Dia menggelengkan kepala dan menatap Yasa dengan tatapan aneh.
Yandra yang sedari tadi hanya diam saja pun memberanikan diri untuk berbicara, “Kami bisa membuktikannya, Tuan jika Anda benar-benar pewaris ilmu Raja Naga.”
“Bukti? Bukti apa maksudmu?” Elang menaikkan alis kanan.
Yandra menoleh ke arah Yasa seakan meminta izin untuk menjelaskannya.
Ketika Yasa menganggukkan kepala, Yandra pun berkata, “Kami bisa membuktikan bahwa Anda sungguh-sungguh pewaris ilmu Raja Naga. Sang Dewa Medis."
Ilmu Raja Naga? Dewa Medis apanya? Yang benar saja, Elang memutar bola matanya malas. Meskipun begitu, Elang tetap menjaga sikap.
“Katakan!” Elang akhirnya memilih memberikan sebuah kesempatan, walaupun dia yakin dua orang di depannya ini hanyalah orang gila dengan banyak khayalan di dalam kepala mereka.
“Buktinya ada pada punggung Anda,,” kata Yandra kembali menggunakan panggilan itu.
Elang yang hampir saja tertawa itu tiba-tiba saja terdiam. “Apa maksudmu?”
“Anda tadi bertanya pada dokter mengenai punggung Anda yang terasa seperti terbakar. Itu … bukanlah sebuah luka bakar. Itu adalah sebuah tanda yang menandakan adanya energi naga yang bangkit dari tubuh Anda,” Yandra berkata dengan ekspresi serius.
Elang menelan ludah.
Sungguh dia tidak mau mempercayai omong kosong tersebut. Tapi, anehnya dia malah bertanya, “Tanda yang kembali muncul? Tanda seperti apa maksudmu?”
Yandra menoleh sekali lagi ke arah Yasa, meminta izin sekali lagi.
Namun, Yasa tidak memberikan izin itu. Elang menggertakkan gigi karena kesal.
Sebagai gantinya Yasa memilih untuk bertanya pada Elang, “Apakah jika saya memberitahu Anda, Anda akan langsung percaya pada kami?”
“Tidak perlu. Kita kan hanya disuruh untuk mengawasinya saja. Lagipula … kita tidak mungkin menyerangnya hari ini. Bos sudah mengatakan akan menyerangnya besok. Jadi … kita ikuti dia saja dulu. Kita lihat sebenarnya apa yang dia ingin lakukan.”Temannya pun manggut-manggut, setuju terhadap perkataan temannya. Sedangkan Mark yang mengemudi dalam kecepatan sedang perlahan semakin menyadari bahwa ada sebuah mobil yang mengikuti mobil mereka. Saat dia mengintip dari kaca spion, dia tidak bisa menentukan dengan pasti Siapa pemilik mobil itu. Dia memberanikan diri untuk melirik ke arah bosnya, tapi begitu dia melihat Elang yang sedang tertidur begitu lelap, Mark menghela napas lega.Tidak masalah. Mobil itu mungkin hanya kebetulan saja memiliki tujuan yang sama. Mark membatin dengan santai. Satu jam berlalu, Mark semakin lama semakin khawatir sebab mobil itu ternyata memang benar-benar kemungkinan besar memiliki tujuan tempat yang sama. Tapi anehnya, tidak sekalipun mobil itu mencoba u
Elang menjawab dengan cepat, “Ya.”Lora menelan ludah, terlihat agak cemas tapi Elang langsung menambahkan, “Apa kau keberatan kalau kau menemaniku dan kembali berpura-pura menjadi kekasihku, Lora?”Seketika wajah Lora memerah, “Bos, bukan itu yang saya maksud. Saya … adalah asisten pribadi Anda. Sudah menjadi tugas saya untuk menemani Anda kemanapun Anda pergi. Dan untuk … berpura-pura menjadi kekasih Anda, saya sama sekali tidak keberatan.”“Justru saya merasa ….” Lora tergagap tiba-tiba, Elang masih menunggu gadis itu dengan sabar, tidak terlihat memaksanya untuk berbicara. Gadis muda itu pun mendadak malah kehilangan suaranya karena terlalu malu. Tapi dia tahu bahwa dia harus tetap melanjutkan perkataannya karena dia tidak ingin bosnya salah paham kepadanya. “Malahan sayalah yang mengawali sandiwara itu. Saya sungguh-sungguh merasa khawatir kalau Anda terganggu dengan sandiwara itu,” jelas Lora dengan kepala tertunduk.Elang terdiam selama beberapa saat. Tapi tak lama kemudian d
Sarah senang sekali karena Elang ternyata masih muda untuk dimanipulasi. Dia pun yakin kali ini dia juga akan berhasil membuat Elang masuk ke dalam perangkapnya. Gadis itu pun tersenyum manis dan bertanya, “Besok malam Bryan mengajakku untuk makan malam di Hotel Sky Line. Kamu tahu kan … itu restoran paling mahal dan juga terkenal di kota ini.”Lora yang sedikit agak penasaran itu pun menaikkan alisnya, tapi dia tidak menanggapi apapun. “Aku tahu. Lalu kenapa?” Elang bertanya lagi. “Yah … bagaimana jika kalian juga ikut menikmati makan malam di sana seperti kami?” Sarah bertanya sembari menatap lurus-lurus ke arah Elang.Elang terdiam selama beberapa saat. Dia pikir setelah dia membuat Sarah melihat bagaimana dirinya sekarang yang jauh berbeda dari dirinya yang dulu itu akan membuat Sarah langsung mengerti. Sayangnya, yang terjadi tidaklah seperti itu. Sarah malah terlihat tertarik kepada kehidupannya seperti caranya yang satu ini. Jelas Sarah ingin tahu bagaimana dirinya lebih
Di dalam hati, jelas Sarah sudah begitu sangat tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya.Dia benar-benar ingin membuat Elang dan kekasihnya yang cantik tapi begitu menjengkelkan itu ternganga atas kekayaannya dimiliki oleh Bryan.Jelas dia sangat yakin bila Bryan Milan lebih kaya dari Elang Viscala. Sebab Bryan telah menjanjikan dirinya untuk membeli tiga buah gedung sekaligus. Sementara Elang hanya mampu membeli dua gedung saja sehingga pemenang dari dua orang itu telah jelas, yakni Bryan. “Sayang, mengapa kamu hanya diam saja? Apa … urusan kantormu belum selesai jadi kamu belum bisa ke sini?” Sarah bertanya dengan nada cemas. Dari seberang sana akhirnya Bryan menjawab, “Sarah, aku minta maaf. Aku … sepertinya harus menunda untuk membeli gedung itu.”Awalnya Sarah malah terkikik geli mendengar ucapan sang kekasih, “Sayang, kamu sedang bercanda ya? Atau … kamu sedang merencanakan sebuah kejutan untukku jadinya kamu bilang seperti itu? Begitu ya?”Sarah kembali tertawa kecil seray
Sarah malah tertawa menanggapi ucapan Lora.“Nona, sekarang aku tahu. Kau … itu sedang cemburu kepadaku.”Lora melongo kaget, “A-apa?”Tentu saja wanita itu terkejut dengan apa yang dipikirkan Sarah.“Tu-tunggu dulu, Nona. Bagaimana bisa kau mengira aku cemburu?” Lora kembali menyatakan kebingungannya.Sementara Elang yang sedari tadi hanya memperhatikan kedua wanita itu berbicara pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wanita memang selalu membuat bingung, Elang membatin.“Ya tentu saja begitu. Kau … pasti tertarik kepada kekasihku yang tampan dan kaya itu kan? Jadi … kamu membuatku ragu terhadap kekasihku sendiri agar kamu nantinya bisa mendekatinya. Iya kan?” tuduh Sarah.Lora tercengang sampai dia kehilangan kata-kata selama beberapa detik lamanya. Sungguh ia tidak pernah menyangka bila mantan kekasih bos barunya itu benar-benar luar biasa percaya diri. Sarah bahkan berkata seolah-olah dirinya sedang menggoda Bryan dan mencoba untuk membuat mereka putus. “Sudahlah, Nona. Aku t
Elang tidak menjawab dan malah menatap ekspresi dari sang agen yang sedang menatapnya dengan ragu-ragu itu. “Kau tidak percaya kalau aku bisa membelinya ya?” Elang bertanya dengan nada santai, sama sekali tidak terlihat tersinggung.Leonardo seketika menjawab dengan terbata-bata, “Bu-bukan seperti itu, Tuan. Saya hanya … sangat terkejut karena ….”Dia menelan ludah dengan susah payah karena tiba-tiba saja dia khawatir bila Elang akan batal membeli dua gedung mewah itu karena kecurigaannya yang bodoh itu.Maka, staf agen yang masih begitu muda itu pun berkata pelan, “Saya siapkan semua dokumennya sekarang, Tuan. Mohon tunggu sekitar 30 menit.”“Lima belas menit,” ucap Elang yang terlihat tergesa-gesa. Leonardo terbelalak kaget. Melihat wajah terkejut Leonardo, Elang berbicara lagi, “Jika kau bisa menyelesaikannya dalam waktu 15 menit, maka aku akan memberimu tip sebanyak 2 persen dari harga dua gedung itu.”Leonardo ternganga. “A-anda serius, Tuan?”“Aku tidak pernah bermain-main de







