LOGINArman sontak girang luar biasa mendengar tawaran Rendra yang begitu menggiurkan itu.Sepuluh kali lipat itu artinya mereka akan mendapatkan uang sekitar sepuluh miliar rupiah.Jumlah itu tentu saja luar biasa banyak untuk mereka. Matanya pun berbinar-binar memikirkan mereka akan mendapatkan uang sebanyak itu.Arman pun sangat yakin bahwa bosnya tidak akan mungkin membiarkan uang sebanyak sepuluh miliar itu lewat begitu saja dari dirinya.Sebab, dia pun tahu bahwa Gilang adalah seorang pecinta uang dan rela melakukan apapun demi mendapatkan pundi-pundi rupiah. Akan tetapi, ternyata jawaban Gilang di luar dugaan Arman.Dengan tegas Gilang berkata, “Simpan saja uang kamu. Aku tidak akan mengerjakan hal itu.”Dagu Rendra hampir terjatuh dari tempatnya. Dia telah mengenal Gilang cukup lama dan tahu bahwa pemuda itu tergila-gila pada uang. Dia akan melakukan apapun demi uang. Tapi, jawaban Gilang kali ini membuatnya sedikit agak bingung apakah dia sedang berbicara dengan orang yang sama
Namun, kenyataan telah menamparnya dengan keras.Elang Viscala, pria muda yang kurus, dianggapnya sangat lemah dan mudah ditindas itu ternyata benar-benar sangat kuat. Dia yang bahkan memiliki ilmu bela diri yang tinggi pun dengan mudah bisa dikalahkan olehnya.Sungguh dia luar biasa terhina atas kekalahan yang diterimanya. Diam-diam dia bersumpah akan mengalahkan pemuda itu entah kapan. Dia tahu saat ini dia jelas memiliki kemampuan yang jauh lebih rendah daripada Elang, tapi dia yakin dalam beberapa bulan setelah dia berlatih keras dia pasti akan sanggup menjatuhkan lawannya itu.Dan kali ini dia hanya harus menerima kekalahannya meskipun begitu pahit. Usai Elang meninggalkan area itu, Gilang dengan susah payah duduk lalu disusul oleh Arman yang juga terluka sama parahnya dengannya. “Bos, apa yang harus kita lakukan setelah ini?” Arman bertanya dengan kening mengerut.Arman yang melihat Gilang kebingungan itu pun kembali menambahkan, “Kita sudah menerima uang dari Rendra. Kita
Gilang pun tertawa lagi. “Aku juga tidak percaya rasanya. Pemuda itu kurus banget. Angin besar pun bisa meniupnya dengan mudah. Fiuuhhhh.”Pria muda itu mempraktekkan hal itu layaknya sedang meniup sesuatu. Para anak buahnya juga ikut tertawa bersamanya. Mereka semua terus menertawakan penampilan Elang di foto yang dikirimkan oleh Rendra itu.Beberapa saat berlalu, akhirnya mereka melihat Elang keluar dari apartemen. Gilang dan Arman langsung berhenti tertawa. Kedua orang itu saling lempar pandang lalu menatap Elang dengan tak percaya.Elang memang sangat kurus, bahkan jauh lebih kurus dari di foto yang Gilang terima. Dia hanya mengenakan pakaian sederhana dan tidak terlihat seperti orang yang bisa melawan mereka.Gilang dan Arman saling menatap, benar-benar merasa sangat dipermainkan oleh Rendra. Tapi mereka tidak bisa mundur sekarang, mereka harus melakukan tugas mereka karena mereka telah menerima upah yang begitu besar.Gilang mengambil napas dalam-dalam, lalu berjalan mendekati
Anak buah yang tersisa itu tidak berani menjawab, hanya menunduk dalam diam dan berharap bosnya akan berbaik hati kepadanya.Namun, harapannya menjadi debu begitu Cakra berkata, “Kalau kau tidak ada gunanya untukku, mati saja kau!”Sebelum pria yang berharap akan diampuni oleh bosnya itu mendongak, dia telah mendengar suara letusan tembak yang ternyata berasal dari senjata Cakra yang diarahkan kepadanya.Seketika dia pun kehilangan nyawanya.“Singkirkan mayat menjijikkan ini dari sini!” Cakra memerintah pada pengawalnya.Dia menatap mayat anak buahnya itu dengan tatapan terganggu, seolah mayat itu adalah sampah yang tidak berharga yang harus disingkirkan.Setelah itu dia lanjut berkata, “Rendra.”Rendra mengangguk patuh, “Ya, Tuan?”"Aku ingin Elang ditangkap. Sekarang juga!" Cakra memerintahkan dengan nada yang tidak bisa ditolak."Baik, Tuan," jawab Rendra, lalu dia mulai mengatur beberapa pengawal yang memiliki kemampuan yang jauh lebih bagus dibandingkan pengawal-pengawal sebelumn
Cakra yang semula menampilkan ekspresi masam itu tiba-tiba saja tersenyum miring.“Wah! Dia benar-benar datang di waktu yang tepat.”Pandu menelan ludah, seolah tahu apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya. Sementara Rendra hanya bisa menahan napas.“Apa Anda ingin menemuinya di sini, Tuan?”“Tidak. Hotel Sky Line. Pesan semua kamar di satu lantai,” Cakra memerintah dengan nada dingin.“Baik, Tuan,” sahut Pandu.Pria itu langsung ke luar dari kamar Cakra sementara Rendra langsung berkata, “Saya akan menyiapkan beberapa pengawal, Tuan.”“Hm.”Daiva gemetar di saat sang asisten pribadi Pandu mengantarnya ke Hotel Sky Line. Tidak perlu bertanya, dia tahu apa yang akan terjadi kepadanya. Dia menunggu di dalam kamar mewah itu dengan begitu gugup. “Tahan saja, Daiva! Lagipula, dia bisa memberimu banyak uang dan … karir modelmu juga bisa semakin naik berkat dia,” ujar Daiva pada dirinya sendiri.Maka, gadis itu pun hanya bisa diam. Dia telah berganti kostum sesuai dengan keinginan Cakra.
Namun, Elang tetap saja tidak bisa menemukan alasan itu.Hanya saja dia bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Niko secara diam-diam.“Ada apa, Lang?” Niko bertanya karena heran Elang terbengong-bengong menatapnya.Elang menggelengkan kepala, “Tidak ada. Aku hanya baru sadar kalau kamu tampak agak kurus.”Niko meringis, “Oh, itu mungkin karena akhir-akhir ini kurang tidur dan jarang bisa makan dengan cukup.”“Kamu baik-baik saja, Niko?” Elang bertanya dengan nada cemas.Niko malah tertawa, “Hei, aku tidak apa-apa, jangan seperti itu! Aku jadi merinding nih!”“Apaan?” Elang menyahut dengan alis terangkat sebelah.Niko menyeringai, “Kamu terdengar seperti sedang mengkhawatirkan pacarmu, Lang.”Elang mendengus jengkel, “Sialan!”Niko tertawa nyaring dan meninggalkan Elang begitu saja. Elang hanya menggelengkan kepala dan berpikir mungkin dia hanya terlalu khawatir pada Niko. Tapi, dia tidak akan diam saja. Dia benar-benar akan mencari tahu perihal Niko.Perbaikan ca







