LOGINAntar pulang dengan selamat?Clara tersenyum sinis. "Dia ingin tahu aku tinggal di mana, 'kan?"Anna hanya tersenyum dan tidak menjawab."Oke, karena dia begitu ingin tahu, antarkan aku ke Apartemen Rasuna."Anna meliriknya. Dia merasa Clara berkompromi terlalu cepat ....Ada yang aneh.Sesampainya di Apartemen Rasuna, atas perintah Jason, Anna terpaksa mengantar Clara naik ke atas.Clara juga tidak menolak.Dalam perjalanan, Clara menambahkan media sosial Niel melalui Henri. Beberapa menit kemudian, Niel menerima permintaan pertemanannya.Niel: [?]Clara: [Apa kata sandi rumahmu?]Niel: [Apa yang ingin kamu lakukan?]Clara: [Anggap saja ini sebagai bantuan. Aku akan traktir kamu makan lain kali.]Tak lama kemudian, Niel pun mengirimkan kata sandinya.Begitu keluar dari lift, Clara berhenti sejenak, lalu berbalik, dan berjalan menuju rumahnya Niel. Dia menarik papan tombol dan memasukkan sandinya.Setelah kata sandi dimasukkan, pintu terbuka secara otomatis.Niel dengan tenang melepas
Clara mengepalkan tangannya, lalu tiba-tiba tertawa. "Tapi ada persyaratannya, 'kan?"Tangan Jason yang mengancingkan jasnya terhenti sejenak. Pria itu mengerutkan kening. "Bagaimana kalau aku bilang nggak ada?""Kamu kira aku bakal percaya?"Jason tersenyum tipis. "Kalau aku bilang ada, apa kamu bakal setuju?"Clara berdiri di sana dan menghindari tatapannya.Melihat wanita itu hanya ingin menjauh darinya, tatapan Jason dipenuhi dengan kesabaran. Dia mengenggam tangan Clara yang agak dingin. "Lihat, kamu juga nggak akan setuju, terus kenapa kamu tanya? Sudah kubilang, aku nggak punya persyaratan apa pun. Kamu boleh nggak percaya."Clara menarik tangannya. "Apa maksudmu melakukan ini?""Jason, bukankah kamu sudah mengabaikanku selama ini? Selain itu, pas kamu membela Sindy dan putranya, melindungi dan memanjakan mereka, apa kamu pernah memikirkan akhir seperti sekarang ini?"Ekspresi Jason tampak kaku, tetapi dia dengan cepat kembali tenang. "Clara, aku akan menebus kesalahanku.""Apa
Kota Bovia.Setelah pindah dari Vila Harmoni, Sindy hanya bisa tinggal di perumahan tua. Di saat kritis seperti ini, bahkan telepon Nando juga tidak bisa dihubungi.Jason sudah mengetahui segalanya, tetapi pria itu tidak melakukan apa pun terhadapnya. Itu berarti identitas 'penyelamat' memang ada gunanya.Lagi pula, dia sudah mengenal Jason selama sepuluh tahun.Jason tidak sedingin dan sekejam seperti yang dipikirkan orang luar.Hanya saja, dia merasa kesal melihat kontras yang begitu mencolok dalam hidupnya. Putranya hidup mewah di kediaman Horman, sementara dia hanya bisa tinggal di rumah tua yang bobrok ini.Sekarang dia bahkan tidak bisa bertemu Stefan. Kalau Stefan mengakui bahwa dialah yang menyebabkan luka-luka itu, mungkin dia bahkan bisa kehilangan hak asuh anaknya!Sindy menggigit kuku jempolnya. Apa dia benar-benar harus kembali ke sisi 'psikopat' itu lagi?Tidak, pasti ada cara lain.Tepat di saat itu, ponselnya berdering. Karena kesal, dia bahkan tidak melihat nomor si pe
Setelah panggilan telepon berakhir, Anna keluar dari dalam dan berhenti di sampingnya. "Pak Jason, Pak Petra memang punya koneksi. Tuan Victor yang mengatur agar Hansen dikirim ke Pusat Pemulihan Royal."Pria itu menyipitkan matanya. "Royal?""Harus diakui, Tuan Victor sangat perhatian pada Nyonya Clara."Jason tetap tenang. Dia menatap kolam berwarna hijau zamrud itu.Nando tertarik pada Clara karena ingin memanfaatkannya.Bagaimana dengan Victor....Membayangkan Clara akan bersama dengan pria lain membuat dada Jason naik turun dengan hebat. Dia berkata dengan suara berat, "Aku mau ke Royal.""Mengingat hubunganmu dengan Nyonya Clara sekarang, kalau kamu menyentuh Hansen ...."Jason menatap sekretarisnya sejenak, lalu tiba-tiba tertawa. "Bahkan, kamu pun berpikir begitu, mungkin dia juga akan berpikir begitu."Anna menundukkan pandangannya dan tetap diam."Aku akan menebus kesalahanku padanya."Menebus ....Anna benar-benar ingin mengatakan padanya bahwa penebusan yang terlambat sama
Clara meraih pegangan dan mendongak menatap Niel."Lihat apa?""Kamu ...." kata Clara dengan jujur. "Kepribadianmu nggak seburuk itu."Entah apa yang sedang dipikirkan Niel, ekspresinya sedikit muram.Clara mengira Niel tidak suka orang lain mengomentari kepribadiannya. "Maaf, aku sudah banyak bicara.""Nggak apa-apa."Keduanya tiba di rumah sakit. Melihat keduanya muncul bersamaan, Henri mengangkat alisnya dengan penuh arti. "Eits, apa terjadi sesuatu ... di antara kalian berdua?"Clara tersedak. "Nggak ada apa-apa. Kami hanya kebetulan searah.""Kebetulan?"Niel juga setuju. "Hanya kebetulan."Henri langsung kehilangan minat dan mulai bergosip dengan penuh antusias. "Aku barusan dengar sesuatu yang menarik. Kalian tahu anggota Keluarga Horman dari Kota Bovia itu, 'kan?"Clara sedikit menegang dan menatapnya.Tanpa menyadari perubahan wajah Clara, Henri terus melanjutkan, "Dia datang ke Kota Joria. Sepertinya sesuatu terjadi kemarin. Kudengar dia mengalami kecelakaan di persimpangan J
"Tapi Sindy bukanlah Nyonya Horman." Anna menghela napas. "Aku tahu kamu membencinya. Dia dalam kondisi kritis di ruang operasi dan Keluarga Horman nggak tahu dia datang ke Kota Joria untuk mencarimu. Memandang dari Nyonya Besar Ratna, datanglah ke sini dan lihat dia.""Sudah selesai bicaranya?" Clara menarik napas dalam-dalam. Dia sangat tenang. "Sekarang giliranku bicara. Aku mengingat kebaikan Nenek, tapi Nenek itu Nenek, dan Jason itu Jason. Aku mau menemuinya hari ini karena menghormati Nenek. Aku yakin, kalau ada pertama kali, pasti akan ada yang kedua kali.""Kalian akan terus menggunakan kebaikan nenek untuk menekanku, tapi aku nggak berutang apa pun kepada Keluarga Horman selama enam tahun ini. Nenek baik padaku dan aku juga mengingat kebaikannya. Hanya saja, itu nggak berarti aku harus terus-terusan memberinya muka.""Sampaikan pada Jason, meski dia meninggal, aku juga nggak akan pergi menemuinya!"Clara langsung menutup telepon.Mendengar nada sibuk di ujung telepon, Anna me







