Istri Cerewet CEO Anti Skandal

Istri Cerewet CEO Anti Skandal

last update最終更新日 : 2026-01-27
作家:  Li Pena連載中
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
評価が足りません
6チャプター
7ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Drama

Komedi

Cinta yang Manis

Bos / CEO

Cantik

Humoris

Cinta Satu Malam

Happy Ending

Nikah Kontrak

Satu kesalahan semalam mempertemukan Senara-gadis cerewet, galak, polos, dan sederhana... dengan Mahesa, CEO terkaya yang dingin dan anti skandal. Alih-alih melupakan, Mahesa memilih bertanggung jawab dengan menikahi Nara lewat pernikahan kontrak tanpa cinta. Namun di balik pertengkaran konyol, kecanggungan hidup bersama, dan jarak sosial yang terlalu jauh, keduanya justru menemukan perasaan yang tumbuh diam-diam, hingga memaksa mereka harus memilih antara berpisah sesuai kesepakatan atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang tak pernah mereka rencanakan.

もっと見る

第1話

Bab 1 > Salah Kamar

Di salah satu kamar hotel mewah dengan lampu kristal, cahaya itu menyala terlalu terang untuk kepala Senara Ayu Prameswari yang berdenyut seperti habis dipukul palu. Gaun hitamnya terasa ketat, sepatu haknya entah ke mana, dan yang paling parah... pintu kamar hotel ini tampak terasa asing.

"Ini… kamar aku, kan?" gumam Nara sambil menyender ke pintu, matanya menatap ke arah ranjang besar dengan seprai putih rapi.

Kemudian ia berjalan sempoyongan, melempar tas ke sofa, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Wangi maskulin di kamar itu... menyusup ke hidungnya.

"Hmm… hotel mahal emang beda ya. Sprei nya bau duit," katanya polos.

Di saat yang sama, pintu kamar kembali terbuka. Seorang pria masuk, dengan perawakan tinggi, bahu lebar dan setelan jas hitam yang sudah dilepas dasinya.

Rambut pria itu sedikit berantakan. Tatapannya dingin tapi kosong, seperti orang yang kepalanya terlalu penuh untuk memproses dunia.

Mahesa Ardhana Wijaya.

Ia berhenti tepat di ambang pintu, menatap pemandangan di depan mata... seorang gadis asing tergeletak di ranjangnya, dan masih mengenakan gaun. Gadis itu tengah menatap langit-langit sambil bergumam.

"Kamu… salah kamar?" suara Nara akhirnya terdengar, pelan tapi jujur tanpa menoleh ke arah Mahesa.

Sedangkan Mahesa, ia menghela nafas sambil melepas kancing mansetnya. "Tidak."

"Loh?" Nara menoleh sambil menyipitkan matanya ke arah Mahesa.

"Ini kamar saya." katanya, datar.

Nara bangkit setengah duduk. Ia kembali menatap pria itu dari ujung rambut sampai sepatu. "Berarti… aku yang salah kamar?"

Mahesa mengangguk tipis.

"Oh," balas Nara, singkat.

Kemudian Nara melirik pintu. Lalu kasur. Lalu memegang kepalanya yang pusing. "Oke. Kalau gitu… aku keluar?" katanya ragu.

Saat ini, jam di dinding menunjukkan lewat tengah malam. Lift hotel ini terkenal lemot. Otaknya menolak untuk berpikir.

Sementara itu, Mahesa menatapnya beberapa detik. "Kamu mabuk," katanya datar.

"Sedikit." Nara mengangkat dua jari. "Dikit doang. Nggak parah kok."

"Dari mana?" tanyanya, singkat.

"Ulang tahun temen."

Mahesa menghela nafas lagi, lalu berjalan mendekati Nara. "Kamu bisa jatuh kalau keluar sekarang."

Nara mengernyit. "Terus?"

"Tidur di situ." Mahesa menunjuk sofa. "Saya di ranjang."

Nara menatap sofa. Sofa itu kecil. Lalu kembali menatap ke arah ranjang yang besar dan empuk. "Oke," katanya cepat. "Deal." Nara setuju dengan tawaran pria asing itu.

Namun lima menit kemudian… "Eh, ini dingin!" teriak Nara dari sofa.

Mahesa yang baru membuka laptop pun menoleh. "Apa?"

"AC-nya kayak mau bikin aku jadi es batu." omelnya, konyol.

Mahesa berdiri, lalu mendekat untuk mengatur suhu. Kini jarak mereka terlalu dekat. Wangi parfumnya menyatu dengan wangi Nara yang manis... bukan mahal, tapi hangat.

Nara mendongak. "Kamu wangi," katanya, spontan.

Mahesa terdiam membeku tanpa merespon apapun.

"Ini bukan gombal," lanjut Nara cepat. "Aku cuma jujur." tambahnya. Ia tak ingin pria itu salah paham.

"Tidur!" perintah Mahesa.

"Galak amat." celoteh Nara.

Namun saat Mahesa berbalik, Nara berdiri. "Eh."

"Apa lagi?"

"Kalau aku mimpi buruk… boleh pindah ke ranjangmu?" bujuk Nara, yang enggan tidur di sofa.

Mahesa menatapnya, dingin, lelah, dan entah kenapa… ia pasrah. "Kalau itu terjadi... kamu boleh bangunin saya," katanya, datar.

Malam itu, batas-batas yang seharusnya tegas mulai kabur. Tidak ada rencana. Tidak ada janji.

Hanya dua orang dewasa, kesepian dengan cara masing-masing... dan satu kamar hotel yang terasa terlalu sunyi.

Kini malam berganti pagi. Cahaya pagi menusuk mata Senara Ayu Prameswari, begitu hangat. Ia menggerakkan jari. Lalu menyentuh… lengan?

Dan lengan itu bukan miliknya.

Seketika Nara membuka mata perlahan. Terlihat jelas langit-langit asing. Seprai kusut. Rambut hitam di samping wajahnya. Dada bidang yang naik turun secara teratur.

"Oke," bisiknya. "Tenang, Nara." Ia mencoba menenangkan dirinya.

Kemudian ia kembali menoleh. Dan langsung menjerit.

"AAAAAAAA...!"

Mahesa seketika terbangun. "Apa...!" bentak Mahesa, reflek karena kaget.

"KAMU NGAPAIN DI SINI?" tanya Nara sambil menutup dada dengan selimut, padahal gaunnya masih utuh.

Mahesa duduk, sambil mengusap wajah. Otaknya bekerja lambat. Bahkan terlalu terlalu lambat untuk seorang Mahesa Ardhana Wijaya.

"Kamu... yang pindah sendiri ke ranjang" katanya.

"Apa?" Nara tersentak kaget.

"Semalam kamu mimpi buruk," lanjut Mahesa datar. "Dan kamu bilang… ‘jangan tinggalin aku’." tambahnya dengan sedikit mengejek.

Kini wajah Nara memerah. "AKU NGGAK PERNAH-" ucapannya berhenti. Karena sekilas ia mengingat kejadian semalam meski kilasan samar.

Lalu tangannya menarik jas seseorang. Suara bariton rendah menenangkannya.

Oh tidak.

Ia menjatuhkan kepala ke bantal. "Tolong katakan kalau semalam nggak ada yang aneh." katanya penuh malu.

Mahesa menatapnya lama. "Definisi ‘aneh’ menurutmu apa?" tanya Mahesa, keheranan.

"Yang aneh itu, sesuatu yang terjadi semalam. ah... pokoknya aneh segalanya," jawabnya, panik.

Suasana di kamar itu hening beberapa saat sampai Nara bangkit, dan memeriksa diri. Dan ternyata dirinya aman. Tapi jantungnya berdegup liar.

"Jadi… kita-" kata Nara, menggantung kalimatnya.

Mahesa mengencangkan rahangnya. "Kita udah dewasa," timpal Mahesa, cepat.

"Terus?" tanya Nara dengan ekspresi yang penasaran.

"Kita sama-sama sadar."

Nara mengangkat tangan. "Oke. Stop. Aku nggak mau kamu menceritakan detailnya."

Lalu ia berdiri, mencari tasnya. Rambutnya masih acak-acakan, tapi wajahnya tetap keras kepala. "Denger ya,” katanya sambil menunjuk Mahesa.

"Aku bukan tipe cewek yang maksa, nuntut, atau yang suka drama."

Mahesa mengangguk tanpa banyak bicara.

"Apa yang terjadi semalam... anggap aja mimpi. Kita nggak saling kenal. Aku nggak bakal nyari kamu,” ucapnya, seolah ia sedang menenangkan dirinya.

Setelah itu ia berjalan ke pintu, lalu berhenti. Ia menoleh sekali lagi ke arah Mahesa. "Dan kamu juga jangan nyari aku." katanya, penuh percaya diri.

Mahesa menatap punggung gadis itu. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang terasa… tidak terkendali. "Siap namamu?" tanyanya, dingin.

Nara membuka pintu. "Nggak penting," jawabnya, ketus.

Pintu tertutup.

Kini Mahesa hanya berdiri sendiri di kamar hotel mewah itu, menatap seprai yang berantakan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tahu satu hal dengan pasti bahwa malam ini bukan kesalahan kecil. Dan gadis cerewet itu… akan jadi masalah terbesar yang cukup menarik perhatiannya.

Bersambung...

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
6 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status