로그인Satu kesalahan semalam mempertemukan Senara-gadis cerewet, galak, polos, dan sederhana... dengan Mahesa, CEO terkaya yang dingin dan anti skandal. Alih-alih melupakan, Mahesa memilih bertanggung jawab dengan menikahi Nara lewat pernikahan kontrak tanpa cinta. Namun di balik pertengkaran konyol, kecanggungan hidup bersama, dan jarak sosial yang terlalu jauh, keduanya justru menemukan perasaan yang tumbuh diam-diam, hingga memaksa mereka harus memilih antara berpisah sesuai kesepakatan atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang tak pernah mereka rencanakan.
더 보기Di salah satu kamar hotel mewah dengan lampu kristal, cahaya itu menyala terlalu terang untuk kepala Senara Ayu Prameswari yang berdenyut seperti habis dipukul palu. Gaun hitamnya terasa ketat, sepatu haknya entah ke mana, dan yang paling parah... pintu kamar hotel ini tampak terasa asing.
"Ini… kamar aku, kan?" gumam Nara sambil menyender ke pintu, matanya menatap ke arah ranjang besar dengan seprai putih rapi. Kemudian ia berjalan sempoyongan, melempar tas ke sofa, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Wangi maskulin di kamar itu... menyusup ke hidungnya. "Hmm… hotel mahal emang beda ya. Sprei nya bau duit," katanya polos. Di saat yang sama, pintu kamar kembali terbuka. Seorang pria masuk, dengan perawakan tinggi, bahu lebar dan setelan jas hitam yang sudah dilepas dasinya. Rambut pria itu sedikit berantakan. Tatapannya dingin tapi kosong, seperti orang yang kepalanya terlalu penuh untuk memproses dunia. Mahesa Ardhana Wijaya. Ia berhenti tepat di ambang pintu, menatap pemandangan di depan mata... seorang gadis asing tergeletak di ranjangnya, dan masih mengenakan gaun. Gadis itu tengah menatap langit-langit sambil bergumam. "Kamu… salah kamar?" suara Nara akhirnya terdengar, pelan tapi jujur tanpa menoleh ke arah Mahesa. Sedangkan Mahesa, ia menghela nafas sambil melepas kancing mansetnya. "Tidak." "Loh?" Nara menoleh sambil menyipitkan matanya ke arah Mahesa. "Ini kamar saya." katanya, datar. Nara bangkit setengah duduk. Ia kembali menatap pria itu dari ujung rambut sampai sepatu. "Berarti… aku yang salah kamar?" Mahesa mengangguk tipis. "Oh," balas Nara, singkat. Kemudian Nara melirik pintu. Lalu kasur. Lalu memegang kepalanya yang pusing. "Oke. Kalau gitu… aku keluar?" katanya ragu. Saat ini, jam di dinding menunjukkan lewat tengah malam. Lift hotel ini terkenal lemot. Otaknya menolak untuk berpikir. Sementara itu, Mahesa menatapnya beberapa detik. "Kamu mabuk," katanya datar. "Sedikit." Nara mengangkat dua jari. "Dikit doang. Nggak parah kok." "Dari mana?" tanyanya, singkat. "Ulang tahun temen." Mahesa menghela nafas lagi, lalu berjalan mendekati Nara. "Kamu bisa jatuh kalau keluar sekarang." Nara mengernyit. "Terus?" "Tidur di situ." Mahesa menunjuk sofa. "Saya di ranjang." Nara menatap sofa. Sofa itu kecil. Lalu kembali menatap ke arah ranjang yang besar dan empuk. "Oke," katanya cepat. "Deal." Nara setuju dengan tawaran pria asing itu. Namun lima menit kemudian… "Eh, ini dingin!" teriak Nara dari sofa. Mahesa yang baru membuka laptop pun menoleh. "Apa?" "AC-nya kayak mau bikin aku jadi es batu." omelnya, konyol. Mahesa berdiri, lalu mendekat untuk mengatur suhu. Kini jarak mereka terlalu dekat. Wangi parfumnya menyatu dengan wangi Nara yang manis... bukan mahal, tapi hangat. Nara mendongak. "Kamu wangi," katanya, spontan. Mahesa terdiam membeku tanpa merespon apapun. "Ini bukan gombal," lanjut Nara cepat. "Aku cuma jujur." tambahnya. Ia tak ingin pria itu salah paham. "Tidur!" perintah Mahesa. "Galak amat." celoteh Nara. Namun saat Mahesa berbalik, Nara berdiri. "Eh." "Apa lagi?" "Kalau aku mimpi buruk… boleh pindah ke ranjangmu?" bujuk Nara, yang enggan tidur di sofa. Mahesa menatapnya, dingin, lelah, dan entah kenapa… ia pasrah. "Kalau itu terjadi... kamu boleh bangunin saya," katanya, datar. Malam itu, batas-batas yang seharusnya tegas mulai kabur. Tidak ada rencana. Tidak ada janji. Hanya dua orang dewasa, kesepian dengan cara masing-masing... dan satu kamar hotel yang terasa terlalu sunyi. Kini malam berganti pagi. Cahaya pagi menusuk mata Senara Ayu Prameswari, begitu hangat. Ia menggerakkan jari. Lalu menyentuh… lengan? Dan lengan itu bukan miliknya. Seketika Nara membuka mata perlahan. Terlihat jelas langit-langit asing. Seprai kusut. Rambut hitam di samping wajahnya. Dada bidang yang naik turun secara teratur. "Oke," bisiknya. "Tenang, Nara." Ia mencoba menenangkan dirinya. Kemudian ia kembali menoleh. Dan langsung menjerit. "AAAAAAAA...!" Mahesa seketika terbangun. "Apa...!" bentak Mahesa, reflek karena kaget. "KAMU NGAPAIN DI SINI?" tanya Nara sambil menutup dada dengan selimut, padahal gaunnya masih utuh. Mahesa duduk, sambil mengusap wajah. Otaknya bekerja lambat. Bahkan terlalu terlalu lambat untuk seorang Mahesa Ardhana Wijaya. "Kamu... yang pindah sendiri ke ranjang" katanya. "Apa?" Nara tersentak kaget. "Semalam kamu mimpi buruk," lanjut Mahesa datar. "Dan kamu bilang… ‘jangan tinggalin aku’." tambahnya dengan sedikit mengejek. Kini wajah Nara memerah. "AKU NGGAK PERNAH-" ucapannya berhenti. Karena sekilas ia mengingat kejadian semalam meski kilasan samar. Lalu tangannya menarik jas seseorang. Suara bariton rendah menenangkannya. Oh tidak. Ia menjatuhkan kepala ke bantal. "Tolong katakan kalau semalam nggak ada yang aneh." katanya penuh malu. Mahesa menatapnya lama. "Definisi ‘aneh’ menurutmu apa?" tanya Mahesa, keheranan. "Yang aneh itu, sesuatu yang terjadi semalam. ah... pokoknya aneh segalanya," jawabnya, panik. Suasana di kamar itu hening beberapa saat sampai Nara bangkit, dan memeriksa diri. Dan ternyata dirinya aman. Tapi jantungnya berdegup liar. "Jadi… kita-" kata Nara, menggantung kalimatnya. Mahesa mengencangkan rahangnya. "Kita udah dewasa," timpal Mahesa, cepat. "Terus?" tanya Nara dengan ekspresi yang penasaran. "Kita sama-sama sadar." Nara mengangkat tangan. "Oke. Stop. Aku nggak mau kamu menceritakan detailnya." Lalu ia berdiri, mencari tasnya. Rambutnya masih acak-acakan, tapi wajahnya tetap keras kepala. "Denger ya,” katanya sambil menunjuk Mahesa. "Aku bukan tipe cewek yang maksa, nuntut, atau yang suka drama." Mahesa mengangguk tanpa banyak bicara. "Apa yang terjadi semalam... anggap aja mimpi. Kita nggak saling kenal. Aku nggak bakal nyari kamu,” ucapnya, seolah ia sedang menenangkan dirinya. Setelah itu ia berjalan ke pintu, lalu berhenti. Ia menoleh sekali lagi ke arah Mahesa. "Dan kamu juga jangan nyari aku." katanya, penuh percaya diri. Mahesa menatap punggung gadis itu. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang terasa… tidak terkendali. "Siap namamu?" tanyanya, dingin. Nara membuka pintu. "Nggak penting," jawabnya, ketus. Pintu tertutup. Kini Mahesa hanya berdiri sendiri di kamar hotel mewah itu, menatap seprai yang berantakan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tahu satu hal dengan pasti bahwa malam ini bukan kesalahan kecil. Dan gadis cerewet itu… akan jadi masalah terbesar yang cukup menarik perhatiannya. Bersambung...Mobil berhenti di halaman rumah tepat saat matahari mulai naik lebih tinggi. Udara pagi sudah tak sedingin tadi, tapi suasana di dalam mobil justru terasa… hangat tapi canggung. Kayak habis hujan tapi kaos kaki belum kering.Nara masih duduk. Ia tidak langsung turun. Begitupun dengan Mahesa, ia juga belum mematikan mesin.Hening.Bukan hening yang bikin kikuk. Lebih ke hening yang kayak, 'kita sama-sama capek, tapi nggak mau ngaku.''Aneh ya. Biasanya aku yang pengin cepet-cepet kabur dari orang dingin kayak dia. Sekarang kok malah pengin duduk sebentar lagi?' Nara bermonolog dalam kepalanya.Mahesa akhirnya mematikan mesin. Klik. "Itu… Omku jarang memuji orang," katanya tiba-tiba.Nara melirik. "Oh?""Iya." Mahesa menatap ke depan. "Biasanya kalau dia nggak setuju, dia langsung nyuruh putus," katanya lagi.Nara menegakkan punggung. "Berarti aku lolos tahap… audisi keluarga?" tanyanya."Kurang lebih." Mahesa menjawab singkat.Nara mendengus kecil. "Hebat juga aku. Padahal tadi aku ham
Pagi Hari... Pagi itu, Nara bangun dengan perasaan yang aneh. Bukan sakit. Bukan malas. Tapi campuran antara gugup, kesal, dan penasaran yang bikin perut rasanya kayak diisi kupu-kupu yang salah masuk kandang.Saat ini ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan. 'Oke, Nara. Tenang. Ini cuma klarifikasi. Bukan sidang skripsi. Bukan juga akad nikah kedua. Harusnya sih aman.' Ia bermonolog dalam lamunannya. Pintu kamar diketuk pelan, membuyarkan lamunannya. "Nara." panggil Mahesa dari luar kamarnya. Nara refleks langsung berdiri. Hampir nyenggol meja rias. "Iya!" jawabnya terlalu cepat.Pintu terbuka. Mahesa berdiri di sana dengan setelan hitam rapi... terlalu rapi untuk di pagi hari. Rambutnya tertata sempurna, ekspresinya datar, seperti biasa. Macam kulkas seribu. "Kita berangkat setengah jam lagi," ucapnya."Oh." Nara menjawab singkat seraya mengangguk. "Lalu?" tanyanya, singkat."Kamu sarap
Pagi itu, rumah Mahesa mendadak tidak tenang.Bukan karena alarm kesiangan. Bukan juga karena Nara salah masuk kamar lagi... melainkan itu sudah jadi rutinitas kecil yang mulai dianggap wajar. Tapi karena satu hal yang paling dihindari Mahesa selama ini... media.Nara mondar-mandir di ruang keluarga sambil menggenggam ponsel seperti sedang menunggu vonis. Rambutnya dikuncir tinggi asal-asalan, kaos longgar dan celana training membuatnya tampak seperti mau lari pagi. "Aku nggak bisa," gumamnya.Ia berhenti. Lalu jalan lagi. "Aku beneran nggak bisa."Sedangkan Mahesa berdiri di dekat jendela sambil merapikan jam tangannya dengan gerakan rapi dan tenang. Melihat Mahesa yang tampak begitu tenang itu justru bikin Nara makin panas."Kamu cuma perlu jawab singkat," ujar Mahesa datar. "Jangan jujur berlebihan," tambahnya. "Itu menghina prinsip hidupku," balas Nara cepat."Aku alergi pura-pura," protesnya, tak terima. Mahesa menoleh. Tatapannya menyapu Nara dari ujung rambut sampai kaki...
Pagi hari... Pagi datang dengan suara alarm yang tidak manusiawi."TING—TING—TING—!"Nara mengerang sambil meraba-raba kasur. Tangannya menghantam sesuatu yang keras. "ADUH!"Ia membuka mata setengah. Nara menyadari bahwa itu bukan bantal. Bukan pula guling. Melainkan itu… dada.DADA MANUSIA.Nara menjerit, "AAAAAAAA—!"Mahesa yang sedang setengah sadar refleks langsung duduk. "Apa—!"Kini dua pasang mata saling bertemu dalam jarak yang sangat, sangat tidak wajar. Nara terdiam. Rambutnya berantakan, kaos tidurnya naik sedikit, dan... yang paling fatal adalah saat tangannya masih menempel di dada Mahesa.Waktu seolah berhenti. "KENAPA KAMU DI KAMARKU?!" teriak Nara panik.Mahesa juga panik. Tapi versi tenang. "Ini kamar tamu."Nara menoleh cepat ke sekeliling. Lemari berbeda. Tirai berbeda. Warna sprei berbeda. Seketika ia langsung menutup wajahnya. "YA TUHAN. AKU SALAH KAMAR
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.