Share

Bab 3

Penulis: Darlene
Jason sepertinya tidak menyangka Clara akan meminta cerai. Raut wajahnya makin muram. "Aku nggak akan setuju untuk bercerai."

Clara tercengang.

Dia tidak mau cerai. Jangan-jangan…

Pria itu terus melanjutkan, "Nenek juga nggak akan setuju."

Kemudian, terdengar suara pintu ditutup.

Clara terpaku selama beberapa saat. Hatinya seakan tersumbat sesuatu. Dia merasa pemikiran yang sempat muncul di benaknya barusan agak menggelikan.

Mana mungkin Jason tidak mau bercerai karena dia?

Dia cuma takut Nenek Ratna tidak setuju saja.

Sayangnya, dia tidak tahu kalau Nenek Ratna telah menyetujuinya.

Keduanya mengakhiri malam itu dengan tidak gembira dan tidur di kamar terpisah. Keesokan paginya, setelah pengasuh datang bekerja, Jason sudah menghilang.

Clara sarapan sendirian seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah membersihkan kamar, pengasuh pun keluar dan bertanya, "Nyonya, kok banyak barang di rumah yang menghilang?"

Clara tertegun sejenak.

Bahkan, pengasuh pun menyadari barang di rumah banyak yang menghilang.

Jason justru tidak menyadarinya.

Peduli atau tidak, semuanya terlihat jelas.

Dia memaksakan senyum dan berkata, "Barang-barang itu sudah usang, jadi sudah kubuang. Semuanya barang-barang nggak penting."

Pengasuh juga tidak bertanya lagi.

Siang harinya, Clara mendapat telepon dari kepala rumah sakit yang mengabarkan ada operasi besar yang harus dilakukan. Apalagi, kondisi pasien sangat kritis. Dokter kraniotomi sedang dinas dan hanya Clara yang bisa melakukannya.

Clara bergegas ke rumah sakit. Setelah berganti pakaian operasi, dia langsung masuk ke ruang gawat darurat. Semua dokter yang bertugas ada di sana, termasuk Sindy.

Seluruh ruang gawat darurat dipenuhi bau darah yang kuat.

Berbeda dengan dokter lain yang maju untuk memeriksa luka pasien, Sindy bahkan tidak berani mendekati pasien dan terus menahan mual dan muntah-muntah.

"Dokter Clara, kamu sudah datang." Dokter anestesi berjalan mendekatinya. "Pasien jatuh dari lokasi konstruksi dan baru saja dibawa ke rumah sakit. Pasien sekarang nggak sadarkan diri."

Saat melihat kondisi pasien yang kritis, Clara juga terkesiap.

Batang baja sepanjang 20 sentimeter menembus kepala dan mata pasien. Meski pasien kini tidak sadarkan diri, tanda-tanda vitalnya masih ada. Ini sungguh keajaiban!

Sindy menahan rasa mualnya dan berkata, "Dokter Clara, kamu sungguh bisa melakukan operasi ini? Kalau nggak berhati-hati, pasien bisa meninggal."

"Kalau aku nggak bisa, kamu bisa?"

Perkataan Clara membuat raut wajah Sindy berubah jelek.

Clara mengenakan sarung tangan dan memberi instruksi pada dokter lainnya. "Pertama, lakukan kraniotomi untuk mendekompresi otak dan mengeluarkan gumpalan darah."

Dokter anestesi dan dokter lainnya sudah siap.

Sindy menggigit bibirnya dan bertanya, "Bagaimana kalau aku ikut bantu?"

"Yang nggak berkepentingan, tolong keluar dulu." Melihat penampilannya barusan, Clara tahu bahwa tidak ada gunanya mempertahankan Sindy di sana.

"Tapi…"

"Bu Sindy, kondisi pasien kritis. Sebaiknya kamu keluar dulu dan tenangkan keluarga pasien."

Tidak ada satu pun dokter bedah di rumah sakit pusat yang berani melakukan operasi ini, karena kesalahan sekecil apa pun bisa menghancurkan seluruh karier mereka.

Apalagi, semua orang juga telah melihat bagaimana sikap Sindy sejak dia datang.

Kalau saja bukan karena latar belakangnya, mereka pasti sudah memarahinya.

Sindy mengepalkan tangannya dan terpaksa meninggalkan ruang operasi.

Setelah memastikan tidak ada kerusakan pada batang otak dan tidak ada cedera pembuluh darah otak yang jelas, Clara beserta timnya menghabiskan waktu lima jam untuk melepaskan batang baja dan melakukan operasi rekonstruksi dasar tengkorak.

Operasi berlangsung hingga malam hari. Setelah melihat tanda-tanda vital pasien stabil, semua orang baru menghela napas lega.

Usai operasi, dokter lainnya segera memberi tahu keluarga pasien.

Clara pergi ke kantor kepala rumah sakit.

Pak Martin sangat gembira saat mengetahui operasinya berhasil. "Clara, ini semua berkat kamu."

"Bukan cuma aku saja, tapi kerja sama tim yang baik. Pasien juga cukup beruntung karena batang baja itu menembus otaknya tanpa merusak struktur vital apa pun. Kalau nggak, siapa pun nggak akan bisa menyelamatkannya."

Pak Martin mengangguk dan mencoba membujuknya untuk tetap tinggal. "Kamu sungguh nggak mau mempertimbangkan mutasimu lagi?"

Dia paling jelas dengan kemampuan Clara. Bukan hanya karena dia adalah dokter bedah termuda saja, tetapi dia juga seorang wanita. Ini adalah hal langka di dunia medis.

Kota Joria termasuk kota kecil dan tunjangan rumah sakit tidak sebaik di Kota Bovia. Sayang sekali dia harus meninggalkan fasilitas sebaik itu dan memilih untuk pindah ke Rumah Sakit Joria.

Clara tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku sudah putuskan, tapi jangan khawatir. Kalau Pak Martin butuh bantuanku kelak, aku pasti akan datang membantumu pas senggang."

Mendengar itu, Pak Martin tidak lagi memaksanya.

Setelah meninggalkan kantor kepala rumah sakit, dia melihat Jason berjalan mendekatinya dengan langkah besar.

Clara berhenti dan hendak berbicara.

Pria itu berjalan melewatinya dan hanya berkata, "Dokter Clara, ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Clara dan Jason berjalan ke balkon. Clara baru saja selesai operasi dan sebenarnya sangat lelah. Wajahnya tampak kelelahan. "Kamu cari aku…"

"Kenapa kamu menargetkan Sindy di ruang operasi tadi?"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 444

    Clara tiba-tiba berhenti. Dia perlahan berbalik dan menatapnya. Ekspresi pria itu tetap tenang. Sikapnya yang sulit dipahami tetap misterius seperti biasanya.Sebelum dia sempat berbicara, Nyonya Hanifa yang kebetulan lewat di koridor luar, mengintip ke dalam dengan penasaran. "Pak Jason, Nyonya Horman, kenapa kalian berada di sini?"Sebelum dia sempat menjawab, Jason berkata dengan nada bercanda, "Istriku lama sekali di kamar mandi. Aku khawatir dia tersesat."Kata-kata itu membuat Nyonya Hanifa tertawa. "Pak Jason, jangan bercanda. Keluarga kami nggak sebesar itu. Tapi aku merasa Pak Jason sangatlah perhatian sama istri."Jason menoleh dan memandang Clara. Senyumnya penuh kasih sayang. "Memang benar."Clara memelototinya, lalu berjalan mendekati Nyonya Hanifa. "Maaf, sudah membuat lelucon di depan Nyonya.""Nggak kok. Suami istri memang seharusnya harmonis dan saling mencintai. Lagian, kalian masih muda."Clara hanya tersenyum dan tidak menanggapi perkataan itu lagi.Keduanya mengiku

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 443

    Nyonya Hanifa tersenyum dan berdiri. "Kebetulan sekali. Pak Jason juga datang." Selesai berbicara, dia kembali menatapnya. "Nyonya Horman yakin nggak datang bersama Pak Jason?"Clara memalingkan muka, lalu tersenyum canggung. "Hanya kebetulan saja.""Rupanya Nyonya Horman juga datang. Kebetulan sekali. Bagaimana kalau Pak Jason dan Nyonya Horman makan di rumah kami hari ini? Rumah kami sudah lama nggak seramai ini!" kata Pak Petra pada Nyonya Hanifa.Nyonya Hanifa tersenyum dan menjawab, "Kalau begitu, aku beri tahu orang dapur untuk menyiapkan makanan."Jason duduk di sebelah Pak Petra dan kebetulan posisinya berhadapan dengan Clara. Clara memalingkan muka, lalu mengambil cangkir teh di atas meja, dan menyesapnya."Nyonya Horman dan putriku sangat dekat. Kali ini kamu datang untuk putriku, 'kan?" Pak Petra tiba-tiba menatapnya.Clara terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Kupikir dia ada di rumah, jadi aku datang mencarinya.""Dia nggak di rumah, tapi Nyonya Horman bisa menghadiri pesta p

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 442

    Samuel terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mencengkeram dagunya dengan satu tangan. "Sayang sekali, tapi aku benar-benar nggak tahu bagaimana cara bersikap lembut pada wanita.""Aku akan bekerja sama dalam pernikahan nanti, jadi kembalikan ponselku!" Inara menahan air matanya. Matanya tampak berkaca-kaca, seolah akan hancur hanya dengan sentuhan ringan.Samuel menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Inara bukanlah wanita yang sangat cantik. Dibandingkan dengan wanita-wanita yang pernah bersamanya, Inara masih kurang menarik, tetapi penampilannya juga tidak buruk. Setidaknya, dia enak dipandang. Apalagi, sifatnya yang cerdik dan sedikit nakal yang dimilikinya merupakan sesuatu yang belum pernah dia temui sebelumnya.Setidaknya tidak ada sanjungan, tidak ada perasaan palsu ataupun sikap yang dibuat-buat.Untuk pertama kalinya, dia punya pemikiran tidak masuk akal seperti ini.Jika dia bisa melabuhkan hatinya dan menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya dengan Inara, itu juga aka

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 441

    "Kita sudah kenal begitu lama. Aku paling memahamimu. Bukankah kamu ingin menggunakan anak Samuel untuk mengendalikanku?" Heru perlahan berdiri dan berjalan ke arahnya. "Samuel nggak peduli sama anak itu, tapi aku berbeda. Bagaimanapun, dia satu-satunya keturunan Keluarga Ferdinand. Dia adalah cucu kandungku. Mungkin kelak belum tentu ada lagi."Julia berjalan ke samping dan duduk tanpa mengubah ekspresinya. "Putri Keluarga Sucipto bisa melahirkan cucu untukmu. Kenapa aku harus menggunakan anak itu untuk mengendalikanmu?""Bisa menunggu sampai dia melahirkan cucu untukku itu masalah lain." Heru berhenti di depannya, lalu tiba-tiba mencondongkan tubuh lebih dekat, dan mencibir. "Kalau nggak, bagaimana kalau kamu melahirkan putra untukku lagi? Di usiamu sekarang ini, seharusnya bukan hal mustahil, 'kan?""Kamu gila!" teriak Julia dengan marah.Dia sangat menolak dan enggan mengungkit masalah 'anak', karena akan mengingatkannya pada bayi yang lahir mati waktu itu.Heru menegakkan tubuhnya

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 440

    Polisi wanita itu dengan cepat menjatuhkan Sindy, lalu dua polisi lainnya tiba, menangkapnya, dan membawanya pergi secara paksa.Raungan histeris Sindy menjadi serak dan tidak nyaman didengar. Ternyata di saat emosi seseorang runtuh hingga ekstrem, raut wajah mereka akan menjadi ganas dan menakutkan seperti iblis.Setidaknya, matanya yang merah itu benar-benar membuat Clara ketakutan."Pak Jason, sudah waktunya pergi."Pengawal di belakangnya mengingatkannya.Jason tidak menjawab. Dia melirik orang yang ada di pelukannya, lalu tiba-tiba mengendongnya, dan melangkah pergi.Tempat parkir."Jason, kamu sudah boleh turunkan aku."Clara yang masih dalam gendongan pria itu, berbicara sambil menghindari tatapan orang-orang yang lewat. Pria itu tidak mengatakan apa pun dan menurunkannya.Peristiwa hari ini memang di luar dugaan Clara. Bahkan, bukti yang dimilikinya pun belum dipublikasikan. Sejak Sindy terluka dan dirawat di rumah sakit, semuanya telah diatur oleh tangan tersembunyi, bahkan me

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 439

    "Pengacara Leo, walau aku nggak tahu dari mana asal kekeliruanmu, tapi kalau kamu nggak bisa memberikan bukti, masalah ini akan memengaruhi reputasimu." Pengacara Shinta memutuskan untuk mengambil risiko dan bertaruh bahwa Pengacara Leo tidak punya bukti yang substansial.Lagi pula, jika manipulasi hasil tes terungkap, banyak orang yang akan terlibat. Dia tidak percaya bahwa orang-orang di Biro Kehakiman akan sebodoh itu hingga mempertaruhkan reputasi dan masa depan mereka sendiri.Menghadapi sikapnya yang agresif, Pengacara Leo tetap tenang. Tak lama kemudian, seorang menteri dari Biro Kehakiman muncul di pengadilan sebagai saksi.Begitu melihat wajah orang itu dengan jelas, Julia tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.Pengacara Shinta baru menyadari sesuatu saat ini. Ketenangannya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa panik dan kekhawatiran bahwa kebenaran akan segera terungkap.Hakim bertanya kepada saksi, "Dari dua hasil tes di layar, mana yang asli?"Menteri Kehakiman menelan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status