MasukElma mengira dia telah mendengar percakapan mereka. Ekspresinya berubah canggung. Dia segera mencari alasan dan menyelinap pergi.Niel melipat tangannya dan bersandar di pintu. "Bagaimana kondisimu?""Sudah mendingan."Clara menatapnya dan bertanya, "Kudengar, kamu yang bawa aku ke rumah sakit?""Kalau nggak?" Niel berjalan ke jendela dan membuka tirai. "Dalam situasi seperti ini, kalau nggak bawa kamu ke rumah sakit, apa harus bawa kamu pulang ke rumah?"Clara tidak berbicara.Dia tidak menyangka Nando akan memperlakukannya seperti ini.Setelah diam-diam memberinya obat bius, selanjutnya apa yang akan dilakukan pria itu?Apa akan berakhir seperti situasi yang dibayangkannya?Niel sepertinya menyadari kebingungannya. Dia bersandar di jendela. "Dokter di departemen bilang dia membeli midazolam karena insomnia parah. Kamu juga tahu kalau obat semacam ini punya efek hipnotik dan sedatif. Efek obat ini bahkan lebih kuat kalau digiling menjadi bubuk dan diminum.""Aku memahaminya. Meski flu
"Keluarga Horman sangat berkuasa. Kamu kira kamu bisa pergi semudah itu hanya dengan mengandalkan dirimu sendiri? Mereka pasti akan menemukanmu!" Nando tiba-tiba meraih tangannya.Dia terkejut dan mencoba menarik diri, tetapi pria itu malah mencengkeramnya lebih erat. "Aku punya cara agar dia melepaskanmu!""Kak Nando, lepaskan aku dulu!"Menyadari dirinya telah kehilangan kendali, Nando baru melepaskan tangannya.Clara mengusap pergelangan tangannya. Dia menyadari sikap Nando aneh hari ini, tetapi dia tidak bisa memastikan apa penyebabnya. "Aku bisa selesaikan sendiri masalahku dengan Jason."Nando perlahan melepaskan kepalan tangannya dan tersenyum getir. "Benar juga."Setelah menghabiskan minumannya, Clara merasa sedikit pusing dan mengantuk."Kamu kenapa?"Suara Nando bergema di telinganya, tetapi kelopak matanya makin berat. Dia ambruk ke atas meja sebelum sempat mengatakan apa pun.Ini persis seperti yang Nando harapkan.Bibir pria itu yang kering bergerak sedikit, seolah ingin b
Jason menatap lurus ke depan. Wajahnya sangat muram. Usai mendengar itu, dia mengalihkan pandangannya ke Anna. "Suruh orang diam-diam mengawasinya. Jangan biarkan dia punya kesempatan untuk mendekati Clara."Sementara itu, Clara yang diundang ke rumah sakit umum terdekat untuk melakukan operasi malformasi arteriovenosa serebral, baru saja menyelesaikan operasinya.Kepala rumah sakit umum, Pak Suwandi, dan Pak Martin adalah teman lama. Saat dia dinas di Kota Bovia sebelumnya, Pak Martin merekomendasikan Clara padanya."Bu Clara, sudah merepotkanmu datang jauh-jauh dari rumah sakit distrik.""Nggak repot, kok. Pak Martin sangat baik kepadaku, jadi sudah seharusnya aku membantumu."Pak Suwandi mengantarnya sampai ke depan pintu dan berkata, "Kelak kalau Bu Clara membutuhkan sesuatu, rumah sakit kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk membantu."Mereka yang berkecimpung di industri ini sangat membutuhkan koneksi.Clara langsung setuju. "Baiklah!"Setelah Pak Suwandi kembali, Clara per
Mengabaikan kemarahan di matanya, Sindy perlahan berdiri. "Aku bisa diam, tapi kamu harus lakukan satu hal untukku."Nando berkata dingin, "Sindy, kamu kira kamu bisa mengancamku?""Kalau kamu nggak mau, aku akan ungkapkan kebenarannya pada Clara."Begitu kata-kata itu dilontarkan, Nando tiba-tiba berdiri dan mencekiknya. "Coba saja kalau kamu berani!"Wajah Sindy memerah, seolah-olah akan mati lemas. Hanya saja, alih-alih merasa takut, matanya dipenuhi dengan kegilaan yang mengerikan. "Kalau kamu hebat, cekik saja aku sekarang.""Kamu kira aku nggak berani?""Kamu memang nggak berani." Sindy menggertakkan giginya. Urat-urat di dahinya menonjol dan matanya merah. "Kamu nggak dapatkan apa pun, apa kamu rela mengorbankan sisa hidupmu?"Nando terhenyak, lalu melonggarkan cengkeramannya.Setelah bisa bernapas lega, Sindy langsung telungkup di sofa sambil terbatuk-batuk.Nando membeku sejenak, lalu membelakanginya. "Apa lagi yang ingin kamu lakukan?""Aku tahu kamu punya hubungan baik sama
Karena mengetahui hubungan mereka berdua, perawat itu mengira Jason khawatir akan membuat istrinya tidak senang, jadi dia tersenyum dan menyerahkan kotak obat pada Clara. "Nyonya Horman, kalau begitu, aku nggak ganggu kamu sama Tuan lagi."Setelah perawat itu pergi, Clara sempat mematung di tempat sejenak. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berjongkok di samping Jason, tanpa mengubah ekspresinya.Dia memperlakukan pria itu seperti pasiennya dan mengobati lukanya.Tak satu pun dari mereka yang berbicara. Keheningan yang mendalam menyelimuti tempat itu.Saat mengeluarkan pecahan kaca, dia bisa mendengar napas Jason yang sedikit terengah-engah, tetapi pria itu tidak mengeluh, meskipun kesakitan.Setelah mengoleskan obat, Clara pun membalut lukanya.Tatapan Jason tertuju pada wajahnya. Ada senyum tipis di bibirnya. "Ayo kita bicara?"Dia terdiam beberapa detik, lalu menunduk untuk mengemas perlengkapan medis. "Nggak.""Clara," panggilnya pelan.Saat dia mendongak dengan bingung, pria itu
Setelah kembali ke Royal, Clara pergi mengunjungi Hansen di kamarnya. Setelah sekian lama, akhirnya Victor mengiriminya pesan: [Maaf, Clara. Bukannya aku nggak mau balas, tapi kondisi ibuku memburuk lagi.]Setelah membaca pesan itu, Clara langsung membalas: [Apa Ibu Angkat baik-baik saja?]Victor: [Nggak apa-apa. Dia sudah menerima perawatan. Oh ya, kamu di sana nggak ada masalah, 'kan?]Clara: [Nggak, kok. Jangan khawatir. Jaga baik-baik Ibu Angkat.]Mendengar suara langkah kaki di luar pintu, dia pun menyimpan ponselnya.Clara keluar dari kamar tidur dan mendengar suara dari ruang tamu. Dia berjalan ke sana dan berhenti di pembatas ruangan. Sebelum mendekat, dia mencium bau alkohol yang menyengat.Dua pengawal tengah membantu Jason duduk di sofa. Pria itu bersandar, merentangkan ibu jari dan keempat jarinya, lalu memijat pelipisnya.Anna meletakkan jasnya di sandaran kursi sofa. "Bagaimana kalau aku minta perawat buatkan sup pereda mabuk?"Pria itu tetap memejamkan mata. "Nggak perlu







