Share

Bab 2

Penulis: Darlene
Nyonya Ratna tertegun sejenak, lalu menoleh ke arahnya. "Bukan ini yang kamu katakan sewaktu membuat kesepakatan denganku. Kenapa? Kamu menyesal?"

Iya, dia menyesal.

Clara menundukkan pandangannya dan berusaha menahan kepahitan di matanya. "Maaf, aku sudah mengecewakan Nenek."

Nyonya Ratna memejamkan mata dan menghela napas. "Ya sudah. Kalau kamu mau cerai, ya cerai saja. Aku sudah kasih kamu kesempatan. Karena kamu nggak bisa bikin Jason jatuh cinta padamu, Keluarga Horman nggak berutang padamu lagi."

Hati Clara mendadak terasa pilu, lalu dia tertawa serak. "Terima kasih."

Sekembalinya di Vila Harmoni.

Di saat itu juga, Clara bertemu Jason, Sindy beserta anaknya di lantai bawah.

Keduanya kembali dengan mobil Jason.

Clara tertegun sejenak.

Sindy menatapnya dengan heran. "Dokter Clara? Kamu juga tinggal di Vila Harmoni?"

Dia refleks menatap Jason.

Jason bahkan tidak menunjukkan sikap apa pun.

Makin tenang pria itu, makin sakit pula hati Clara.

Vila Harmoni adalah kompleks perumahan mewah di pusat Kota Bovia. Ini juga merupakan salah satu aset Keluarga Horman. Rumah ini adalah kompensasi yang dijanjikan Jason padanya.

Lantaran dekat dengan rumah sakit, Clara pun menerimanya.

Namun, dia tidak menyangka Jason juga akan mengatur Sindy dan anaknya tinggal di sini.

Dia benar-benar tidak sabar lagi…

"Kebetulan sekali."

Clara menahan emosinya dan bersiap pergi. Sindy tiba-tiba berkata, "Dokter Clara, kudengar kamu sudah nikah. Kok nggak pernah lihat suamimu?"

Langkah Clara tiba-tiba membeku.

Suami?

Dia melirik Jason.

Tatapan Jason dipenuhi kesuraman.

Clara mendengus dalam hatinya. Apa Jason begitu takut Sindy tahu hubungan mereka?

Clara berkata dengan nada datar, "Aku nggak punya suami."

Tatapan mata Jason yang tadinya suram pun berubah lebih tenang.

"Nggak punya suami? Tapi bukannya Dokter Clara sudah menikah?" Sindy masih tersenyum.

Menikah…

Di resume rumah sakit, dia mencantumkan statusnya sebagai menikah.

Namun, tidak ada seorang pun yang pernah melihat suaminya.

Clara tersenyum. "Aku cuma iseng-iseng saja. Aku nggak punya suami."

Tidak punya suami?

Jason menyipitkan matanya.

Lantaran sudah mengundurkan diri dan memutuskan untuk pergi, Clara tidak tertarik mengungkapkan dirinya sudah menikah atau tidak.

Tidak repot-repot menggubris orang-orang di belakangnya, Clara pun berjalan memasuki gedung perumahan tanpa menoleh ke belakang.

...

Malam harinya.

Clara menyimpan semua barang-barang miliknya dan mengemas dua koper besar di ruang ganti.

Matanya tertuju pada bingkai foto pernikahan mereka. Di dalam foto itu, Clara mengenakan gaun pengantin dan menggamit lengan Jason dengan senyum menawan. Sangat kontras dengan Jason yang berwajah dingin.

Saat itu, Clara mengira Jason tidak suka tersenyum.

Walau hanya ada satu foto bersama, Clara sangat menghargainya.

Namun jika dilihat sekarang, semuanya penuh dengan ironi.

Jason bukan tidak suka tersenyum.

Clara hanya tidak pantas mendapatkan senyumannya.

Dia mengambil bingkai foto itu dan melihat untuk terakhir kalinya. Kemudian, memasukkannya ke dalam kotak kardus dan menyimpannya di ruang ganti bersama dengan barang-barangnya yang ditinggalkannya.

Saat keluar dari kamar tidur, dia mendengar suara gaduh dari ruang tamu.

Dia tahu Jason telah kembali.

Clara berjalan ke ruang tamu. Dia melihat Jason menggantung jasnya di gantungan pintu masuk dan mengganti sepatunya.

Clara menarik napas dalam-dalam dan berjalan mendekatinya. "Kamu nggak berencana menjelaskan masalah hari ini?"

Masalah Jason mengatur agar Sindy dan anaknya tinggal di Vila Harmoni.

Jason melepas dasinya. Tatapannya dingin. "Apa yang mau aku jelaskan?"

"Vila Harmoni dekat dengan rumah sakit. Kamu saja tinggal di sini, kenapa mereka nggak boleh?"

Jason menggantungkan dasinya di sikunya dan menatapnya. "Clara, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Jangan terlalu picik."

Kata-kata itu sungguh membuat hati Clara pedih.

Apa dia picik?

Ya, di mata Jason, Clara telah mendapatkan posisi Nyonya Horman. Sekarang dia masih ingin bersaing dengan Sindy dan anaknya. Bukankah itu namanya picik?

Jason bersiap masuk ke kamarnya, tetapi Clara menghentikannya dan berkata, "Ayo kita bicara."

Jason berhenti dan berbalik dengan tidak sabar. Dia menatap Clara dengan tatapan acuh tak acuh. "Ada apa lagi?"

"Kita cerai saja."

Clara perlahan melepas cincin nikahnya dan memegang di tangannya. "Aku kasih kamu kebebasan."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Suryat
ingat clara..perasaan gak bisa di paksakan
goodnovel comment avatar
Yani Suryani
Clara keren ... laki" brengsek kek gitu gak usah dipertahankan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 262

    Elma mengira dia telah mendengar percakapan mereka. Ekspresinya berubah canggung. Dia segera mencari alasan dan menyelinap pergi.Niel melipat tangannya dan bersandar di pintu. "Bagaimana kondisimu?""Sudah mendingan."Clara menatapnya dan bertanya, "Kudengar, kamu yang bawa aku ke rumah sakit?""Kalau nggak?" Niel berjalan ke jendela dan membuka tirai. "Dalam situasi seperti ini, kalau nggak bawa kamu ke rumah sakit, apa harus bawa kamu pulang ke rumah?"Clara tidak berbicara.Dia tidak menyangka Nando akan memperlakukannya seperti ini.Setelah diam-diam memberinya obat bius, selanjutnya apa yang akan dilakukan pria itu?Apa akan berakhir seperti situasi yang dibayangkannya?Niel sepertinya menyadari kebingungannya. Dia bersandar di jendela. "Dokter di departemen bilang dia membeli midazolam karena insomnia parah. Kamu juga tahu kalau obat semacam ini punya efek hipnotik dan sedatif. Efek obat ini bahkan lebih kuat kalau digiling menjadi bubuk dan diminum.""Aku memahaminya. Meski flu

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 261

    "Keluarga Horman sangat berkuasa. Kamu kira kamu bisa pergi semudah itu hanya dengan mengandalkan dirimu sendiri? Mereka pasti akan menemukanmu!" Nando tiba-tiba meraih tangannya.Dia terkejut dan mencoba menarik diri, tetapi pria itu malah mencengkeramnya lebih erat. "Aku punya cara agar dia melepaskanmu!""Kak Nando, lepaskan aku dulu!"Menyadari dirinya telah kehilangan kendali, Nando baru melepaskan tangannya.Clara mengusap pergelangan tangannya. Dia menyadari sikap Nando aneh hari ini, tetapi dia tidak bisa memastikan apa penyebabnya. "Aku bisa selesaikan sendiri masalahku dengan Jason."Nando perlahan melepaskan kepalan tangannya dan tersenyum getir. "Benar juga."Setelah menghabiskan minumannya, Clara merasa sedikit pusing dan mengantuk."Kamu kenapa?"Suara Nando bergema di telinganya, tetapi kelopak matanya makin berat. Dia ambruk ke atas meja sebelum sempat mengatakan apa pun.Ini persis seperti yang Nando harapkan.Bibir pria itu yang kering bergerak sedikit, seolah ingin b

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 260

    Jason menatap lurus ke depan. Wajahnya sangat muram. Usai mendengar itu, dia mengalihkan pandangannya ke Anna. "Suruh orang diam-diam mengawasinya. Jangan biarkan dia punya kesempatan untuk mendekati Clara."Sementara itu, Clara yang diundang ke rumah sakit umum terdekat untuk melakukan operasi malformasi arteriovenosa serebral, baru saja menyelesaikan operasinya.Kepala rumah sakit umum, Pak Suwandi, dan Pak Martin adalah teman lama. Saat dia dinas di Kota Bovia sebelumnya, Pak Martin merekomendasikan Clara padanya."Bu Clara, sudah merepotkanmu datang jauh-jauh dari rumah sakit distrik.""Nggak repot, kok. Pak Martin sangat baik kepadaku, jadi sudah seharusnya aku membantumu."Pak Suwandi mengantarnya sampai ke depan pintu dan berkata, "Kelak kalau Bu Clara membutuhkan sesuatu, rumah sakit kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk membantu."Mereka yang berkecimpung di industri ini sangat membutuhkan koneksi.Clara langsung setuju. "Baiklah!"Setelah Pak Suwandi kembali, Clara per

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 259

    Mengabaikan kemarahan di matanya, Sindy perlahan berdiri. "Aku bisa diam, tapi kamu harus lakukan satu hal untukku."Nando berkata dingin, "Sindy, kamu kira kamu bisa mengancamku?""Kalau kamu nggak mau, aku akan ungkapkan kebenarannya pada Clara."Begitu kata-kata itu dilontarkan, Nando tiba-tiba berdiri dan mencekiknya. "Coba saja kalau kamu berani!"Wajah Sindy memerah, seolah-olah akan mati lemas. Hanya saja, alih-alih merasa takut, matanya dipenuhi dengan kegilaan yang mengerikan. "Kalau kamu hebat, cekik saja aku sekarang.""Kamu kira aku nggak berani?""Kamu memang nggak berani." Sindy menggertakkan giginya. Urat-urat di dahinya menonjol dan matanya merah. "Kamu nggak dapatkan apa pun, apa kamu rela mengorbankan sisa hidupmu?"Nando terhenyak, lalu melonggarkan cengkeramannya.Setelah bisa bernapas lega, Sindy langsung telungkup di sofa sambil terbatuk-batuk.Nando membeku sejenak, lalu membelakanginya. "Apa lagi yang ingin kamu lakukan?""Aku tahu kamu punya hubungan baik sama

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 258

    Karena mengetahui hubungan mereka berdua, perawat itu mengira Jason khawatir akan membuat istrinya tidak senang, jadi dia tersenyum dan menyerahkan kotak obat pada Clara. "Nyonya Horman, kalau begitu, aku nggak ganggu kamu sama Tuan lagi."Setelah perawat itu pergi, Clara sempat mematung di tempat sejenak. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berjongkok di samping Jason, tanpa mengubah ekspresinya.Dia memperlakukan pria itu seperti pasiennya dan mengobati lukanya.Tak satu pun dari mereka yang berbicara. Keheningan yang mendalam menyelimuti tempat itu.Saat mengeluarkan pecahan kaca, dia bisa mendengar napas Jason yang sedikit terengah-engah, tetapi pria itu tidak mengeluh, meskipun kesakitan.Setelah mengoleskan obat, Clara pun membalut lukanya.Tatapan Jason tertuju pada wajahnya. Ada senyum tipis di bibirnya. "Ayo kita bicara?"Dia terdiam beberapa detik, lalu menunduk untuk mengemas perlengkapan medis. "Nggak.""Clara," panggilnya pelan.Saat dia mendongak dengan bingung, pria itu

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 257

    Setelah kembali ke Royal, Clara pergi mengunjungi Hansen di kamarnya. Setelah sekian lama, akhirnya Victor mengiriminya pesan: [Maaf, Clara. Bukannya aku nggak mau balas, tapi kondisi ibuku memburuk lagi.]Setelah membaca pesan itu, Clara langsung membalas: [Apa Ibu Angkat baik-baik saja?]Victor: [Nggak apa-apa. Dia sudah menerima perawatan. Oh ya, kamu di sana nggak ada masalah, 'kan?]Clara: [Nggak, kok. Jangan khawatir. Jaga baik-baik Ibu Angkat.]Mendengar suara langkah kaki di luar pintu, dia pun menyimpan ponselnya.Clara keluar dari kamar tidur dan mendengar suara dari ruang tamu. Dia berjalan ke sana dan berhenti di pembatas ruangan. Sebelum mendekat, dia mencium bau alkohol yang menyengat.Dua pengawal tengah membantu Jason duduk di sofa. Pria itu bersandar, merentangkan ibu jari dan keempat jarinya, lalu memijat pelipisnya.Anna meletakkan jasnya di sandaran kursi sofa. "Bagaimana kalau aku minta perawat buatkan sup pereda mabuk?"Pria itu tetap memejamkan mata. "Nggak perlu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status