Share

Bab 4

Author: Darlene
Tubuh Clara menegang. Dia memandang Jason dengan tidak percaya. "Aku menargetkannya?"

Jadi, Jason datang mencarinya karena masalah Sindy?

"Dia atasanmu. Apa pun yang terjadi, kamu nggak seharusnya mempermalukannya di depan banyak orang." Jason memperlakukannya dengan adil dan tidak ada sedikit pun kasih suami istri di dalamnya.

Clara menahan kepahitan di hatinya dan tiba-tiba tertawa. "Kamu pasti lupa kalau akulah dokter bedah utama. Bukannya aku punya hak ini?"

"Kalau begitu, kamu mungkin juga lupa," kata Jason dengan nada sinis. "Aku juga punya hak untuk mengganti dokter bedah."

Hati Clara serasa dihantam benda tumpul. Dia bergetar hebat.

Sayang sekali.

Dia sudah mengajukan permohonan pindah kerja.

Jason mau menggantinya atau tidak, bukan urusannya lagi.

"Kelak jangan…"

"Kalau Pak Jason mau ganti, silakan saja."

Clara menyelanya.

Senyum Jason membeku. Perlahan, tatapannya makin dalam.

Dulu, Clara hanya memanggilnya Pak Jason atau Tuan Jason saat berada di depan orang lain.

Kalau hanya mereka berdua saja, dia tidak akan menyebutnya seperti itu.

Wanita itu juga tidak akan menjauhkannya.

"Kamu panggil aku apa?"

"Pak Jason." Clara menjawab dengan tenang, "Bukannya kamu ingin aku memanggilmu seperti itu?"

Jason mengerutkan keningnya.

Tepat saat dia mau mengatakan sesuatu, seorang perawat tiba-tiba berlari keluar. "Dokter Clara, keluarga pasien entah kenapa malah bertengkar dengan Bu Sindy!"

Sebelum Clara sempat bereaksi, pria di sampingnya sudah meluncur begitu saja dan hanya memperlihatkan punggungnya.

Melihat betapa gugupnya Jason saat mengetahui Sindy dalam masalah, Clara tidak bisa menahan tawa...

Kapan Jason pernah gugup karena dirinya?

Entah apa alasannya, keluarga pasien mulai berdebat dengan Sindy di luar bangsal.

Saat Clara tiba, dia mendengar teriakan Sindy.

Dia menerobos kerumunan dan melihat Jason tengah melindungi Sindy. Pria itu mencegah keluarga pasien memukul Sindy. Sindy sendiri meringkuk ketakutan di pelukannya. Dia tampak kasihan.

Keluarga pasien jelas ketakutan oleh aura Jason. "Siapa…siapa kamu?"

Jason mendorong anggota keluarga pasien dan berkata, "Kalau ada masalah, kenapa nggak dibicarakan baik-baik? Mengapa harus menggunakan kekerasan?"

"Tanya saja padanya!" Keluarga pasien menunjuk Sindy dan berkata dengan marah, "Putraku baru saja dioperasi dan nyawanya terselamatkan. Sebagai seorang dokter, dia berani mengeluhkan luka putraku saat datang memeriksa. Kalau dia nggak tahan, buat apa dia jadi dokter?"

"Bukan begitu…" Sindy menggelengkan kepalanya dan menatap Jason dengan mata memerah. "Jason, aku salah makan tadi pagi. Perutku nggak nyaman, jadi aku baru mual. Bukan karena kondisi pasien."

Jason bergumam, "Serahkan saja padaku."

Jason memandang keluarga pasien dan berkata, "Dia lagi nggak enak badan, bukan sengaja. Begini saja. Biar aku yang tanggung biaya rawat inap pasien."

Mendengar hal itu, keluarga pasien yang mulanya tidak senang pun mendadak segan untuk mempermasalahkannya lagi. Mereka pun membiarkan masalah itu berlalu.

"Sialnya!" Keluarga pasien pun kembali ke bangsal.

"Maaf, Jason. Aku sudah merepotkamu," kata Sindy dengan nada bersalah. "Sebenarnya, kamu nggak perlu membantuku. Bagaimana kalau kamu terluka?"

Jason tersenyum dan berkata, "Yang penting kamu baik-baik saja."

"Bu Sindy, Pak Jason itu pacarmu, 'kan?"

Sindy menunduk dan tersipu malu. "Bukan. Kalian jangan sembarangan…"

"Masih bilang bukan. Lihat, betapa serasinya kamu dengan Pak Jason!"

Yang lainnya juga ikut bersorak dan menimpali.

Jason memandang ke arah kerumunan.

Tatapan Clara bertemu dengan pria itu. Hatinya terasa seperti dicubit seseorang dan penuh dengan kepahitan.

Betapa serasinya suaminya dengan wanita lain.

Buat apa dia tinggal di sini lagi?
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Sharira Nalanda
kan sdh mengajukan pindah ayok jangan lama2 segera aja pindah biar ga kebanyakan drama dg manusia manipulatif, masak seorang dokter kog lihat pasien mual2, harusnyaa ga ada alasan ga enak badan dong
goodnovel comment avatar
Nani Sumarni
ya tinggalkan saja laki2 brengsek seperti itu
goodnovel comment avatar
Yani Suryani
betul buat apa tinggal di atap yg sama jika hanya akan melihat drama bahkan Clara di anggap transparan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 444

    Clara tiba-tiba berhenti. Dia perlahan berbalik dan menatapnya. Ekspresi pria itu tetap tenang. Sikapnya yang sulit dipahami tetap misterius seperti biasanya.Sebelum dia sempat berbicara, Nyonya Hanifa yang kebetulan lewat di koridor luar, mengintip ke dalam dengan penasaran. "Pak Jason, Nyonya Horman, kenapa kalian berada di sini?"Sebelum dia sempat menjawab, Jason berkata dengan nada bercanda, "Istriku lama sekali di kamar mandi. Aku khawatir dia tersesat."Kata-kata itu membuat Nyonya Hanifa tertawa. "Pak Jason, jangan bercanda. Keluarga kami nggak sebesar itu. Tapi aku merasa Pak Jason sangatlah perhatian sama istri."Jason menoleh dan memandang Clara. Senyumnya penuh kasih sayang. "Memang benar."Clara memelototinya, lalu berjalan mendekati Nyonya Hanifa. "Maaf, sudah membuat lelucon di depan Nyonya.""Nggak kok. Suami istri memang seharusnya harmonis dan saling mencintai. Lagian, kalian masih muda."Clara hanya tersenyum dan tidak menanggapi perkataan itu lagi.Keduanya mengiku

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 443

    Nyonya Hanifa tersenyum dan berdiri. "Kebetulan sekali. Pak Jason juga datang." Selesai berbicara, dia kembali menatapnya. "Nyonya Horman yakin nggak datang bersama Pak Jason?"Clara memalingkan muka, lalu tersenyum canggung. "Hanya kebetulan saja.""Rupanya Nyonya Horman juga datang. Kebetulan sekali. Bagaimana kalau Pak Jason dan Nyonya Horman makan di rumah kami hari ini? Rumah kami sudah lama nggak seramai ini!" kata Pak Petra pada Nyonya Hanifa.Nyonya Hanifa tersenyum dan menjawab, "Kalau begitu, aku beri tahu orang dapur untuk menyiapkan makanan."Jason duduk di sebelah Pak Petra dan kebetulan posisinya berhadapan dengan Clara. Clara memalingkan muka, lalu mengambil cangkir teh di atas meja, dan menyesapnya."Nyonya Horman dan putriku sangat dekat. Kali ini kamu datang untuk putriku, 'kan?" Pak Petra tiba-tiba menatapnya.Clara terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Kupikir dia ada di rumah, jadi aku datang mencarinya.""Dia nggak di rumah, tapi Nyonya Horman bisa menghadiri pesta p

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 442

    Samuel terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mencengkeram dagunya dengan satu tangan. "Sayang sekali, tapi aku benar-benar nggak tahu bagaimana cara bersikap lembut pada wanita.""Aku akan bekerja sama dalam pernikahan nanti, jadi kembalikan ponselku!" Inara menahan air matanya. Matanya tampak berkaca-kaca, seolah akan hancur hanya dengan sentuhan ringan.Samuel menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Inara bukanlah wanita yang sangat cantik. Dibandingkan dengan wanita-wanita yang pernah bersamanya, Inara masih kurang menarik, tetapi penampilannya juga tidak buruk. Setidaknya, dia enak dipandang. Apalagi, sifatnya yang cerdik dan sedikit nakal yang dimilikinya merupakan sesuatu yang belum pernah dia temui sebelumnya.Setidaknya tidak ada sanjungan, tidak ada perasaan palsu ataupun sikap yang dibuat-buat.Untuk pertama kalinya, dia punya pemikiran tidak masuk akal seperti ini.Jika dia bisa melabuhkan hatinya dan menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya dengan Inara, itu juga aka

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 441

    "Kita sudah kenal begitu lama. Aku paling memahamimu. Bukankah kamu ingin menggunakan anak Samuel untuk mengendalikanku?" Heru perlahan berdiri dan berjalan ke arahnya. "Samuel nggak peduli sama anak itu, tapi aku berbeda. Bagaimanapun, dia satu-satunya keturunan Keluarga Ferdinand. Dia adalah cucu kandungku. Mungkin kelak belum tentu ada lagi."Julia berjalan ke samping dan duduk tanpa mengubah ekspresinya. "Putri Keluarga Sucipto bisa melahirkan cucu untukmu. Kenapa aku harus menggunakan anak itu untuk mengendalikanmu?""Bisa menunggu sampai dia melahirkan cucu untukku itu masalah lain." Heru berhenti di depannya, lalu tiba-tiba mencondongkan tubuh lebih dekat, dan mencibir. "Kalau nggak, bagaimana kalau kamu melahirkan putra untukku lagi? Di usiamu sekarang ini, seharusnya bukan hal mustahil, 'kan?""Kamu gila!" teriak Julia dengan marah.Dia sangat menolak dan enggan mengungkit masalah 'anak', karena akan mengingatkannya pada bayi yang lahir mati waktu itu.Heru menegakkan tubuhnya

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 440

    Polisi wanita itu dengan cepat menjatuhkan Sindy, lalu dua polisi lainnya tiba, menangkapnya, dan membawanya pergi secara paksa.Raungan histeris Sindy menjadi serak dan tidak nyaman didengar. Ternyata di saat emosi seseorang runtuh hingga ekstrem, raut wajah mereka akan menjadi ganas dan menakutkan seperti iblis.Setidaknya, matanya yang merah itu benar-benar membuat Clara ketakutan."Pak Jason, sudah waktunya pergi."Pengawal di belakangnya mengingatkannya.Jason tidak menjawab. Dia melirik orang yang ada di pelukannya, lalu tiba-tiba mengendongnya, dan melangkah pergi.Tempat parkir."Jason, kamu sudah boleh turunkan aku."Clara yang masih dalam gendongan pria itu, berbicara sambil menghindari tatapan orang-orang yang lewat. Pria itu tidak mengatakan apa pun dan menurunkannya.Peristiwa hari ini memang di luar dugaan Clara. Bahkan, bukti yang dimilikinya pun belum dipublikasikan. Sejak Sindy terluka dan dirawat di rumah sakit, semuanya telah diatur oleh tangan tersembunyi, bahkan me

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 439

    "Pengacara Leo, walau aku nggak tahu dari mana asal kekeliruanmu, tapi kalau kamu nggak bisa memberikan bukti, masalah ini akan memengaruhi reputasimu." Pengacara Shinta memutuskan untuk mengambil risiko dan bertaruh bahwa Pengacara Leo tidak punya bukti yang substansial.Lagi pula, jika manipulasi hasil tes terungkap, banyak orang yang akan terlibat. Dia tidak percaya bahwa orang-orang di Biro Kehakiman akan sebodoh itu hingga mempertaruhkan reputasi dan masa depan mereka sendiri.Menghadapi sikapnya yang agresif, Pengacara Leo tetap tenang. Tak lama kemudian, seorang menteri dari Biro Kehakiman muncul di pengadilan sebagai saksi.Begitu melihat wajah orang itu dengan jelas, Julia tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.Pengacara Shinta baru menyadari sesuatu saat ini. Ketenangannya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa panik dan kekhawatiran bahwa kebenaran akan segera terungkap.Hakim bertanya kepada saksi, "Dari dua hasil tes di layar, mana yang asli?"Menteri Kehakiman menelan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status