Share

Bab 7

Penulis: Darlene
Setelah sampai ke ke rumah sakit, Clara pun pergi memeriksa kondisi pasien. Saat keluarga pasien mengetahui bahwa dia adalah dokter bedah yang bertanggung jawab, mereka hampir berlutut untuk mengungkapkan rasa terima kasih.

Clara dan staf medis yang mengikutinya buru-buru menghentikan dan membantu agar keluarga pasien berdiri. "Apa yang kamu lakukan? Menyelamatkan nyawa pasien pada dasarnya sudah menjadi tugas kami."

"Kalau bukan karena Dokter, anakku pasti sudah meninggal. Dokter yang memberinya harapan untuk bertahan hidup. Aku sungguh berterima kasih." Ibu pasien yang sudah lanjut usia itu menangis tersedu-sedu, bercampur antara gembira dan sedih karena anaknya selamat dari bencana itu.

Sebagai dokter, mereka terbiasa melihat kehidupan dan kematian. Bisa menyelamatkan nyawa dari tangan maut merupakan anugerah besar bagi mereka.

Setelah dioperasi, pasien kini telah melewati masa kritis dan juga tidak mengalami gejala sisa, yang mana termasuk sebuah berkah.

Clara memapah ibu pasien itu dan menghiburnya sejenak. Setelah memberinya beberapa arahan, dia pun meninggalkan bangsal bersama staf medis.

Saat kembali ke ruangannya, Clara tiba-tiba menerima telepon dari ayahnya.

Setelah ragu sejenak, dia pun menjawab panggilan itu.

"Clara, bisa nggak kamu pulang ke rumah bersama Jason?"

Clara samar-samar bisa menebak sesuatu. Raut wajahnya tampak tidak senang. "Kalau ada masalah, katakan saja langsung."

"Kok kamu bicara seperti itu? Kalau nggak ada masalah, memangnya kalian nggak boleh pulang? Pokoknya, kalian harus pulang sore nanti."

Sebelum Clara sempat menolak, ayahnya sudah menutup telepon.

Jason sedang rapat di kantor. Dia menerima pesan dari Sindy. [Jason, Stefan sudah mulai masuk TK. Terima kasih. Kalau bukan kamu, Stefan pasti nggak bisa sekolah.]

Dia melirik sekilas, lalu mengetuk layar dengan ujung jarinya, dan membalas. [Nggak apa-apa.]

Saat membuka Whastapp, matanya tiba-tiba tertuju pada kotak obrolan Clara.

Dia baru menyadari bahwa pesan terakhir yang dikirim Clara adalah pada tanggal delapan bulan lalu.

Saat itu, Clara menanyakan apa Jason akan datang di akhir pekan?

Pria itu tidak membalas.

Sampai sekarang, Clara tidak mengiriminya pesan lagi.

Pintar menahan diri juga.

Sore harinya.

Clara berdiri lama di luar pintu kediaman Sengadi. Dia tampak ragu sebelum masuk. Saat ibunya melihatnya, dia tersenyum dan menyambutnya. "Clara, kamu sudah kembali."

Ibunya melihat ke luar pintu lagi.

Ada sedikit ekspresi kecewa di wajahnya.

Clara sudah menyadari hal itu dari awal. Dia hanya berkata dengan nada datar, "Nggak perlu dilihat lagi. Hanya aku sendirian saja."

Saat mendengar itu, senyum ibunya sedikit membeku.

Ayahnya Clara juga berjalan keluar. Lantaran tidak melihat Jason, dia agak kesal. "Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk memanggil Jason juga?"

"Dia nggak punya waktu."

"Nggak punya waktu apanya? Dia suamimu! Suami istri mana yang nggak berbaikan setelah bertengkar? Kamu bahkan nggak bisa mengajak suamimu pulang makan. Dasar nggak berguna!"

Hati Clara terasa dingin.

Tidak ada seorang pun yang bisa memahaminya.

Bahkan, keluarganya sendiri juga begitu.

Ayahnya bahkan tidak menanyakan alasannya dan langsung memarahinya. Dia tidak berubah sedikit pun dalam enam tahun terakhir ini.

Teringat saat dia menikah dengan Jason, orang tuanya sangat gembira. Mereka bahkan menganggap mahar tidak penting.

Meski Keluarga Sengadi adalah keluarga terpandang dan tidak sebanding dengan Keluarga Horman, mereka juga lebih berkecukupan dari keluarga biasa. Awalnya, dia mengira orang tuanya mengerti dan dengan tulus berharap dia akan bahagia.

Namun setelah menikah, orang tuanya mulai memaksanya untuk meminta uang pada Jason dengan memanfaatkan status Nyonya Horman. Awalnya, uang itu hanya digunakan untuk membeli vila yang lebih besar dan mobil untuk Hansen Sengadi, adik laki-lakinya. Kemudian, bisnis ayahnya merugi dan meminta Jason untuk menebus kekurangannya.

Bagi orang tuanya, anak laki-laki lebih penting.

Sebaliknya, dia hanyalah alat yang digunakan orang tuanya untuk menguras uang dari suaminya yang kaya.

"Kalau begitu, maaf." Clara tersadar dan berkata dengan tenang, "Aku sudah mau cerai dengannya."

Begitu mendengar kata cerai, wajah ayahnya seketika berubah muram. Dia langsung menampar wajah putrinya.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Nurli Eriza
dimana2 cerita novel sama saja menikah krn perjodohan tdk diakui dan bertahan demi nenek,oma, opa dan sejenisnya. bertahan menderita bertahun2. diselingkuhi alasan cintama pertama. dan jadi bodoh, walau punya pendidikan dan jabTan tinggi.
goodnovel comment avatar
Ros
Clara kan sdh dpt persetujuan sm atasan nya utk pindah. Cepat2 aja pindah. Dan seblm pindah sempat kan cari pengacara minta dibikinin surat cerai. Jd pas Clara pergi, surat gugatan cerai yg sdh ditanda tangani Clara bs diserahkan ke Jason. Kan msh punya duit lah utk byr pengacara, dokter bedah loh.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 444

    Clara tiba-tiba berhenti. Dia perlahan berbalik dan menatapnya. Ekspresi pria itu tetap tenang. Sikapnya yang sulit dipahami tetap misterius seperti biasanya.Sebelum dia sempat berbicara, Nyonya Hanifa yang kebetulan lewat di koridor luar, mengintip ke dalam dengan penasaran. "Pak Jason, Nyonya Horman, kenapa kalian berada di sini?"Sebelum dia sempat menjawab, Jason berkata dengan nada bercanda, "Istriku lama sekali di kamar mandi. Aku khawatir dia tersesat."Kata-kata itu membuat Nyonya Hanifa tertawa. "Pak Jason, jangan bercanda. Keluarga kami nggak sebesar itu. Tapi aku merasa Pak Jason sangatlah perhatian sama istri."Jason menoleh dan memandang Clara. Senyumnya penuh kasih sayang. "Memang benar."Clara memelototinya, lalu berjalan mendekati Nyonya Hanifa. "Maaf, sudah membuat lelucon di depan Nyonya.""Nggak kok. Suami istri memang seharusnya harmonis dan saling mencintai. Lagian, kalian masih muda."Clara hanya tersenyum dan tidak menanggapi perkataan itu lagi.Keduanya mengiku

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 443

    Nyonya Hanifa tersenyum dan berdiri. "Kebetulan sekali. Pak Jason juga datang." Selesai berbicara, dia kembali menatapnya. "Nyonya Horman yakin nggak datang bersama Pak Jason?"Clara memalingkan muka, lalu tersenyum canggung. "Hanya kebetulan saja.""Rupanya Nyonya Horman juga datang. Kebetulan sekali. Bagaimana kalau Pak Jason dan Nyonya Horman makan di rumah kami hari ini? Rumah kami sudah lama nggak seramai ini!" kata Pak Petra pada Nyonya Hanifa.Nyonya Hanifa tersenyum dan menjawab, "Kalau begitu, aku beri tahu orang dapur untuk menyiapkan makanan."Jason duduk di sebelah Pak Petra dan kebetulan posisinya berhadapan dengan Clara. Clara memalingkan muka, lalu mengambil cangkir teh di atas meja, dan menyesapnya."Nyonya Horman dan putriku sangat dekat. Kali ini kamu datang untuk putriku, 'kan?" Pak Petra tiba-tiba menatapnya.Clara terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Kupikir dia ada di rumah, jadi aku datang mencarinya.""Dia nggak di rumah, tapi Nyonya Horman bisa menghadiri pesta p

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 442

    Samuel terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mencengkeram dagunya dengan satu tangan. "Sayang sekali, tapi aku benar-benar nggak tahu bagaimana cara bersikap lembut pada wanita.""Aku akan bekerja sama dalam pernikahan nanti, jadi kembalikan ponselku!" Inara menahan air matanya. Matanya tampak berkaca-kaca, seolah akan hancur hanya dengan sentuhan ringan.Samuel menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Inara bukanlah wanita yang sangat cantik. Dibandingkan dengan wanita-wanita yang pernah bersamanya, Inara masih kurang menarik, tetapi penampilannya juga tidak buruk. Setidaknya, dia enak dipandang. Apalagi, sifatnya yang cerdik dan sedikit nakal yang dimilikinya merupakan sesuatu yang belum pernah dia temui sebelumnya.Setidaknya tidak ada sanjungan, tidak ada perasaan palsu ataupun sikap yang dibuat-buat.Untuk pertama kalinya, dia punya pemikiran tidak masuk akal seperti ini.Jika dia bisa melabuhkan hatinya dan menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya dengan Inara, itu juga aka

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 441

    "Kita sudah kenal begitu lama. Aku paling memahamimu. Bukankah kamu ingin menggunakan anak Samuel untuk mengendalikanku?" Heru perlahan berdiri dan berjalan ke arahnya. "Samuel nggak peduli sama anak itu, tapi aku berbeda. Bagaimanapun, dia satu-satunya keturunan Keluarga Ferdinand. Dia adalah cucu kandungku. Mungkin kelak belum tentu ada lagi."Julia berjalan ke samping dan duduk tanpa mengubah ekspresinya. "Putri Keluarga Sucipto bisa melahirkan cucu untukmu. Kenapa aku harus menggunakan anak itu untuk mengendalikanmu?""Bisa menunggu sampai dia melahirkan cucu untukku itu masalah lain." Heru berhenti di depannya, lalu tiba-tiba mencondongkan tubuh lebih dekat, dan mencibir. "Kalau nggak, bagaimana kalau kamu melahirkan putra untukku lagi? Di usiamu sekarang ini, seharusnya bukan hal mustahil, 'kan?""Kamu gila!" teriak Julia dengan marah.Dia sangat menolak dan enggan mengungkit masalah 'anak', karena akan mengingatkannya pada bayi yang lahir mati waktu itu.Heru menegakkan tubuhnya

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 440

    Polisi wanita itu dengan cepat menjatuhkan Sindy, lalu dua polisi lainnya tiba, menangkapnya, dan membawanya pergi secara paksa.Raungan histeris Sindy menjadi serak dan tidak nyaman didengar. Ternyata di saat emosi seseorang runtuh hingga ekstrem, raut wajah mereka akan menjadi ganas dan menakutkan seperti iblis.Setidaknya, matanya yang merah itu benar-benar membuat Clara ketakutan."Pak Jason, sudah waktunya pergi."Pengawal di belakangnya mengingatkannya.Jason tidak menjawab. Dia melirik orang yang ada di pelukannya, lalu tiba-tiba mengendongnya, dan melangkah pergi.Tempat parkir."Jason, kamu sudah boleh turunkan aku."Clara yang masih dalam gendongan pria itu, berbicara sambil menghindari tatapan orang-orang yang lewat. Pria itu tidak mengatakan apa pun dan menurunkannya.Peristiwa hari ini memang di luar dugaan Clara. Bahkan, bukti yang dimilikinya pun belum dipublikasikan. Sejak Sindy terluka dan dirawat di rumah sakit, semuanya telah diatur oleh tangan tersembunyi, bahkan me

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 439

    "Pengacara Leo, walau aku nggak tahu dari mana asal kekeliruanmu, tapi kalau kamu nggak bisa memberikan bukti, masalah ini akan memengaruhi reputasimu." Pengacara Shinta memutuskan untuk mengambil risiko dan bertaruh bahwa Pengacara Leo tidak punya bukti yang substansial.Lagi pula, jika manipulasi hasil tes terungkap, banyak orang yang akan terlibat. Dia tidak percaya bahwa orang-orang di Biro Kehakiman akan sebodoh itu hingga mempertaruhkan reputasi dan masa depan mereka sendiri.Menghadapi sikapnya yang agresif, Pengacara Leo tetap tenang. Tak lama kemudian, seorang menteri dari Biro Kehakiman muncul di pengadilan sebagai saksi.Begitu melihat wajah orang itu dengan jelas, Julia tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.Pengacara Shinta baru menyadari sesuatu saat ini. Ketenangannya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa panik dan kekhawatiran bahwa kebenaran akan segera terungkap.Hakim bertanya kepada saksi, "Dari dua hasil tes di layar, mana yang asli?"Menteri Kehakiman menelan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status