Share

Bab 6

Penulis: Darlene
"Kamu sudah umur berapa? Kenapa masih bertengkar dengan anak kecil?"

Clara tertegun. Dia tahu Jason tidak akan percaya padanya, tetapi sifat pilih kasih yang ditunjukkan pria itu tetap saja menyakitinya.

Matanya penuh dengan rasa sakit. Dia berusaha menahan air matanya. "Aku sama sekali nggak mendorongnya!"

Jason tertawa. "Maksudmu, anak sekecil ini sengaja jatuh sendiri untuk menjebakmu?"

Hati Clara bergetar.

Jelas-jelas dia tahu Jason tidak akan memercayainya, mengapa dia masih ngotot menjelaskan?

Clara menundukkan pandangannya dan mencoba menenangkan diri. "Anggap saja aku sial bertemu dengan kalian. Sudah puas?"

Dia pun berbalik dan mau pergi.

"Berhenti."

Langkah Clara terhenti sejenak, tetapi dia tidak menoleh ke belakang.

"Stefan cuma anak kecil, buat apa perhitungan sama dia?" kata Jason dengan nada lebih lembut. "Minta maaflah pada Stefan."

"Jason, kalau nggak, lupakan saja…" Sindy membantunya berbicara.

Tatapan Jason tampak dingin. "Kalau salah ya harus minta maaf."

Clara mengepalkan jari-jarinya erat hingga kukunya hampir menancap di telapak tangannya, tetapi dia sepertinya melupakan rasa sakitnya.

Dia perlahan berbalik, menatap Jason, dan menunjuk kamera CCTV di bawah lampu jalan, yang letaknya tidak jauh dari sana. "Vila Harmoni penuh dengan kamera CCTV. Sebelum kamu sok jadi pahlawan, bisa nggak periksa kamera CCTV nya dulu?"

"Kalau di rekaman CCTV itu terbukti aku melakukan kesalahan, aku bisa minta maaf. Tapi kalau aku nggak salah, jangan harap aku minta maaf!"

Clara tidak menatapnya lagi dan langsung pergi.

Dada Jason tiba-tiba terasa sesak. Ekspresi wajahnya menjadi gelap.

Sindy barusan sempat panik karena Clara tiba-tiba menyebut kamera CCTV. Dia takut Jason akan memeriksa kamera CCTV. Dia pun menarik Jason dan berkata, "Jason, lupakan saja. Stefan nggak terluka kok. Aku yakin Dokter Clara juga nggak sengaja melakukannya."

Pokoknya, jangan biarkan Jason pergi memeriksa rekaman CCTV. Dia segera mengganti topik pembicaraan. "Jason, Stefan sudah mau terlambat. Ayo kita pergi dulu."

Jason menarik lengannya dan berkata, "Aku sudah beri tahu kepala sekolah. Kamu bisa bawa Stefan ke sana. Dia akan atur semuanya. Aku masih ada rapat."

Pria itu langsung masuk ke dalam mobil.

Saat melihat mobil Jason melaju pergi begitu saja, Sindy langsung mengencangkan tangannya, tetapi dia lupa dia masih memegang Stefan.

"Ibu, tanganku sakit."

Tangan Stefan sakit karena ditekan oleh ibunya.

Sindy baru tersadar, lalu perlahan berjongkok dan memegang bahu anaknya. Raut wajahnya tampak bangga. "Stefan, kamu melakukannya dengan baik kali ini. Bagus!"

"Benarkah?" Mata Stefan berbinar.

Dia tidak mengerti apa-apa.

Dia hanya tahu, asalkan yang dia lakukan bisa membuat ibunya senang dan mendapat pujian, itu adalah hal yang baik.

Sindy tersenyum dan membelai wajahnya dengan lembut. "Stefan, kamu juga ingin Om menjadi ayahmu, 'kan?"

Stefan menganggukkan kepalanya dengan senang.

Senyum Sindy makin dingin. "Jadi, kamu harus bikin Om senang dan membuatnya makin suka padamu. Kamu mengerti?"

Stefan mengangguk. "Aku pasti bisa!"

Jason baru saja tiba di kantor. Asistennya, Anna Pratama, menghampirinya dan berkata, "Pak Jason, Nyonya Besar Ratna sedang menunggumu di ruangan."

Jason mengangguk dan berjalan masuk ke ruangannya.

Nyonya Besar Ratna duduk di sofa sambil menyesap minumannya dengan anggun. Dia mengangkat pandangannya dan menatap orang yang mendekat. "Kudengar kamu yang mengatur Sindy untuk bekerja di rumah sakit yang sama dengan Clara?"

Jason melonggarkan dasinya dan duduk di sofa di depannya. "Clara yang mengadu pada Nenek?"

Nyonya Besar Ratna meletakkan gelas dengan kasar dan berkata dengan tegas, "Jason, jangan terus-terusan mencurigai istrimu. Apa Clara begitu suka mengadu?"

Jason tersenyum cuek. "Memangnya bukan?"

"Aku masih belum lupa bagaimana Clara bisa menjadi menantu Keluarga Horman dan bagaimana Nenek memaksaku menikahinya."

Ekspresi Nyonya Besar Ratna berubah muram. Ada sedikit seringai tersirat di wajahnya. "Kalau benar dia yang mengadu, apa Sindy masih punya kesempatan untuk pulang ke tanah air?"

Jason terdiam sejenak, lalu menatap Nyonya Besar Ratna sambil berkata, "Jangan sentuh dia lagi."

Nyonya Besar Ratna tertawa terbahak-bahak. "Dia menerima 20 miliar-ku dan berjanji akan meninggalkanmu. Apa bagusnya wanita yang hanya mementingkan keuntungan dan melupakan kesetiaan sepertinya?"

"Kalau Nenek nggak mempersulitnya, apa dia akan pergi?"

"Kamu..." Nyonya Besar Ratna tiba-tiba tertawa saat teringat sesuatu dan perlahan berdiri. "Jason oh Jason. Kamu sudah salah menilai orang. Suatu hari, kamu akan menyesal. Aku nggak akan ikut campur urusanmu dengan Clara lagi. Kalau mau cerai, ya cerai saja. Kamu atur sendiri saja."

Nyonya Besar Ratna berjalan keluar dari ruangannya.

Rahang Jason bergerak. Alisnya juga berkerut.

Dia menyesal?

Mana mungkin dia bisa menyesal?

Clara mendapatkan kekayaan dan kejayaan yang diinginkannya. Apa wanita itu tega meninggalkannya?

Tidak, Clara tidak akan meninggalkannya.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Raya
ini ceritanya hampir sama KY cerita Adrian dan sahana
goodnovel comment avatar
Any khio
jason gk mau cerai dengan clara dan gk mau clara meninggalkn nya tapi jason gk menghargai clara malah membela sindy
goodnovel comment avatar
Yani Suryani
suka pemeran utamanya tegas, cerdas
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 444

    Clara tiba-tiba berhenti. Dia perlahan berbalik dan menatapnya. Ekspresi pria itu tetap tenang. Sikapnya yang sulit dipahami tetap misterius seperti biasanya.Sebelum dia sempat berbicara, Nyonya Hanifa yang kebetulan lewat di koridor luar, mengintip ke dalam dengan penasaran. "Pak Jason, Nyonya Horman, kenapa kalian berada di sini?"Sebelum dia sempat menjawab, Jason berkata dengan nada bercanda, "Istriku lama sekali di kamar mandi. Aku khawatir dia tersesat."Kata-kata itu membuat Nyonya Hanifa tertawa. "Pak Jason, jangan bercanda. Keluarga kami nggak sebesar itu. Tapi aku merasa Pak Jason sangatlah perhatian sama istri."Jason menoleh dan memandang Clara. Senyumnya penuh kasih sayang. "Memang benar."Clara memelototinya, lalu berjalan mendekati Nyonya Hanifa. "Maaf, sudah membuat lelucon di depan Nyonya.""Nggak kok. Suami istri memang seharusnya harmonis dan saling mencintai. Lagian, kalian masih muda."Clara hanya tersenyum dan tidak menanggapi perkataan itu lagi.Keduanya mengiku

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 443

    Nyonya Hanifa tersenyum dan berdiri. "Kebetulan sekali. Pak Jason juga datang." Selesai berbicara, dia kembali menatapnya. "Nyonya Horman yakin nggak datang bersama Pak Jason?"Clara memalingkan muka, lalu tersenyum canggung. "Hanya kebetulan saja.""Rupanya Nyonya Horman juga datang. Kebetulan sekali. Bagaimana kalau Pak Jason dan Nyonya Horman makan di rumah kami hari ini? Rumah kami sudah lama nggak seramai ini!" kata Pak Petra pada Nyonya Hanifa.Nyonya Hanifa tersenyum dan menjawab, "Kalau begitu, aku beri tahu orang dapur untuk menyiapkan makanan."Jason duduk di sebelah Pak Petra dan kebetulan posisinya berhadapan dengan Clara. Clara memalingkan muka, lalu mengambil cangkir teh di atas meja, dan menyesapnya."Nyonya Horman dan putriku sangat dekat. Kali ini kamu datang untuk putriku, 'kan?" Pak Petra tiba-tiba menatapnya.Clara terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Kupikir dia ada di rumah, jadi aku datang mencarinya.""Dia nggak di rumah, tapi Nyonya Horman bisa menghadiri pesta p

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 442

    Samuel terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mencengkeram dagunya dengan satu tangan. "Sayang sekali, tapi aku benar-benar nggak tahu bagaimana cara bersikap lembut pada wanita.""Aku akan bekerja sama dalam pernikahan nanti, jadi kembalikan ponselku!" Inara menahan air matanya. Matanya tampak berkaca-kaca, seolah akan hancur hanya dengan sentuhan ringan.Samuel menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Inara bukanlah wanita yang sangat cantik. Dibandingkan dengan wanita-wanita yang pernah bersamanya, Inara masih kurang menarik, tetapi penampilannya juga tidak buruk. Setidaknya, dia enak dipandang. Apalagi, sifatnya yang cerdik dan sedikit nakal yang dimilikinya merupakan sesuatu yang belum pernah dia temui sebelumnya.Setidaknya tidak ada sanjungan, tidak ada perasaan palsu ataupun sikap yang dibuat-buat.Untuk pertama kalinya, dia punya pemikiran tidak masuk akal seperti ini.Jika dia bisa melabuhkan hatinya dan menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya dengan Inara, itu juga aka

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 441

    "Kita sudah kenal begitu lama. Aku paling memahamimu. Bukankah kamu ingin menggunakan anak Samuel untuk mengendalikanku?" Heru perlahan berdiri dan berjalan ke arahnya. "Samuel nggak peduli sama anak itu, tapi aku berbeda. Bagaimanapun, dia satu-satunya keturunan Keluarga Ferdinand. Dia adalah cucu kandungku. Mungkin kelak belum tentu ada lagi."Julia berjalan ke samping dan duduk tanpa mengubah ekspresinya. "Putri Keluarga Sucipto bisa melahirkan cucu untukmu. Kenapa aku harus menggunakan anak itu untuk mengendalikanmu?""Bisa menunggu sampai dia melahirkan cucu untukku itu masalah lain." Heru berhenti di depannya, lalu tiba-tiba mencondongkan tubuh lebih dekat, dan mencibir. "Kalau nggak, bagaimana kalau kamu melahirkan putra untukku lagi? Di usiamu sekarang ini, seharusnya bukan hal mustahil, 'kan?""Kamu gila!" teriak Julia dengan marah.Dia sangat menolak dan enggan mengungkit masalah 'anak', karena akan mengingatkannya pada bayi yang lahir mati waktu itu.Heru menegakkan tubuhnya

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 440

    Polisi wanita itu dengan cepat menjatuhkan Sindy, lalu dua polisi lainnya tiba, menangkapnya, dan membawanya pergi secara paksa.Raungan histeris Sindy menjadi serak dan tidak nyaman didengar. Ternyata di saat emosi seseorang runtuh hingga ekstrem, raut wajah mereka akan menjadi ganas dan menakutkan seperti iblis.Setidaknya, matanya yang merah itu benar-benar membuat Clara ketakutan."Pak Jason, sudah waktunya pergi."Pengawal di belakangnya mengingatkannya.Jason tidak menjawab. Dia melirik orang yang ada di pelukannya, lalu tiba-tiba mengendongnya, dan melangkah pergi.Tempat parkir."Jason, kamu sudah boleh turunkan aku."Clara yang masih dalam gendongan pria itu, berbicara sambil menghindari tatapan orang-orang yang lewat. Pria itu tidak mengatakan apa pun dan menurunkannya.Peristiwa hari ini memang di luar dugaan Clara. Bahkan, bukti yang dimilikinya pun belum dipublikasikan. Sejak Sindy terluka dan dirawat di rumah sakit, semuanya telah diatur oleh tangan tersembunyi, bahkan me

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 439

    "Pengacara Leo, walau aku nggak tahu dari mana asal kekeliruanmu, tapi kalau kamu nggak bisa memberikan bukti, masalah ini akan memengaruhi reputasimu." Pengacara Shinta memutuskan untuk mengambil risiko dan bertaruh bahwa Pengacara Leo tidak punya bukti yang substansial.Lagi pula, jika manipulasi hasil tes terungkap, banyak orang yang akan terlibat. Dia tidak percaya bahwa orang-orang di Biro Kehakiman akan sebodoh itu hingga mempertaruhkan reputasi dan masa depan mereka sendiri.Menghadapi sikapnya yang agresif, Pengacara Leo tetap tenang. Tak lama kemudian, seorang menteri dari Biro Kehakiman muncul di pengadilan sebagai saksi.Begitu melihat wajah orang itu dengan jelas, Julia tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.Pengacara Shinta baru menyadari sesuatu saat ini. Ketenangannya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa panik dan kekhawatiran bahwa kebenaran akan segera terungkap.Hakim bertanya kepada saksi, "Dari dua hasil tes di layar, mana yang asli?"Menteri Kehakiman menelan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status