공유

Jalan Tuhan

작가: EnKa Jasmine
last update 게시일: 2021-10-09 11:25:33

“Hai...” sapaku sambil melambaikan tangan. Gadis kecil itu tak membalas. Ia mendongak ke arah Mbak Nelly.

“Icha... ini Mbak Mey temannya Mbak,” ucap Mbak Nelly lembut. Gadis itu beralih menatapku lalu melambaikan tangan. “Hallo, Mbak... Aku  Icha.”

“Cha... sudah dibilangin, kalau habis main diberesin.” Suara wanita terdengar nyaring terdengar. Aku dan Mbak Nelly menoleh ke arah sumber suara, melihat seorang wanita di balik din

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Di Antara Tugas dan Hati

    Isak tangisku perlahan mereda, namun rasa sesak di dadaku belum juga menghilang. Kertas-kertas modul kuliah PAUD dan alat menggambar pemberian Arkan terhampar di atas meja kecil kamarku. Malam kian larut, tetapi mataku sama sekali tidak bisa terpejam.Tuduhan Erick dan tatapan kecewa Mbak Nisa tadi sore terus berputar di kepalaku bagaikan kaset rusak. Aku merasa begitu kerdil. Setiap kali aku berusaha berdiri tegak memperbaiki hidup lewat bekerja merawat Bu Wini dan menempuh kuliah PAUD selalu ada saja cara dari Erick untuk menyeretku kembali ke kubangan ketakutan.Ketukan pelan di pintu kamarku membuatku tersentak dari lamunan. Aku terburu-buru mengusap sisa air mata di pipiku, menata jilbab instan yang mengenakan, lalu membuka pintu sedikit.Arkan berdiri di sana. Pria itu sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaos polos berwarna hitam dan celana santai. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan berisi segelas susu hangat dan piring kecil berisi roti panggang.

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Perangkap di Ujung Sore

    Kampus sore itu dibasahi sisa-sisa air hujan. Selama empat jam duduk di ruang kuliah PAUD, pikiranku tak sepenuhnya fokus pada teori perkembangan kognitif anak yang dipaparkan dosen. Sebagian besar ruang di kepalaku justru dipenuhi oleh ingatan tentang sentuhan lembut tangan Arkan di puncak kepalaku tadi pagi, serta janji pria itu yang akan menjemputku sore ini.Saat jam perkuliahan berakhir, aku melangkah keluar menuju gerbang kampus. Sebuah mobil SUV hitam yang sangat kukenal sudah terparkir rapi di bawah naungan pohon trembesi.Arkan menurunkan kaca mobilnya, melambai pelan padaku. Wajahnya yang tegas dan tampan tampak sedikit lelah setelah menyelesaikan urusan bisnisnya seharian, namun binar matanya langsung menyala hangat begitu melihatku mendekat."Gimana kuliahnya hari ini?" tanya Arkan saat aku sudah duduk di sampingnya dan memasang sabuk pengaman."Lancar, Mas," jawabku tersenyum tipis. Aku merogoh tas ranselku, mengeluarkan sebuah buku sketsa ke

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Di Antara Dua Impian

    Sabtu pagi menyingsing dengan rintik hujan gerimis yang membasahi kaca jendela kamarku. Bagi kebanyakan orang, akhir pekan adalah waktu untuk beristirahat. Namun bagiku, Sabtu dan Minggu adalah perjuangan lain yang harus kutempuh demi menata potongan-potongan masa depanku yang sempat hancur.Sejak enam bulan lalu, dengan sisa tabungan dan izin dari Bu Wini, aku memutuskan mendaftar kuliah kelas karyawan di salah satu universitas swasta di Jakarta. Aku mengambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)—sebuah jurusan yang kupilih karena kerinduanku pada dunia anak-anak yang polos dan jujur, dunia yang tidak pernah menghakimi masa lalu siapa pun.Aku merapikan tas ransel hitamku, memasukkan beberapa buku modul perkembangan anak dan alat tulis. Di atas meja belajar kecilku, kotak alat menggambar pemberian Arkan kemarin tergeletak anggun. Ada perasaan hangat bercampur haru yang menyusup ke dadaku saat menatap set pensil warna dan sketsbook mahal itu.Dulu

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Cahaya di Tengah Ketakutan

    Prahara di meja makan kemarin meninggalkan bekas luka yang cukup dalam pada atmosfer rumah utama. Erick tak lagi berani terang-terangan melontarkan tuduhan di depan Bu Wini setelah diancam akan diusir. Namun, ketenangan ini terasa semu, bagaikan permukaan laut yang tenang tepat sebelum badai besar datang menerjang.Pagi itu, Mbak Nisa mendatangi dapur tempatku menyiapkan obat dan nutrisi pagi untuk Bu Wini. Wajah Mbak Nisa yang biasanya ramah dan lembut kini tampak diliputi keraguan. Perutnya yang makin membuncit membuat langkahnya agak berat."Mey," panggil Mbak Nisa pelan, berdiri di dekat counter dapur.Aku segera menghentikan aktivitas mengaduk susu kalsium dan menunduk hormat. "Iya, Mbak Nisa? Ada yang bisa saya bantu?"Mbak Nisa memperhatikan gerak-gerikku sebentar, lalu menghela napas panjang. "Soal kejadian kemarin di meja makan... Mbak minta maaf ya kalau Mas Erick bicara terlalu keras padamu."Aku tersentak pelan. Tak menduga Mbak Nisa ak

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Racun di Meja Makan

    Pagi hari di rumah utama biasanya diliputi keheningan yang menenangkan, diselingi aroma kopi hangat dan gemericik air manjur di kolam tengah. Namun, pagi ini suasana di meja makan terasa begitu mencekik.Aku berdiri di dekat pintu penghubung pantry, memegang baki berisi cangkir teh herbal hangat untuk Bu Wini. Di meja makan kayu jati yang luas itu, Bu Wini duduk di ujung meja, didampingi Mbak Nisa yang tampak pucat dengan perut kehamilannya yang membuncit. Di seberangnya, Erick duduk bersedekap dada dengan wajah yang dipoles senyum miring yang teramat licik.Arkan melangkah masuk ke ruang makan dengan kemeja kerja berwarna abu-abu gelap yang rapi. Langkah kakinya yang tegap dan berirama seketika menarik perhatian semua orang di ruangan itu."Pagi, Bu," sapa Arkan singkat seraya mencium tangan ibunya penuh hormat, lalu mengambil posisi duduk di sebelah Bu Wini."Pagi, Arkan," sahut Bu Wini lembut.Sebelum Arkan sempat meraih cangkir kopinya, Erick b

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Rencana baru Erick

    Gertakan Erick di dapur pagi itu meninggalkan gema kegelisahan di dalam dadaku. Namun, ada satu hal yang berbeda kali ini: aku tidak lagi merasa sendirian. Benteng ketakutan yang biasanya memenjarakanku perlahan-lahan runtuh, digantikan oleh rasa percaya yang makin mengakar kuat pada sosok pria tegap yang berdiri di depanku.Arkan tidak membiarkan kecurigaan Erick merusak harinya. Setelah memastikan kondisi Bu Wini stabil dan meminum obatnya, Arkan memintaku menemuinya di taman belakang rumah utama. Tempat di mana bunga-bunga bougenville milik Bu Wini sedang mekar lebat.Sore itu, matahari meluncur pelan di ufuk barat, membiaskan warna keemasan yang hangat di sepanjang teras belakang.Aku duduk di kursi kayu taman, memangku buku sketsa tebal bercover kulit yang diberikan Arkan beberapa hari lalu. Jemariku yang tadinya gemetar kini bergerak lebih luwes, menggoreskan pensil 2B di atas kertas tekstur padat. Di hadapanku, Arkan duduk di kursi berhadapan, be

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Nasi Kotak Pengantar Rindu

    Aku duduk di lantai, meluruskan kaki sambil menyandarkan punggung di dinding teras kosku. Seharian penuh keliling kota Jakarta, membuat kaki terasa kaku, belum lagi lecet di kaki karena terhimpit flatshoes yang kupakai tanpa kaus kaki. Meskipun begitu, belum juga ada ha

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Kesempatan

    Aku mengusap peluh yang membahasi kening dengan punggung tanganku. Sudah hampir tengah hari, namun belum juga ada satupun perusahaan yang menerimaku. Apalagi hanya dengan ijazah SMA tanpa embel-embel sertifikat ketrampilan.Aku duduk di samping taman, salah satu perusahaan ternama di Jakar

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Laki-laki itu

    Aku memijit pelipis yang terasa berdenyut. Sudah beberapa hari menunggu, namun tak ada satupun jawaban dari teman-teman terdekatku tentang lowongan pekerjaan yang aku cari. Jangankan menjawab ada juga yang hanya me-read pesan dariku. Kuletakkan kembali dompet yang hanya tersisa dua lemba

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Maaf

    Aku melempar kaleng minum bekas minumku ke dalam tempat sampah di sudut kamarku. Tempat sampah berbahan plastik itu hampir penuh dengan plastik-plastik bekas snack. Sudah tiga hari kubiarkan menumpuk di sudut ruang. Jika kak Dini melihatnya sudah pasti dia akan mengelus dada. Sebenarnya aku bukan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status