Share

Kesempatan

Author: EnKa Jasmine
last update publish date: 2021-06-15 20:03:25

Aku mengusap peluh yang membahasi kening dengan punggung tanganku. Sudah hampir tengah hari, namun belum juga ada satupun perusahaan yang menerimaku. Apalagi hanya dengan ijazah SMA tanpa embel-embel sertifikat ketrampilan.

Aku duduk di samping taman, salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Dan ini adalah perusahaan ke-10 yang aku datangi. Aku meneguk sebotol air mineral yang kubeli dari pedagang keliling saat di halte tadi. Dinginnya air mineral mampu menyiram tenggorokanku yang kering. Sekering harapanku saat ini. Ternyata memang tak mudah hidup jauh dari orang tua.

Aku kembali beranjak. Kembali menulusuri trotoar mencoba mencari keberuntungan pada  setiap jengkal yang kulalui. Mataku menyapu setiap gedung yang kulalui berharap ada harapan yang bisa kugantungkan di sana. Aku menoleh kearah restoran Jepang di depanku. Dulu tempat ini bisa saja dengan mudah kukunjungi hampir tiap malam. Tapi, sekarang ... Ah, rasanya mustahil. Jangankan untuk duduk sambil makan di sana membayangkannya saja rasanya mustahil.

“Auch...” pekik seorang wanita yang tanpa sengaja menabrakku. Aku tersadar dari lamunanku setelah dengan jelas mendengar pekikannya.

“Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja,” ucapku memohon. Kulihat dia mengibas-kibaskan roknya yang basah karena es yang ia pegang tumpah ke roknya.

“Duh, basah. Enggak apa-apa, aku juga salah kok,” balasnya tanpa melihat ke arahku.

“Sekali lagi maaf ya, Mbak.” Aku jadi semakin tidak enak padanya, melihat pakaian dan aksesoris yang ia pakai. Ia terlihat seperti wanita berkelas. Dia mengusap rok mininya dengan tisu, lalu menoleh ke arahku. Ia terkesiap sesaat begitu pandangan kami bertemu . Begitu juga denganku.

“Hey, Mey ‘kan?” Seorang wanita dengan rambut panjang bergelombang tersenyum lebar padaku.

“Chris!” tawa kami pecah seketika. “Kamu ngapain di sini?” tanyaku.

“Ya, makanlah,” jawabnya. Bodoh banget, sudah jelas dia keluar dari restoran, malah aku menanyakan hal itu.

“Lo sediri ngapain?” Dia menatap penampilanku yang tak seperti biasanya. Celana panjang dengan atasan hem. Dan rambut yang kuikat kuda. Sangat jauh dari style  yang biasa aku gunakan.

Belum juga kujawab, dia menarik tanganku masuk ke dalam restoran. “Kita ngobrol di dalam saja. Sudah lama kan tidak ngobril bareng?”

“Tapi, Chris?” Aku ingin mencegahnya. Tapi, langkahnya terlalu cepat. Hingga langkah kami lebih dulu sampai di dalam restoran sebelum ucapanku selesai. Apalagi perutku dengan tak tahu malunya berbunyi di depan Christy. Membuat pipiku memerah karenanya. Asupan tenaga dari mie instan tadi pagi sepertinya sudah hilang dari tubuhku.

“Tu ‘kan? Lo lapar,” ujar Christy semakin membuatku malu.

Aku melihat menu makanan yang tertera di sana. Kuteguk saliva dengan susah payah melihat harga menu yang tak sampai untuk ukuran dompetku saat ini.

“Saya lemon tea aja ya, Mas, esnya dikit aja,” ujar Christy. Ia menutup buku menunya dan mengembalikanya kepada waitress. “Lo mau pesen apa, Mey?” tanya Christy menatapku yang hanya membolak-balikan buku.

“Enggak usah sungkan. Gue udah makan tadi, makanya pesen minuman aja, biar bisa ngobrol sama Lo,” ucapnya.

Aku tersenyum mendapat perhatian kecil darinya. Chris adalah salah satu teman dekatku selain Angel waktu masih bekerja di Club. Berbeda denganku yang masih hidup dengan kasih sayang orang tua lengkap. Chris hidup sebatang kara sejak umur belasan tahun. Kerasnya kehidupan di ibu kota memaksanya untuk bekerja dengan cara yang mudah tak cepat. Ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya hidup hingga biaya SMA pun ia dapat dari pekerjaan ini. Aku pernah ditertawakan karena alasanku bergabung dengan mereka. Tapi, meskipun begitu dia tetap menerimaku dengan tangan  terbuka. Membimbingku hingga aku pernah menjadi primadona di sana. Mengingat semua itu benar-benar ingin mengutuk diriku sendiri. Bodoh!

“Aku lemon tea aja deh. Masa aku makan kamu enggak,” elakku. Padahal aku hanya menghindar agar tidak mempermalukan diriku sendiri lebih jauh lagi. Untunglah Chris tidak protes.

“Ke mana saja sih? Ngilang gitu aja,” cercanya.

Aku tersenyum canggung. Mau jelasin mulai dari mana, terlalu banyak keruwetan yang ingin kuurai. “Iya, kamu apa kabar? Makin glowing aja sekarang ya?”

Dia mengibaskan rambut bergelombang yang ia urai. “Semua itu bisa asal ada duit, Mey,” bisiknya di dekat wajahku. Hingga aroma vanilla dari parfum yang ia gunakan menusuk indra penciumku.

“Eh Mey, gue mau cerita,” bisiknya.

“Apa? Ngomong saja,” ucapku. Aku pun memajukan kursi yang kududuki,  berusaha menyeimbangi posisi duduknya agar jarak kami lebih dekat.

“Mey, gue nikah sama mas Rudy.” Aku tercengang mendengar ucapannya.

“Mas Rudy?” Aku mengeryitkan dahi.

“Iya, Mas Rudy,” jawabnya.

“Yang sering sama kamu itu?” tanyaku memastikan.

“Iyalah. Siapa lagi,” ujarnya.

“Terus istrinya?” tanyaku.

Chris mengangkat bahunya. “Itukan urusan Mas Rudy sama istrinya. Yang penting dia mencukupi kebutuhan gue, enggak masalah harus berbagi,” jawabnya.

Wanita di depanku masih saja seperti dulu. Menganggap uang adalah kunci dari kebahagiaan. Padahal ia hanya menuruti kepuasannya.

“Oh ya, Lo ingat mas Rizwan?” Aku mengangguk, mengingat laki-laki yang pernah bersamaku.

“Dia sering nanyain Lo,” sambungnya.

“Udah, biarlah. Aku enggak mau berurusan dengan dunia itu lagi. Aku takut Chris...” ucapku lirih.

Chris berdecak. Meskipun kami sempat dekat tapi dalam hal ini kami memang tak sepaham. Tujuanku masuk didunia itu hanya memuaskan keingin tahuanku bukan semata-mata untuk materi. “Padahal dia oke juga Lo.”

“Biarlah. Mau apa lagi. Jadi, kamu udah enggak kerja di sana?” tanyaku.

Chris menggeleng, “Mas Rudi enggak mengizinkan gue untuk bekerja di sana lagi.”

“Wah, jadi ratunya mas Rudi dong  sekarang?”

Dia mengedikan bahu dengan senyum dibibirnya, “Ya begitulah.”

Obrolan kami terhenti ketika waitress mengantarkan pesanan kami kemeja. Aku mengambil segelas lemon tea dan meneguknya. Kesegaran lemonnya memberi ketenangan pada syaraf-syaraf otakku.

“Eh Lo belum cerita lho. Ngapain lo? dan penampilan Lo-“ ucapnya sembari memindai penampilanku.

“Aku mau cari kerja,” jawabku singkat.

“Duh, Mey. Cari kerja yang gimana? mending balik aja deh, lebih menjanjikan,” bujuknya.

Benar juga kata Chris, tak genap satu tahun aku di sana. Tapi, aku sudah berhasil mengantongi uang yang lumayan banyak. Bahkan aku membayar kuliah tanpa meminta kiriman dari orang di rumah untuk beberapa bulan. Bisa hidup sesuai apa yang kumau. Sesuai tren yang aku anggap kekinian kala itu.

Aku menggelengkan kepala. Lalu membuang napas berat. “Aku mau cari kerja yang lain, Chris...”

“Ya sudah lah, terserah Lo aja. Semangat!” ucapnya. Kami kembali menikmati sensasi segar dari lemon tea.  Sambil bercerita tentang banyak hal. Termasuk kisah cinta Chris dengan suaminya. Dari apa yang dikatakan Chris, aku tahu dia sebenarnya tak ingin di posisinya saat ini. Menjadi yang kedua, menjadi bahan nyinyiran, dan rasa bersalah jika bertemu dengan anak mas Rudi dari istri pertamanya. Tapi, ya begitulah atas nama cinta yang tulus dan menggebu. Chris tetap melanjutkannya. Untung saja istri pertama dari suaminya cukup baik padanya ia rela berbagi yang penting suaminya tak berbuat zina. Hal yang sangat diharamkan oleh Tuhan.

Pembicaraan kami berakhir kala ponselnya berdering. Siapa lagi kalau bukan mas Rudi-nya itu yang memintanya untuk segera pulang. Chris langsung beranjak pergi, sekalipun apa yang dilakukan Chris itu salah, tapi Chris tetap bertanggung jawab dengan pilihannya, ia patuh pada suaminya, menghormati istri pertama dari suaminya dan juga ia sangat menyayangi anak dari suaminya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Batas Waktu Malam Hari

    Pukul delapan malam. Lengang yang mencekik perlahan merayapi seluruh sudut rumah besar ini.Jarum jam dinding di kamar pelayan terasa berdetak jauh lebih kencang daripada biasanya. Setiap detakannya bagaikan bunyi ketukan palu keadilan yang siap meremukkan sisa kepalaku. Satu jam lagi. Hanya tersisa enam puluh menit sebelum ancaman Nadine menjadi kenyataan.Aku duduk bersimpuh di tepi ranjang sempit, meremas ponsel murah di genggamanku hingga buku-buku jariku memutih. Layar ponsel itu menampilkan angka saldo di rekening tabunganku: dua juta empat ratus ribu rupiah. Angka yang teramat menyedihkan jika dibandingkan dengan angka lima puluh juta rupiah yang dituntut oleh Nadine.Bagaimana aku bisa mendapatkan sisa puluhan juta itu dalam waktu singkat? Meminjam pada Mbok Nah jelas mustahil. Meminjam pada Bu Wini atau Mbak Nisa? Sama saja dengan meletakkan leherku sendiri di atas meja pemenggalan. Mereka pasti akan bertanya untuk apa uang sebesar itu dibutuhkan.

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Ancaman di Balik Pagar

    Pandanganku mendadak kabur. Seluruh persendianku serasa diloloskan paksa saat sepasang mata tajam berias tebal itu menatapku dari balik kaca mobil.Nadine.Wanita itu melangkah keluar dari mobil sedan hitamnya. Gaun ketat berwarna merah menyala dan aroma parfum menyengat yang menguar dari tubuhnya terasa begitu asing dan sangat menakutkan. Di lingkungan kompleks perumahan yang tenang ini. Langkah kakinya yang diampu sepatu hak tinggi terdengar menyentak, mendekatiku yang mematung di samping tempat sampah besar dekat gerbang."Ternyata benar dugaan kawan-kawan di Surabaya," ujar Nadine dengan nada mengejek, menyilangkan kedua tangan di dada. Matanya menyapu tubuhku dari ujung jilbab hingga ujung seragam suster putih polos yang kukenakan. "Meylissa... si primadona yang tiba-tiba hilang ditelan bumi, ternyata menyamar jadi suster alim di rumah orang kaya.""N-Nadine..." suaraku tercekat di tenggorokan, rapat dan bergetar parah. Jantungku berpacu gila-gilaan.

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Jejak yang Tercium

    Lari dari ruang laundry sore itu terasa seperti melarikan diri dari medan perang. Dadaku sesak, napasku berburu kencang, dan air mata rasanya tak mau berhenti menetes. Aku mengurung diri di kamar mandi ruang belakang selama belasan menit, membasuh wajahku berulang kali dengan air dingin hingga rasa sembap di mataku sedikit berkurang.Aku harus kuat. Aku harus mempertahankan benteng ini. Semakin Arkan berusaha mendekat dan menunjukkan kebaikannya, semakin keras pula aku harus menepisnya. Sebab aku tahu, begitu Arkan tahu siapa aku sebenarnya di masa lalu, kebaikan itu akan berubah menjadi belati tajam yang menusukku tanpa ampun. Lebih baik aku yang menyakiti diriku sendiri sekarang daripada harus melihat tatapan kecewa dan jijik dari pria itu nanti.Namun, Arkan bukanlah pria yang mudah menyerah.Setelah penolakan keras yang kuberikan di ruang laundry, suasana rumah utama berubah menjadi hening yang menegang. Arkan tidak lagi berusaha memanggil

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Perang Dingin

    Pengakuan Arkan di perpustakaan hari itu tidak membawa kedamaian yang kuharapkan. Justru sebaliknya, kata-kata itu menjelma menjadi hantu baru yang terus menakut-nakuti setiap jengkal pikiranku.Karena kamu bukan sekadar suster bayaran bagiku, Mey.Setiap kali teringat kalimat itu, dadaku berdesir hebat—sebuah sensasi manis yang sangat ingin kunikmati, tetapi langsung dibunuh secara kejam oleh kenyataan pahit yang mencengkeram hidupku.Aku tidak boleh luluh. Aku tidak boleh membiarkan perasaanku tumbuh untuk pria setinggi Arkan.Bisikan-bisikan kejam Erick di dapur tempo hari kembali bergema di telingaku, meracuni setiap sudut logikaku: “Ingat posisi milikmu di sini. Kamu cuma mantan wanita penghibur dari Surabaya yang kebetulan pakai baju tertutup. Jangan mimpi bisa bersanding dengan Arkan!”Erick benar. Bagaimanapun aku berusaha menutupi seragam sustersku dengan kebaikan, kenyataan bahwa tubuh dan masa laluku p

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Benteng Pertahana

    Kata-kata Arkan di dapur sore itu terus bergaung di kepalaku bagai gema yang tak kunjung padam. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Termasuk mas-ku sendiri.Kalimat pendek yang diucapkan dengan nada serak dan penuh penekanan itu berhasil meruntuhkan sebagian benteng pertahanan batin yang kubangun rapat-rapat selama ini. Untuk pertama kalinya sejak aku melarikan diri dari dunia malam Surabaya, ada seorang pria yang berdiri di depanku bukan untuk memanfaatkan tubuhku atau menguliti dosaku, melainkan untuk melindungiku.Namun, di saat yang sama, rasa bersalah justru menghujam dadaku makin dalam. Arkan adalah pria yang jujur, tegas, dan terhormat. Dia melindungiku karena dia mengira aku hanyalah suster polos yang menjadi korban ketidaksopanan kakaknya. Bagaimana jika suatu hari dia tahu bahwa aku dan Erick punya rekam jejak yang menjijikkan di masa lalu? Apakah tatapan protektif di mata elang itu akan berganti menjadi tatapan benci dan jijik?"

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Sinyal Bahaya

    Sejak percakapan singkat di teras malam itu, ada sesuatu yang bergeser dalam hubungan kami. Arkan tidak lagi menatapku dengan mata elangnya yang sarat kecurigaan. Sikapnya memang tetap kaku dan minim kata, tetapi kehangatan terselubung yang ia tunjukkan, seperti membiarkanku menggambar sketsa tanpa menginterupsi atau sekadar memastikan Bu Wini tertidur sebelum ia berangkat ke kantor, membuat hatiku yang beku perlahan mencair.Sayangnya, ketenangan itu adalah ketenangan sebelum badai.Hari Sabtu sore, Bu Wini merasa kondisinya sudah jauh lebih segar. Atas permintaannya, seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga rumah utama untuk minum teh bersama. Mbak Nisa datang membawa Icha yang riang, sementara Erick berjalan di belakang mereka dengan gaya anggun yang memuakkan. Arkan yang akhir pekan ini memilih berdiam di rumah juga hadir, duduk di sofa tunggal sambil memangku laptopnya."Mey, tolong ambilkan cangkir teh tambahan di dapur ya," puji Mbak Nisa tulus dari m

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Nasi Kotak Pengantar Rindu

    Aku duduk di lantai, meluruskan kaki sambil menyandarkan punggung di dinding teras kosku. Seharian penuh keliling kota Jakarta, membuat kaki terasa kaku, belum lagi lecet di kaki karena terhimpit flatshoes yang kupakai tanpa kaus kaki. Meskipun begitu, belum juga ada ha

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Laki-laki itu

    Aku memijit pelipis yang terasa berdenyut. Sudah beberapa hari menunggu, namun tak ada satupun jawaban dari teman-teman terdekatku tentang lowongan pekerjaan yang aku cari. Jangankan menjawab ada juga yang hanya me-read pesan dariku. Kuletakkan kembali dompet yang hanya tersisa dua lemba

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Maaf

    Aku melempar kaleng minum bekas minumku ke dalam tempat sampah di sudut kamarku. Tempat sampah berbahan plastik itu hampir penuh dengan plastik-plastik bekas snack. Sudah tiga hari kubiarkan menumpuk di sudut ruang. Jika kak Dini melihatnya sudah pasti dia akan mengelus dada. Sebenarnya aku bukan

  • Epiphany "Cinta dan Luka Masa Lalu"   Penebusan

    Aku memutar-mutar ponsel di genggamanku. Sambil berusaha menerawang kata apa yang pantas untuk kukatakan ketika berbicara dengan Teh Anggi. Dari pesan singkat yang ia titipkan pada bu Luluk, sudah pasti Teh Anggi sudah mengetahui semuanya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa marah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status