Mag-log inBLURB: She gave up her wolf to save him, expecting their bond to last for eternity. But instead, he rejected her. Despite knowing that getting rejected while wolfless would ruin her life and get dragged into the asylum owned by the deranged hybrid king, Azrael Vanderbilt. While in the asylum, she would stumble upon Azrael’s deadliest secret and her frustration would push her to blackmail him with the secret, knowing fully well that he might kill her for it. But Azrael would shock her with his own proposal: “Marry me, Little Dove. Become the Luna Queen of Fangshire. Take that power and destroy those who hurt and betrayed you.” She'd take it, desperate for an opportunity to pay her former mate back in his own coins but what she doesn't know is that Azrael is far deranged than the rumors about him, he's sinister and devilish. And he made her his fake Luna for far more sinister plans than she would ever know.
view moreBaru tiga minggu bekerja sebagai seorang pelayan, Binar malah memergoki tuannya sedang menuntaskan hasratnya seorang diri.
Hari itu, Binar yang biasanya hanya mengurusi lantai bawah, mendadak terpaksa mengantarkan sarapan ke kamar majikannya yang berada di lantai dua. Hal tersebut terjadi karena pelayan lainnya sedang sangat sibuk.
Biasanya, sarapan akan disiapkan di meja makan. Nyonya Celia akan duduk dengan wajah malas, sementara Tuan Bhaga sibuk membaca tablet dengan dahi mengernyit.
Tetapi, sudah dua malam ini nyonya rumah tidak pulang.
“Duh, Tuan marah enggak ya kalau aku yang antar?” Binar bergumam sendiri, terlebih saat matanya sudah bisa melihat pintu kamar utama yang terbuka sedikit.
Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah dan menghela napas. “Ayo, Binar. Kamu bisa.”
Namun, langkah Binar yang tadinya mantap, perlahan memelan ketika mendengar suara rintihan dari dalam kamar. Dia mengernyit. “Apa tuan sakit ya?”
Dia meletakkan nampan di meja terdekat dan kembali berjalan cepat. Tangannya membuka pintu dengan terburu-buru. “Tuan, ada apa—”
Seketika, napas Binar tertahan, matanya melotot, dan tubuhnya membeku saat melihat pemandangan di dalam kamar.
Di atas tempat tidur, Baju Bhaga tersingkap ke atas, memperlihatkan otot perut yang terbentuk indah. Celananya melorot sampai paha dan kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam.
Tangannya bergerak naik turun di antara kedua pahanya, dan dia melenguh penuh kenikmatan.
Melihat bibir pria itu terbuka dan mendesahkan uap panas, Binar tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Tanpa berkedip, Binar memperhatikan tangan tuannya yang sedang memuaskan dirinya sendiri!
“T-Tuan…”
Saat suara terkesiap Binar terdengar, Bhaga menoleh dengan cepat. Dia terkejut setengah mati. Menunduk sesaat sebelum menarik apa pun di dekatnya untuk menutupi tubuh.
"KELUAR!" suara Bhaga meninggi, penuh malu dan amarah.
Sontak, Binar berbalik, tubuhnya gemetar. Tapi ada yang mengusik dadanya, mata yang sedang marah itu kelihatan kesepian.
Lupa akan sarapan yang belum diantar, Binar berlari turun. Dadanya saat ini berdebar cepat dan pikirannya berisik.
Apa itu barusan?! Kenapa tuan sampai melakukan hal seperti itu? Kenapa tidak menunggu nyonya pulang?
Sampai di lantai bawah, Binar cepat berjalan menuju dapur. Memikirkan apa yang dia lihat tadi, mendadak dia kembali menggigit bibir dan menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping lemari es.
“Aku bakal dipecat enggak ya?” Binar mengerjap. “Kalau dipecat, aku tinggal di mana?”
Pikiran Binar kembali pada masa kecilnya. Dia ditinggalkan oleh orang tua yang bercerai pada usia sepuluh tahun. Ayahnya pergi meninggalkan hutang, sedangkan ibunya yang tak tahan harus banting tulang akhirnya menikah lagi dengan pejabat desa dan melupakannya.
Sejak saat itu, Binar tinggal bersama neneknya. Dia sibuk sekolah dan berjualan kue basah yang akan dititipkan ke warung saat berangkat sekolah dan diambil saat pulang. Lalu saat lulus SMA, neneknya sakit keras, akhirnya berpulang di usia Binar yang ke dua puluh tahun.
Selama bertahun-tahun, dengan usaha jualan kue basah, Binar hanya mampu membayar bunga dari hutang ayahnya, dan tak bisa berkutik saat rumahnya disita penagih hutang. Hingga salah satu tetangga jauhnya, mengajak untuk ikut bekerja di rumah ini.
Tapi, baru tiga minggu bekerja, Binar justru membuat majikannya marah dengan menyaksikan adegan pribadinya.
Bayangan ekspresi tuannya tadi masih terbayang dan membuatnya gelisah.
"Binar! Kamu melamun lagi? Ini sarapan Tuan Bhaga, kenapa belum diantar?!" Maryam, kepala pelayan, menghampiri Binar dengan tatapan tajam.
“Ma-maaf, Bu. Saya lupa.” Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah.
Tangannya yang memegang nampan berkeringat. Mengantar sarapan berarti harus bertatap muka dengan Tuan Bhaga lagi. Aduh, bagaimana ini, pikirnya.
"Lupa? Dasar anak baru. Cepat bawa ke kamarnya! Tuan sudah menunggu!" hardik Maryam.
Binar melirik ke arah ruang makan. Perutnya tiba-tiba mules. Dia tidak bisa. Tidak sekarang.
"Bu, em ... boleh... boleh saya minta tolong?" pintanya, suara bergetar takut. "Saya janji akan melakukan tugas apa pun. Saya... saya mules." Itu bohong, dan dari raut wajah Maryam, Binar tahu wanita itu tak percaya sepenuhnya.
Maryam mendengus, kesal tapi juga iba melihat wajah pucat Binar. “Dasar. Baiklah. Tapi sebagai gantinya, kau urus Ardan.”
Mendengar nama Ardan, beban di pundak Binar terasa sedikit lebih ringan.
Ardan. Anak Tuan Bhaga dan Nyonya Celia. Di rumah seluas dan semegah ini, bocah lima tahun itu adalah satu-satunya penghuni yang tidak membuatnya merasa terancam. Justru, dialah yang membuatnya betah.
Sayangnya anak itu justru yang paling kesepian. Binar pertama kali bertemu Ardan di taman belakang. Saat itu Ardan sedang main sendiri.
“Kenapa main sendiri, Tuan Muda?”
Ardan tak menoleh, tetap melanjutkan bermain, dan menjawab dengan malas. “Tidak ada yang mau main denganku.”
Binar tersenyum. “Kalau begitu saya temani ya?” tawarnya.
Ardan menoleh. “Benar?”
“Iya. Kapanpun Tuan Muda mau main, panggil saya saja. Oke?”
Suasana hati Binar sudah lebih baik setelah menghabiskan banyak waktu bersama Ardan. Ternyata, di balik sikap pendiam, Ardan adalah anak yang cerdas dan haus perhatian. Kemarin mereka melakukan banyak hal, mulai dari menggambar, main tebak-tebakan, dan bermain puzzle.
Untuk pertama kalinya, Binar mendengar suara tawa Ardan yang begitu hangat.
Keesokan harinya, sejak bangun tidur tadi, Ardan sudah mencari Binar. Kini mereka sedang di taman samping rumah.
“Ayo, Tuan Muda. Suap lagi, biar makin kuat,” bujuk Binar sambil menyuapi makan Ardan.
Ardan membuka lebar mulut, tapi matanya tidak lepas dari mainan barunya. Sebuah bola kristal berisi salju yang bisa berputar dan menyala dengan boneka kecil menari di dalamnya. Di sekelilingnya mainan lain berserakan, tapi Ardan tak peduli.
"Nanti saljunya turun banyak ya, Kak Bin? Seperti di TV," celetuk Ardan dengan mulut penuh.
"Bisa saja, asalkan Tuan Muda habiskan makannya dulu," jawab Binar sambil tersenyum.
Ardan mengangguk antusias dan mengunyah dengan lahap. Saat akan menyuap suapan terakhir, tangannya yang memegang bola kristal terlepas. Bola itu lepas dari tangannya, memantul di karpet tebal, dan menggelinding dengan cepat lalu melewati ruang keluarga.
"Yah!" seru Ardan, wajahnya berubah cemas.
"Jangan khawatir, Kakak ambilkan," tenang Binar. Dia meletakkan piring dan beranjak dari sana.
Dia mengikuti lintasan bola kristal itu yang ternyata berhenti persis di depan pintu ruang kerja Tuan Bhaga yang sedikit terbuka. Saat dia membungkuk untuk mengambilnya, suara itu tiba-tiba mengoyak kesunyian rumah yang biasanya hening.
Suara itu bukan desahan Tuan Bhaga seperti pagi itu, bukan juga teriakan Ardan yang ceria. Suara itu adalah perempuan yang dipenuhi amarah.
“BRENGSEK KAMU, BHAGA!”
Prang!
Diikuti suara barang-barang yang dilemparkan dan pecah.
Epilogue The palace had never felt so restless.Servants moved quickly but quietly through the halls, guards stood straighter than usual outside Briar's room and an unspoken tension lingered in the air. Inside her room that had been temporarily converted for the birth, Briar gripped the sheets as another contraction tore through her.Azrael was pacing.He had been pacing for the last hour, then sitting, then standing again, then running a hand through his hair before returning to pacing. His composure, the calm dominance he carried in every other situation, had completely unraveled.“Breathe, your Majesty,” the doctor instructed gently from beside the bed.“I am breathing,” she managed through clenched teeth before another wave hit her.Azrael stopped pacing immediately and rushed to her side. “Why does it look like she’s in more pain than necessary?” he demanded, his voice tight.“It is necessary,” the doctor replied calmly. “This is labor, Your Majesty.”He looked like he wanted t
AZRAEL: I couldn't believe what just happened. I couldn't believe that Xylevia would go to that length to punish me over a 50 decades long feud. But here she was, even though she was dead, she had managed to ensure that her ghost would linger forever. She had managed to make sure she made my unborn daughter into a chimera: A blend of a siren and a wolf, one that'd be loyal to the siren who sired her. Meaning she might hate me and her mother. My hold tightened around the glass of rum in my hand and I had to reign myself in so I wouldn't shatter it. I heard Briar stir behind me. I immediately rushed back to her and the sight of her, pale, fragile, and weak made my stomach tighten. I couldn't believe my foolishness had nearly cost me her life. I couldn't believe Xylevia compelled me to hit her. “Are you okay?” I asked as I grabbed her hand. I could feel her pulse under my hold. Her eyes flickered up towards me. “Yes, I'm fine. Is she… Is everything fine now? Is she gone?”“Yes bab
115 Azrael's POV The room smelled faintly of antiseptic. I hadn’t moved from the side of the bed since Briar had been brought in, my fingers gripping the edge of the stairs rail so tightly I could feel the strain in my knuckles. Every minute stretched longer than the last. Each sound, the soft beeping of machines, the shuffle of footsteps, felt like it was echoing directly into my chest. My heart wouldn’t stop racing, and yet, somehow, time slowed to a crawl. I tried to focus on my breathing, tried to anchor myself in the fact that Briar was alive, that she was in there, but my mind refused to stay still. Every scenario, every possibility, every potential outcome I had imagined over the past hour replayed in endless loops. Soon, one of the doctors stepped out. “Your Majesty, we’ve managed to stabilize her. She’s going to be okay.” I exhaled so forcefully it almost hurt. Relief crashed over me, and for a moment, I thought I might collapse onto the floor. My hands, which had
114Azrael's POV Everything happened too fast and yet not fast enough.Bella’s body lay crumpled on the ground, blood spreading beneath her head, but I felt nothing for her. Nothing except a violent, unfinished rage that still burned in my veins. “You’ll never be free of me,” she said, her voice cracked but steady, blood spilling down the side of her face. “I made sure of it.”The words hit something dark inside me.I grabbed her by her neck and hauled her upward, her feet dangling, and slammed her into the concrete wall with a strong force. The impact was sickening, and a dull, wet thud followed by the sharp crack of bone meeting stone. Her head snapped back, her eyes rolling into her skull as her body went instantly limp.I let her drop, then I turned to Briar.The rage that had sustained me vanished, replaced by a hollow, freezing dread. She was terrifyingly pale. Her eyes were wide, fixed on me. She was trembling so much I feared she might shatter.I moved toward her, but I cou
Briar's POV I opened my eyes and felt a deep, splitting ache at the side of my skull. For a few seconds, I did not know where I was. I only felt the cold surface beneath me and the tightness around my wrists.My hands were tied together behind my back, the skin of my wrists stinging under the bite
Briar's POV I stared at him in shock, which was surprising, because I knew how merciless he was. I knew his history was written in blood, and the stories of his mercilessness in the wars had reached my ears long before I ever met him. The fear that followed his name long before I was even born.
Briar's POV We were still tangled together, with the sheets wrapped low around our hips. My cheek rested against his chest, and I could hear the dull thrum of his heartbeat. His fingers moved lazily, tracing slow, absentminded lines up and down my bare arm.“You’re staring,” he murmured lowly.“I’
Azrael's POV“Did you say anything?”The question hung in the air, and Bella didn’t flinch. She simply shook her head.“No, Your Majesty,” she replied. “I didn’t say anything.”My chair scraped harshly against the floor as I stood up and walked toward her. With every step, I watched her, looking fo






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.