Share

3 DYNAMITE

PLAK!

Tamparan keras kembali mendarat di pipi mulus Brianna. Siapa lagi jika bukan Draco yang menamparnya keras seperti ini. Dengan refleks pula Brianna melepaskan kotak yang sedari tadi ia pegang.

"Jangan berani-beraninya menyentuh apa yang bukan milikmu!" Draco menyerang Brianna seraya mencengkram bagian belakang rambut Brianna kencang.

"Ma-maafkan aku, kumohon..."

"Keluar!!" titahnya.

Brianna keluar meninggalkan kamar Draco, berlari menuju kamar pelayan miliknya dan mengunci pintunya dari dalam. Ia tak menyangka akan mengalami hidup semenderita dan sekejam ini sekarang.

"Oh, Tuhan ... apa yang harus kulakukan sekarang?" Brianna berkata seraya menangis.

Tok! Tok!

Seseorang nampak mengetuk pintu kamar Brianna. Namun ia tak berani membukakan pintunya pada siapa pun.

"Buka!" Draco berkata dengan kasar, menitahkan Brianna membuka pintu kamarnya.

Brianna bergeming, tetap pada tempatnya. Ia tak peduli jika Draco semakin marah dan menggila padanya. Ia hanya ingin sendiri untuk saat ini.

"Kau berani melawanku?" sentak Draco lagi ia terus menggedor pintu kamar Brianna sampai akhirnya ia membuka pintu kamar Brianna menggunakan kunci cadangan yang ia simpan.

Brianna tak berani menatap Draco yang kini sudah berdiri dihadapannya.

"Katakan padaku, siapa kau sebenarnya?" Draco menekan kedua pipi Brianna seraya mendongakan wajahnya agar Brianna menatapnya.

"Aku hanya ingin pergi dari tempat ini," sahut Brianna. Lagi-lagi ia tak bisa menjelaskan siapa dirinya pada Draco.

"Ck!" Draco berdecak kesal. "Kau milikku! Aku sudah membayar mahal pada Collin, saat ia memintaku menjadikanmu pelayan di rumahku," ucap Draco.

Brianna tak menjawab, ia sudah lelah dengan apa yang terjadi padanya. Apa pun yang ia lakukan semuanya akan sia-sia, mengingat ia sama sekali tak mempunyai kuasa di negeri ini.

Tak ada yang mengenalnya saat ini. Bahkan pria di hadapannya ini hanya tahu bahwa Brianna adalah gadis yang berasal dari Wales dan berstatus sebagai seorang pelayan.

"Sebentar lagi gelap, buatkan aku makan malam sekarang juga!" Draco kembali memerintah.

Brianna hanya menganggukan kepalanya lalu beranjak dari tempatnya duduk. Ia melesat pergi melewati Drac. Namun sayang, kecepatannya terkalahkan oleh kecepatan tangan Draco saat menarik Brianna kedalam dekapannya.

"Tak bisakah kau menuruti saja perintahku tanpa ingin tahu hal lainnya?" bisik Draco.

"Meski aku pelayan, tapi aku bukan wanita murahan yang bisa kau paksa untuk memuaskan nafsumu itu!" sahut Brianna dengan tegas.

"Kau berbeda dengan pelayan lainnya. Saat pertama kali melihatmu, aku merasa kau seperti memiliki aura bangsawan.”

Brianna terdiam, ia ingin melepaskan diri dari dekapan Draco namun tak bisa. Draco terlalu kuat mendekap tubuhnya sehingga Brianna kesulitan untuk bergerak.

"Lepaskan pakaianmu! Kau hanya pelayan dan tak diperbolehkan memakai gaun mewah seperti itu." Draco kembali berkata seraya melepaskan dekapannya.

Brianna memundurkan langkah kakinya untuk mengambil satu set gaun pelayan dari dalam lemari pakaian.

BLAM!

Draco membanting pintu kamar Brianna dan menguncinya.

"Tak bisakah kau keluar? Aku harus mengganti pakaianku," pinta Brianna.

"Lepaskan disini! Di hadapanku!"

Brianna menggelengkan kepalanya, lengannya memeluk gaun pelayan yang ia pegang erat-erat dan mendekapkannya di dada.

"Kau mau aku memaksamu?" tanya Draco.

"Kau membuatku merasa kotor!" sentak Brianna. Air mata kembali bercucuran tanpa permisi membasahi pipinya.

Draco yang tak kehabisan akal dan merasa ia yang paling berkuasa atas Brianna kembali mendekati Brianna dengan tatapannya yang mendominasi.

Ia memutar tubuh Brianna dengan cepat dan menarik turun resleting gaun yang Brianna kenakan. Lengannya yang besar dan kekar mencengkram salah satu bahu Brianna dan lengan lainnya melepas tali gaun Brianna.

Dapat ia lihat dengan jelas punggung putih mulus milik Brianna yang membuat hasratnya semakin menggebu.

"Berhenti menangis!" sentaknya.

Namun bukannya berhenti, suara isak tangis Brianna terdengar semakin kencang.

Tok! Tok!

"Tuan." Suara wanita paruh baya membuat Draco menghentikan aksinya seketika.

"Diam!" Sekali lagi Draco menitahkan Brianna untuk diam. Ia melangkahkan kakinya dan membuka pintu lalu menguncinya kembali dari luar.

"Ada yang ingin menemuimu."

"Siapa?" tanya Draco ketus. Ia tak suka jika ada seseorang yang tiba-tiba saja mengganggu apa yang sedang ia lakukan.

"Duke of Edgar, dia menunggumu di ruang tamu utama," sahutnya.

"Jangan berani-berani mendekati kamar itu! Siapa pun yang menolongnya akan berhadapan langsung denganku." Draco memperingatkan seraya menunjuk kamar milik Brianna.

Ia melangkahkan kakinya cepat, menuju ruang tamu utama. Dapat ia lihat dengan jelas pria yang sudah lama menjadi musuhnya tersebut. Draco sungguh sangat membenci Harry Radcliffe.

Percayalah meski mereka berdua sangat tak akrab dan tak terlihat akur sama sekali. Kenyataannya Draco dan Harry adalah saudara tiri beda ayah.

"Ada apa?" tanya Draco dingin.

"Aku mendengar ada pelayan baru disini," sahut Harry.

"Lalu apa pedulimu? Mengapa seorang pangeran kebanggan Inggris sangat memperdulikan kehidupanku?"

"Aku harus melihatnya," sahut Harry santai seraya berjalan masuk kedalam rumah Draco lebih dalam.

"Kau gila! HARRY!" Draco berteriak.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status