LOGINAva Collins believes she has the perfect life in New York—a loving marriage and a successful husband, Ethan Walker, a polished corporate strategist. But everything shatters when she receives a message: “Ask him about the Brooklyn apartment.” What begins as suspicion quickly unravels into a web of secrets. Ava discovers Ethan is not who he claims to be. Behind his calm exterior lies a double life filled with hidden financial dealings, a secret apartment, and a second phone he never meant her to find. With the help of Daniel, a man tied to Ethan’s hidden world, Ava is pulled deeper into a dangerous truth. Each answer raises more questions, blurring the line between protection and betrayal. The final blow comes when Ava realizes Ethan isn’t only a fraudster—he is also cheating on her with another woman, proving their marriage was never what she believed.
View MoreMalam itu di luar kediaman angin kencang bertiup seakan hendak menumbangkan pepohonan yang ada di halaman. Di selatan cakrawala, kilatan petir sesekali akan terlihat menerangi malam yang pekat.
Li Yuan turun dari balik balok penyangga atap tanpa suara. Pedang pendeknya tersembunyi dengan baik di balik lengan baju hitamnya. Ia melangkah maju tanpa suara. Kemampuan meringankan tubuhnya termasuk yang terbaik di antara orang-orang di dalam organisasi. Organisasi mereka merupakan organisasi gelap yang terkenal di dunia bawah tanah karena memilki sekumpulan pembunuh bayaran terbaik di seluruh Dinasti Xin. Malam ini adalah pertama kalinya ia keluar dari benteng untuk melakukan misi pertamanya. Misinya yaitu untuk melenyapkan nyawa seorang pejabat tinggi pemerintah. Setelah dilatih oleh para ahli dalam organisasi selama bertahun-tahun, akhirnya ia memenuhi syarat untuk melakukan tugas pertamanya. Jika ini berhasil, ia akan secara resmi menjadi salah satu pembunuh bayaran yang akan dipekerjakan oleh organisasi. Ini menandai berakhirnya masa magangnya. Li Yuan hendak berbelok ke sudut ketika melihat sekelebat bayangan melintas sejauh beberapa ruangan darinya. Apakah organisasi telah mengirim pembunuh bayaran lainnya? Ia bertanya-tanya. Tak heran mengingat target kali ini adalah seorang pejabat tinggi yang untuk keselamatannya ia telah mempekerjakan banyak pengawal ahli tingkat tinggi. Menghilangkan keraguan sesaatnya, ia dengan mantap berbelok. Sebelumnya ia sudah mencari tahu lokasi kamar tidur pejabat itu. Karena telah meracuni minuman para pengawal dengan obat bius, ia yakin tidak akan ada gangguan yang berarti. Ia sudah mencapai pintu depan ruang tidur ketika tiba-tiba sekelompok pengawal yang seharusnya tidak sadarkan diri menerjang ke arahnya. Li Yuan bingung, sebelumnya ia telah memastikan para pengawal ini meminum anggur yang bercampur dengan obat bius yang disiapkan olehnya. Bagaimana mereka bisa terlihat baik-baik saja saat ini? Namun ia tidak diberi waktu untuk mencerna apa yang telah terjadi. Sudah tidak sempat lagi untuk bersembunyi, kelompok pengawal itu telah melihatnya. Karena sudah seperti ini, ia hanya bisa menggertakkan giginya berniat untuk bertempur melawan para ahli tingkat tinggi itu. Lolos tanpa cacat adalah sebuah keberuntungan. Mati tanpa tempat pemakaman merupakan sesuatu yang hanya bisa disesalkan. Bagaimanapun, orang-orang yang berkecimpung dalam pekerjaan ini seringnya tidak akan menemui akhir yang baik. Pandangannya menatap tajam ke depan. Kedua pedang pendeknya segera terhunus dari balik lengannya. Ketika para penyerang berada dalam jangkauan pedang pendeknya, segera tebasan demi tebasan ia layangkan. Darah berceceran memenuhi koridor. Tidak lama kemudian, dari penglihatan tepinya, sementara ia sedang menghadapi lima orang pengawal yang menyerangnya sekaligus, ia melihat sosok berpakaian hitam diam-diam telah tiba di depan pintu ruang tidur. Sebelum masuk ke dalam, orang itu sempat menoleh ke arahnya. Sebuah seringai tipis menghiasi wajah pemuda kurus yang terbungkus dalam pakaian serba hitam itu. Xu Chen?! Beraninya dia! Amarah segera bangkit dalam dirinya. Gangguan sesaat itu telah membuat celah hingga sebuah tusukan dari pedang panjang berhasil menembus dadanya, dan pikirannya segera menjadi jelas. Ia begitu bodoh hingga berpikir akan segera dipekerjakan secara resmi oleh organisasi. Kenyataannya, ia hanya dimanfaatkan oleh organisasi untuk menutupi celah dalam mencapai misi kali ini. Ia sangat yakin misi ini pastilah sangat penting hingga seorang anggota seperti dirinya harus dikorbankan. Li Yuan dengan cepat kehilangan kekuatannya. Tubuhnya terjatuh begitu saja di atas ubin yang dingin. Beberapa serangan pedang lawan telah berhasil melukai tubuhnya, mengiris dagingnya menjadi sayatan-sayatan yang dalam maupun ringan. Meski begitu ia kini tidak bisa lagi merasakan luka kecil seperti itu. Seluruh tubuhnya hanya terasa amat sakit. Sakit yang tak tertahankan. Di akhir napasnya, ia tersenyum dingin. Sepertinya jalan jahat yang hendak diarunginya dalam kehidupan ini tidak ditakdirkan untuk ia jalani lebih lama lagi. Jika ada kehidupan berikutnya, ia tidak akan pernah mengampuni orang-orang yang berbalik melawannya. -------- Kediaman Bangsawan Shen. "Nyonya! Nyonya Muda! Seseorang tolong selamatkan Nyonya Muda!" Seorang pelayan wanita berteriak meminta tolong, namun entah bagaimana teriakannya terdengar semakin pelan sehingga bahkan orang-orang yang berada di dekat sana pun kemungkinan tidak akan bisa mendengar teriakan minta tolong itu. Karena 'merasa' tidak ada yang mendengarnya, ia pergi mencari bantuan ke tempat yang lebih jauh, meninggalkan sang majikan berjuang sendirian di dalam kolam yang dingin. Beberapa pelayan muda yang kebetulan lewat di dekat sana segera menyadari seseorang sedang tenggelam di kolam. Salah seorang di antara mereka yang tahu berenang segera masuk ke dalam air untuk menarik orang yang tenggelam itu. Mereka sangat terkejut ketika mendapati bahwa yang tenggelam adalah Nyonya Muda Pertama yang baru menikah ke dalam keluarga. Kemudian keadaan mulai sibuk saat Nyonya Pertama itu dibawa kembali ke halamannya. Tabib sudah dipanggil dan sedang memeriksa. Para pelayan di luar berbisik-bisik satu sama lain. "Mengapa Nyonya Muda Pertama bisa tenggelam di tempat terpencil seperti itu?" "Sebenarnya apa yang ingin dilakukan Nyonya dengan pergi ke sana?" "Nyonya belum lama di kediaman ini, bagaimana mungkin dia tahu cara ke sana!" "Kalau begitu, apakah ada yang sengaja membawanya ke sana? Untuk apa?" Berbagai pertanyaan dan dugaan mulai bermunculan. Nyonya Muda ini baru saja menikah ke dalam keluarga namun sebelum menjalani malam pernikahannya, Tuan Muda Pertama segera menerima Dekrit Kekaisaran yang memerintahkan agar ia secepatnya berangkat ke Perbatasan Selatan. Tuan Muda Shen tanpa penundaan segera berangkat ke Perbatasan Selatan malam itu juga. Meninggalkan istri baru yang bahkan belum sempat ia lihat. Tak sedikit yang mengasihani nasib sang Nyonya baru. Seorang pengasuh tua datang dari luar, segera masuk ke dalam untuk menanyakan keadaan Nyonya Muda. Itu adalah Chen Mama, orang dari pihak Nyonya Besar. Sepertinya Nyonya Besar telah diberitahu mengenai kecelakaan Nyonya Muda Pertama dan segera mengirim orang kepercayaannya untuk datang melihat. "Tabib Mo, bagaimana keadaan Nyonya Muda?" Pria tua berkumis putih itu menggelengkan kepalanya, "Sulit untuk memastikan. Kita akan lihat lagi setelah Nyonya berhasil melewati malam ini." Setelah itu Tabib Mo segera menginstruksikan pemberian berkala ramuan obat yang diresepkannya. Merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan, pria tua itu mengundurkan diri. Chen Mama mengantarnya keluar. Selepas mengantar Tabib Mo, sang pengasuh pergi ke halaman Nyonya Besar tinggal. Begitu masuk ke dalam ruangan, ia membungkuk dengan hormat, segera mendekat, sedikit menunduk untuk berbicara dengan pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Kilatan senyum sinis terlihat di wajah Nyonya Besar. Wanita itu hanya putri seorang pedagang rendahan, siapa yang akan menuntut keluarga bangsawan mereka jika ia tiba-tiba meninggal? Nyawanya sama sekali bukan apa-apa. Kalau saja ayah mertuanya tidak begitu saja menjodohkan wanita itu dengan putra sulungnya, bagaimana mungkin ia akan mati semuda ini? Sang Nyonya melambaikan tangannya dan Chen Mama segera keluar dengan patuh. Berada di luar ia menginstruksikan seorang pelayan untuk terus memantau halaman tempat Nyonya Muda Pertama tinggal. Siapa yang akan mengira bahwa Nyonya Muda itu hanya bertahan hidup selama sebulan setelah tiba di kediaman ini. Takdirnya sungguh tragis.There was something about small habits that made them dangerous.Not the obvious ones.Not the loud, noticeable behaviors that demanded attention.But the quiet ones.The ones you saw every day but never questioned.The ones that blended so easily into routine that they became invisible.Until they weren’t.Ava noticed it again the next morning.Ethan’s phone.Face down.It rested beside his plate at the breakfast table, perfectly aligned with the edge, as if even the placement had been calculated.She hadn’t paid attention to it before.Or maybe she had,Just not like this.Now, it stood out.Sharp.Intentional.Suspicious.“You’re staring again,” Ethan said, not looking up from his coffee.Ava blinked.“I’m not.”A faint smile touched his lips.“You always do that when you’re thinking too much.”She forced a small shrug. “Maybe I am thinking.”“About what?”A simple question.But it carried weight now.Everything carried weight now.“Nothing important,” she said.Ethan nodded slowly
Silence had never felt this loud before.It settled into the apartment like something alive—stretching across the walls, lingering in the air, filling every corner Ava moved through. It wasn’t the peaceful kind of quiet she used to enjoy on slow mornings or late evenings.This silence had weight.It pressed against her chest.It followed her thoughts.It refused to let her breathe normally.The receipt was still in her hand.She hadn’t realized she was holding onto it so tightly until her fingers began to ache.Slowly, she loosened her grip and looked at it again.Brooklyn.Late night.Two people.The numbers blurred slightly as her eyes struggled to focus—not because she couldn’t read them, but because she didn’t want to accept them.This was real.Not a message.Not a suspicion.Not a feeling she could push aside.A fact.Ava exhaled slowly and walked back toward the dining table, placing the receipt carefully beside her laptop as if it were something fragile.Or dangerous.Maybe bo
The problem with doubt was that once it settled in, it didn’t stay quiet.It didn’t wait patiently in a corner of your mind.It moved.It spread.It rewrote everything you thought you understood.Ava woke up earlier than usual the next morning.Not because she had rested.But because her mind refused to let her stay still.For a few seconds, she lay there, staring at the ceiling, trying to gather herself before turning to look beside her.Ethan was already awake.Not just awake—dressed.That, in itself, wasn’t unusual.He often had early mornings.But something about it felt different today.He was standing near the dresser, adjusting his cufflinks, his movements precise and unhurried.Too unhurried for someone supposedly running late.“You’re up early,” Ava said, her voice still soft with sleep.Ethan glanced at her briefly through the mirror.“Big day,” he replied.His tone was neutral.Too neutral.Ava pushed herself up slightly against the pillows.“What kind of meetings?”Ethan d
By the time Ethan walked through the door that evening, Ava had already rehearsed the conversation in her head at least twenty times.Every version ended differently.In some, he laughed—light, dismissive, amused that she could even think such a thing.In others, he grew defensive—sharp, controlled, turning the question back on her until she doubted herself.And in the ones she didn’t want to think about… he didn’t deny it at all.She pushed that version away quickly.Because if that one was true, then everything else would start to fall apart.And Ava wasn’t ready for things to fall apart.Not yet.The door clicked open at exactly 7:42 p.m.Ethan’s timing was always precise.Predictable.Reliable.That used to feel like security.Now it felt like something she needed to examine more closely.“I’m home,” he called, his voice carrying easily through the apartment.“I’m in here,” Ava replied from the kitchen.She had positioned herself deliberately—leaning casually against the counter,


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.