ログインFrom the ashes of a shattered life, Nicholas Cooper, once the embodiment of popularity, finds himself confined to a wheelchair, his world forever changed by a tragic accident. Transferred to Westview High School, he becomes the target of Andrew West, the ruthless leader of "The Bloodline," a bully group. Andrew West is the school’s feared and admired golden boy with secrets of his own. But everything starts to shift the day Nicholas catches a glimpse of Andrew's hidden life—and sketches it. What begins as a twisted game of power, pride, and revenge spirals into something neither of them expected: connection. Real, raw, and terrifying. As secrets are revealed and emotions ignite, a forbidden bond forms between the bullied and the bully. But in a world fueled by lies, pain, and dangerous debts, love might not be enough to save them. He was supposed to break him. Instead, he fell for him. But when the truth comes out, will love be enough—or will it drown them both?
もっと見る“Tidurlah dengan suami saya. Pinjamkan rahimmu dan lahirkan anaknya.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa beban seolah yang sedang dibicarakan bukanlah sesuatu yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Nadira Azzahra membeku di tempatnya, tak bisa menjawab, bahkan mulutnya ternganga mendengar permintaan wanita cantik nan berkelas di depannya. Sinta Larasati. Putri pemilik rumah sakit tempat Nadira bekerja, sekaligus istri dari Arjuna Mahardika, yang dikenal sangat dingin dan mencintai istrinya. Istri dari dokter spesialis bedah terbaik, wanita dari keluarga terpandang, dan seseorang yang hidupnya tampak tanpa cela itu tiba-tiba menghampiri Nadira di kantin dan langsung memberikan penawaran tidak masuk akal pada Nadira yang notabene dokter koas di bawah pimpinan Arjuna. Sendok di tangan Nadira terlepas. Dia tersentak dan langsung menutup mulutnya yang ternganga. Nadira membersihkan tumpahan makanan di mejanya dengan tisu, sambil sesekali melihat ke arah Sinta. Mata Nadira bergetar. “Ma-maaf, Bu Sinta. Sa-saya tidak mengerti maksud ucapan Bu Sinta,” ucap Nadira pelan, penuh dengan ketegangan. Sinta meletakkan tas mahalnya di atas meja. Dia menyandarkan punggungnya lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Tidurlah dengan Mas Juna dan lahirkan anaknya," Sinta mengulang ucapannya. "Tapi, jangan sampai jatuh cinta padanya!” lanjut Sinta, memberi peringatan keras. Sorot matanya terlihat menusuk Nadira. Nadira menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Sinta, masih sangat bingung dengan keadaan ini. Selama ini dia tidak pernah berurusan dengan Sinta. Kalaupun mereka bertemu, Nadira hanya menyapa Sinta dan wanita itu akan berlalu begitu saja tanpa membalas sapaannya. "Maaf, Bu, saya tidak bisa—" “Kamu butuh biaya untuk operasi ayahmu, kan?” potong Sinta. Napas Nadira tercekat. Wajahnya yang semua dipenuhi ketakutan mulai berubah serius. Nadira memang butuh biaya untuk operasi ayahnya, tapi dia tidak ingin menanggalkan jas dokternya dan jadi wanita jalang demi itu. Sinta mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, matanya tajam namun bibirnya tetap tersenyum. “Biayanya gak sedikit. Kamu tahu itu, kan? Dan saya bisa menanggung semuanya. Atau kalau perlu, saya akan meminta Mas Juna yang mengoperasi ayahmu.” Sinta mengangkat dagu Nadira. “Kamu tau kan gimana suami saya di ruang operasi?” Jari Nadira mengepal di atas meja. Sudah berhari-hari dia berusaha mencari pinjaman, bantuan, tapi semua jalan terasa buntu. Dan setiap detik yang berlalu, kondisi ayahnya semakin memburuk. Ayah Nadira harus segera mendapatkan operasi jantung. Dia harus berpacu dengan waktu, mencari biaya operasi sambil menjaga kesehatan ayahnya yang setiap saat bisa saja memburuk. Sinta kembali bersandar sambil tersenyum angkuh, mulai menyadari ada keraguan di sorot mata Nadira. “Kalau kamu setuju, saya akan tanggung semua biaya operasi ayahmu, termasuk biaya perawatan pasca operasi. Kamu hanya perlu fokus melayani Mas Arjuna dan memastikan kamu hamil. Itu saja ... gimana, mudah kan?” Seringaian muncul di wajah Sinta yang terkesan seperti sebuah penghinaan bagi Nadira. Jantung Nadira berdetak cepat, mulai goyah. Solusi biaya operasi yang beberapa minggu ini memenuhi kepalanya, kini sudah terpecahkan. Bahkan biaya pasca operasi yang juga akan membutuhkan banyak biaya sudah ikut ditanggung. Tapi haruskah dia menjual dirinya demi semua itu? Bagaimana kalau nanti ayahnya tahu kalau dia melakukan hal hina demi mendapatkan biaya operasi. Apakah jantung ayahnya masih bisa baik-baik saja? "Tapi kenapa saya, Bu?" Sinta mendecak. “Jangan terlalu percaya diri kamu! Jangan berpikir kamu istimewa sampai saya menawarkan ini ke kamu!” kata Sinta, tidak ingin dokter muda di depannya itu terlalu percaya diri pantas naik ke ranjang suaminya. "Saya kasihan sama kamu. Saya tau kondisi ayahmu, dan kamu termasuk dokter yang cakap dalam bekerja. Saya milih kamu, karena kita bisa berbisnis dengan baik. Kamu dapat uangnya dan saya dapat anak suami saya,” lanjut Sinta tidak peduli dengan harga diri Nadira. Napas Nadira tersendat. Wanita itu benar-benar merendahkannya. “Mas Juna butuh anak. Keluarga kami menuntut itu.” Sinta menghela napas ringan, seolah sedikit jengkel. “Dan saya … tidak ingin hamil! Saya tidak mau tubuh saya berubah. Tidak mau karier saya terganggu. Dan jujur saja … saya tidak tertarik jadi ibu,” lanjut Sinta tanpa rasa bersalah sedikit pun. Semua orang tahu kalau Sinta adalah seorang model terkenal. Banyak brand datang padanya dan tentu saja itu semua membutuhkan kesempurnaan fisik yang diagungkan Sinta. Namun, bagaimana mungkin ada wanita yang tidak punya naluri keibuan di dalam hatinya. “Ah iya ... soal karir koas kamu. Kamu gak perlu khawatir, soal itu.” Sinta kembali memberikan penawaran menggiurkan agar Nadira segera setuju. “Setelah kamu hamil dan melahirkan, semuanya selesai. Kamu bisa pergi. Saya tetap istri sahnya dan anak itu akan jadi anak kami. Kamu bisa kembali ke rumah sakit, seperti tidak pernah terjadi apa-apa,” lanjutnya lagi. Sebuah rancangan masa depan yang sangat indah. Ayahnya terselamatkan, dan karier dokternya juga akan tetap baik-baik saja. Nadira menelan ludahnya kasar. “Bu, ini salah,” ucapnya, berusaha mempertahankan harga dirinya. “Saya tidak bisa—” “Kamu bisa, Nadira!” potong Sinta cepat, memaksa Nadira. Nada bicaranya penuh penakanan. "Apa kamu siap, kalau bentar lagi dokter panggil kamu dan bilang kalo ayahmu harus operasi sekarang juga? Jangan sok jual mahal kamu! Gadis miskin yang cuma mengandalkan uang beasiswa seperti kamu bisa apa?!” hardik Sinta yang mulai kehilangan kesabarannya. Kalimat Sinta menusuk hati Nadira. Kenyataan mahasiswa pintar yang bertahan karena beasiswa miskin itu kembali memukulnya. Nadira menunduk, mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak stabil. Bayangan ayahnya di ranjang rumah sakit kembali terlintas. Keadaannya yang kian lemah, pucat, dengan selang di mana-mana, membuat Nadira meremas ujung jas dokternya. Dia belum siap. Nadira belum siap kehilangan ayahnya, keluarganya satu-satunya. Sinta mendengus kesal. “Pikirkan baik-baik! Waktumu gak banyak!” Nadira mengusap wajahnya kasar. Pertanyaan Sinta lebih sulit dijawab Nadira daripada soal ujiannya selama ini. Nadira mengangkat wajahnya perlahan. Dengan sisa keberaniannya, dia kembali menatap Sinta. “Lalu bagaimana dengan Dokter Arjuna? Apa beliau tahu tentang ini?” Sinta tersenyum tipis penuh makna. “Belum,” jawabnya. “Tapi saya yakin dia bakal setuju.” “Belum?” ucap Nadira dengan bahu yang merosot. Membayangkan memberikan laporan pada dokter tampan itu saja membuatnya takut, apa lagi kalau sampai dia harus merayunya. Ini sulit. Sangat sulit! Nadira menggigit bibirnya, ragu, takut, dan terjebak dalam pilihan yang terasa tidak adil. “Pikirkan ini baik-baik, Nadira. Nyawa ayahmu taruhannya!” kata Sinta sambil berdiri, merapikan tasnya. “Tapi jangan terlalu lama. Kondisi ayahmu tidak akan menunggu sampai kamu menaklukkan harga dirimu yang ... gak seberapa,” ucap Sinta dengan mudahnya merendahkan Nadira sambil memicingkan matanya. Kemudian dia pergi meninggalkan Nadira. Dia malas melihat wajah naif Nadira yang memuakkan di matanya. Tatapan kosong Nadira menembus dinding kantin, sekosong pikirannya saat ini. Naik ke ranjang suami orang. Mengandung anaknya dan pergi begitu saja dengan jaminan masa depan cerah. Apakah itu harga yang pantas untuk menyelamatkan ayahnya? Nadira menutup matanya perlahan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia benar-benar tidak tahu keputusan mana yang benar. Di tengah kebimbangannya, tiba-tiba ponsel Nadira berbunyi. Dia merogoh saku jas dokternya, meraih benda pipih yang bergetar di dalamnya. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Nadira. Dia membaca pesan itu dan tangannya mengepal erat. “Ayah!” ucap Nadira panik lalu segera berlari meninggalkan kantin.Nicholas POV“Nicholas,” I heard a voice call out.It was my father’s.At first, I couldn’t believe it. Hearing his voice—his voice—felt impossible. But now, that sound, faint and distant as it was, was the only thing keeping me going in here.I don’t know where the voice is coming from, but it can’t really be my dad. He’s dead.I’ve been in this dark place for what feels like forever, and I don’t even know how I got here. The last thing I remember was falling down the stairs. Then—nothing. Just darkness. A darkness I can’t escape, not in my mind, not in my body.Sometimes, I close my eyes, trying to find a trace of light within me. But how can I find light in a mind that’s already broken? My thoughts twist endlessly, looping through the shadows.“Nicholas,” the voice called again—closer this time. It felt like it came from inside my head.And suddenly, I was there—back in the mansion I grew up in.I don’t know why, of all places, I ended up here. Since arriving, I’ve stayed locked in
It’s been three weeks since the incident, and still… nothing.No movement. No sign. Just the quiet hum of machines and the weight of silence pressing down on everything. Each day bleeds into the next, and everything feels harder without him.I’ve always known a day like that would come. A day when Nicholas would find out the truth. But I never imagined it would happen like this. I thought I would be the one to tell him, to look him in the eyes and explain everything, to prepare him for it gently. Not like that—through chaos, through pain, through blood. I was wrong. So wrong.School has become unbearable. Every hallway feels narrower, every breath shorter. The walls seem to close in on me, and the whispers… God, the whispers never stop. Pity. Fear. Judgment. I see it in their eyes—some look at me like I’m cursed, others like I’m broken. Maybe I am. Maybe losing him cracked something inside me that can’t be fixed.Being around the bloodline feels strange now. I thought they’d confront
Kiara sat stiffly across from her lawyer, hands knotted together on her lap, her nails biting into her palms. She hadn’t slept in days, not since Lily filed the custody papers.The man before her—Mr. Jacobs, a calm-faced attorney with years of experience in family law—adjusted his glasses and leaned forward. “Mrs. Copper, I’ve gone through everything,” he said. “Lily has a very strong case. She’s the biological mother, and from a legal standpoint, that gives her the upper hand. And with everything that has happened to Nicholas, the trauma, the accident, it isn't looking too good for you.”Kiara’s jaw tightened. “But I raised him and my ex-husband is his biological father. That has to be something. I was there when Lily wasn’t. She walked away from him, Jacob. She—she gave him up.”“I understand,” he said softly, “but the law won’t see it that way unless Nicholas himself does. The only real game we can play here—the only chance you have—is to involve Nicholas directly.”Kiara frowned.
My trip from London to Texas didn’t take so long. Immediately I arrived, I was driven straight to Andrew’s home to apologize.When I got there, I knocked on the door, but there was no reply. Instead, I met Steve.“Hi Steve, where’s Andrew?” I asked. He could probably see how awkward I felt asking about his cousin.“Nicholas, you don’t have to feel weird, okay?” Steve said. “Yeah, I mean, it’s weird that my cousin Andrew is, you know, bi. But you’re cool. We’re cool. We haven’t had that talk before, but I’m telling you now.”“Okay… so where is he?”“He went to a party. He was pissed this morning, then he went to hang out with the Bloodlines.”“He was that pissed?”“Yeah, dude was, oof. And yeah, I think it’s at Dave’s party. I’m heading there right now — you could just tag along with me.”“Oh. Yeah,” I said.“Bro, Cilia’s gonna be stunned that you’re back this early.”“Cilia? Seriously? You guys have spoken about me?”“Uh—oh shit. You’re not supposed to know that. But you guys should f
Andrew's POV After yesterday’s encounter with Nicholas on the rooftop, I was left reeling. Was he serious about what he said? Or was it all just because of the sedatives he’d been given? Yeah, he was probably babbling rubbish since he wasn’t in his right mind. But what about the kiss…? I’m so c
“Ha, ha, ha, ha!” Laughter echoed through the entire garage. “Dad, stand still so I can get the right angle! Stop turning around and making funny faces,” Nicholas said, laughing so hard his cheeks turned red. He stood behind a board with a sketchpad and charcoal in hand. “Nicholas,” his father,
Doom. Doom. Doom. Doom.I could hear my heart pounding in my chest. It’s so loud. So fast.Where the hell am I being taken?"Help!" I screamed.No reply. Only the sound of footsteps.Then—suddenly—I was dropped.A sharp jolt shot through my body as the bag was yanked off my head. My vision blurred
It took forever for morning to come.I barely had any sleep last night, battling from the dull, throbbing pain that still resonated from yesterday’s beating, the chaotic aftermath of dinner, and the terrifying prospect of Zack’s inevitable vengeance – how could I possibly sleep? So much for feeling






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
レビュー