LOGINEverleigh is stumbling through life feeling lost and confused, unsure of who she wants to become or what she wants to do with her future. Despite the uncertainty, she remains hopeful that one day her purpose and passion will become clear. The fates have something special planned for her if she has the courage to take the risk. There is a path that she must take, but it requires strength and conviction to overcome her fears and follow her heart. She has been blessed with a dragon mate the Goddess saw fit for her – a prince of all dragons! Everleigh finds herself in the world of wondrous fantasy and captivating enchantment that she used to only imagine as a young child. She's astounded to discover that her beloved father's stories were far more than just tales - they were actually based in reality. Everything changes for Everleigh when a mysterious and powerful ancient rune appears on her skin, revealing secrets of the past she never expected. Her only chance of making it out alive lies in finding the High Priestess who cursed her at birth.
View MoreSuara gemericik air terdengar di salah satu sudut ruangan. Terlihat sosok perempuan yang memakai setelan baju rumahan sedang bergelut bersama setumpuk pakaian. Dengan mengenakan celana panjang dan kaos oblong berwarna hitam ia berjalan membawa seember baju yang baru saja selesai dibersihkan.
Rambutnya terurai panjang dengan wajah sedikit basah yang menambah kesan cantik dan sederhana. Berulang kali tangannya memeras baju basah dan ia jemur di halaman belakang rumah.
Dengan lincah perempuan bernama Ayda Karisma menjemur semua pakaian sambil berjoget ala oppa korea. Lagu yang diputar melalui ponsel milik Ayda terdengar ke seluruh ruangan. “Moment is yet to come, yeah.” Ayda pun mulai bersenandung.
Di momen kebahagiaan yang sederhana, aksi Ayda terhenti saat suara musik berganti menjadi nada dering panggilan. Setelah memastikan tangannya tidak basah, Ayda pun langsung meraih ponselnya di atas meja. “Iya, halo. Dengan saya sendiri, ada apa ya?” tanyanya dengan ramah sambil berusaha untuk merapikan rambutnya.
[Kami ingin memberitahukan kalau lamaran Anda diterima. Silahkan datang besok pagi untuk penandatanganan kontrak dan mulai bekerja.]
Sontak Ayda membelalakkan mata saat mendengar kata “keterima”. Setelah sekian lama berjuang melamar kerja, kini saatnya Ayda mendapatkan hasilnya. Tanpa menjawab apa pun Ayda hanya menganggukkan kepala dan tak bisa berkata-kata. Hingga akhirnya, setelah panggilan pun terputus. Ayda pun langsung berjingkat gembira sambil memegang gagang sapu di tangannya “Ayah … Ayda dapat kerja!” soraknya yang merasa sangat bahagia.
Menjadi seorang lulusan sarjana memang tidak bisa menjamin kehidupan yang mewah. Setelah berjuang di masa kuliah, Ayda harus kembali berjuang untuk mencari kerja di tempat yang sesuai dengan impiannya. Berbagai batu loncatan sudah Ayda lakukan dengan sabar. Dukungan dari ayah dan adiknya lah yang membuat Ayda dapat bertahan di segala keadaan.
“Ayahhhhhh!!!” teriak Ayda dengan suara yang menggelegar sambil berlari keluar rumah.
Lelaki paruh baya yang sedang mencuci angkot kesayangannya pun langsung menghentikan aktivitasnya. Pandangannya tertuju pada gadis yang ia sayangi dengan sepenuh hati. “Ada apa Ayda? Teriakan kamu itu bisa bangunin macan yang lagi tidur di dalam gua,” celetuk Rahman, ayah Ayda.
Sedangkan perempuan yang menjadi sumber kebisingan pun hanya nyengir tak beraturan. “Maaf, Ayah. Ayda tuh lagi seneng banget! Pokoknya Ayah juga pasti langsung ikut merasa senang setelah tau kabar bahagianya,” jelas Ayda dengan ekspresi yang membuat Rahman penasaran.
“Ada apa sih memangnya? Kamu menang hadiah?” Rahman mencoba untuk menebak isi pikiran putrinya.
“Ayda diterima kerja, Ayah!” teriaknya yang kembali menggetarkan sejagat raya.
Sontak Rahman pun langsung terdiam dengan ekspresi bahagia yang terlihat jelas di wajahnya. “Akhirnya.”
***
“Ayah … Ayda udah telat nih,” seru Ayda yang terlihat sedang sibuk bersiap untuk berangkat kerja di hari pertamanya.
Suasana pagi yang baru telah dimulai. Ayda melahap nasi goreng sambil merias wajahnya dengan bedak dan lipstik seadanya. Hari ini adalah hari pertama Ayda bekerja. Hari istimewa dan bersejarah dalam hidupnya. Sebagai lulusan sarjana, ini adalah pekerjaan yang sangat Ayda impikan. Menjadi sekretaris dari bos pemilik perusahaan ternama.
“Ini Ayda. Pakai bajunya dan bersiaplah. Ayah ingin memanaskan Gugun sebentar,” titah Rahman sambil menyodorkan satu buah pakaian.
“I-ini apa Ayah?” tanya Ayda dengan kerutan di dahinya.
“Baju spesial untuk kamu pakai di hari pertama kerja. Ayah sengaja membelikannya untuk kamu. Pakai ya, awas kalau tidak.”
Ayda tersenyum kaku dan meraih pakaian pemberi sang ayah. Dalam hati Ayda merasa ragu saat pertama kali melihat baju berwarna putih tulang yang terlihat sangat indah. Meski baru melihat sekilas, Ayda bahkan sudah merasa yakin kalau baju ini kekecilan untuknya. “Apa Ayah tidak salah ukuran? Ini sepertinya terlalu kecil untuk Ayda,” ucapnya dengan ragu.
Rahman yang sedang mencari kunci angkotnya pun langsung menatap Ayda dan tertawa. “Ayah ini sudah mengenal betul bagaimana besar tubuh kamu. Pakai saja. Ayah yakin akan terlihat bagus,” sergahnya dan langsung berjalan keluar rumah untuk memanaskan mobil angkot yang diberi nama Gugun.
Dengan terpaksa Ayda pun berjalan ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ukuran tubuh mungil Ayda memang sulit di tebak. Berisi dan tidak terlalu kurus menjadi sesuatu yang membingungkan. Belum lagi tinggi badannya yang selalu menjadi bahan perdebatan. Kurang tinggi atau pun cukup tinggi selalu menjadi jawaban dari setiap pertanyaan.
“Astaga ayah. Bajunya ngepas banget, kalau dipakai sesak. Kalau ngga di pakai lebih sesak lagi karena ayah pasti marah dan merasa ngga dihargai. Duh simalakama banget deh,” gerutu Ayda saat melihat dirinya di depan kaca.
Harga memang sesuai dengan kualitas yang ada. Ayda sangat mengenal ayahnya yang pasti membeli pakaian ini di pasar malam dekat rumah. Dengan berat hati Ayda pun terpaksa memakainya.
Desain baju rombe-rombe di bagian dada setidaknya menutupi tubuh Ayda yang terlihat sangat ketat saat memakainya. Setelah memastikan penampilannya pas, Ayda pun berjalan keluar kamar untuk berpamitan. Ayda berharap hari ini akan berjalan sesuai dengan keinginan. Tidak ada masalah, hambatan ataupun kesalahan yang ia lakukan.
Dengan menaiki motor kesayangannya, Ayda melaju membelah jalan. Untuk menghindari kemacetan kota, Ayda memang sengaja berangkat lebih pagi. Setelah bergulat dengan angin dan ramainya kendaraan, Ayda pun tiba di gedung bertingkat yang mencuri perhatian.
“Ini gedung atau roti lapis ya. Tebal banget,” gumam Ayda sambil memarkirkan motornya.
Dengan penuh semangat, Ayda pun melangkah masuk sambil melihat keadaan sekitar. Sesampainya di meja resepsionis, Ayda pun langsung menanyakan ruang kerjanya. “Saya pegawai baru di perusahaan ini,” urainya dengan jelas.
Perempuan yang terlihat sangat rapi dengan kemeja putih pun tersenyum ke arah Ayda. “Sekretaris baru ya?” tanyanya sambil mencatat sesuatu di atas kertas.
“Iya. Nama saya Ayda Karisma.”
“Oh oke. Ini, cari ruangan kamu. Saya sengaja menuliskannya di atas kertas, karena kantor ini sangat luas. Jadi, kamu pasti akan merasa kesulitan untuk mencarinya,” ucap penjaga meja resepsionis dengan sangat ramah.
Sebuah kertas yang akan menjadi penunjuk jalan pun diberikan pada Ayda yang langsung menerimanya. “Terima kasih,” balas Ayda dan langsung melanjutkan langkah sesuai dengan petunjuk arah.
Tidak sulit baginya untuk mencari ruangan yang akan menjadi tempatnya bekerja. Semangat Ayda tak akan hilang hanya dengan mencari alamat sebuah ruangan. Letak ruangan yang berada di lantai tiga mengharuskan Ayda untuk menaiki lift agar cepat sampai di sana.
Dengan berusaha tenang, Ayda menarik napas dan mengembuskannya dengan perlahan. Untuk menjaga penampilan, Ayda pun mengeluarkan sebuah kaca saat sudah berada di dalam lift. “Jangan sampai kamu terlihat jelek di hari pertama bekerja Ayda. Penampilan harus menjadi perhatian yang utama,” gumamnya sambil menggoreskan lipstik di bibirnya.
Brukk!
Lift yang semula berjalan tiba-tiba berhenti. Lipstik yang sedang digunakan pun langsung terlepas dari genggaman tangan Ayda. “Ya ampun, kenapa sih ini liftnya,” gerutunya sambil berusaha mengambil lipstik dengan cara membungkukkan tubuhnya tanpa sedikit pun merasa panik.
Breetttt!
“Ba-bajunya,” cicit Ayda sambil meraba bagian lengan kanannya yang sudah terekspos dengan sempurna.
“Wow.”
Satu kata yang terdengar dari lelaki berjas hitam membuat Ayda langsung membelalakkan mata. Pasalnya Ayda tidak mengira bahwa ada seseorang yang bersama dengannya di dalam lift. Karena terlalu fokus saat mencari letak ruangan, Ayda sampai mengabaikan keadaan sekitar.
Hingga kini hanya ada Ayda dengan lelaki berparas tampan bak artis korea dengan mulut yang sedikit terbuka. Pandangan lelaki itu bahkan masih menatap bebas lengan kanan Ayda yang terlihat jelas. Terlebih keberadaan bahan berbentuk tali berwarna hitam sangat menarik perhatian. “Ma-maaf,” urai lelaki itu saat tersadar.
Brakkk!
Everleigh’s POVI had only been asleep for a few short hours when I heard the unmistakable squeal of Beth reverberating through the halls of the castle and echoing down to the tower. The sound fills me with delight, and I jump out of bed in a flurry of excitement and dash towards my best friend as she steps into the room, flanked by her three hulking escorts. I knew she wouldn’t put up much of a fight. Unlike me, Beth loves male attention, and has such confidence she has no trouble turning heads wherever she goes."I knew it! I knew you would find your mate! I’m so happy for you Ev." Beth cries, embracing me in a tight, comforting hug."You couldn’t believe how happy I am that you’re here Beth. We need to find the High Priestess and lift her curse. She has bound my dragon, can you believe it? I have a dragon. And you are a witch, like an actual real witch, aren’t you?" I blurt everything out, this is what I had needed, my best friend, the one person who has been there to help me put t
Night has fallen by the time the Everleigh and Xavier make their way back to the palace. She is no closer to figuring out what to do about her impossible situation, but she feels more at peace with the unknown. Xavier has been adamant in his reassurance that they will find a way to keep her safe and lift the binding curse.When they reach the palace doors, Everleigh cranes her head all of the way back so she can take in their truly enormous size. She thinks to herself how everything here seems so much bigger than back home. The doors are easily as tall as a two-storey house and the scrollwork and gold inlays only adds to their breath taking magnificence.Xavier leads his beloved through vast, ornate room after exquisitely decorated room, and down wide echoing corridors until they come to a stop outside one door. Everleigh braces herself, she has no idea what awaits her on the other side, but if Xavier’s child like grin is any indication, she needn’t be too concerned.He braces his pal
After allowing her father's words to truly sink in, Everleigh realized that the only viable option was for her to find a way to unbind her dragon by herself. She knew that if his former coven ever found out her magic had been set free, then she would never be safe again. And the thought of never being safe again terrified her. Everleigh asks Xavier to take her on a tour of his parents' magnificent kingdom as a distraction from the overwhelming thoughts coursing through her mind. She has very limited knowledge about dragons and magic, which is based entirely on what her father had told her in his stories many, many years ago. She needed time to mull over and to process the massive amount of information she had consumed in the last day, in order to make sense of it all. She was absolutely stunned by the truth that dragons, witches, and real magic exists in the world and seeing her father alive and well had truly made her question everything she knew. Everleigh follows Xavier as he con
When Xavier senses that Everleigh has settled, he releases her from his embrace and quickly leads her back towards the bedroom. He urges her to get dressed as they need to get to the palace as soon as possible. The witch’s warning rings in his ears as he grabs the precious few items he can not leave behind. One of the great advantages of being a dragon shifter is that he can mist them both there almost instantly. Xavier wonders to himself if she will be blessed with any other runes, and what they might be. If she is a bound dragon does that mean she will inherit her family magic, her mother’s magic? He knows only a dragon could have given birth to another female dragon. Every dragon born in the last three centuries has been male.They arrive at the palace gates in a dense dark green mist, the guards on the gate bow before them and lead them inside. It is no secret that Xavier is their prince, although he rarely shows himself, and they know not to question his orders. The guards are sh






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews