LOGIN*Book 1 of the FATED Series* (Completed- but editing) When the shiny sun touched Ava Kings skin, something very powerful shifted in her. Her perfected controlling life changed in a blink. She became different Prophecy foretold her being the one to save the doom that is to arise. Destiny played a role when the savior is fated to the doom. Something seems off, and off is what makes a destiny, a destiny. __________________ “I can smell you mate, and all I want is your blood.” The same deep scary voice have been hearing since said again, and this time dominance presence in his voice. Increasing my tensed heartbeat and making me more scared. “Who are you and what’s mate?….” My voice whimpered a reply, my whole body trembling under my blanket. Book 2- coming out towards year end!
View MoreJuned menatap kosong selembar surat PHK di atas meja kayu yang mulai kusam. Bayangan wajah istrinya dan suara Desi yang penuh nyinyir kembali melintas di benaknya.
Denting notifikasi ponsel mengalihkan perhatiannya pada sebuah pesan gambar dari temannya. Matanya membelalak melihat foto Desi yang sedang mendorong troli belanja bersama Andre di sebuah minimarket. Rahang Juned mengeras. Sudah enam bulan istrinya bekerja di Jakarta. Namun, ia tak menyangka kalau foto itu diterima. Foto yang dikirimkan supir di rumah majikan istrinya membuatnya naik pitam. Jari Juned bergetar saat meneruskan foto tersebut ke nomor W******p istrinya untuk meminta penjelasan. Ia menunggu dengan perasaan tidak keruan sampai status pesan tersebut berubah menjadi biru. "Ini maksudnya apa, Des?" tanya Juned melalui pesan singkat. Tak butuh waktu lama, balasan dari Desi muncul dengan nada yang sangat ketus dan seolah tanpa dosa. "Apa sih! Aku diajak belanja doang buat keperluan nyonya!" balas Desi di layar ponsel. Juned memejamkan mata sejenak, merasakan sesak yang luar biasa di dadanya karena dikhianati seperti ini. Ia segera membalas pesan itu untuk mengingatkan statusnya sebagai suami yang sah. "Tapi Des, aku ini kan suamimu," balas Juned lagi. “Andre mantan kamu, kan?” Desi tak menjawab. “Sejak kapan Andre di Jakarta?” Desi tidak berhenti menyerang, ia justru mengirimkan balasan yang jauh lebih menyakitkan hati Juned. “Bukan urusan kamu! Aku disini tuh kerja! Gausah pikir aneh-aneh!” "Kamu nggak becus nyari duit! Segala kena PHK! Bikin malu aku aja!" bentak Desi lewat pesan tersebut. “Masih mending aku kerja di Jakarta!” “Mau makan darimana kalau gak ada duitnya!” Juned melempar ponselnya ke kasur dan memilih untuk mengakhiri perdebatan yang hanya menguras emosinya itu. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar bisa berpikir lebih jernih. "Sabar, Juned. Pasti ada jalan lain," batinnya sambil menyalakan keran air. Baru saja selesai berpakaian, ponsel Juned kembali berdering nyaring menampilkan temannya di layar. Teman senasibnya. "Ned, gue ada lowongan jadi supir di Jakarta. Lu kan bisa nyetir, mau nggak?" tanya Wahyu dari seberang telepon. Mendengar tawaran itu, semangat Juned yang sempat padam kini perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Juned tersenyum girang, pasalnya ia memang butuh uang. Meskipun belum memiliki anak dengan Desi, bukankah ia juga harus membahagiakan istrinya segera? Belum lagi hatinya kian tak tenang istrinya tak pulang-pulang. Bisa sekalian jemput istrinya pulang kan di Jakarta? Benar. Juned mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa seolah baru saja mendapatkan napas baru di tengah himpitan masalah. Ia merasa tawaran kerja ini adalah jawaban tuhan setelah istrinya sendiri mencampakkannya begitu saja. "Akhirnya ada jalan keluar juga," gumam Juned sambil mulai mengemas pakaiannya ke dalam tas. Juned memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas ranselnya dengan gerakan cepat. Tanpa ragu, ia mengetik pesan singkat untuk istrinya sebelum benar-benar meninggalkan rumah kontrakan mereka. "Aku mau kerja ke Jakarta," tulis Juned singkat di layar ponselnya. “Tunggu aku bawa kamu pulang.” Ia langsung menyampirkan tas ke bahu dan berjalan menuju jalan raya tanpa mempedulikan apakah pesannya akan dibalas atau tidak. Tekadnya sudah bulat untuk membuktikan bahwa dirinya bisa sukses meski baru saja dihina oleh istrinya sendiri. “Akan aku buktikan, Desi." gumam Juned sambil menaiki bus jurusan kota. Setelah perjalanan memakan waktu seharian, bus akhirnya berhenti di terminal kota yang tampak sangat ramai dan bising. Juned segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi nomor calon majikannya yang diberikan oleh temannya. "Selamat malam, Bu. saya Juned yang ingin bekerja menjadi supir. Apa saya bisa datang malam ini atau tunggu besok pagi saja?" tanya Juned dengan nada bicara yang sangat sopan. Di seberang telepon, suara seorang wanita terdengar memberikan jawaban yang membuat hati Juned merasa sedikit lega. Ternyata calon majikannya tidak keberatan jika ia langsung datang ke lokasi pada malam itu juga. "Datang saja malam ini, saya ada di rumah kok," jawab suara wanita tersebut dari balik telepon. Juned langsung mencari pengemudi ojek yang sedang mangkal di pinggir terminal untuk mengantarnya sesuai alamat. Ia merasa sangat bersemangat dan tidak sabar untuk memulai hidup barunya di kota besar ini. "Pak, ke alamat ini ya. Tolong agak cepat sedikit," ucap Juned sambil menyerahkan ponselnya yang menunjukkan peta lokasi. Juned berdiri mematung di depan gerbang tinggi yang menjulang, menatap bangunan megah di hadapannya dengan rasa tidak percaya. Ia menekan bel di samping pagar beberapa kali hingga seorang wanita muncul dari balik pintu utama. "Kamu Juned ya? Silahkan masuk," ucap wanita itu seraya membukakan pagar. Juned terpana melihat sosok di depannya yang mengenakan daster tipis mewah dengan lekuk tubuh yang sangat jelas terlihat. Ia segera menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa gugupnya namun tetap melangkah mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah. Juned memejamkan matanya, ingat dirimu Juned! Wanita itu berjalan dengan anggun membelakangi Juned, membiarkan aroma parfumnya memenuhi ruangan yang mereka lewati. Ia sesekali menoleh sedikit untuk memastikan supir barunya itu tidak tertinggal jauh di belakang. "Dari kampung jam berapa, Ned?" tanya Wanita itu tanpa menghentikan langkahnya. Juned berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar gemetar sambil matanya tetap tertuju pada pinggul Wanita itu yang bergoyang pelan. "Dari jam sembilan, Nyonya," jawab Juned dengan nada bicara yang sopan. "Hmmm.. Jauh juga ya." Jawab Wanita itu sambil menoleh ke arah Juned. Mereka tiba di ruang tamu luas yang diisi dengan perabotan mahal. Wanita itu mempersilahkan Juned untuk duduk di salah satu sofa empuk sementara ia sendiri mengambil posisi tepat di hadapan Juned. "Silakan duduk," ucap Ratna sambil menyilangkan kakinya dengan santai. Juned segera meletakkan tas ranselnya di lantai dan duduk dengan posisi yang sangat kaku di ujung sofa. "Baik, Nyonya. Terima kasih," sahut Juned pelan. "Nama saya Ratna, saya pemilik rumah ini," ucap wanita itu memperkenalkan diri dengan nada suara yang tenang. Juned mengangguk sambil berusaha menjaga pandangannya agar tetap sopan meski daster tipis itu terus mengalihkan fokusnya. "Tugasmu di sini antar jemput saya dan anak saya, Maudy," jelas Ratna sambil menatap Juned lekat-lekat. "Di rumah ini hanya ada saya dan Maudy, anak saya. Mbak bebersih rumah dan masak cuma di siang hari. Tugasmu disini antar jemput kami dan melayani semua kebutuhan kami," jelas Ratna sambil menatap Juned lekat-lekat. "Jadi, kamu harus memastikan kalau tubuhmu selalu dalam kondisi bugar dan ... kuat."Chapter fifty fiveBook one; Finale Ava’s point of view We stayed in our position for awhile. Until she had fallen asleep. I stood up from the bed, away from her after she had fallen asleep in my arms. I was able to console her and let her know I’ll always be there for her. Then we spent more time on talking about our night and knowing more about each other.Gently without making any loud sound I tiptoed over to where all my shopping bags were placed and carried them. I move slowly and lightly going out of her room, upon opening the door gently I came face to face with Trey about entering the room also. “What are you doing?” We asked each other simultaneously, his voice louder than mine. “Hey shush!” I shushed immediately seeing how loud he sounded, “She’s asleep,” I pointed at Anna inside. “Oh,” he mouthed with a weird look mounting on his face. “Yeah well move out of my way now.” I said, realizing he’s standing there and blocking me from moving out entirely from the room
Chapter fifty four Book one; semi-finale Ava’s POVWe got out of the car with our arms holding numerous shopping bags as we all trotted inside the palace. Everyone was exhausted and tired from the fun we all had tonight. After I was done with the Pack’s whatever that made know who I am and my purpose. We had visit a spa, where I had my nails and toes treated, then we have an hour massage, it was all fun. After that we all went to the mall’s restaurant, all we ate was free because the woman beside us was the former Queen of Shadow Moon Pack. Tonight was really fun as we’ve planned it out to be, Anna loosened up and I like every bit of her dwelling in the fun. Just seeing her happy like that made me happy also. I don’t know why I feel so much like this for her, maybe it’s because my mate was the one who killed her father, I guess I’m the one feeling the guilt he’s suppose to be dealing with. Because of that, all I have ever wanted for Anna since her father died is to be happy. “A
Chapter fifty three Ava’s point of view “Mother I have to go, I can feel my mate is in trouble.” I announced as I quickly stood on my feet. “Huh? Why?” She rushed to my side with her expression fueled with concern. She’s such a lovely caring woman. “I have to go, I’ll be back soon. But I can feel my mate is in trouble and I have to go help him or check if he’s okay.” I said to her again, then she sighed with her eyes rolling deep in her socket.“Honey, you should know that your mate is a no man but an Alpha, he doesn’t need your help sweetie. Be cool now and let’s go have some fun like we’ve planned.” She said to me with her hand placed on my shoulder.And she was right, my mate isn’t a no man, he’s an Alpha King, one that wields ten powerful demons. He doesn’t need my help. I touched the spot where I had felt the pain, rubbing it smoothly I felt the pain vanished into thin air. He must have healed, but why did it take this long for him to heal? What was he doing in the first plac
Chapter fifty two Lucien’s point of view Rogues! My nostrils flared as I suddenly found it hard to keep their scent, it was strange “What do you mean Rogues? Couldn’t you all handle it?” I growled at the guard before me. “We would need your help Alpha, they’re above us.” He looked pale with fear making me wonder if it was just rogues or something else.“Was it weaklings the Pack trains as warriors, handle it,” I commanded again and just then a shrill cry from him pierced the air, I motioned for him to get up, “What is the current state of things?” “Five warriors are dead.” He said and for the first time my wolf decided to take control, since this is a werewolf matter I decided to give him control. “Lead me to them,” I commanded as I leaped in the air immediately shifting into my big black wolf giving Dren the control. From the corner of his eye, he could see other warriors who has shifted into their respective wolves doing the same and running towards the border. “Why the fuck
Chapter forty nine Lucien POV “What do you mean?” She almost sound soundless, I spun her around making her back fell on my body. I took a whiff of her neck, before whispering sensuously into her, “I want you Mate……” Slowly she turned around, her beautiful face filled with desire, I smirked pushing h
Chapter forty five Ava POV I ran out of the room with nowhere in mind to go find him, I was at the hallway hoping he’d just pop out from nowhere and start heading my way; because I have zero idea on where he is or where his parents are talking to him, I have no idea on where to go find him. ‘Lu
~Chapter thirty eight~ Ava POV I came out of the bathroom with my body dripping wet and a towel wrapped around my body; from my chest region to close to my knees. I walked into an empty room, wondering where my mate had disappeared to or where he went to just now. I don’t think I use up to an
Fated to the Alpha Demon (Collision of two different worlds)Chapter thirty two Ava POV Demons, witches, werewolves and other other supernatural creatures are one thing I truly or solely believe are myths, I never knew they’re real ‘not really real because I haven’t seen a demon before, only a de






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews