Share

5. Ajakan Bima

Amara menolak panggilan telepon dari Bima. Walau bagaimanapun dia tahu diri, perpustakaan melarang pengunjungnya untuk berisik. Apalagi menelpon sepertinya bukan ide yang baik. Mencegah Bima menelpon berkali-kali dibukanya pesan chat Bima. Ternyata sejak tadi Bima terus menerus mengirim pesan chat ke Amara bertubi-tubi.

Teringat kembali kejadian kemarin. Mungkinkah Bima akan menjelaskan perihal Gita? Sehingga ada sekitar sepuluh pesan chat yang belum dibuka oleh Amara. Ah benar juga karena terlalu sibuk hari ini Amara sampai lupa untuk mengecek chat. Bangun kesiangan juga menjadi alasan Amara jika nanti Bima bertanya mengapa chatnya tak kunjung dibaca. Dia kemudian membaca seluruh chat dari Bima.

Pagi sayang – Bima (06.30)

Kamu belum bangun? – Bima (07.08)

Aku ke kosan kamu ya – Bima (07.20)

Kamu ke kampus bukan? – Bima (07.50)

Ada kuliah? – Bima (07.51)

Sayang? – Bima (08.30)

Amara? – (Bima (09.00)

Kamu sengaja ya? – Bima (10.12)

Kamu kenapa sih? – Bima (10.17)

Aku di depan kosan kamu – Bima (11.27)

Amara melihat jam. Tidak terasa ternyata sudah pukul setengah satu siang. Mungkin karena terlalu asik mengobrol dengan Satria. Dia sampai lupa untuk mengecek chat dari Bima. Dia panik karena mengetahui Bima di depan kosannya saat ini juga. Itu berarti dirinya harus pulang.

“Sat!” kata Amara.

Satria menoleh ke arah Amara. Raut mukanya bertanya ada apa. Mungkin saja dia melihat sedikit kepanikan di muka Amara.

“Aku pulang duluan ya, ada yang menunggu di kosan!” kata Amara.

“Pacarmu?” tanya Satria.

Amara mengangguk. Dia kemudian membereskan barang-barangnya. Tak lama kemudian Amara melangkahkan kakinya untuk keluar dari perpustakaan. Menyisakan Satria yang masih duduk di meja perpustakaan.

“Sudah punya pacar rupanya!” kata Satria

***

 “Bim!” Amara menyapa Bima sambil berlari.

Bima menoleh, senyumnya terlihat letih. Entah berapa lama dia menunggu. Bima masih menggunakan style khasnya. Kemeja luar dengan kaos dalam warna putih. Dipadukan dengan Jeans hitam dan sepatu convers.

“Kamu nunggu lama?” tanya Amara.

“Lumayan sih hehe!” jawab Bima.

“Maaf ya aku tadi ga ngecek sama sekali, akunya lumayan sibuk hari ini!” Amara terlihat tergesa-gesa berkata.

“Gapapa, aku mau ngajak kamu makan sore. Mau?” tanya Bima.

“Ah aku ganti baju dulu aja gitu. Tunggu sebentar ya!” jawabnya. Dia langsung berjalan menuju pintu kosan.

Bima langsung memegang lengan Amara. Ditariknya sambil berkata, “Gausah pake ini aja ya!”

Amara diam sebentar. Sebetulnya dia tidak nyaman karena bajunya berkeringat sana sini. Style yang digunakannya pun masih style kuliah. Tapi dia mengangguk, Bima sudah menunggunya lama sekali, sangat tidak sopan jika harus memintanya menunggu lagi.

Setelah kesepakatan berlangsung, Bima menggandeng tangan Amara. Menuntunnya ke Mobil yang diparirnya tidak jauh dari sana. Kosan Amara harus memasuki gang jadi butuh waktu berjalan sebentar untuk sampai ke tempat parkir.

“Mau ke mana?” tanya Amara sambil memasang seatbelt.

“Ada Café Coffee  tidak jauh dari sini. Tempatnya bagus. Aku pikir kamu pasti suka!” Jawab Bima sambil mulai menjalankan mobilnya.

***

Secangkir Kopi. Nama Café yang tidak asing bagi Amara. Di Café ini dia kemarin menghabiskan waktu untuk menghibur diri. Dia sama sekali tidak menyangka jika Bima akan membawanya ke tempat ini juga.

“Bagus kan tempatnya?” tanya Bima pada Amara.

“Iya bagus, cafenya cantik. Dekorasinya menarik!” jawab Amara.

“Baguslah kalau kamu suka. Mau duduk di mana? Dekat jendela mau?” tanya Bima.

“Boleh!” seru Amara sambil berjalan menuju kursi dekat Jendela. Pemandangan di luar pun bagus sekali. Dekorasinya yang vintage dan sedikit classy membuat Amara menikmati Café ini.

“Kamu tau tempat ini dari mana?” tanya Amara membuka percakapan.

“Ahh, teman!” jawab Bima.

“Siapa?” tanya Amara penasaran.

“Kamu ga kenal!” jawab Bima lagi.

Amara mengangkat alisnya sebentar. Tumben sekali Bima hanya menyebutkan teman. Biasanya dia akan menjawab nama teman kepada Amara. Ataupun mengenalkan temannya itu jika memang Amara tidak mengenalnya. Meskipun Amara penasaran dia menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh.

Amara akhirnya mengalihkan perhatiannya kepada meja barista. Di balik mesin kopi dan jejeran biji-biji kopi terdapat wajah asing yang terlihat. Rupanya Satria sedang tidak ada. Dia pikir akan bertemu Satria juga di sini. Entah mengapa Amara tidak ingin bertemu Satria saat sedang bersama dengan Bima.

“Sedang mencari seseoraang?” tanya Bima.

Amara menoleh, segitu terlihatnya kah dia di mata Bima? Kemudian dia menggeleng, serta menjawab dengan alasan, “Aku sedang melihat menu!”

“Latte di sini enak. Mungkin kamu bisa coba pesan itu! Kalau cake red velvet juga ada, potongan kecil dan harganya pun tidak mahal!” kata Bima.

“Kok kamu tau? Pernah ke sini?” tanya Amara.

Bima tersenyum, lalu menjawab, “Ah rekomendasi dari temanku!” kata Bima.

“Siapa sih temanmu itu? Kok kayanya disebutkan terus!” kata Amara.

Bima kemudian bangkit dari kursinya, “Aku pesan dulu. Sekaligus memesankan satu untuk kamu juga ya!”

Amara semakin curiga. Apakah teman yang dimaksud oleh Bima adalah orang yang sama dengan yang dia pikirkan?. Apa dia harus bertanya pada Bima? Semua ini masuk ke dalam pikiran Amara.

Tak lama kemudian Bima datang. “tunggu sebentar ya, pesanannya sedang dibuat!” kata Bima.

“iya!” jawab Amara singkat.

Mereka berdua terdiam cukup lama. Bima kemudian memperhatikan Amara, tidak biasanya pacarnya yang biasa ceria dan banyak bicara ini diam tanpa berkata apapun di depannya.

“Sayang?” tanya Bima.

“iya?” jawab Amara.

“Kamu kenapa?” tanya Bima.

“Aku gapapa!” jawab Amara.

Bima menghela nafas. Kemudian dia mengambil handphonenya. Mungkin karena kesal dengan sikap Amara, dia mencari kesibukan sendiri.

Tidak selang beberapa lama pesanan mereka tersedia. Pelayan memanggil nama Bima. Di Café tersebut pesanan tidak diantarkan, tetapi pembeli yang mengambil sendiri pesanan saat sudah siap. Bima kemudian bangkit untuk mengambil pesanan.

Rupanya Bima memesankan Latte dingin dan chessecake untuk Amara. Dilahapnya sedikit chessecake tersebut menggunakan sendok yang tersedia. Bima sendiri hanya memesan milkshake oreo. Karena kondisi organ dalamnya Bima memang tidak bisa terlalu banyak meminum cafein.

“Makan yang banyak biar bête kamu ilang!” seru Bima sambil melihat-lihat ponselnya.

Amara berhenti makan sejenak. “Apasih!”

“Kamu lapar kan makannya bete, makan yang banyak biar ga bete lagi!” Bima mencoba menenangkan.

“Aku ga bete karena lapar!” kata Amara.

“Terus kenapa?” Bima sudah diujung emosi. Dia merasa Amara benar-benar menyebalkan.

“Gapapa!”

Bima menghembuskan nafas panjang. Dia kesal dengan sifat Amara yang seperti ini.

“Aku udah luangin waktu buat kamu, ajak kamu makan malam. Terus kamu balas dengan tatapan cemberut dan sifat gajelas kaya gini!” tegas Bima. Nadanya sedikit dinaikan. Membuat Amara sedikit bergetar.

Amara masih diam seribu bahasa sambil memakan hidangannya. Dia bingung, apakah harus bertanya kepada Bima perihal masalah Gita, ataupun temannya Bima tersebut. Ataukah dia harus pura-pura tidak tahu.

“Siapa yang kamu upload di binstagram kemarin?” tanya Amara pada akhirnya.

Rainfall

Jangan lupa untuk mengklik tanda + agar cerita ini masuk ke library ya tinggalkan juga kesan dan komentar kalian di kolom review

| Sukai

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status