Share

5.

POV Bella

            Setelah selesai membantu Ibu beres-beres dan mengantar keluarga om gilang sampai depan. Aku langsung kembali ke kamar mengistirahatkan badan dan jantungku, yang sampai sekarang masih berdetak tak beraturan saat didekat Rengga. Hufft padahal kami baru bertemu sekali, tapi kenapa aku selalu gugup didekatnya. Apalagi ketika dia menatapku dalam. Tatapannya itu jujur saja dapat menenggelamkan akan pesonanya.

            Segera kutepis pikiran-pikiran itu, tak kusangka ternyata diluar ekspektasi. Rengga bahkan dapat meluluhkanku hanya dengan tatapannya.

            Aku segera beranjak kuruang ganti, berganti baju, cuci muka dan tidur. Tenang Bella besok kamu masih harus bekerja seperti biasa hufft.

            Aku lihat pantulan wajahku dicermin apakah benar secantik itu aku. Tapi aku rasa biasa saja tidak ada yang spesial pada wajahku. Tapi memang lumayan si wajahku buktinya dulu aku pernah jadi model. Memang keturunan Ibu dan Ayah banget, banggaku terkekeh sendiri di depan meja rias. Setelah selesai pakai krim wajah kurebahkan diriku, berusaha meraih mimpi indah.

.

            Keesokan paginya aku berangkat kerja naik mobil. Karena terlalu lama bila aku harus naik kendaraan umum. Walau memang aku biasanya naik kendaraan umum. Tapi tak apa lah sekali-kali pakai mobil pribadi.

            Sebelum berangkat kupandangi lagi diriku di cermin apakah sudah cukup. Saat dirasa cukup aku kemudian segera beranjak menemui ibu di meja makan.

            “Pagi Bu,” sapaku sambil duduk disebelahnya.

            “Pagi Nak, sudah mau berangkat?” tanya Ibu seraya meletakkan susu dihadapanku. 

            “Iya Bu, takut telat karena pasti lebih lama jika berangkat dari rumah,” keluhku.

            “Ya sudah habiskan dulu susunya, Ibu sudah buatkan” aku mengangguk. Kemudian meminum susu yang sudah disiapkan Ibu hingga tandas.

            “Makasih Bu, aku berangkat dulu ya,” ucapku lalu mencium pipinya.

            “Hati- hati dijalan,” balas Ibu, mengusap kepalaku sekilas.

            Segera kusiapkan mobilku dan sedikit melihat apakah baik untuk kubawa kekantor.

            “Pak Hadi ini mobilnya sudah di service kan minggu lalu?” tanyaku mendekati mobilku.

            “Sudah non, seperti pesan non minggu lalu,” ucapnya lalu membukakan pintu mobil untukku.

            “Terimakasihnya ya pak, ini buat rokok bapak,” Kuberikan uang rokok sebagai imbalan sudah membawa mobilku ke bengkel.

            “Sama-sama non,” seraya menerima uang dariku.

            “Saya berangkat dulu ya pak,” pamitku kemudian menaikkan kaca.

            “Hati-hati di jalan non,” aku mengangguk menanggapi Pak Hadi.

            Aku jalankan mobilku diatas rata-rata. Karena memang jarak rumah ke kantor bisa mencapai 1 jam perjalanan, itupun bila tidak macet. Tapi meskipun aku sudah berangkat cukup pagi. Namun masih kena macet dan alhasil aku telat masuk 15 menit. Semoga aku tidak kena SP rapalku dalam hati.

            Sesampainya dikanor langsung kuparkirkan mobilku ke besmen dan segera mencari lift khusus pegawai. Karena memang sudah jam masuk kantor lift terlihat sepi, uh untunglah. Sesampainya di ruanganku Elli terus saja mengawasiku.

            “Tumben Bell telat,” tanya Elli saat aku sudah mencapai meja.

            “Iya Ell, ini tadi aku berangkat dari rumah,” jawabku, sambil meletakkan tas dan merapihkan meja.

            “Tika, tadi dicari si bos tuh.. nanyain hasil publish minggu lalu,” katanya yang membuatku teringat berkas yang belum sempat aku laporkan.

            “Oh iya lupa Ell, makasih ya udah diingatkan,” ucapku dengan senyuman dibibir.

            “Buruan gih keburu kelamaan,” Hanya kujawab anggukan sambil melangkah menuju ruang bos.

            Aku ketuk pelan pintunya, setelah dipersilahkan aku baru melangkah masuk ke dalam. Aku tundukkan kepalaku seperti biasa, sengaja menghindari kontak mata.

            “Ini pak laporan publish minggu lalu, bisa anda cek terlebih dahulu,” ucapku sopan.

            “Bisa kamu tatap saya jika berbicara dengan saya,” perintahnya dingin.  Aku terkejut dengan nada bicaranya yang dingin tapi tak urung kuturuti. Kudongakan kepalaku, dan aku terkejut untuk yang kedua kali.

            “Kenapa, apa kamu terkejut?” tanya brubah santai.

            “Maaf pak atas ketidaksopanan saya,” Jawabku dengan suara setengah bergetar.

            “Hey Bella, tak apa itu hanya peringatan jangan lagi melakukannya oke,” ucapnya santai.

            “Iya pak,”

            “Sekarang duduklah, aku akan lihat hasil laporanmu,” Sambil menunggu aku hanya melihat lemari bukunya yang penuh.

            “Bella,” panggilnya membuatku mengalihkan perhatian padanya.

            “Iya pak.”

            “Laporanmu sudah baik, tapi masih butuh sedikit perbaikan. Mungkin bisa kamu berikan setelah jam makan siang,”

            “Baik pak,”

            “Dan setelah ini, setengah jam dari sekarang meeting sama saya ya keluar,” katanya kembali membuatku heran.

            “Tapi pak kenapa saya?” tanyaku bingung.

            “Apakah kamu menolak perintah atasan kamu?” ucapnya menatapku dingin.

            “Tidak pak, hanya saja saya belum berpengalaman menangani klien,” jawabku sambil menunduk

            “Mulai sekarang kamu harus belajar Bell. Dan aku lupa semalam tidak minta nomor ponselmu untuk komunikasi kita kedepannya,”

            “Ah ya Mas, maaf biar aku catatkan ya,”

            “Ini,” Seraya mengangsurkan ponselnya padaku. aku ketikan sederet nomor di kontaknya sekaligus menamainya dan selesai.

            “Sudah Mas,” kataku sambil menyerahkan ponsel tersebut.

            “Terimakasih, nanti aku tunggu di lobi ya Bell,”

            “Ya Mas,” ujarku kemudian pamit meninggalkan ruangannya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status